,

Monday, 12 August 2013

Aqidah Jahiliyah Berdoa Kepada Para Wali dan Orang-Orang Shalih


Jika artikel ini bermanfaat bagi antum, >>LIKE / SUKAI Fanpage LP3UI<< agar artikel bermanfaat lainnya tidak terlewatkan. Jazzakumulloh khoir.

Sesungguhnya orang-orang jahiliyah mempersekutukan Allah SWT dengan cara berdoa dan beribadah kepada orang-orang shalih. Sedangkan ibadah merupakan hak Allah SWT, yang seorang hamba tidak diperbolehkan menyembah-Nya bersama dengan menyembah yang lain. Mereka bertujuan untuk mencari syafaat mereka disisi Allah. Sebagaimana yang telah menimpa kaum Nabi Nuh AS, tatkala mereka bersikap ghuluw (berlebihan) kepada orang-orang shalih dari kalangan mereka seperti Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Nasr. Mereka menyembah kuburannya sebagai sesembahan selain Allah SWT. Kaum nabi Nuh berdalih bahwa mereka adalah orang-orang shalih dan orang-orang shalih mencintai akan hal tersebut. Kemudian mereka menyangka bahwa orang shalih dekat dengan Allah, dan mereka adalah pemberi syafaat (nanti) disisi Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)". (QS. Yunus [10] : 18)

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar [39]: 3)

Dan mereka tidak mengatakan “mereka itu adalah para sekutu bagi Allah” Mereka hanya mengatakan “ mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang menjembatani kami disisi Allah. Mereka akan memberikan syafaat kepada kami disisi-Nya dan akan mendekatkan diri-diri kami kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya. Terdapat kaidah penting pertama dalam bab ini yang harus kita ketahui bahwa ukuran sesuatu itu bukan dengan nama atas sesuatu, akan tetapi terletak pada hakikat amalan perbuatan tersebut.

Sesungguhnya ini merupakan suatu praktek kesyirikan. Walaupun mereka menamakannya Tasyaffu’, yakni hanya untuk meminta syafaat dan ber-taqarrub (pendekatan diri). Suatu nama itu tidaklah merubah hakikatnya. Allah tidak ridha bila dipersekutukan bersama-Nya dengan siapa pun didalam perkara ibadah, sebagaimana Allah berfirman :

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

Dan Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya". (QS. Az-Zumar [39] : 2)

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus". (QS. Al-Bayyinah [98] : 5)

Kaidah penting yang kedua adalah bahwa ibadah itu tidak akan bermanfaat kecuali bila disertai dengan keikhlasan dan mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah menyelisihi mereka karena ibadah mereka batil, dan Allah SWT tidak meridhai kesyirikan. Sebab perkara ini merupakan pondasi yang perkara lainnya akan dibangun diatasnya. Apabila pondasi ini telah rusak, maka tidak akan ada faedah dan manfaatnya perkara-perkara yang lain. Sehingga tidak bermanfaat shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah dan lain sebagainya dari seluruh perkara amal ibadah. Karena perbuatan syirik akan merusak dan menggugurkannya. Allah SWT juga tidak akan menerima suatu amalan yang didalamnya terdapat kebid’ahan, sebagaimana Dia tidak akan menerima suatu amalan yang didalamnya terdapat kesyirikan. Maka perkara jahiliyah yang paling besar adalah mempersekutukan Allah dan berbuat bid’ah.

Lalu Rasulullah SAW datang dengan membawa misi Al-Ikhlas (Tauhid). Dan mengabarkan bahwa keikhlasan itu merupakan ajaran Allah SWT, dimana Allah SWT telah mengutus semua Rasul-Nya dengannya. Dan tidaklah akan diterima amalan, kecuali dari seorang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu yang mereka (orang-orang jahiliyah) anggap baik, sungguh Allah SWT telah mengharamkan surga baginya dan menjadikan neraka tempat tinggalnya.

Ini adalah perkara yang menyebabkan manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu mukmin dan kafir. Ini kaidah penting yang ketiga. Manusia yang membenarkan Rasulullah SAW, mengimaninya serta mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah SWT, merekalah yang disebut mukmin. Sedangkan manusia yang mengingkari Rasulullah SAW, mereka tetap berada didalam kesyirikan, cara beribadah dan mengikuti apa yang disembah oleh nenek moyang mereka. Seperti firman Allah :

"Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka"". (QS.Az-Zukhruf [43] : 23)

Dan mereka mengatakan :

"Apakah kamu melarang Kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak Kami ?" (QS. Hud [11] : 62)

Inilah ucapan dan argumentasi mereka, tetap berpegang sebagaimana yang dipegangi oleh nenek moyang mereka beribadah selain kepada Allah. Dari sinilah terjadi permusuhan antara mukmin dan kafir tadi. Maka wajib bagi kaum mukminin untuk memusuhi orang-orang kafir, tidak mencintai mereka walaupun mereka orang yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan kita.

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya". (QS. Al-Mujadilah [58] : 22)

Sehingga wajib bagi kita untuk berwala’ (berloyalitas) kepada Alllah, Rasulullah, dan orang-orang yang beriman, serta bara’ah (berlepas diri) dari semua bentuk kekufuran dan orang-orang kafir, kesyirikan dan kaum musyrikin. Allah berfirman :

"Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4).

dan karenanyalah disyariatkannya jihad. Sebagaimana Allah SWT berfirman ,

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan". (QS. AL-Anfaal [8] : 39)

Ada tiga kewajiban kita yang berhubungan dengan orang kafir yaitu :
  1. Memusuhi mereka, karena mereka musuh Allah SWT dan Rasul-Nya
  2. Menyeru mereka kepada keimanan dan mengikuti Rasulullah SAW dan ini perkara yang menjadi kewajiban bagi kaum muslimin.
  3. Memerangi mereka apabila menolak masuk Islam. Hal ini dilakukan apabila kaum muslimi sudah memiliki kemampuan untuk berperang.
"Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian". (QS. At-Taubah [9] : 5)

Didalam ayat ini terdapat penjelasan tentang hikmiah dari berjihad dalam Islam, yaitu menghilangkan kesyirikan sampai tidak ada lagi fitnah. Dan yang dimaksud fitnah adalah kesyirikan. Inilah tujuan daripada jihad. Bukan semata-mata untuk perluasan wilayah kekuasaan dan mendapatkan kekayaan saja. Tetapi tujuan utamanya adalah meninggikan kalimat Allah SWT dan melenyapkan kesyirikan dimuka bumi.

Dan juga bukanlah tujuan dari jihad didalam Islam hanya untuk pembelaan diri saja, sebagaimana yang dikatakan oleh orang munafik. Mereka mengatakan bahwa “ Sesungguhnya Islam tidak memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir, karena perang adalah sebuah perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan. Akan tetapi perang dalam Islam hanyalah sekedar untuk pembelaan diri saja”. Padahal Allah SWT berfirman :

"dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah". (QS. Al-Anfaal [8] : 39)

Jadi yang dimaksud perang dalam Islam adalah menyebarkan dakwah dan Agama serta menghilangkan kesyirikan dimuka bumi.

Syuhada Hada, LP3UI

Baca juga dalam kategori Aqidah

Komentar
0 Komentar

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes