,

Thursday, 23 October 2014

Akhlak Suami dalam Rumah Tangga


Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Karena kesempurnaan iman seseorang akan menjadikan pelakunya berhias dengan akhlak yang mulia dan berbuat baik kepada segenap manusia.

Sebaimana sabda Rasulullah:"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud no. 4682 dan at-Tirmidzi no. 1162, lihat ash-Shahihah al-Albani no. 284)

Rasulullah juga bersabda:"Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. at-Tirmidzi no. 1987, lihat Shahihul Jami’ no. 97)

Dalamhadits tersebut terdapat anjuran bagi setiap muslim untuk berhias dengan akhlak yang baik di dalam bergaul dengan sesama.Bagaimanakah wujud pengamalan akhlak yang baik dalam pergaulan?

Wujud pengamalan akhlak yang baik di dalam pergaulan adalah dengan menahan diri untuk tidak menyakiti  saudaranya baik melalui lisan seperti mencela, mengejek, mengumpat dan melaknat ataupun melalui tangan seperti memukul, melukai dan lain sebagainya. Kemudian bermurah hati atau suka memberi kepada orang lain serta sabar terhadap gangguan mereka.          

Rasululloh adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Anas bin Malik mengatakan:“Rasululloh adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim no. 2310)

Allah pun memuji keagungan akhlak Rasululloh, sebagaimana dalam firman-Nya:“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (al-Qolam: 4)

Rasululloh adalah orang yang paling baik pergaulannya kepada setiap orang, terlebih lagi kepada istri-istri beliau.Bahkan beliau menekankan dalam sabdanya:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada istrinya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada istriku.”(HR. at-Tirmidzi no. 3895 dan Ibnu Majah no. 1977, ash-Shahihah al-Albani no. 285)

Maka sebaik-baik mukmin adalah orang yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.Namun kenyataan yang terjadi dalam masyarakat sungguh menyedihkan dan bertentangan dengan sabda Rasulullah tersebut seperti merebaknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh sebagian suami. Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahnya akhlak mereka  dalambergaul dengan para istri.

Yang lebih mengherankan pada diri sebagian suami, sangat buruk dalam bergaul dengan istrinya namun begitu baik di dalam bergaul dengan orang lain. Terhadap istri sendiri ucapannya keras, kasar, bermuka masam, berdusta, tidak memberi nafkah, tidak mau membantu pekerjaan rumah dan lain sebagainya.Namun kepada orang lain – masya Allah- ucapannya lembut, sopan, bermuka manis, suka memberi dan mudah dimintai tolong. Ini merupakan kesalahan yang sangat besar dan menyelisihi petunjuk Rasulullah.

Memang benar kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Namun ingat, istri merupakan orang pertama yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan dari suami sebelum orang lain. Karena istri merupakan orang terdekat suami yang selalu menemaninya di waktu siang maupun malam.Apabila suami tertimpa suatu musibah maka istri adalah orang pertama yang ikut merasakan penderitaannya.Dan apabila suami merasakan kegembiraan atau kesedihan maka istri adalah orang pertama pula yang merasakan kegembiraan dan kesedihan tersebut. Sehingga apabila suami memiliki kebaikan, maka berikanlah kebaikan tersebut kepada istri sebelum memberikan kepada orang lain. Hendaklah seorang suami menjadikan istrinya sebagai sebaik-baik teman dan sebaik-baik orang yang dicintai.


Bagaimanakah kehidupan rumah tangga Rasululloh sehari-hari

Al-Aswad bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa kesibukan Rasululloh selama berada di rumah?”‘Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan rumah.” (HR. al-Bukhori no. 676)

Di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai pemimpin umat, Rasululloh masih sempat meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Sampai diceritakan bahwa beliau memerahkan susu untuk keluarganya, memperbaiki sandal, menjahit baju dan lain sebagainya. Subhanalloh, beliau tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak merasa gengsi untuk melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh para istri.Sementara sebagian suami di masa sekarang, mereka merasa gengsi untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mengurus anak dan lain sebagainya.          

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz mengatakan, “Wajib kepada para suami untuk mempergauli para istri dengan cara yang sebaik-baiknya.

Karena Alloh Ta’ala berfirman:“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) secara baik.Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisaa: 19)

Alloh Ta’ala juga berfirman:"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut carayang baik, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. (QS. al-Baqarah: 228)

Rasululloh bersabda:"Hendaklah kalian berwasiat kepada para wanita dengan kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851, lihat Adabuz Zifaf hlm. 270)(Majmu’ Fatawa Ibn Baz jilid 21, hlm. 230)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “Wajib bagi setiap suami istri, satu dengan yang lainnya untuk bergaul dengan cara yang baik dengan pergaulan yang indah, menahan diri untuk saling menyakiti dan tidak menunda-nunda dalam menunaikan haknya masing-masing.” (Manhajus Salikin hlm. 130)

Rasululloh adalah figur suami yang adil di dalam memberikan bagian kepada istri-istrinya. Satu contoh dalam hal ini adalah apa yang diceritakan oleh ‘Aisyah bahwasanya dahulu Rasululloh apabila ingin mengadakan perjalanan, beliau mengadakan undian bagi istri-istrinya. Barangsiapa yang namanya keluar maka itulah yang ikut bersama beliau.Dan beliau membagi hari giliran diantara istri-istrinya kecuali Saudah bintu Zam’ah yang menyerahkan hari gilirannya kepada ‘Aisyah demi mengharap ridho Rasululloh. (HR. al-Bukhori no. 2593 dan 2688)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “Dan wajib bagi suami untuk bersikap adil diantara istri-istrinya dalam masalah pembagian hari giliran, pemberian nafkah, pemberian pakaian dan perkara-perkara yang mampu baginya untuk berbuat adil.” (Manhajus Salikin hlm. 131)

Rasululloh bersabda, “Barangsiapa yang memiliki 2 istri kemudian ia condong kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tubuhnya miring.”(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan Nasa’i, lihat al-Irwa no. 2017)

Apabila seorang istri ingin melepaskan haknya (dan diberikan kepada istri lainnya) seperti hari giliran, nafkah dan pakaiannya dengan seizin suami, maka yang demikian ini dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Saudah. (Manhajus Salikin hlm. 131)


Romantisme Nabi Bersama ‘Aisyah

‘Aisyah berkata, “Suatu saat aku sedang minum dan ketika itu aku dalam keadaan haid.Kemudian aku tawarkan minuman tersebut kepada Rasululloh maka beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku.Aku pernah makan tulang dan ketika itu aku dalam keadaan haid.Kemudian aku tawarkan tulang tersebut kepada Rasululloh maka beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku.” (HR. Muslim no. 300)

‘Aisyah baerkata, “Rasululloh pernah melaksanakan salat dalam keadaan duduk, beliau membaca surat dalam keadaan duduk, maka apabila tersisa bacaan sekitar 30 atau 40 ayat beliau berdiri dan menyelesaikan sisa ayat dalam keadaan berdiri, kemudian ruku dan sujud. Beliau melakukan hal yang sama pada rakaat kedua. Tatkala beliau telah selesai dari shalatnya, beliau melihatku: apabila aku tidak tidur maka beliau berbincang-bincang denganku dan apabila aku tidur maka beliau berbaring.” (HR. al-Bukhari no. 1119)

Suatu ketika ‘Aisyah bersama Rasululloh mengadakan perjalanan, dan saat itu ‘Aisyah kurus badannya.Rasululloh mengatakan kepada para sahabat, “Berjalanlah kalian terlebih dahulu.”Kemudian beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Kemarilah, aku mau berlomba denganmu.”‘Aisyah pun berlomba dengan Rasululloh dan dimenangkan oleh ‘Aisyah.Beberapa waktu kemudian aku keluar bersama beliau dalam suatu perjalanan.Rasululloh mengatakan kepada para sahabat, “Berjalanlah kalian terlebih dahulu.”Kemudian beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Kemarilah, aku mau berlomba denganmu.”Dan ketika itu ‘Aisyah dalam keadaan gemuk.’Aisyah berkata, “Bagaimana mungkin aku berlomba denganmu wahai Rasululloh sementara aku dalam keadaan demikian?”Beliau berkata, “Ayo berlombalah.”Maka ‘Aisyah berlomba dengan Rasululloh dan dimenangkan oleh Rasululloh.Beliau berkata, “Ini sebagai balasan dari perlombaan sebelumnya.” (HR. Ahmad no. 24119 dan 26277, lihat Irwaul Ghalil no. 1502)

‘Aisyah berkata, “Suatu hari aku tidur di hadapan Rasulullah (beliau dalam keadaan shalat) dan kedua kakiku menjulur ke arah kiblat.Tatkala beliau sujud, tangan beliau meraba kakiku.Maka akupun segera menarik kakiku.Kemudian tatkala beliau bangkit, akupun kembali menjulurkan kedua kakiku.” (HR. al-Bukhari no. 513)


Romantisme Nabi Bersama Shafiyyah          

Shafiyyah berkata, “Suatu hari Rasulullah beri’tikaf kemudian aku mengunjunginya pada malam hari.Akupun berbincang-bincang dengannya.Tak berapa lama akupun bersiap untuk kembali ke rumah dan Rasululloh mengantarku pulang.” (HR. al-Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175)           
Wallohu a’lam bish-shawab


Sumber : Al-ilmu

Wednesday, 22 October 2014

Ada Apa dengan Bulan Muharram?


Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, bulan ini berada pada urutan pertama penanggalan hijriyah sejak diresmikan oleh Khalifah Umar bin Khaththab, bahwa bulan pertama pada kalender hijriyah adalah bulan muharram.


Keutamaan Bulan Muharram

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan-bulan yang memiliki kehormatan lebih dibandingkan bulan-bulan yang lainnya) dalam Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an (yang artinya),

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan itu adalah: Muharram, Rajab, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah, sebagaimana yang dideklarasikan oleh Rasulullah pada saat haji perpisahan.

Disebut bulan haram karena ia mengandung kemuliaan lebih (dari bulan-bulan lainnya) dan karena pada bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang. (Tafsir As-Sa’di, hlm.192)Cukuplah menunjukkan kemuliaan bulan Muharram ini ketika Rasulullah menjulukinya sebagai bulan Allah , beliau bersabda,

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim, no.1982 dari shahabat Abu Hurairah t)

Kata para ulama’, segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah itu memiliki kemuliaan lebih dari yang tidak disandarkan kepada-Nya, seperti baitullah (rumah Allah), Rasulullah (utusan Allah), dan lain-lain.

Dalam Islam, bulan Muharram memiliki nilai historis (sejarah) yang luar biasa; pada bulan ini, tepatnya pada tanggal sepuluh, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya serta menenggelamkan mereka di laut merah.

Di bulan ini juga Rasulullah bertekad kuat untuk berhijrah ke negeri Madinah, setelah mendengar bahwa penduduknya siap berjanji setia membela dakwah beliau. Walaupun tekad kuat beliau ini baru bisa terealisasi pada bulan Shafar.

Selain itu, di bulan ini terdapat ibadah puasa yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan sebagaimana hadits di atas.Beliau juga bersabda ketika ditanya tentang keutamaannya: “Menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim, no.1977 dari shahabat Abu Qotadah Al-Anshari )

Berkaitan dengan puasa ‘Asyuro’, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca kembali pada edisi sebelumnya.(Edisi No:02/I/VIII/1431


Bulan Muharram Bukan Bulan Sial

Sebagian orang menyakini bulan Muharram sebagai bulan keramat yang tidak boleh dibuat pesta dan bersenang-senang, sehingga banyak aktivitas tertentu yang ditunda atau bahkan dibatalkan. Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sebagai contoh adalah pernikahan, mereka enggan menikahkan putra putrinya di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai.

Ketika ditanya mengenai alasan mereka menilai bulan Muharram sebagai bulan keramat nan penuh pantangan, tidak ada jawaban berarti dari mereka selain, ’Beginilah tradisi kami’ atau ’Beginilah yang diajarkan bapak-bapak kami’.

Sikap mengikuti tradisi atau leluhur tanpa bimbingan Islam adalah terlarang, bahkan sikap seperti ini termasuk sifat orang-orang jahiliyah dan penyembah berhala dimasa Rasulullah dan nabi-nabi sebelumnya. Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an tentang jawaban orang-orang Quraisy ketika diajak oleh Rasulullah untuk meninggalkan kesyirikan, kata mereka (yang artinya)

,“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)

Demikian pula Fir’aun, ketika diajak oleh Nabi Musa agar beriman kepada Allah , ia malah berkata (yang artinya,

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.” (QS. Yunus: 78)

Kemudian, anggapan sial untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti hajatan dan semisalnya di bulan Muharram yang diyakini oleh keumuman masyarakat Jawa, dalam ajaran Islam disebut Tathoyyur atau Thiyaroh, yaitu meyakini suatu keburuntungan atau kesialan didasarkan pada kejadian, tempat, atau waktu tertentu.

Anggapan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, maka ia dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus ditinggalkan. Allah berfirman (Artinya):

”Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131)

Dalil yang menunjukkan bahwa Tathoyyur atau Thiyaro­h termasuk kesyirikan adalah sabda Rasulullah

“Thiyaroh adalah kesyirikan”, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud )

Apabila kita telah mengetahui bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, maka kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita dari keyakinan tersebut. Sehingga kita beserta keluarga kita tidak terjerembab kedalam kubangan dosa besar yang paling besar, yaitu dosa syirik.


Hati-hati dengan Syi’ah

Orang-orang syi’ah menjadikan bulan Muharram sebagai hari-hari berkabung. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang syi’ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu Rasulullah , Husein bin Ali  di padang Karbala.

Acara rutin mereka tersebut dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Pada tanggal 1 Muharram sampai tanggal 9 Muharram mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Al-Huseiniyah adalah tempat ibadah syi’ah, akan tetapi biasanya Al-Huseiniyyah digunakan untuk makam Imam, bukan untuk melaksanakan shalat. Sedangkan shalat dilakukan di luar bangunan. Penamaan ini diambil dari nama Husein bin Ali.

Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga meninggalkan bekas (luka memar) yang mencolok.

Kemudian, pada acara puncak, mereka mengenakan kain berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih pula. Setelah itu, mereka menghantamkan pedang, pisau, atau benda tajam lainnya ke kepala dan dahi mereka sehingga darah pun bercucuran. Darah yang mengalir ke kain putih membuat suasana semakin mencekam, bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis histeris.

Demikianlah gambaran ringkas tentang berkabungnya orang-orang syi’ah di Iran pada bulan Muharram. Seperti yang telah kami sebutkan, tujuan utama mereka adalah untuk mengenang terbunuhnya Husein bin Ali.

Sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu Rasulullah itu. Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah, seperti, merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan sebagian orang-orang syi’ah.

Rasulullah bersabda: ”Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud )

Lebih dari itu, bagi wanita yang meratapi mayit dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga yang meleleh, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari.

Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut bukan hanya tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Peringatan 10 Muharram oleh orang-orang syi’ah, untuk mengenang terbunuhnya shahabat Husein tidak hanya diadakan di Iran saja, tetapi juga di negara-negara lainnya, seperti India, Pakistan, Lebanon, dan juga Indonesia, hanya saja tata caranya berbeda.

Di Indonesia, misalnya, sudah menjadi acara rutin tahunan bagi syi’ah mengadakan acara ini yang mereka istilahkan dengan haul arba’in-an, yaitu mengenang 40 hari syahidnya shahabat Husein.

Para pembaca rahimakumullah, maka jangan tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang-orang syi’ah seperti contoh di atas. Karena tujuan mereka melakukan hal itu untuk menarik dan memikat hati kaum muslimin agar tertarik dan membela mereka. Demikian pula perbuatan mereka itu sama sekali bukan bagian dari Islam.

Itulah beberapa fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat seputar perbedaan menyikapi bulan Muharram.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa membedakan antara syari’at dan adat. Syari’at harus dikedepankan, walaupun menyelisihi adat. Sebaliknya, adat harus ditinggalkan ketika menyelisihi syari’at, demikianlah Islam. Karena dengan sikap inilah Islam akan jaya. Adapun jika umat masih mengedepankan adat dan tradisi, walaupun bertentangan dengan syari’at, maka pada saat itulah mereka akan ditimpa kehinaan dan kerendahan, inilah makna hadist Rasulullah,

"Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa saja yang menentang syari’atku.” (HR. Al-Bukhari, dari shahabat Abdullah bin ’Umar y)

Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan tambahan ilmu bagi saudara-saudaraku seiman dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal ’alamin…



Sumber : Al Ilmu

Tuesday, 21 October 2014

Bertauhid dengan Makna yang Seutuhnya


Tauhid merupakan landasan terpenting dalam agama para rasul dan poros utama dakwah mereka. Dan Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

 “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dalam keadaan dia ridho)” (An-Nahl : 36)

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya :
“Bahwasanya tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka beribadahlah kalian semua kepada-Ku” (Al-Anbiya’ : 25)

Tauhid adalah masalah yang paling penting dalam Islam. Tauhid adalah satu-satunya garis pemisah yang membedakan antara muslim dan kafir. Dengan tauhid, jiwa, harta, dan kehormatan seorang hambadiharamkan (wajib dijaga/dilindungi). Maka dari itu, tauhid merupakan kewajiban pertama atas setiap hamba.

Tauhid adalah meyakini bahwa Allah-lah satu-satu Pencipta, Penguasa, dan Pengatur seluruh alam, Allah sebagai satu-satunya yang berhak dan pantas diibadahi, dan hanya Allah sajalah yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat kesempurnaan, tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk-makhluk-Nya. Ringkasnya, tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalamrububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan asma’ danshifat-Nya.             

Tauhid akan terwujud dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat kemudian menjalankan segala konsekuensinya. Konsep tauhid dengan tiga jenisnya di atas, telah sempurna sejak pertama kali Islam diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang terdapatdalam Al-Qur`anulKarimdan As-Sunnah.      

Oleh karena itu, Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbarirahimahullah  (wafat tahun 387 H) dalam karya besarbeliauyang berjudul Al-Ibanah al-Kubra, mengatakan:

“Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, adatigahal:

Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.

Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya (Uluhiyyah-Nya),yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya.

Ketiga: Meyakini bahwa Dia (Allah) bersifat dengan sifat-sifat (kesempurnaan) yang Dia mesti bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu,Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri dengannya dalam kitab-Nya.”

Jadi, tidaklah benar anggapan sebagian orang bahwa pada abad ke-8 hijriah Ibnu Taimiyyah memunculkan teori baru pembagian tauhid menjadi tiga. Atau sebagian orang yang melemparkan tuduhan tersebut kepada Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Sungguh semua itu tidak berdasar sama sekali.

Tauhid dengan tiga jenisnya di atas, merupakan satu kesatuan yang utuh. Tidak boleh mengimani salah satunya saja dan mengingkari yang lain. Maka seseorang yang meyakini Allah sebagai Pencipta alam semesta, Pemberi rizki, namun meyakini bahwa ibadah tidak harus ditujukan kepada Allah saja dan boleh ditujukan kepada selain Allah. Maka orang ini belum bertauhid, walaupun meyakini Allah sebagai Pencipta, Penguasa, dan Pengatur jagat raya ini.

Karena kaum musyrikin arab, yang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada mereka, ternyata juga meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, dan Pengatur jagad raya. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman tentang mereka,

“Kalau kamu bertanyakepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, serta mengatur matahari dan bulan?’ Niscaya mereka akan menjawab, “Allah.” Maka bagaimanakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).“(al-’Ankabut : 61)

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Niscaya mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (Yunus : 31)

“Tidaklah beriman kebanyakan mereka, kecuali mereka itu musyrikin.” (Yusuf : 106)

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk keimanan mereka adalah, apabila ditanyakan kepada mereka,‘Siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptkan bumi? Dan siapakah yang menciptakan gunung-gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’ . Namun mereka adalah musyrikin. (lihat Tafsir ath-Thabari, no. 19954).

Al-Imam ‘Ikrimah rahimahullah  mengatakan, … Maka itulah iman mereka kepada Allah. Namun mereka beribadah kepada selain-Nya. (lihat Tafsir ath-Thabari, no. 19955).             

Al-Imam Ibnu Katsir, setelah menukilkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas di atas, mengatakan dalam kitab Tafsirnya, “Itu juga pendapat  Mujahid, ‘Atha’, ‘Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah, adh-Dhahhak, dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.”

Hikmah yang bisa diambil di sini adalah, bahwa berdasarkan keterangan ayat-ayat di atas, bangsa ‘arab Quraisy yang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka dihukumi belum bertauhidmeskipun mereka mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta.

Mereka masih berstatus sebagai musyrik dan kafir, karena mereka menolak untuk menujukan peribadatan mereka hanya kepada Allah satu-satunya. Dengan kata lain, karena mereka menolak Tauhid al-Uluhiyyah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang mereka,

“Sesungguhnya mereka apabila dikatakan kepada mereka ‘La ilaaha illallah’ (bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah) maka mereka pun menyombongkan diri. Seraya mengatakan, “Akankah kami meninggalkan ilah-ilah (yang kami ibadah) karena (ajakan) penyair gila (yakni Nabi Muhammad)??” Padahal dia (Muhammad) datang membawa al-Haq (kebenaran) dan membenarkan para rasul.” (ash-Shaffat : 35-37)

“Apakah dia (Muhammad) hendak mengajak untuk menjadikan ilah-ilah (yang banyak ini) menjadi satu ilah saja (yakni Allah saja). Maka sungguh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” (Shad : 5)

al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna ayat tersebut dalam tafsirnya, “Apakah dia (Muhammad) meyakini bahwa yang diibadahi hanya satu saja, tidak ada ilah (yang diibadahi) kecuali hanya Dia (Allah Ta’ala)?!” Demikianlah kaum musyrikin mengingkari seruan tersebut – semoga Allah menjelekkan mereka – dan sangat terheran-heran dari ajakan meninggalkan kesyirikan kepada Allah. Karena mereka mewarisi dari nenek moyangnya ajaran peribadatan kepada berhala, dan itu benar-benar merasuk dalam hati sanubari mereka. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada mereka untuk menanggalkan semua keyakinan itu dari hati mereka dan beliau mengajak mereka untuk mengesakan Allah dalam wahdaniyyah-Nya, maka mereka menggangap ini sebagai perkara besar dan mereka sangat terheran-heran dengannya.”

Mungkin timbul pertanyaan, jika mereka meyakini bahwa pencipta dan penguasa serta pengatur alam semestainiadalah Allah, lantas apa keyakinan mereka terhadap berhala-berhala tersebut? Kenapa mereka menyembahnya?

Jawabannya, sebagaimana dijelaskan oleh AllahTa’ala

“Mereka mengibadahi selain Allah sesuatu yang tidak memberikan mudharat (bahaya) kepada mereka dan tidak pula memberikan manfaat kepada mereka, dengan mengatakan “Ini adalah para pemberi syafa’at (perantara/penolong) untuk kami di sisi Allah.”

Di sinilah letak kesyirikan kaum musyrikin Arab, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdiutus kepada mereka.

Mereka tidak meyakini bahwa berhala-berhala itu sebagai pencipta dan penguasa serta pemberi rizkiNamun mereka mengibadahi berhala-berhala itu – yang merupakan perwujudan orang-orang shalih – di samping beribadah kepada Allah,dengan keyakinan bahwa orang-orang shalih yang dimonumenkan dalam bentuk berhala itu akan memberikan manfaat kepada mereka berupa syafa’at di sisi Allah, yaitu sebagai perantara. Sehingga mereka berdo’a, bertawakkal, beristighatsah kepada berhala-berhala tersebut dengan keyakinan bahwa mereka mampu menyampaikan segala yang diinginkan kepada Allah. Di samping juga memberikan sesajiandan sembelihan kepadanya, denganmengharapkan barokah, rezki, dan lain sebagainya. Tujuannyaadalah mendekatkan diri kepada Allah. Demikian keyakinan mereka. Inilah kesyirikan dalam peribadatan. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membantah mereka dalam lanjutan firman-Nya pada ayat tersebut

,“Katakan : Apakah kamu akan memberitakan kepada Allah sesuatu yang tidak Allah ketahui (yakni tidak ada) baik di langit maupun di bumi? Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Yunus : 8) 
           
Demikianlah sekelumit sajian tentang urgensi memahami dan menerapkan tauhid dengan makna yang seutuhnya.Semoga Allah senantiasa meneguhkan jiwa kita di atas tauhid yang seutuhnya dan menjauhkan kita dari kesyirikan dan segala cabangnya. Aamiin.



Sumber : Al


Monday, 20 October 2014

Sedekah Air Pahala Mengalir


Biasanya, jika beristirahat, mereka membiarkanku kepanasan sedangkan mereka berteduh. Mereka juga tidak memberiku makan atau minum, sampai tiba waktu untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, dalam kesempatan istirahat kali ini, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menetes ditubuhku, lalu menetes kembali. Setelah kuraba ternyata itu adalah tetesan air dari sebuah ember. Maka akupun segera meminumnya sedikit, lalu ember terangkat dan kembali lagi. Aku mengambilnya lagi dan minum sedikit. Lalu ember itu terangkat dan kembali lagi. Kejadian itu terus berulang beberapa kali, dan aku meminumnya sedikit demi sedikit sampai puas. Kemudian akupun membasuh seluruh tubuh dan pakaianku..

Itulah kisah yang disampaikan sendiri oleh Ummu Syuraik, seorang shahabiyah yang disiksa oleh musyrikin Quraiys karena keistiqomahannya dalam bertauhid. Allah memberinya pertolongan dengan tetesan air dari ember yang tergantung diantara langit dan bumi, sehingga diapun bisa bertahan hidup.


Sedekah paling utama

Air adalah senyawa yang penting bagi semua makhluk hidup, mereka tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan. Kebutuhan mereka terhadap air jauh lebih besar daripada kebutuhan terhadap makanan. Manusia akan lebih lama bertahan hidup dengan keberadaan air daripada hidup dengan makanan namun tanpa adanya air. Maka memberikan air sama dengan memberikan kehidupan bagi orang lain dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Oleh karena itu, Rasulullah menyebutkan bahwa bersedekah air merupakan amalan utama.

Dari Saad bin Ubadah RA, ia pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Memberi air.” (HR. Abu Dawud. Shahih).

Ibnu Abbas RA juga pernah ditanya, sedekah apakah yang paling utama? Ia menjawab, “Air, apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana penduduk neraka memohon kepada penduduk surga:`
Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Allah kepadamu`. Mereka (penghuni syurga) menjawab: `
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.’ (QS. Al A’raf : 50) .Menurut Imam Qurthubi ayat ini merupakan dalil bahwa memberi air adalah termasuk sedekah yang paling utama.


Pelebur Dosa

Manusia tidak lepas dari salah dan khilaf. Namun demikian Allah dengan rahmat-Nya selalu memberikan kesempatan kepada semua hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa untuk bertaubat untuk melebur segala dosa dan kesalahannya. Ada salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa seorang hamba yang sering dilupakan dan diremehkan manusia yaitu dengan cara bersedekah, karena ia termasuk amal kebaikan. Rasulullah bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Sebagian tabi’in berkata, “Barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya ia banyak bersedekah dengan air.”


Pendatang pahala

Suraqah bin Ju’tsum berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang unta yang tersesat lalu mendatangi telagaku, apakah aku mendapat pahala jika kuberi minum?” Beliau bersabda, “Ya. Pada setiap sesuatu yang punya hati (yang hidup) akan mendapat pahala.” (Ash-Shahihah: 2152)

Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa menggali sumur, maka tidak ada yang memiliki hati yang hidup dari kalangan jin, manusia, dan burung yang meminumnya, kecuali karenanya Allah memberi pahala kepadanya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban)Pahala sedekah air bahkan masih memberikan manfaat bagi seseorang yang sudah meninggal dunia. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat. Sedekah apakah yang lebih utama untuknya?” Nabi SAW menjawab, ”Air.” Lalu Sa’ad menggali sumur dan ia berkata, “Ini untuk Ibu Sa’ad.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)


Penyakit sirna

Setiap manusia pernah mengalami sakit, baik itu sakit ringan ataupun berat, bahkan Rasulullah juga menjelang wafatnya mengalami sakit. Ini sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan. Islam mengajarkan kepada kita agar berikhtiyar untuk melakukan pengobatan. Sedekah merupakan salah satu cara efektif untuk mengobati penyakit sebagaimana sabda Rasulullah,

“Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata di dalam kitab Al Wabilush Shayyib, “ Sesungguhnya sedekah itu memiliki pengaruh yang luar biasa di dalam menolak berbagai macam musibah, dan ini sudah sangat dimaklumi oleh seluruh manusia baik yang awam maupun yang berilmu, seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah membuktikannya”.

Di antara bukti kebenaran tentang hal ini adalah apa yang disebutkan oleh Al Hafidz Ad Dimyathi dalam kitab Al Matjarur Rabih fi Tsawabil ‘Amalis Shalih, dari Ali bin Hasan bin Syaqiq ra. berkata, aku mendengar Ibnul Mubarak ditanya seorang lelaki, “Wahai Abu Abdirrahman ada luka di lututku aku telah berusaha mengobatinya dengan berbagai macam obat, bertanya kepada para dokter tapi tetap tidak bisa memberiku manfaat?” Ibnul Mubarak berkata, “Pergilah kesuatu tempat lalu pilihlah lokasi dimana manusia membutuhkan air, lalu galilah sumur diatasnya aku berharap akan muncul mata air disana yang akan menahan darah dari dirimu.” Lelaki itupun melakukan saran tersebut maka sembuhlah ia.

Pembaca sekalian, memberi minum kepada tamu yang berkunjung ke rumah kita, menyediakan minuman ketika ada kajian, atau menyediakan galon yang berisi air mineral di masjid dan fasilitas umum adalah diantara contoh cara bersedekah dengan air. Bahkan terhadap makhluk lain sekalipun, seperti kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, kita tetap dianjurkan untuk memberi sedekah meski hanya dengan setetes, seteguk atau seciduk air. Ketika kita melakukan hal ini berarti kita telah melakukan amal utama yang akan mendatangkan pahala, diampuni dosa-dosa kita, penyakit akan sirna dan merupakan jalan meraih surga.
Wallahul musta’an.


Sumber : Ar Risalah

Sunday, 19 October 2014

Kendala Sirna Karena Takwa


Tak sedikit orang yang berpikir, bahwa hidup tanpa aturan halal haram lebih berpeluang untuk mendapatkan kemudahan. Dengan tanpa aturan mereka merasa memilki lebih banyak pilihan dan jalan. Ingin sukses menjadi pejabat, ingin menjadi orang kaya, ataupun keinginan lain yang disangka mendatangkan kebahagiaan dirinya. Tak peduli dengan cara suap, penghasilan riba, menjual makanan yang haram, menanggalkan syariat demi sebuah karier yang kesemuanya terbebas dari pertimbangan syar’i.

Begitupun dalam menghadapi solusi dari setiap problem yang dihadapi. Tanpa
ahkan batasan syariat, mereka merasa lebih leluasa untuk mencari jalan keluar. Mereka bisa mencoba semua cara yang pernah dilakukan manusia. Baik tatkala menghadapi problem pekerjaan, terlilit hutang, berurusan dengan perselisihan, atau sakit yang tak kunjung sembuh. Mereka bisa mengenakan jimat, mendatangi dukun, berbohong dan cara-cara lain yang rasional maupun tidak, tanpa dibayang-bayangi oleh norma syar’i, halal ataukah haram.

Begitulah logika hawa nafsu yang tidak mengenal Sang Pencipta. Seakan alam ini berjalan begitu saja tanpa ada yang mengaturnya. Seakan kejadian dan peristiwa itu bisa terjadi tanpa kehendak-Nya.


Urusan Mudah dengan Takwa

Berbanding terbalik dengan logika iman yang Allah ajarkan. Justru dengan takwa, segala urusan menjadi mudah. Dengan membatasi diri dengan yang halal, dan meninggalkan semua cara-cara haram, kemudahan akan didapat. Bukankah Allah yang menciptakan manusia, Dia pula yang paling tahu tentang kebutuhan hamba-Nya, dan jalan apa yang paling mudah untuk meraihnya. Maka Allah menggariskan jalan berupa syariat kepada manusia. Dengannya manusia akan berhasil menemukan keberuntungan dan kemaslahatan yang didambakan, asal mereka sudi menempuh jalannya.

Taat terhadap perintah dan larangan syariat inilah realisasi dari takwa. Makin taat terhadap aturan, makin mulus jalan bagi seseorang untuk meraih tujuan. Tidak mungkin dia akan dikecewakan. Karena mustahil Allah mengingkari janji-Nya, mempermainkan atau menzhalimi hamba-Nya yang telah tunduk dan taat di atas aturan yang digariskan-Nya. Allah telah berjanji,

“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. 92:5-7)

Itulah kabar gembira bagi orang yang berbekal takwa dalam memburu kemaslahatan. Dia akan dimudahkan dalam segala urusan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bukan saja kemudahan tatkala mendapatkannya, tapi juga berupa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan yang menyertainya. Orang yang bermuamalah dengan jujur misalnya, maka Allah akan memudahkan urusannya dan memberkahi usahanya. Dan setelah tujuan itu tercapai, pun tidak menyisakan was-was atau kekhawatiran, karena ash-shidqu thuma’niinah, kejujuran itu membawa ketenangan.

Pada ayat berikutnya, Allah menyebutkan yang sebaliknya. Ada kabar buruk bagi orang yang tak mengindahkan takwa, yakni berupa jaminan kesulitan dan kesukaran yang akan ditemuinya. Allah berfirman,

“Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS al-Lail 8-10)

Ada yang menarik dari dua kondisi berkebalikan yang disebutkan di atas. Sudah sangat maklum ketika Allah menyebutkan, kebalikan dari memberi adalah bakhil, kebalikan dari membenarkan adalah mendustakan, dan kebalikan dari kemudahan adalah kesulitan. Tapi, kenapa Allah menyebutkan kebalikan dari ‘ittaqa’ (takwa) adalah ’istaghna’, merasa tidak butuh (terhadap pertolongan Allah)?

Ada jawaban yang memuaskan dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang hal ini, sebagaimana beliau sebutkan dalam kitabnya At-Tibyaan fii Ahkaamil Qur’an. Beliau menyebutkan, bahwa orang yang bertakwa, tatkala menyadari betapa mereka itu fakir di hadapan Allah, dan amat membutuhkan pertolongan Allah, maka dia takut mengundang murka dan kemarahan Allah, takut melanggar apa yang dilarang oleh Allah. Sungguh ini adalah argumen yang sangat tepat. Bagaimana mungkin seseorang berani membuat kecewa dan sengaja memancing kemarahan Dzat yang berwenang dan Kuasa memberikan segala sesuatu atau mencegahnya? Maka tepat jika disebutkan bahwa kebalikan dari takwa adalah ’istaghna’, merasa tidak butuh pertolongan Allah. Orang yang tidak merasa butuh pertolongan-Nya, maka dia tidak peduli atas segala tindakannya. Dia tidak takut bermaksiat dan mengundang murka-Nya.

Maka sebagai balasan dari rasa congkaknya itu, Allah akan menimpakan kesulitan yang senantiasa mengepungnya dari segala arah. Hingga sulit baginya mendapatkan kemaslahatan hakiki yang menenangkan jiwa dan hati.

Sekilas ada yang janggal, karena faktanya banyak orang yang menempuh jalan haram, namun dengan mudah bisa mencapai tujuannya. Mari kita renungkan dengan seksama, apakah benar mereka mendapatkan kemudahan? Karena ukuran kemudahan itu tidak hanya diukur dari start seseorang memulai usaha sampai tujuan teralisasi. Namun juga melihat resiko di belakangnya. Bagaiamana dikatakan kemudahan, jika setelah tujuan tercapai justru membawa efek kegundahan dan kekhawatiran di belakangnya? Atau bahkan resiko yang lebih besar serta berefek pada keruwetan yang berkepanjangan? Mungkin orang bisa cepat kaya dengan korupsi, tapi apakah ini berarti kemudahan? Bukan..! sekali lagi bukan! Karena hati maling tak pernah tenang, takut jika perbuatannya diketahui. Dan tatkala aksinya benar-benar ketahuan, buntutnya adalah problem berkepanjangan. Ini hanya sekedar sampel, namun begitulah ujung dari semua cara meraih tujuan yang tidak memenuhi unsur takwa, sulit dan rumit. Belum lagi kesusahan yang lebih berat dan lebih kekal akan mereka alami di akhirat kelak, nas’alullahal ’aafiyah.


Kendala Sirna Karena Takwa

Di samping memuluskan jalan meraih kebaikan dan kemaslahatan, takwa juga menjadi solusi mujarab atas semua problem yang dihadapi manusia. Abu Dzar radhiyallahu ’anhu menceritakan, bahwa suatu kali Nabi saw membaca firman Allah,

”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS ath-Thalaq 2-3)

Beliau mengulang-ulang ayat itu kemudian bersabda,

”Wahai Abu Dzar, seandainya manusia mengambil (cara) ini, niscaya akan mencukupi mereka.” (HR al-Hakim beliau mengatakan, sanadnya shahih. Adz-Dzahabi juga menyebutkan dalam at-Talkhis bahwa hadits ini shahih)

Ayat tersebut tidak menyebutkan jalan keluar dari problem apa, ini menunjukkan keumuman makna. Artinya, bahwa takwa menjadi jalan keluar bagi seluruh problem yang di hadapi manusia. Abu al-Aliyah menafsirkan ayat tersebut,

”Yakni jalan keluar dari segala kesulitan. Ini mencakup segala kesulitan di dunia maupun di akhirat, serta kesempitan di dunia maupun di akhirat.”

Inilah resep paling ampuh untuk mengatasi segala masalah. Solusi yang tak mungkin salah. Karena berasal dari Dzat yang Mahatahu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Banyak sudah bukti yang dirasakan oleh orang-orang yang berusaha merealisasikan takwa. Ibnu al-Jauzi adalah salah satu orang yang telah merasakan khasiatnya. Sebagaimana pengakuan beliau dalam kitabnya ’Shaidul Khaathir’, di mana beliau berkata,

”Suatu kali saya mengalami problem yang rumit. Urusan yang menimbulkan kegundahan berkepanjangan. Lalu aku berpikir keras untuk mencari solusi dari kegelisahan ini. Dari segala solusi yang mungkin, saya kaji dari berbagai sisi, namun saya belum juga mendapat jawaban yang memuaskan. Lalu ditawarkan kepadaku solusi dari firman-Nya,

”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS ath-Thalaq 2)

Lalu saya pun tahu, bahwa takwa adalah solusi paling handal untuk menyudahi segala kegundahan. Maka setiap kali saya berusaha merealisasikan takwa, disitulah saya dapatkan jalan keluar.”

Adapun, cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang fajir, meski sekilas tampak ada penyelesaian dari satu sisi, namun dampak negatif yang ditimbulkannya lebih luas dan lebih berat lagi. Karena Allah menjanjikan kesulitan bagi mereka yang melanggar rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah. Mereka yang lebih percaya dengan jimat, dukun ataupun cara haram yang lain, tak  mendapat solusi yang memadai. Begitupun orang yang tak merasa butuh dengan pertolongan Allah, dan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan akalnya semata. Justru rasa takut yang makin akut, depresi yang terus menghantui dan keruwetan yang menjadi-jadi, laksana benang kusut yang tak jelas pangkal dan ujungnya. Belum lagi kesulitan akhirat yang lebih berat dan lebih abadi. Allahumma rahmataka narju, wa laa takilna ilaa anfusina tharfata ’ain.


Sumber : Ar Risalah (Abu Umar Abdillah)

Saturday, 18 October 2014

Menyusu Pasca Usia Dua Tahun


Para fuqaha sepakat bahwa apabila seorang anak yang belum mencapai usia 2 tahun menyusu kepada seorang perempuan, sekurang-kurangnya 5 kali—bukan 5 hisapan, tetapi 5 kali kenyang dengan indikasi si anak yang melepasnya—maka terjadilah hubungan susuan. Perempuan itu seperti ibunya. Suami perempuan itu seperti ayahnya dan anak-anak dari perempuan itu seperti saudara-saudaranya. Terjadi hubungan kemahraman di antara mereka.

Para fuqaha berbeda pendapat apabila yang menyusu adalah anak yang berusia lebih dari dua tahun atau orang dewasa. Pendapat pertama, menyusu setelah berusia lebih dari 2 tahun tidak berdampak hukum. Ini adalah pendapat Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurayrah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin ‘Umar, Abu Musa al-Asy’ari, para istri Nabi selain ‘Aisyah, Abu Hanifah, Malik bin Anas, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, at-Tirmidziy, al-Awza’iy, Sufyan ats-Tsawriy, Ibnu Abi Layla, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur, Abu ‘Ubayd, Ath-Thabariy, al-Qurthubi, al-Bayhaqi, Ibnu Mundzir, a-Khaththabi, Ibnu al-‘Iraqi, az-Zulai’i, Ibnu Rusyd, Ibnu Katsir, Ibnu Shabbagh, Ibnu Hubayrah, al-Babartiy, al-‘Aini, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Ibnu Bathal, Ibnu ‘Asyur, Hafizh Hakami, Ibnu Baaz, dan Ibnu ‘Utsaimin.

Pendapat kedua, menyusu setelah berusia lebih dari 2 tahun berdampak hukum sama dengan menyusu sebelum berusia dua tahun. Ini adalah pendapat ‘Aisyah, ‘Urwah bin Zubair, Laits bin Sa’ad, Ibnu Hazm, dan Dawud azh-Zhahiri.Pendapat ketiga, pada dasarnya menyusu setelah berusia lebih dari 2 tahun tidak berdampak hukum. Hanya, apabila dijumpai kasus yang mirip dengan kasus Salim, mawla (bekas budak) Abu Hudzaifah, berlaku untuknya apa yang berlaku untuk Salim. Ini adalah pendapat Ibnu Taymiyah, Ibnul Qayyim, asy-Syawkani, ash-Shan’ani, Muhammad Shiddiq Hasan Khan, Abdurrahman bin Qasim, Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Dari ketiga pendapat di atas, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama lantaran kuatnya dalil-dalil yang mereka pegangi.

Dalil yang pertama adalah firman Allah, “Perempuan-perempuan yang melahirkan itu hendaklah menyusui anak-anak mereka selama dua tahun yang sempurna, bagi siapa yang ingin menyempurnakan susuan.” (Al-Baqarah: 233)Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah petunjuk dari Allah bahwa hendaknya para ibu menyusui anak-anaknya secara sempurna, yakni dua tahun. Lebih dari itu maka tidak dianggap sebagai radha’ah (penyusuan).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/350)Ibnu Bathal berkata, “Allah mengabarkan bahwa radha’ah yang sempurna itu dua tahun. Maka disimpulkan bahwa penyusuan di luar dua tahun bukanlah radha’ah. Sebab, jika setelah dua tahun masih disyariatkan, berarti dua tahun belumlah sempurna.” (Syarah Shahih al-Bukhari, 7/197)

Dalil di atas menunjukkan secara mafhum bahwa menyusu setelah usia dua tahun bukanlah radha’ah. Hal itu dipahami dari teks “bagi siapa yang menghendaki untuk menyempurnakan persusuan.” Sempurna berarti tidak ada sesuatu sesudahnya.

Dalil berikutnya adalah hadits-hadits Nabi saw. Di antaranya:“Hendaklah kalian meneliti lagi saudara-saudara sepersusuan kalian. Sesungguhnya hubungan sepersusuan itu hanya terjadi karena lapar!” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Tidak ada hubungan sepersusuan kecuali yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.” (HR. Abu Dawud)

“Menyusui tidak menjadikan hubungan kemahraman kecuali jika air susu sampai ke lambung (berfungsi seperti makanan), pada usia menyusu, sebelum disapih. (HR at-Tirmidzi 3/458, hasan shahih)

Dalil pendapat kedua adalah pendapat ‘Aisyah yang melakukan qiyas terhadap kasus Salim. Dalil pendapat ketiga pun demikian. Adapun hadits Salim yang dimaksud adalah:Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) menemui Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat ekspresi tidak suka di wajah Abu Hudzaifah karena masuknya Salim ke dalam rumah.’ Maka Nabi saw bersabda, ‘Susuilah ia!’ Sahlah berkata, ‘Bagaimana aku menyusuinya, sementara Salim adalah laki-laki dewasa?’ Rasulullah saw tersenyum dan bersabda, ‘Aku pun tahu ia laki-laki dewasa.’.” (HR. Muslim)

Banyak ulama yang me-radd (mengantitesa) pendapat kedua dan ketiga ini. Di antaranya al-Khaththabi yang berkata, “Secara umum, ahli ilmu memaknai urusan ini kepada salah satu dari dua makna, berlaku khusus untuk Salim atau hukumnya telah mansukh (dihapus).” (Tharhut Tatsrib, 7/346)

Juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Setelah menyatakan bahwa yang menjadi asal masalah ini adalah pernyataan Ummu Salamah dan istri-istri Nabi yang lain selain ‘Aisyah, beliau mengutip pernyataan Ibnu Shabbagh dan yang lain yang berbunyi, “Asal kisah Salim adalah adopsi yang terjadi pada dirinya (yang hubungan kemahraman antara dirinya dengan keluarga yang mengadopsinya dibatalkan Islam). Sangat mungkin terjadi ikhtilath antara Salim dengan Sahlah. Ketika turun ayat hijab dan larangan mengadopsi, Sahlah merasa berat hati. Maka datanglah rukhshah untuknya untuk mengangkat kesulitannya.” (Fathul Bari, 14/346).
Wallahu a’lam.


Sumber : Ar Risalah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes