,

Monday, 27 April 2015

Bolehkah seorang wanita bersedekah dari harta suaminya untuk dirinya sendiri?


Pertanyaan:

Bolehkah seorang wanita bersedekah dari harta suaminya untuk dirinya sendiri atau untuk salah satu keluarganya yang telah meninggal dunia?
 
Jawaban:

Diketahui bersama bahwa harta suami adalah milik suami dan tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk menyedekahkan harta milik orang lain kecuali atas izinnya. Jika suami mengizinkannya untuk bersedekah dengannya untuk dirinya atau untuk salah seorang keluarganya yang telah meninggal dunia, maka tidak apa-apa. Tetapi jika tidak diizinkan maka tidak halal baginya untuk bersedekah dengannya, karena hal itu adalah milik suaminya dan tidak halal bagi seorang muslim untuk bersedekah kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri.


Sumber: Alislamu {Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa Arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 470.}

Sunday, 26 April 2015

Menyemir Rambut


Pertanyaan:

Ustadz, ana mau tanya. Dalam Islam diperbolehkan untuk menyemir rambut selama tidak dengan warna hitam. Lantas bagaimana dengan yang dilakukan oleh anak-anak muda (anak funk) zaman sekarang, kok nampaknya kalau hal itu diamalkan kelihatannya kurang baik di mata banyak orang? mohon penjelasannya secara fiqih dan tinjauan akhlaq, syukran.

 Jawaban:

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bawakan fatwa Syekh Dr. Shalih bin Fauzan Ali Fauzan dalam kitab Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan Ali Fauzan, hlm. 3/319, no. 473 dan 474.

Ketika beliau ditanya tentang mengecat rambut dengan warna-warna tertentu, beliau menjawab bahwa hukum mengecat rambut diperinci sebagai berikut;

Uban disunnahkan dicat (disemir) dengan warna selain hitam, misalnya dengan hinn, al-wasmah, al-katm, dan ash-shafrah. Adapun disemir dengan warna hitam maka itu tidak boleh, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
 
غَيِّرُوْاهَذَاالْشَّيْبَ وَجَنِّبُوْهُ السَّوَادَ

“Ubahlah uban tersebut dan jauhilah warna hitam.”

Apabila selain uban maka dibiarkan sesuai dengan penciptaannya yang asli dan jangan diubah (disemir), kecuali jika warnanya rusak maka dia disemir dengan warna yang dapat menghilangkan kerusakannya kepada warna yang sesuai. Adapun rambut yang asli tanpa ada kerusakan padanya, maka dibiarkan sesuai aslinya, karena tidak ada faktor yang mengharuskan mengubahnya. Apabila menyemir dalam bentuk atau model menyerupai orang-orang kafir dan adat-adat asing (impor) maka jelas diharamkan, baik disemir dengan model satu atau model-model yang banyak. Dalam istilah Arab, ini dinamakan at-tasymisyi. Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.


Sumber: Alislamu

Friday, 24 April 2015

Garis Besar Huru-Hara yang Akan Terjadi Menjelang Hari Kiamat


Kebaikan dan keburukan silih berganti

Al-Bukhari meriwayatkan, bahwa perawi hadits ini mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata, orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir mengalaminya. Aku berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu telah mengalami zaman Jahiliyyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”

Rasul menjawab, “Ya.”

Aku bertanya, “Dan apakah setelah keburukan itu ada lagi kebaikan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, dan ada keburukannya.”

Aku bertanya, “Apa keburukannya?”

Beliau menjawab, “Suatu kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Di antara mereka ada yang dikenal, dan ada pula yang tidak.”

Aku bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu masih ada lagi keburukan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, yaitu para penyeru yang ada di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka menuju ke Neraka itu, maka mereka melemparkannya masuk ke dalamnya.”

Aku berkata, “Ya Rasulullah, terangkan mereka kepada kami!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan, “Mereka mempunyai kulit seperti kita, dan berbicara dengan bahasa kita.”

Aku bertanya, “Apa yang anda perintahkan kepadaku, andaikan aku mengalami masa itu?”

Beliau menjawab, “Bergabunglah kamu dengan jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.”

Aku bertanya, “Jika mereka tidak mempunyai pemimpin ataupun jamaah?”

“Tinggalkan semua golongan, walaupun kamu harus menggigit pangkal pohon, sehingga maut datang menjemputmu sedang kamu tetap seperti itu.”
 
Islam kembali menjadi asing seperti ketika baru muncul

Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Islam bermula merupakan sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing. Rasul ditanya, ‘Siapakah orang-orang yang asing itu?’ Beliau menjawab, ‘Kabilah-kabilah yang jauh (terasing).’”


Sumber: Alislamu {Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, Hlm. 28-29.}

Thursday, 23 April 2015

Hukum Taat Kepada Penguasa


Syaikh Ibn Utasimin ditanya tentang apakah hukum taat kepada penguasa yang tidak berhukum kepada kitabullah dan sunnah RasulNya shallallahu’alaihi wasallam?

Jawab :

Ketaatan kepada penguasa yang tidak berhukum kepada kitabullah dan sunnah rasulNya hanya wajib dilakukan pada selain berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya, namun tidak wajib memeranginya karena hal itu. bahkan tidak boleh kecuali bila sudah mencapai batas kekufuran. maka ketika itu, wajib menentangnya dan dia tidak berhak ditaati kaum muslimin.

Berhukum kepada selain apa yang diturunkan dalam kitabullah dan sunnah RasulNya akan mencapai tingkat kekufuran bila mencukupi dua syarat :

Pertama, ia mengetahui hukum Allah dan RasulNya, jika dia tidak mengetehauinya maka tidak kafir karena menyelisihinya.

Kedua, faktor yang mendorong ia berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah adalah keyakinan bahwa syaiat islam tidak relevan dengan masa kini, dan yang selain syariat islam itu lebih relevan dan lebih berguna bagi manusia.

Dengan dua syarat ini, berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah adalah merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari agama ini. hal ini berdasarkan firmanNya :

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)

Wewenangnya sebagai penguasa menjadi batal, manusia tidak boleh lagi taat kepadanya, wajib memerangi dan mendongkel kekuasaannya.

Sedangkan bila dia berhukum kepada apa yang diturunkan Allah sementara dia meyakini bahwa berhukum kepadanya adalah wajib dan lebih memberikan maslahat bagi para hambaNya akan tetapi dia menyelisihi karena terdorong hawa nafsu atau ingin berbuat kedhaliman terhadap orang yang dijatuhi hukuman; maka dia bukan kafir akan tetapi sebagai oang yang fasiq atau dhalim, wewenangnya masih berlaku, menaatinya pada selain berbuat masiat masih wajib, tidak boleh memerangi dan mendongkel kekuasaannya dengan paksa (kekuatan) dan tidak boleh pula membangkang terhadapnya karena Nabi melarang pembangkangan terhadap para pemimpin umat kecuali kita melihat kekufuran yang nyata sementara kita memiliki bukti berdasarkan syariat Allah Ta’ala.

Majmu’ fatawa wa rasail syaikh Ibn Utsaimin, dinukil dari fatwa-fatwa terkini, darul haq 2/174-175


Sikap Kita Terhadap Peradaban Barat

Apakah kita mesti menerima peradaban barat dengan akal yang bersinar-sinar demi untuk merealisasikan kebangkitan besar Islam?

Jawab :

Sekarang ini, banyak sekali penemuan-penemuan baru yang dimiliki negara-negara barat, tidak dimiliki kaum muslimin, namun mereka juga memiliki hal-hal negatif yang amat banyak. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kaum muslimin tidak boleh mengadopsi semua yang dimiliki barat, ataupun menolak semuanya. Akan tetapi kewajiban mereka adalah menyeleksi dan mengambil hal yang bermanfaat sesuai dengan ajaran agama dan petunjuk kitab kita serta meninggalkan apa yang diperingatkan dan dilarang agama kita.

Silsilah kitab ad da’wah, syaikh al Fauzan. dinukil dari fatwa-fatwa terkini, darul haq 2/177


Sumber: Ar Risalah

Wednesday, 22 April 2015

Beda Niat


Pertanyaam:

Assalamualaikum,
Saya mau tanya, jika kita ke masjid lalu kita nampak seseorang sedang shalat, saya ingin shalat fardhu dan ingin berjama’ah. Apakah perlu saya ke sebelah kanan, tetapi saya tidak mengetahui orang yang akan saya jadikan imam sedang shalat fardhu atau shalat sunah?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam,
Al-Baidhowi berkata, “Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar, niat adalah istilah untuk geraknya hati. Sehingga dari pengertian, namanya niat tentu di hati, bukan di lisan.”

Ada kaedah yang disampaikan oleh Imam Asy Syafi’i mengenai masalah niat ini. Beliau rahimahullah berkata,

“Niat setiap orang yang melaksanakan shalat adalah niat bagi dirinya sendiri. Niat orang lain yang mengimaminya jika berbeda tidak membuat cacat ibadahnya.” (Al Umm, 1: 201).

Kaedah Imam Syafi’i khusus membahas hukum seputar shalat jama’ah, yaitu bagaimana jika ada perbedaan niat antara imam dan makmum. Setiap yang shalat berniat untuk dirinya sendiri. Yang ia niatkan boleh jadi adaa’ (kerjakan shalat di waktunya) atau qodho’ (mengganti shalat di luar waktu), seperti yang satu mengerjakan shalat Zhuhur dan lainnya shalat ‘Ashar. Boleh jadi niatannya adalah shalat wajib, yang lainnya shalat sunnah, seperti imamnya berniat shalat sunnah fajar, yang makmum berniat shalat Shubuh. Tidak mengapa ada beda niat semacam ini selama pengerjaan shalatnya sama.


Sumber: Alislamu

Tuesday, 21 April 2015

Testimoni dari Jin


Banyak pertanyaan muncul seputar ruqyah syar’iyah yang berkembang akhir-akhir ini. Makin banyak teknik dan cara-cara baru yang dilakukan para peruqyah, seperti teknik menyembelih jin, memenjara jin, memutilasi jin, mencengkeram jin, meracuni dan jurus-jurus yang semisalnya.

Ini berbeda dengan riwayat-riwayat para salaf yang melakukan ruqyah syar’iyyah utuk kesembuhan atau mengusir jin, tanpa mengklaim bahwa mereka bisa melukai jin dengan jenis luka tertentu. Cukup mereka tahu bahwa pengaruh jin itu hilang setelah diruqyah dengan ijin Allah tanpa menyebutkan apa yang terjadi atas jin yang mengganggu dalam tubuh manusia.

Sebagian orang awam pun hingga ada yang menangkap kesan, bahwa teknik-teknik tersebut dianggap sebagai ilmu ruqyah tingkat lanjut, sedangkan ruqyah syar’iyyah yang standar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam maupun yang dilakukan para salaf seakan dianggap sebagai ruqyah tingkat dasar. Ini jelas merupakan kekeliruan yang fatal.

Teknik-teknik yang dilakukan dan kemudian diklaim sebagai cara-cara memperdayai jin tersebut perlu dikritisi, bagaimana klaim itu terjadi. Karena sebab yang ditempuh untuk sebuah solusi mestinya tak keluar dari dua hal; apakah itu sesuatu yang ma’qul atau logis, atau jika bukan merupakan hal yang logis maka harus sebagai sesuatu yang masyru’, yakni ada ketetapan syariatnya. Butuh dalil untuk sebuah klaim bahwa teknik tertentu bisa berakibat tertentu pada jin. Apalagi tentang perkara gaib yang kita tidak boleh mengira-ira atau menduga-duga. Jin bisa melihat kita dan kita tidak melihat mereka.

Bisa jadi awalnya peruqyah melakukan teknik tertentu dalam meruqyah, lalu pada satu sesi ruqyah ada pengakuan jin, bahwa dirinya terbakar, terpotong tangan, terpenjara dan lain-lain, namun pengakuan jin itu tidak sah dijadikan sebagai sandaran untuk sebuah klaim. Kenapa?

Karena pengakuan jin di hadapan manusia meskipun jin muslim itu dihukumi lemah, karena tidak bisa dikonfirmasi atau dilacak kebenaran pengakuannya. Terhadap berita yang datang dari orang fasik kita harus tabayun dan mengecek kebenarannya, namun berita yang datang dari jin fasik yang telah mengganggu manusia, bagaimana bisa kita tabayun dan melacak kebenarannya? Dia berkata telah terpotong tangannya, apa buktinya? Tidak ada cara untuk mengkonfirmasinya. Apalagi jin kafir (setan) yang secara secara asal bersifat ‘kadzuub’, pendusta, bagaimana kita mempercayai ucapan pendusta.

Seperti pengakuan setan kepada Abu Hurairah yang dikomentari oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

"Kali ini dia jujur kepadamu (wahai Abu Hurairah), padahal dia adalah pendusta.” (HR Bukhari)

Artinya bahwa tabiat setan itu menipu dan inilah karakter asalnya. Jika pada waktu-waktu tertentu ada saatnya ia jujur, masalahnya kita tidak tahu kapan saat jin atau setan itu berdusta dan kapan jujurnya, sementara tidak ada cara untuk mengkonfirmasi dan mengecek kebenarannya. Maka tidak semestinya kita membenarkan kesaksian jin maupun setan, apalagi djadikan sebagai dasar sebuah klaim.

Bisa saja dia berkata sedang terpenjara, padahal dia dusta. Atau mengaku teman-temannya yang berada dalam tubuh yang sama telah terbakar setelah diruqyah dengan cara tertentu. Tapi kita tidak bisa memastikannya, dan tidak ada kewajiban untuk memastikannya selain bahwa pengaruh jin itu telah hilang dari pasien.

Para praktisi ruqyah tentu sering mengalami kejadian di mana mereka sering dibohongi oleh jin dalam pengakuannya. Ada kasus fenomenal yang bisa dijadikan contoh. Mungkin pembaca masih ingat dengan buku yang sempat fenomenal berjudul “Dialog dengan Jin Muslim” karya Muhammad Isa Dawud. Di buku tersebut disebutkan kesaksian dari jin muslim pengarang buku tersebut yang juga seorang wartawan.

Dalam pengakuan jin tersebut, bahwa pesulap dunia David Copperfield melakukan tatkala melakukan trik sulap bisa melayang di udara karena bantuan dari ribuan jin. Dan bahwa pesulpa itu telah elakukan perjanjian dengan jin Ifrit dari Segitiga Bermuda.

Akan tetapi pengakuan tersebut terbantah oleh pernyataan John Gaughan yang merancang alat terbang yang dipakai oleh David dan ternyata telah memiliki hak paten. Artinya, kesaksian jin yang mengaku muslim itu ternyata dusta.

Maka tidak sepantasnya bagi peruqyah memakai rekomendasi, pengakuan maupun kesaksian dari jin merasuki tubuh manusia, karena karena karakter mereka yang suka berdusta dan tidak ada jalan untuk melakukan konfirmasi. Di samping ada madharat lain ketika menggunakan kesaksian jin. Misalnya jin mengaku bahwa dia mengganggu ppasien karena disuruh oleh seseorang yang ternyata dekat dengan pasien. Baik saudaranya, iparnya atau bahkan suami atau istrinya sendiri. Jin pun memberikan alasan-alasan yang tampak logis, hingga kemudian terjadilah perpecahan antar saudara, dan inilah yang diinginkan oleh setan.

Kesaksian jin tentang kehebatan pengaruh ruqyah seperti kasus-kasus di atas juga bisa menimbulkan sifat ujub pada diri peruqyah hingga merasa dirinya hebat. Dan sifat ujub maupun sombong sangat disukai oleh setan, fahdzaruuhu, waspadalah!

Maka alangkah baiknya peruqyah mengambil langkah-langkah yang aman dengan menggunakan ruqyah asy-syar’iyyah al-manshuhah, yakni ruqyah yang telah disebutkan dalilnya secara shahih baik tentang bacaan maupun kaifiyah (caranya), atau ruqyah yang dilakukan para sahabat karena apa yang mereka lakukan sebagian besar telah diperlihatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana arahan dari beliau, “I’ridhu ‘alayya ruqaaku…!” perlihatkan kepadaku seperti apa ruqyah kalian!” Atau dengan ruqyah para salaf dan para mujtahid terdahulu. Berkreasi terlalu jauh dengan “waham”, kira-kira yang bersifat dugaan dan meraba-raba berpotensi menjauhkan dari karakter ruqyah dan mendekat kepada perdukunan, wallahu a’lam bishawab.


Sumber: Ar Risalah (Abu Umar Abdillah)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes