,

Friday, 4 September 2015

Awal Penyebaran Umat Manusia


Jumlah penduduk dunia saat ini kurang-lebih sebanyak 7,2 miliar jiwa dan diperkirakan angkanya akan naik hingga 8,5 miliar jiwa pada tahun 2030. Jumlah populasi manusia ini akan terus bertambah dari masa ke masa sejak diciptakannya manusia pertama oleh Allah SWT.Manusia pertama yang Allah SWT ciptakan adalah Nabi Adam AS dan Hawa. Awalnya, Allah SWT menempatkan mereka di surga. Akan tetapi, setan terus berusaha merayu Nabi Adam dan Hawa untuk melanggar larangan Allah, yaitu mendekati pohon khuldi, bahkan mereka memakan buahnya. Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke bumi dengan terpisah.

Ibnu Khaldun, dalam kitab Muqaddimah-nya menulis tentang sebuah masjid di salah satu propinsi di India bernama masjid Adam AS. Beberapa riwayat memang mengatakan bahwa Nabi Adam memang diturunkan di India, sementara Hawa diturunkan di Mekah. Nabi Adam AS pun mencari istrinya, hingga mereka dipertemukan oleh Allah di Arafah. Sejak saat itu, keduanya menjadi manusia pertama yang tinggal di muka bumi.

Kehidupan Adam dan Hawa pada mulanya tanpa masalah berarti. Setiap kehamilan, Hawa selalu melahirkan sepasang bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Masalah yang cukup rumit muncul ketika anak-anak mereka, khususnya dua anak laki-laki dari kehamilan pertama dan kedua, Qabil dan Habil, beranjak dewasa dan sudah waktunya menikah. Nabi Adam AS kemudian berdoa meminta petunjuk. Apa yang harus dia lakukan dengan anak-anaknya yang telah beranjak dewasa. Allah SWT menyuruh Adam untuk menikahkan anak-anaknya secara silang. Qabil menikah dengan saudara perempuan Habil, Habil menikah dengan saudara perempuan Qabil.Dalam kitab tafsir Bahrul ‘Uluum karya Abu al-Laits Nashr as-Samarqandi disebutkan, saudara perempuan Qabil bernama Iqlima, dan saudara perempuan Habil bernama Labudza.

Qabil ingin menikahi saudara perempuannya sendiri dan tidak ingin menikah dengan saudara perempuan Habil. Nabi Adam pun meminta Qabil dan Habil mengajukan kurban. Siapa yang kurbannya diterima, hendaknyalah yang akan dituruti.Allah SWT menceritakan kisah kedua anak Adam ini dalam firmannya,

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu!’ Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam. Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.’ Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi,”(QS. Al-Ma’idah: 27-31).

Dalam kitab al-Kasyf wal Bayaan, karya Abu Ishaq Ahmad an-Nisaburi ditulis, sekitar lima tahun setelah Habil terbunuh, Hawa melahirkan seorang anak yang diberi nama Syits, artinya hadiah dari Allah. Sebagai ganti Habil yang telah tiada. Dari keturunan syits inilah asal mula dari kedua puluh lima nabi dan rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an.Tidak ada keterangan pasti dalam al-Qur’an berapa jumlah anak yang dilahirkan oleh Hawa. Sementara di beberapa kitab sejarah dan tafsir memuat beragam jumlah, dari ratusan hingga ribuan orang, karena usia hidup Adam dan Hawa yang sangat panjang.

Setelah pembunuhan terhadap Habil. Sebagian riwayat menyatakan bahwa Qabil diusir oleh Nabi Adam. Dia pergi ke arah negeri Irak, menyendiri dan terus merenung. Iblis pun datang dan berbisik kepadanya, “Kurban Habil diterima karena dia menyembah api dan melayaninya. Maka buatlah api untuk kau sembah dan anak keturunanmu.”

Qabil pun menjadi manusia pertama yang menyembah api. Dia mati dibunuh oleh anaknya sendiri dan anak keturunannya menjadi para pelaku maksiat.

Selanjutnya diriwayatkan bahwa pada saat terjadi banjir Nabi Nuh (Nuh adalah cicit Nabi Idris AS, dan Nabi Idris merupakan generasi kelima dari keturunan syits bin Adam) semua keturunan Qabil menajdi korban, karena mereka adalah golongan yang memang dimusnahakan.

Pendapat dari beberapa sejarawan dan arkeolog modern menyatakan, bahwa banjir Nabi Nuh tidak menjangkau seluruh permukaan bumi, sehingga terdapat banyak anak keturunan Nabi Adam di berbagai tempat yang tidak terjangkau bencana dahsyat itu dan mereka tetap melanjutkan keturunan.

Ada banyak anak Nabi Adam yang kisah hidup mereka tidak dimuat dalam al-Qur’an, as-Sunnah, maupun kitab-kitab sebelum al-Qur’an. Mereka tersebar di berbagai belahan dunia. Periode Nabi Nuh mungkin menjadi awal mula manusia mengenal pelayaran, sehingga penyebaran mereka ke berbagai belahan dunia menjadi lebih mudah.

Penelitian oleh para ahli sejarah menyatakan bahwa migrasi umat manusia telah terjadi puluhan bahkan ratusan ribu tahun sebelum masehi, dari berbagai wilayah di Afrika dan Asia ke berbagai penjuru dunia.Allah SWT mungkin sengaja tidak menceritakan jumlah dan kisah hidup, dan hanya menceritakan sebagian saja, supaya menjadi “pekerjaan rumah” bagi manusia, khususnya para sejarawan, peneliti, dan arkeolog, untuk melacak jejak mereka dengan seluruh kemampuan, dan kecanggihan teknologi yang mampu mereka capai.



Sumber: [mila/islampos] Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012

Thursday, 3 September 2015

Password Akhirat


Dulu, saya membuat banyak blog dengan akun email dan password berbeda-beda. Ada blog tentang telepon seluler, ada blog tentang bisnis online, dan lain-lain. Karena bermain SEO, sejumlah blog hanya saya bangun di awal, ditulisi sekali-kali, dan setelah itu dibiarkan sekian lama agar ‘tumbuh’ sendiri dari mesin pencari.

Suatu hari ketika ingin update di salah satu blog, saya tidak berhasil log in. “The email and password you entered don’t match,” demikian peringatan di halaman akun.

Bukan sekali itu saja saya kehilangan password. Begitu banyaknya password yang berbeda dan sulit diingat akhirnya membuat saya terpaksa kehilangan akses ke beberapa blog yang sudah saya ‘tanam’ beberapa bulan.

***

Ketika kita mau masuk ke alam barzakh, diperlukan sebuah password agar kita selamat di sana dan terhindar dari siksa. Password itu juga menjadi penanda, bahwa kita akan dimasukkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam surgaNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘la ilaaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud; shahih)

Inilah password-nya. Password yang harus diucapkan dan diyakini saat akhir hayat. Laa ilaaha illallah. Tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah.

Password ini mudah diingat, ringan diucapkan. Namun ketika sakaratul maut datang, ia tidak seperti yang dibayangkan. Banyaknya password-password lain yang biasa kita ucapkan sepanjang hidup kita, banyaknya password-password lain yang biasa kita kerjakan selama usia kita bisa menghalangi dan membuat sulit kita mengucapkan laa ilaaha illallah.

Inilah yang menjelaskan mengapa ada orang-orang yang ketika sakaratul maut, ia sudah dituntun untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, ia tidak mau mengucapkannya. Bahkan ia mengucapkan kata-kata lainnya.

Ada orang yang sakit keras, oleh saudaranya dituntun untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, ia mengabaikannya. Ia hanya mengaduh dan memaki nasib. Bahkan mencela takdir Allah sebelum menghembuskan nafas yang terkahir. Na’udzubillah.

Mereka yang matinya mendadak lebih sulit lagi untuk bisa mengucapkan laa ilaaha illallah. Banyak berita yang mengabarkan ada orang meninggal saat mesum di hotel. Ada orang yang tewas setelah menenggak miras. Ada orang tewas saat ketahuan mencuri dan ditembak polisi. Mereka tertutupi oleh perbuatan buruk dari mengucap password: laa ilaaha illallah.

Semoga kita semua dianugerahi Allah husnul khatimah dan dimudahkan mengucapkan password penentu kehidupan abadi kelak; laa ilaaha illallah. 



Sumber: [Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Wednesday, 2 September 2015

Saudaraku, Perbanyaklah Berdzikir kepada Allah


Saudaraku…

Dzikir merupakan satu hal yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Maka, sudah selayaknya kita melantunkannya agar senantiasa kita selal dekat dengan-Nya. Sebab, hanya Allah-lah satu-satunya tempat mengadu dan meminta. Karena itulah, berikanlah perhatian yang lebih kepada Allah, sehingga Allah mau mendengarkan keluhan kita.

Saudaraku…

Nabi kita mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ibadah dan selalu menjalin hubungan dengan Allah SWT. Beliau tidak membiarkan waktu berlalu tanpa dzikir kepada Allah, memuji, beryukur, istighfar dan inabah. Walau pun beliau telah diampuni baginya yang telah lalu dan yang akan datang, namun beliau adalah salah seorang hamba yang sangat bersyukur.

Rasulullah SAW selalu memuji Allah, beliau mengenal Allah sehingga memuji-Nya, berdoa kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Beliau juga tahu nilai waktunya maka beliau memanfaatkan dan berusaha agar selalu diisi dengan kataatan dan ibadah.

Saudaraku…

Sudah sepantasnya kita mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Karena beliau adalah panutan kita, penuntun ke jalan kebenaran, dan risalahnya tidak diragukan lagi kebenarannya. Salah satunya dengan mengamalkan berdzikir ini. Terdapat riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang ketekunan Rasul dalam berdzikir kepada Allah, di antaranya,

Dari Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW selalu berdzikir kepada Allah SWT setiap saat,” (HR. Muslim).

Dari Ibnu Abbas RA berkata, “Kami pernah menghitung Rasulullah dalam satu majlis membaca, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan Maha Penyayang,’ seratus kali,” (HR. Abu Daud).

Abu Hurairah RA berkata, “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah sungguh aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali’,” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu Umar RA berkata, “Kami pernah menghitung Rasulullah SAW membaca dalam suatu majlis, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku terimalah taubatku sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan Maha Penyayang’ seratus kali,” (HR. Tirmidzi).

Ummul mukminin Ummu Salamah RA berkata bahwa doa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah SAW apabila sedang berada di sisinya adalah, “Wahai yang membolak balikkan hati, teguhkan hatiku atas agamaMu,” (HR. Tirmidzi).

Saudaraku…

Tunggu apalagi, Rasulullah SAW telah mencontohkan hal baik itu pada kita. Maka, kita pun segeralah mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir kepada-Nya. Dengan begitu, kedekatan kita dengan Allah, insya Allah akan terjalin. Sehingga, kasih sayang dan rahmat dari-Nya senantiasa menyertai kita. Amiin.




Sumber: Islampos (Suatu Hari di Rumah Rasulullah/Karya: Abdul Malik al-Qasim/Penerbit: Daarul Qaasam)

Tuesday, 1 September 2015

Menangislah Karena Takut pada Allah


Menangis merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dipastikan, tidak ada manusia –termasuk kita- yang tidak pernah menangis selama hidupnya. Ya, menangis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ada yang menangis karena hal yang membahagiakan. Mendapatkan keturunan, atau mendapatkan jodoh yang telah dinanti sekian lama misalnya.

Ada juga menangis yang disebabkan karena duka mendalam. Duka kehilangan sanak saudara, kehilangan orang terkasih, kehilangan harta benda atau karena terusir dari tempat kelahiran seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina. Mereka menangis karena diusir oleh kaum Zionis terlaknat.

Contoh lain yang terbaru adalah apa yang dialami saudara-saudara kita di Kampung Pulo – Jakarta Timur. Mereka harus menangis lantaran dipaksa pindah dari kampung pulo, tempat yang telah mereka tempati selama tiga generasi lamanya. Wajar mereka menangis. Bagaimana tidak, awalnya mereka dijanjikan kampung deret di lokasi yang sekarang diratakan, tapi nyatanya mereka malah digusur.

Bagaimana tidak menangis, mereka digusur gubernur DKI Jakarta, Ahok dengan alasan telah menempati lahan yang seharusnya menjadi resapan air. Sementara pada saat yang sama, mereka menyaksikan bagaimana perumahan elit dan mall yang juga sama-sama berdiri di lahan yang menjadi resapan air ternyata dibiarkan begitu saja.

Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square adalah contoh dari bagunan mewah dan sentra bisnis yang telah merebut daerah resapan air bahkan persawahan. Kenapa Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square tidak disentuh, sementara Kampung Pulo diobrak-abrik? Apakah karena Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square milik konglomerat dan kapitalis?

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita di Kampung Pulo, dan daerah-daerah lainnya. Hanya kepada Allah-lah urusan orang-orang dzalim kita serahkan.

Kembali kepada persoalan menangis. Apakah menangis hanya terjadi karena hal bahagia atau duka mendalam semata? Ternyata tidak. Ada penjelasan ulama yang berkaitan dengan menangis. Pendapat Syaikh Shalih bin Shuwailih Al-Hasawy dalam bukunya Tangis Para Salaf hal. 17-18 misalnya.

Dalam buku yang merupakan terjemahan dari “Al-khosyatu wa al-bukâu” tersebut, Syaikh Shalih bin Shuwailih al-Hasawy menjelaskan bahwa tangisan terbagi menjadi tiga macam.

Pertama, tangisan karena kegembiraan dan tangisan kebahagiaan. Contoh dari tangisan ini adalah sebagaimana disebutkan dalam kisah hijrah Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika beliau berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bolehkah aku menyertaimu wahai Rasulullah?”. Rasul menjawab: “Ya”. ‘Aisyah menceritakan: “Maka menangislah Abu Bakar karena gembiranya. Padahal sebelumnya tidak pernah aku mengira ada seseorang yang menangis karena gembira”

Kedua, tangisan karena kesedihan sebab telah kehilangan kekasih atau karib kerabat, atau karena musibah yang menimpa kaum muslimin. Ini merupakan kasih sayang yang Allah resapkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam ketika beliau meneteskan air mata di saat kematian putera beliau bernama Ibrahim. Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada beliau: “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah air mata kasih sayang”

Ketiga, ini merupakan jenis tangisan yang paling agung dan paling mulia. Yaitu, tangisan karena takut kepada Allah Subhânahu wa ta’âlâ. Tangisan jenis ini disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalam Al-Qur’an, misalnya disebutkan di dalam QS Al-Isrâ’[17] : 107-109, “Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Disamping QS Al-Isra tersebut, ayat yang membicarakan tentang menangis karena takut kepada Allah bisa ditemukan di dalam QS Maryam [19]:58, QS Al-Mâidah [5]:83, at-Tawbah [9]:91-92, QS An-Najm [53]:59-60.

Juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan masuk neraka seorang lelaki yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke puting susunya. Dan tidak akan berkumpul debu fi sabilillah dengan asap jahannam selamanya’” (HR at-Tirmidzi dan An-Nasâi, at-Tirmidzi berkata: “Hasan Shahîh.”)

Lebih dari itu, menangis karena takut kepada Allah SWT bukan hanya agung dan mulia, melainkan juga merupakan amalan yang disunahkan. Bahkan perasaan takutnya seorang hamba kepada Allah itu sendiri fardlu hukumnya. (Min Muqâwimât an-Nafsiyah al-Islâmiyah, Daarul Ummah, Beirut. Hal. 40 dan Hal. 46)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bukan hanya bisa menangis lantaran bahagia dan sedih semata, tetapi kita juga bisa menangis lantaran takutnya kita kepada Allah Ta’ala. Âmîn Yâ Robbal ‘Âlamîn. Wallâhu a’lâm bi al-showâb.


Sumber : Islampos

Hadiah, Perekat Hati yang Indah


Islam adalah petunjuk hidup yang mengatur segala aspek kehidupan. Baik itu hubungan antara hamba dengan Allah, maupun hubungan antara sesama hamba. Semuanya diatur untuk menimbulkan keharmonisan dan kedamaian hidup di dunia dan akhirat. Lebih dari itu segala petunjuk itu jika diniatkan untuk mencari ridha Allah akan bernilai ibadah.

Begitu mulianya apabila umat ini saling bekasih sayang antara sesamanya. Bangunan umat akan semakin kokoh. Untuk itu Islam datang untuk memberikan solusi. Diantara solusi itu adalah anjuran untuk saling memberikan hadiah. Dalam sebuah hadits dari sahabat abu Hurairah bahwa nabi bersabda,

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai.” (HR. Bukhari).

Hadiah adalah sebuah pemberian untuk mendatangkan kecintaan, menumbuhkan kasih sayang, menghilangkan kedengkian dan melembutkan hati.

Hadiah merupakan tanda cinta dan bersihnya hati. Ia juga sebagai tanda simpati kepada orang yang ia cintai. Saling memberi hadiah adalah akhlaq mulia yang dianjurkan dalam Islam. Untuk itu, Nabi Muhammad adalah manusia teladan dalam hal ini. Meskipun seorang Rasul, beliau tidak sungkan dalam menerima hadiah.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah beliau berkata bahwa Rasulullah jika diberi makanan beliau bertanya, ini hadiah ataukah sedekah? jika ini adalah sedekah beliau berkata kepada para sahabatnya, “Makanlah!.” Sedangkan beliau tidak memakannya, namun jika ini adalah hadiah maka Rasulullah akan memakannya bersama-sama dengan mereka. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, sahabat Abu Huraiah menuturkan bahwa Nabi bersaba,

“Hendaknya kalian saling memberikan hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan sifat benci dalam dada, dan janganlah seseorang meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya secuil kaki kambing.” (HR. Tirmidzi).

Memang, hadiah adalah sarana untuk menjernihkan antara dua orang yang sedang kurang harmonis. Tatkala salah satu memberi hadiah kepada yang lain maka masalah bisa terselesaikan. Bahkan jalinan antara keduanya semakin erat setelah sebelumnya kurang harmonis.

Dalam dakwah betapa banyak orang yang semula memusuhi dakwah menjadi lunak bahkan menjadi pendukung dengan akhlaq karimah yang kita berikan kepadanya. Salah satunya dengan hadiah yang kita berikan.

Dalam sebuah riwayat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Hadirilah orang yang mengundang, janganlah kalian menolak hadiah dan janganlah kalian memerangi kaum muslimin.” (HR. Ahmad).

Dalam menerima hadiyah, Rasululah tidak membedakan-bedakan antara sedikit dan banyak. Beliau tetap menerima hadiah meskipun sedikit.

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Seandainya aku diundang untuk jamuan makan sebesar satu paha depan (kambing) atau satu paha belakangnya, pasti aku penuhi dan seandainya aku diberi hadiah makanan satu paha depan (kambing) atau satu paha belakang pasti aku terima.” (HR. Bukhari).

Seringkali rasa bakhil muncul tatkala ingin memberi hadiah kepada seseorang. Asumsi bahwa dengan memberikan hadiah akan mengurangi jatah rezeki yang sudah menjadi bagiannya. Belum lagi munculnya perasaan jikalau hadiah yang kita berikan belum tentu diterima dan seabrek praduga-praduga yang lainnya. Dengan melatih jiwa untuk memberikan hadiah meskipun sedikit akan menjadi pembiasaan bagi jiwa untuk berderma.

Dalam sebuah hadits Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai wanita-wanita muslim, janganlah seorang budak wanita menganggap remeh memberi hadiah budak wanita lainnya sekalipun hanya sebesar kubangan karena diinjak kambing.” (HR. Bukhari).

Maksud dari hadits ini adalah Nabi mendorong para muslimah untuk memberi hadiah kepada budak-budaknya meskipun dengan sesuatu yang amat remeh. Karena sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini menunjukkan rasa cinta yang dalam kepada sesama.

Namun jika kita terpaksa menolak sebuah pemberian karena beberapa pertimbangan hal itu tidak mengapa. Asalkan diberikan penjelasan kepada yang memberi dengan penjelasan yang jelas supaya tidak menimbulkan prasangka yang tidak baik. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, “Dari Abdullah bin Abbas dari Ash-Sha’bi bin Jatsamah Al Laitsiy bahwa dia (Ash-Sha’bi) memberi hadiah kepada Rasulullah berupa seekor keledai yang liar saat beliau berada di Abwa’ atau di Waddan. Lalu Beliau mengembalikan hadiah itu kepadanya. Ketika beliau melihat apa yang ada di wajahnya, Beliau berkata, ‘Kami tidak bermaksud menolak hadiah darimu, namun ini tidak lain karena aku sedang berihram’.” (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar berkata, “Dalam hadits di atas terdapat penjelasan untuk tidak menerima hadiah bagi yang tidak pantas untuk menerimanya.” Misalkan kita diberi makanan oleh seseorang sedangkan kita masih mampu, sedangkan tetangga kita dalam kondisi kelaparan. Maka tidak apa-apa kita menolak pemberian tadi kemudian menunjukkan kepada orang yang lebih berhak.

Akhirnya, marilah kita melatih jiwa kita untuk saling memberikan hadiah kepada siapapun dengan mengharap ridha Allah. Harapannya melalui hadiah meskipun remeh akan mempererat jalinan ukhuwah Islamiyah. Memang hadiah adalah perekat hati yang paling indah. Wallahu a’lam.



Sumber:  Ar Risalah

Monday, 31 August 2015

Pentingnya Menuntut Ilmu


Penting bagi setiap insan untuk menuntut ilmu. Karena dengan memiliki ilmu banyak hal yang bisa kita dapati. Sebagaimana sebuah pepatah Arab.

"Siapa yang ingin dunia (hidup di dunia dengan baik), hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin akhirat (hidup di akhirat nanti dengan senang) hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin keduanya, hendaklah berilmu"

Dalam setiap kesempatan kita akan dituntut untuk memiliki pengetahuan. Baik pengetahuan secara sederhana hingga pengetahuan paling sulit di dunia.

Contoh saja untuk kehidupan sehari-hari. Kita hidup butuh makan, kalau kita tidak tahu bagaimana ilmunya memasak apa kita bisa makan? Lalu dari mana kita bisa mendapat bahannya. Kita perlu uang.

Sedang uang bagaimana kita mendapatkannya? Tentu kita harus kerja. Ketika kita ingin bekerja maka otomatis kita perlu ilmu untuk pilihan kerja yang kita tempati. Kesimpulannya di manapun dan apapun yang kita lakukan kita harus tahu ilmunya dulu.

Sabda Nabi saw.

Menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim. (HR Bukhari dan Muslim)

Di sini akan dipaparkan sedikit tentang pengertian ilmu dan pentingnya menunutut ilmu untuk muhasabah diri.

 

A. Pengertian Ilmu

Ilmu sudah menjadi kata bahasa Indonesia sehari- hari, menurut kamus besar bahasa Indonesian ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian baik yang termasuk jenis kebatinan maupun yang berkenaan dengan keadaan alam dan sebagainya.

Kata ilmu diambil dari bahasa Arab, berasal dari kata jadian ‘alima- ya’lamu- ‘ilman (عَلِمَ يَعْلَمُ عِلْماً ). ‘Alima sebagai kata kerja yang berarti mengetahui. Quraish shihab menjelaskan, kata ilmu dengan berbagai bentuknya dalam Alquran terulang 854 kali.

Selanjutnya menurut Quraish shihab makna ilmu dari segi bahasa berarti “kejelasan” dari semua kata bentukan dari akar katanya mempunyai makna kejelsan. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tetntang segala sesuatu, sekalipun demikian kata ilmu berbeda dengan ‘arafa (mengetahui ), ‘arif (yang mengetahui), dan ma’rifah (pengetahuan). Dalam Alquran Allah SWT tidak dinamakan ‘Arif, tetapi ‘Alim yang berkata kerja ya’lamu (dia mengetahui) dan biasanya Quran menggunakan kata terserebut untuk Allah SWT yang mengetahui sesuatu yang gaib, tersembunyi dan rahasia. Jadi ilmu secara lughawi adalah mengetahui sesuatu secara dalam , hingga menjadi jelas.

Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk- makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 31-32 :

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah : 31-32)

Menurut Al-Quran, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan betapa tinggi kedudukan orang yang berpengetahuan. Sebagai mana firman Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:

"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al-Mujadalah : 11)

Menurut pandangan Quran seperti yang diisyaratkan oleh wahyu pertama ilmu terdiri dari dua macam.

Pertama , ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamai ilmu laduni, seperti diinformasikan antara lain dalam Quran surat Al kahfi ayat 65:

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami". (QS. Al-Kahfi : 65)

Kedua , ilmu yang diperoleh karena usaha manusia dinamai ilmu kasbi, ayat- ayat ilmu kasbi jauh lebih banyak dari pada yang berbicara tentang ilmu laduni. Pembagian ini menurut shihab disebabkan karena dalam pandangan Quran terdapat hal- hal yang ada tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri.

Dengan demikian objek ilmu meliputi materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.

 

B. Pentingnya Menuntut Ilmu (Belajar)

Nabi Saw bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari

Bahwa sesungguhnya engkau pergi untuk mempelajari suatu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus raka’at. (HR. Ibnu Majah)

Imam Al-Ghazali juga memandang bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah sangat penting serta menilai sebagai kegiatan yang terpuji. Untuk menerangkan keutamaan belajar tersebut Imam Al-Ghazali mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, hadits Nabi serta atsar. Di antara ayat , hadits dan atsar yang dikutip tersebut, yaitu :

Allah berfirman :

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya". (QS. At-Taubah : 122)

Nabi saw. bersabda: “Barang siapa menjalin suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Nabi saw. bersabda pula: “Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu tanda rela dengan usahanya itu” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Shafwan bin Assal)

Nabi saw. bersabda: “Bahwa sesungguhnya engkau berjalan pergi mempelajari suatu bab dari ilmu adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Abdul-Birri dari Al-Hasan Al-Bashari)

Abu Darda’ra. berkata: “Lebih suka saya mempelajari satu masalah daripada beribadah satu malam.”
Dan ditambahnya pula: “Orang yang berilmu dan menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh tidak ada kebajikan kepadanya.”

Atha’ berkata: “Majelis ilmu pengetahuan itu, menutupkan tujuh puluh majelis yang sia-sia.”
Imam Asy-Syafi’i berkata: “Menuntut ilmu itu adalah lebih utama daripada berbuat ibadah sunnah.”

Abu Darda’ berkata: “Barang siapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad, maka adalah dia orang yang kurang pikiran dan akal.”

Belajar atau menuntut ilmu mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Dengan menuntut ilmu orang menjadi pandai, ia akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa menuntut ilmu orang tidak akan mengetahui sesuatu apapun.

Di samping belajar dapat untuk menambah ilmu pengetahuan baik teori maupun praktik, belajar juga dinilai sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang belajar sungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala yang banyak. Belajar juga dinilai sebagai perbuatan yang dapat mendatangkan ampunan dari Allah SWT. Orang yang belajar dengan niat ikhlas kepada Allah diampuni dosanya.

Demikian pentingnya  belajar–menuntut ilmu ini sehingga dihargai sebagai jihad fisabililah yaitu pahalanya sama dengan orang yang pergi berperang dijalan Allah untuk membela kebenaran agama.
Srobyong, 7 Februari 2015



Sumber : Besamadakwah
[1] Al- Ghazali, Ihya’ Ulumuddinjilid 1,terj.Prof.TK.H.Ismail Yakub MA.SH ”Ihya’ Al- Ghazali jilid 1, cet VI (Semarang :CV Faizan, 1979)
[2] Sofiyah Ramadhani, E. S, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Karya Agung).
[3] Dr. M. Ramli Hs., M.Ag.,dkk, Mengenal Islam, (Semarang : Unnes, 2007)
[4] Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemah, (Bandung :Piponegoro : 2000)
[5] Dr. Hj. Nur Uhbiyati, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 2003)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes