,

Wednesday, 5 August 2015

Cara Melindungi Diri dan Keluarga dari Godaan Setan


Dalam buku Talbis Iblis, Ibnu Jauzi menghadirkan sebuah dialog antara guru dan muridnya. Sang guru hendak mengajarkan bagaimana cara melindungi diri dari setan. Ia pun kemudian membuat sebuah perumpamaan.

“Jika engkau melewati sekumpulan domba dan anjing penjaganya yang menyalak-nyalak ke arahmu dan menghalangi jalanmu, apa yang akan engkau lakukan?” tanya sang guru.

“Aku akan berhenti dan menghalaunya sebisa mungkin.”

“Ketahuilah wahai muridku, cukuplah engkau memanggil penggembala domba itu, meminta tolong agar ia menyibak jalan bagimu.”

Demikianlah perumpamaan syetan. Untuk melindungi diri dari godaannya, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang Menguasai segala makhluk dan Maha Kuasa menolak segala mara bahaya.

Kita adalah makhluk yang lemah. Dibandingkan dengan syetan dari golongan jin, kita tak bisa melihat mereka sedangkan mereka bisa melihat kita. Kita tidak pernah mengetahui seperti apa wujud mereka, namun mereka punya banyak data tentang kelemahan kita. Namun, ketika kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia-lah yang akan melindungi kita.

Rasulullah mengajarkan doa pendek berlindung dari gangguang syetan. Itulah ta’awudz.

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”

Dalam versi yang lebih panjang, ada ta’awudz yang berbunyi:

“Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan syetan yang terkutuk”

Dalam versi yang agak berbeda, ada ta’awudz yang berbunyi:

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan kejahatan ciptaanNya”

Pernah Rasulullah hendak diserang oleh segerombolan syetan, yang sebagiannya membawa api. Lalu datanglah Malaikat Jibril mengajarkan doa ta’awudz yang lebih panjang lagi dari ta’awudz-ta’awudz di atas. Beliau membaca:

“Aku Berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak akan sanggup diterobos oleh orang baik dan orang durhaka, dari kejahatan apa yang diciptakan dan dijadikan-Nya, dari kejahatan apa yang turun dari langit dan yang naik padanya, dari kejahatan yang muncul dari bumi dan yang keluar daripadanya, dari kejahatan fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari kajahatan-kejahatan setiap pengetuk, kecuali pengetuk yang mengetuk dengan tujuan baik, wahai Rabb yang Maha Pengasih.” (HR. Ahmad; shahih)

Setelah Rasulullah membaca doa tersebut, api yang dibawa syetan padam dan mereka pun dibinasakan Allah.

Rasulullah juga pernah membacakan ta’awudz kepada cucu beliau Hasan dan Husein dalam rangka memohon perlindungan Allah atas mereka berdua.

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari seluruh syetan dan tuduhan jahat serta mata yang senantiasa mencela” (HR. Al Bukhari).

Wallahu a’lam bish shawab. 


Sumber: [Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Tuesday, 4 August 2015

Rasa yang Hilang


Al Qasim bin Muhammad berkisah tentang safar yang paling mengesankannya. Sebuah safar dagang saat ada Ibnu Mubarak menyertainya. Di mana rasa tak percaya bahwa sosok yang begitu masyhur itu sekarang ada bersamanya, terjangkau mata dan telinganya, menjadi dekat dan nyata, berpadu dengan rasa penasaran yang luar biasa. Tentang apa yang membuat beliau berbeda.

Maka, inilah safar yang menyenangkan sekaligus membuat gelisah. Sehingga di antara debar-debar bangga berdekatan dengan figur hebat itu, yang terlintas di benaknya sepanjang perjalanan adalah pertanyaan tentang rahasia kehebatan Ibnu Mubarak yang melegenda; ilmuwan, hartawan, dan pejuang. Bukankah tidak ada asap kalau tidak api? Apa rahasia keutamaan sosok hebat ini, hingga jauh melampaui kami? Kalau beliau mendirikan shalat, kamipun juga. Kalau beliau berpuasa, kami melakukan hal yang sama. Demikian pula dengan jihad dan haji yang beliau tunaikan, kami pun juga.

Hingga pada suatu malam, saat perjalanan kami menuju Syam, begitu Al Qasim menuturkan, kami memilih makan malam bersama di suatu rumah. Saat itulah, tiba-tiba lampu padam, ruangan menjadi gelap. Maka ada di antara kami yang berdiri dan pergi keluar untuk mencari lampu yang lain. Sesaat, suasana hening dan diam.

Kemudian datanglah orang itu membawa lampu, suasana menjadi kembali terang, dan saya langsung melihat Ibnu Mubarak. Di wajah itu, jenggotnya terlihat basah oleh air mata. Pemandangan yang membuat Al Qasim tertegun seraya berkata dalam hati, “Dengan rasa takut inilah lelaki ini mengungguli kami dalam keutamaan. Bisa jadi, saat lampu padam dan suasana menjadi gulita itu, beliau mengingat hari kiamat.”

Ya, rasa takut kepada Allah-lah yang menjadi rahasia keutamaan seorang hamba. Seperti penjelasan Ibnu Mas’ud, “Ilmu itu bukan banyaknya bicara, namun karena banyaknya rasa takut.” Rasa yang menjadi penghalang di antara diri kita dengan maksiat kepada Sang Pencipta. Saat itulah ilmu berbuah yang seharusnya, dan bukan hanya menjadi konsumsi otak dan alat berlogika, namun jauh dari hasil nyata yang membaikkan pemiliknya dan menjadikannya mulia. Saat ia melahirkan hikmah dan jauh dari kepalsuan dan manipulasi kepentingan yang melelahkan. Inilah perolehan yang sejati. Ilmu yang bermanfaat!

Namun inilah rasa yang hilang di zaman sekarang. Banyaknya lembaga pendidikan dan tersebar luasnya sarana keilmuan tak membuat para pemiliknya menjadi manusia pilihan. Sehingga kecerdasan dan kepintaran tak berbanding lurus dengan keutamaan. Seperti kata Umar bin Khattab, “Janganlah membuatmu tertipu, orang yang membaca al Qur’an, namun lihatlah siapa yang mengamalkannya!”

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabulkan!



Sumber: Ar Risalah

Monday, 3 August 2015

Kagum, yang Tepat Ucap Subhanallah atau Masya Allah


Islam mengajarkan kalimat-kalimat yang baik (kalimat thayyibah) dalam segala suasana. Dengan kalimat-kalimat itu, orang beriman dikondisikan untuk senantiasa mengingat Allah. Dengan kalimat-kalimat itu, orang-orang mukmin dikondisikan untuk senantiasa dekat dengan Allah.

Jika seseorang mendapati sesuatu yang membuatnya kagum atau mendengar kabar yang membuatnya takjub, kalimat apakah yang paling tepat? “Subhanallah” (سُبْحَانَ اللَّهِ) atau “Masya Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ)?


Menurut para ulama, yang lebih tepat adalah mengucapkan “Masya Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ). Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Kahfi:

“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maa syaa-allaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. al Kahfi: 39)

Ucapan “Masya Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ) ini mengembalikan kekaguman kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa semua yang kita kagumi itu terwujud atas kehendak Allah, bukan karena usaha kita atau orang tersebut. Dicontohkan dalam ayat tersebut, jika seseorang memasuki kebun, hendaklah ia mengucapkan “Masya Allah” (مَا شَاءَ اللَّهُ). Kekagumannya atas indahnya kebun tersebut, ranumnya buah, lebatnya tanaman dan berhasilnya perkebunan, semata-mata kebaikan-kebaikan itu atas kehendak Allah.

Sedangkan kalimat “Subhanallah” (سُبْحَانَ اللَّهِ), dalam Al Qur’an disebutkan empat kali. Yakni dalam surat Al Mu’minun ayat 91, Al Qashash ayat 68, Ash Shafat ayat 159, Ath Thur ayat 43 dan Al Hasyr ayat 23.

Dalam surat Al Mu’minun ayat 91 dan Ash Shafat ayat 159, kalimat “Subhanallah” digandengkan dengan “ammaa yashifuun” yang artinya Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Sedangkan dalam tiga ayat lainnya, kalimat “Subhanallah” digandengkan dengan “ammaa yusyrikuun” yang artinya Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Jadi dalam Al Qur’an, kalimat “Subhanallah” digunakan untuk menyatakan kesucian Allah dan menyangkal hal-hal negatif yang dituduhkan orang-orang musyrik.

Sedangkan dalam hadits, ucapan “Subhanallah” dipakai ketika seseorang heran sikap seseorang. Heran, bukan kagum.

Misalnya ketika Abu Hurairah junub dan tidak mau berdekatan dengan Rasulullah yang suci. Rasulullah pun bersabda:

“Maha Suci Allah, sesungguhnya muslim itu tidak najis” (HR. Al Bukhari)

Ucapan “Subhanallah” juga dipakai Rasulullah ketika ada peristiwa besar. Namun, bukan bentuk kekaguman.

Misalnya dalam sabda beliau:

“Maha Suci Allah, betapa banyak fitnah yang turun di malam ini” (HR. Al Bukhari)

Wallahu a’lam bish shawab. 


Sumber: [Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Sunday, 2 August 2015

Risau Hati Saat Catatan Amal Dibagi


Setelah lama berdiri di makhsyar disertai peluh keringat yang membanjiri manusia, maka mereka saling berembug tentang cara mereka selamat dari kegerahan dan kegundahan yang begitu dahsyat dan lama. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban itu. Sebagian orang mengatakan kepada yang lainnya, “Apakah kalian tidak melihat kesusahan yang menimpa kalian? Apakah kalian tidak melihat apa yang kalian alami? Apakah kalian tidak melihat ada orang yang mampu memberi syafa’at untuk kalian kepada Rabb kalian?” Maka mereka mendatangi para Nabi untuk meminta syafaat, agar mereka memohon kepada Allah demi menyudahi keadaan mereka di makhsyar. Mereka datang kepada Nabi Adam alaihissalam, namun beliau mengelaknya. Lalu mereka datang kepada Nuh, Ibrahim, Musa maupun Isa alaihimussalam. Namun mereka semua mengelak dan tidak kuasa memberikan syafaat, sebagaimana kisah lengkapnya yang panjang disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah .

Hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad dan beliaulah yang bisa memberi syafaat untuk semua manusia kepada Allah, Hingga hari keputusan pun segera digelar. Inilah yang disebut dengan syafa’atul ‘uzhma, syafaat agung dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk seluruh umat manusia.


Detik-Detik Catatan Amal Dibagi
 
Lepas dari kegerahan yang dahsyat, mereka memasuki saat-saat yang paling menegangkan. Di mana seluruh manusia dan jin dari seluruh zaman dan tempat berkumpul dalam satu tempat.Tak ada hiruk pikuk atau suara keras meninggi meski kegelisahan menjadi-jadi, hati berdebar tak menentu, karena menunggu keputusan dari Hakim Yang Seadil-adilnya.

“dan merendahlah semua suara kepada Yang Maha Pemurah,maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS Thaha 108)

Saat di mana manusia menunggu pembagian catatan nilai hasil usahanya di dunia, mereka tidak memikirkan apa dan siapapun kecuali nasib dirinya sendiri. Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata, “Suatu kali aku mengingat neraka kemudian menangis. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Saya ingat neraka, maka saya menangis. Apakah Anda akan mengingat keluarga saat Hari Kiamat?” Beliau menjawab,

“Adapun dalam tiga situasi maka tak satupun ada orang yang mengingat orang lain; yakni ketika amal ditimbang sehingga dia tahu apakah timbangan kebaikannya berat ataukah ringan, ketika lembar catatan amal dibagi hingga ia tahu apakah catatan amalnya jatuh di tangan kanannya, tangan kirinya atau dari belakang punggung, dan tatkala meniti shirath yang terpancang di atas jahannam hingga ia melewatinya dengan selamat.” (HR Abu Dawud)

Ini menggambarkan manusia berada pada titik cemas dan kerisauan yang memuncak. Al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawadirul Ushulnya menyebutkan dengan landasan hadits tersebut bahwa itulah saat-saat paling menegangkan pada Hari Kiamat.

Jika ketika di dunia seseorang sudah merasa cemas saat menanti detik-detik pembagian raport sekolah, pengumuman hasil seleksi karyawan, pengumuman hasil penghitungan suara untuk menduduki suatu jabatan, lantas bagaimana dengan hari itu. Hari di mana tatkala seseorang hendak menerima hasil catatan amalnya di dunia. Dan hasil itu akan menentukan apakah ia akan mendapatkan kenikmatan abadi, ataukah kesengsaraan tak terperi.

Imam al-Qurthubi dalam kitabnya at-Tadzkirah memberikan gambaran yang beliau ramu dari dalil-dalil dan penjelasan para salaf, seperti apa ketegangan detik-detik pembagian catatan amal tersebut.

“Bayangkanlah dirimu wahai saudaraku. Ketika kamu menerima buku catatan amal, kamu dihadapkan untuk diberi balasan. Dan kamu dipanggil dengan namamu di hadapan para makhluk, “Di manakah fulan bin fulan? Marilah menghadap Allah Azza wa Jalla!” Sementara para malaikat membawamu dan mendekatkanmu kepada Allah. Kemiripan nama-nama lain dengan namamu juga ayahmu tidak menyulitkan malaikat ketika mereka tahu bahwa kamulah pemilik nama yang dipanggil tersebut. Ketika panggilan itu mengetuk hatimu, maka tahulah kamu bahwa yang dipanggil itu adalah dirimu. Lalu kamu akan menggigil ketakutan, tubuhmu gemetaran, roman mukamu berubah dan hatimu gelisah. Dibukakan barisan-barisan untuk laluan jalanmu menuju ke hadapan Rabbmu. Pandanagn semua makhluk tertuju kepadamu, sedangkan kamu berada di hadapan mereka dalam keadaan takut dan gelisah.

Bayangkanlah dirimu saat kamu berada di hadapan Rabbmu, sedang tanganmu memegang buku catatan yang berisi seluruh informasi tentang amalmu. Tak meninggalkan sedikitpun apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu rahasiakan saat di dunia. Kamu membaca apa yang tertulis di dalamnya dengan lisan terbata-bata dan hati yang menangis. Ketakutan menyelimuti dirimu, dari depan dan belakangmu. Betapa banyak hal yang telah kamu lupakan, ternyata Allah mengingatkannya kepadamu. Betapa banyak keburukan yang telah kamu sembunyikan, ternyata Dia menampakkannya untukmu. Betapa banyak amalan yang kamu sangka dapat menyelamatkan dan membebaskanmu, namun ternyata Dia menolak amalan itu di hadapanmu, di tempat itu, setelah sebelumnya kamu berharap amal tersebut dapat menyelamatkan dan membebaskanmu. Padahal dahulu kamu menganggapnya besar. Duhai meruginya hatimu, duhai kasihan dirimu atas apa yang telah engkau sepelekan berupa ketaatan kepada Rabbmu.”


Setelah Catatan Amal Dibagi
 
Dalil-dalil menunjukkan, ada tiga cara manusia menerima catatan amalnya. Orang-orang yang beruntung akan menerima kitabnya dengan tangan kanan. Ia pantas berbangga ketika itu. Firman Allah Ta’ala,

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. (QS. Al-Haqqah 20)

Ini menjadi pertanda keridhaan Allah atasnya, dan bahwa kesudahan ia nanti adalah kenikmatan jannah yang dirindukannya.
 
Ada pula orang yang menerima kitabnya dengan tangan kiri, sebagaimana firman Allah Ta’ala
 
“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).” (QS. Al-Haqqah: 25)

Ini adalah isyarat kesengsaraan yang bakal dilalaui dan dialami. Ketika itu, para pendosa betul-betul terhenyak, malu sekeligus menyesal saat membaca catatan amal yang telah dibagi. Karena ternyata seluruh perbuatan buruknya terrekam dengan sangat rapi dan jeli, tak ada yang tersisa sedikitpun baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Allah berfirman,

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al-Kahfi: 49)

Yang ketiga adalah orang yang menerima kitabnya dari belakang punggungnya. Banyak ulama yang mengkompromikan makna ‘dengan tangan kiri’ dan ‘melalui belakang punggungnya.” Imam al-Qurthubi menjelaskan, “maka pundak kirinya akan terlepas sehingga tangannya di belakangnya, lalu mengambil kitabnya dengannya.” Mujahid berkata, “Wajahnya bergeser ke tengkuknya, lalu membaca kitabnya dengan cara demikian.”

Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisinya.

Akhirnya, setelah masing-masing manusia menerima catatan amalnya, lalu dikatakan kepada masing-masing, 

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 13-14)
 
Pada saat itulah semua manusia akan teringat apa yang dulu telah ia lakukan. Semua tercatat dengan lengkap dan tiada kekeliruan sedikit pun. Di sinilah salah satu bukti keadilan Allah, karena menjadikan manusia sebagai penghisab atas apa yang telah ia lakukan sendiri. Dan ketika itu manusia tak kuasa memungkiri atas apa yang ada dalam catatan amalnya.
 
Maka sebelum membaca catatan amal kita kelak di akhirat, alangkah bijak jika mulai hari ini kita mengisi catatan kita dengan kebaikan, dan juga menghapus catatan-catatan buruk dengan memperbanyak taubat dan memohon ampunan, wallahul muwaffiq. 


Sumber: Ar Risalah (Abu Umar Abdillah)

Saturday, 1 August 2015

3 Keutamaan Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim


Islam adalah agama yang sangat indah. Ia mengajarkan umatnya untuk tidak membuka aib orang lain yang hanya akan membuat orang tersebut terhina. Islam memerintahkan umatnya untuk menutupi aib saudaranya sesama muslim. Dan bagi mereka yang mau menutupi aib saudaranya tersebut, ada 3 keutamaan yang bisa ia dapatkan sebagaimana hadits-hadits berikut ini:


1. Allah akan menutupi aibnya di akhirat kelak

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya hingga aib rumah tangganya.

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah)


2. Allah juga menutupi aibnya di dunia ini

“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)


3. Keutamaan menutup aib saudara seperti menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup

“Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR. Abu Daud)

“Barangsiapa melihat aurat lalu ia menutupinya maka seolah-oleh ia telah menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya.” (HR. Ahmad)

“Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka ia seperti seorang yang menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya.” (HR. Ahmad) 


Sumber:  [irma/islampos/bersamadakwah]

Friday, 31 July 2015

Jengot Mengadu


Wahai kaum, beri tahu aku apa dosaku
Mengapa dengan pisau cukur kau hancurkan diriku 

Tidakkah aku telah ada semenjak beberapa abad lalu
Aku tidak pernah lenyap meski gunung sudah lenyap semenjak dulu
 
Bukankah aku ada pada makhluk Allah yang paling mulia
Itulah Nabi, sebaik-baik manusia
 
Tidakkah Nabi melarang untuk mencukurnya
Karena di dalamnya ada keburukan dan dapat mengubah tabiat
 
Ceritakan padaku, karena dosa apa kalian cukur aku
Sungguh aku merupakan kemuliaan dalam peperangan
 
Ingat, aku adalah simbol kejantanan
Sungguh aku adalah perhiasan bagi seorang manusia
Aku adalah sebuah kekerasan
 
Celaka, kalian malah menginginkan kelembutan
Aku tidak tahu namun aku dalam keyakinan
Sungguh, kalian mengalami kerancuan berpikir []



Sumber: Islampos (Diambil dari perkataan Syaikh Abdul Karim al-Juhaiman dalam buku Jenggot Yes Isbal No hal.41-42, dari beranda facebook  Muchamad Rizka Irawan)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes