,

Monday, 1 September 2014

Berlaku Hemat Energi karena Allah


Segala puji hanya bagi Allah, sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya. Salam untuk seluruh nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Manusia harus menyadari bahwa nikmat hidup di dunia adalah karunia Allah SWT, yang harus disyukuri, dengan banyak bersyukur kepada-Nya, cara manusia bersyukur adalah dengan cara hidup selalu dijalan Petunjuk-Nya, hidup dalam jalan iman dan amal sholih, hidup dalam selalu beribadah kepada Allah. Hidup Selalu mengagungkan Allah, hidup selalu bertasbih kepada Allah, hidup selalu dijalan yang dincintai Allah, Dan terus bersabar di jalan Allah hingga bertemu Allah di Al-Jannah (Surga) di akherat kelak.

Manusia telah diperintah oleh Allah untuk menggunakan apa saja yang ditemui di saat hidupnya di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan segala nikmat yang ada dalam lahir lahir dan batin manusia, dan juga segala macam nikmat dan karunia yang ada di segenap bumi dan bahkan disegenap penjuru alam raya.

Manusia perlu bersyukur tentang santunan Allah atas apa yang ada dalam dirinya, yang ada dalam tubuhnya, dan segala kemampuan lebih yang ada dalam diri manusia. Dan diperintah untuk mengelola bumi yang indah, yang penuh dengan keajaiban diatasnya, untuk dikelola dengan tujuan untuk beribadah dan mengagungkan Allah SWT.

Terciptanya berbagai material di atas bumi, baik berupa batuan, logam, cairan, gas, bahkan tumbuhan dan hewan-hewan, semuanya adalah merupakan tanda-tanda keagungan Allah, dan itu semua akan menjadi bukti bahwa semua nikmat-nikmat tersebut akan dimintai pertanggung jawaban diakherat kelak. Sehingga manusia harus memahami kehendak Allah kenapa semua itu diciptakan. Tiada ada lain kecuali semuanya itu untuk berbakti kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ﴿٢٩﴾

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskan muka (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya”. (QS. 7:29)

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ ﴿٤٤﴾

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS. 43:44)

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى ﴿٣٦﴾

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) (QS. 75:36)

إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْراً عَظِيماً ﴿٤٠﴾

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS. 4:40)

Rasulullah SAW, telah mengajari sahabat-sahabatnya tentang bagaimana menggunakan segala fasilitas hidup yang telah Allah berikan agar digunakan di jalan Allah, Untuk beribadah kepada Allah dan digunakan untuk selalu mengagungkan Allah SWT.

Tubuh yang kuat dan otak yang cerdas, hati yang santun, indra-indra yang utuh, ilmu dan pengalaman yang banyak, kekayaan yang melimpah, kekuasaan yang luas, anak buah yang menyemut, semuanya seharusnya digunakan untuk beribadah kepada Allah, untuk berbakti kepada Allah yang telah memberikan nikmat tersebut.
Bahkan nikmat yang sebesar zarah (mikro nano) pun Allah akan mengawasi dan akan membalasinya. Allah akan meminta pertanggung jawaban kepada manusia tentang apa yang telah Allah berikan kepada mereka, Rasulullah telah menyampaikan beritanya sebagai berikut.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
لَمَّا نَزَلَتْ
{ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنْ النَّعِيمِ }
قَالَ الزُّبَيْرُ وَأَيُّ نَعِيمٍ نُسْأَلُ عَنْهُ وَإِنَّمَا هُوَ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ سَيَكُونُ


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Abu Umar Al ‘Adani telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Muhammad bin ‘Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Abdullah bin Az Zubair bin Al ‘Awam dari Ayahnya dia berkata, “Ketika turun ayat: ‘(Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) ‘ (Qs. At Takaatsur: 8), Zubair bertanya, “Nikmat apakah yang kiranya akan dimintai pertanggung jawaban dari kami? Sedangkan nikmat kami tidak lain hanya terdiri dari al aswadain (kurma dan air)?” beliau bersabda: “Dan itu pasti akan terjadi.” (HR Ibnumajah No 4148)


Para sahabat Rasulullah Muhammad SAW, disadarkan walaupun nikmat kehidupan yang nampaknya sangat sederhana berupa kekayaan seteguk air dan sejumput kurma yang telah dirasakan nikmatnya, itu semua akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, Apakah untuk bersyukur kepada Allah ataukah untuk durhaka kepada Allah SWT.
Demikian pula kabar Rasulullah dibawah ini

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَقَالَ مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَا الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَأَنَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا قُومُوا فَقَامُوا مَعَهُ فَأَتَى رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ قَالَتْ مَرْحَبًا وَأَهْلًا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ فُلَانٌ قَالَتْ ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنْ الْمَاءِ إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي قَالَ فَانْطَلَقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ فَقَالَ كُلُوا مِنْ هَذِهِ وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكَ وَالْحَلُوبَ فَذَبَحَ لَهُمْ فَأَكَلُوا مِنْ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ
و حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا أَبُو هِشَامٍ يَعْنِي المُغِيرَةَ بْنَ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا بَيْنَا أَبُو بَكْرٍ قَاعِدٌ وَعُمَرُ مَعَهُ إِذْ أَتَاهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا أَقْعَدَكُمَا هَاهُنَا قَالَا أَخْرَجَنَا الْجُوعُ مِنْ بُيُوتِنَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ خَلَفِ بْنِ خَلِيفَةَ


Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khalifah dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata;
Pada suatu hari atau suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar rumah, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan ‘Umar. Lalu beliau bertanya: “Mengapa kalian keluar rumah malam-malam begini?” Mereka menjawab; ‘Kami lapar, ya Rasulullah! ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah yang jiwaku dalam Tangan-Nya, aku juga keluar karena lapar seperti kalian. Marilah!” Mereka pergi mengikuti beliau ke rumah shahabat Anshar (Abu Haitsam bin At Taihan). Namun sayang dia sedang tidak di rumah. Tetapi tatkala istrinya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, dia mengucapkan; “Marhaban wa Ahlan (selamat datang).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Kemana si Fulan (Abu Haitsam)?”‘ Isterinya menjawab; ‘Dia sedang mengambil air tawar untuk kami.’ Tiba-tiba suaminya datang dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta dua sahabat beliau, maka dia berkata; ‘Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih bahagia dariku hari ini, karena kedatangan tamu yang mulia.’ Lalu dia mengambil setandan kurma, di antaranya ada yang masih muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak betul. Katanya; ‘Silakan dimakan ini.’ Sambil dia mengambil pisau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan disembelih yang lagi mempunyai susu.’ Maka dipotongnya seekor kambing, lalu mereka makan kambing, makan kurma setandan, dan minum. Setelah semuanya kenyang dan puas makan dan minum,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakar dan ‘Umar: ‘Demi Allah yang jiwaku berada dalam Tangan-Nya, kalian akan ditanya pada hari kiamat tentang nikmat yang kalian peroleh ini. Kalian keluar dari rumah karena lapar dan pulang sesudah memperoleh nikmat ini.’

Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur; Telah mengabarkan kepada kami Abu Hisyam yaitu Al Mughirah bin Salamah; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Ziyad; Telah menceritakan kepada kami Yazid; Telah menceritakan kepada kami Abu Hazim ia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata; Tatkala Abu Bakr dan Umar sedang duduk-duduk, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada mereka, beliau bertanya: “Kenapa kalian duduk-duduk di sini?” Mereka menjawab; ‘Kami lapar hingga kami keluar rumah.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku dalam Tangan-Nya, …” kemudian dia menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Khalfa bin Khalifah. (HR Muslim 3799)

Bahwa nikmat-nikmat apapun walau sebesar zarah (mikro nano) Allah akan meminta pertanggung jawaban-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Teliti.
Zaman modern telah terbentang dihadapan manusia, berbagai nikmat Jasmani dan Rohani, termasuk nikmat Ilmu, nikmat harta,nikmat kenyamanan hidup telah Allah bentangkan di hadapan manusia. Akan kita gunakan untuk apa nikmat-nikmat tersebut???. Apakah untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah apakah mau digunakan untuk durhaka kepada Allah.
Ilmu dan teknologi Modern di saat ini telah melimpah-limpah dicurahkan oleh Allah kepada manusia, bila dengan teknologi yang sangat canggih tersebut manusia tidak tahu untuk apa, maka kita akan melihat akibat buruk yang amat dahsyat, sebagaimana firman-Nya.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ ﴿٧١﴾

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS. 23:71)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41)

Marilah kita umat manusia mengingat saat-saat kita kembali kepada Allah, bahwa segala nikmat walau sebesar zarah akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga kita perlu menggunakan segala nikmat dan karunia yang Allah berikan, semuanya untuk beribadah kepada Allah, untuk bertaqwa kepada Allah, untuk digunakan di jalan yang dicintai oleh Allah. Bila tidak bersikap demikian maka manusia pasti akan memanen musibah-musibah dan dan dan kehancuran. Lihatlah bukti-bukti nyata yang sudah tertampang di depan mata. Wallohu a’lam

Sunday, 31 August 2014

Amalan Ringan Jangan Diremehkan


Al Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak adam, sesungguhnya kamu akan melihat amalmu, dan kebaikan-keburukanmu akan ditimbang. Maka janganlah kamu meremehkan satu kebaikan pun, sekalipun kecil, karena kamu akan melihat yang kecil itu akan membuatmu bahagia. Dan jangan pula meremehkan satu kejelekan pun karena jika kamu melihatnya, ia akan membuatmu sengsara.

Kadang kita meremehkan sesuatu yang kecil, baik berupa amal kebaikan atau keburukan. Padahal boleh jadi amal kebaikan yang kita remehkan tersebut justru memberikan manfaat untuk kita di dunia dan penyebab Allah masukkan kita ke dalam surga.

Balasan di dunia

Banyak kisah orang-orang yang mendapatkan kemudahan dan pertolongan dari Allah dikarenakan amalan-amalan yang justeru tidak bernilai menurut anggapannya tapi di sisi Allah memiliki nilai yang luar biasa. Diantaranya:

Syaikh Athiyah berkata, “Syaikh Al Fadhil Abdul Hamid Abbas, seorang yang kejujurannya tidak diragukan lagi bercerita kepadaku. Dia berkata, “Pada suatu ketika, ada seorang wanita yang berjalan jalan di daerah Quba’, tiba tiba dia terperosok ke dalam sungai. Dia terjatuh dan terbawa arus air hingga dia berhasil berpegangan pada sebuah batu besar dan duduk diatasnya. Dia berada ditempat itu selama empat hari hingga akhirnya seorang laki-laki melewati tempat itu dan mendengar suara minta tolong.

Diapun segera turun dan mengeluarkan wanita tersebut dari atas batu itu. Keluarganya lalu bertanya “Bagaimana kamu bisa bertahan hidup?” Dia menjawab, “Semangkuk susu yang biasa aku berikan kepada para janda lanjut usia telah mendatangiku setiap hari.” Ternyata wanita itu memiliki seekor kambing yang susunya selalu ia berikan kepada para janda lanjut usia yang sekaligus tetangganya.

Memberikan segelas susu, seolah merupakan amalan yang kadang oleh sebagian orang dianggap remeh dan tidak bernilai. Namun ternyata memberi manfaat yang luar biasa, pelakunya mendapat pertolongan dari Allah di masa-masa sulit.
Janganlah menganggap remeh amal kebaikan sekecil apa pun. Boleh jadi Anda sedang tertidur sedangkan pintu langit diketuk puluhan doa untuk Anda.

Doa dari seorang fakir miskin dan janda lanjut usia yang telah Anda bantu meskipun sedikit. Doa dari orang yang telah Anda hibur dari kesedihannya. Doa dari orang yang lewat di jalan yang telah Anda hadiahkan kepadanya berupa senyuman yang tulus. Doa dari seorang kuli bangunan atau tukang becak yang Anda berikan segelas air putih. Doa dari seorang yang telah Anda tunjukkan kepadanya alamat yang dicarinya. Ucapan terima kasih dan doa dari seorang nenek yang menghiba uang seribu rupiah namun anda memberinya lima ribu rupiah. Atau doa dari orangtua yang menitipkan anaknya untuk dididik di pesantren yang Anda kelola.

Semua itu adalah balasan dari Allah yang disegerakan di dunia ini, belum balasan pahala yang akan Allah berikan lewat lisan Rasul-Nya di akherat kelak bagi orang-orang yang melakukan amal kebaikan.

Balasan dan pahala di akherat

Sungguh, teramat banyak variasi amalan ringan yang bisa kita lakukan tetapi sering tidak kita pedulikan karena kita anggap sepele atau hukumnya hanya sekedar sunah saja. Seperti menyingkirkan gangguan di jalan. Amalan ini sungguh teramat sepele untuk diperhatikan oleh banyak orang hingga mereka lewatkan begitu saja kesempatan berpahala ini. Padahal Abu Hurairah ra pernah mengabarkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:

“Sungguh aku melihat ada seorang lelaki berpindah dari satu tempat ke tempat lain di surga (untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya), disebabkan sebuah pohon yang dipotongnya dari jalanan karena pohon tersebut mengganggu kaum muslimin yang lewat di jalan tersebut.” (HR. Muslim)

Subhanallah! Sekadar menghilangkan gangguan dari jalanan ternyata memiliki keutamaan yang besar dan teranggap sebagai amalan yang menjadi sebab pelakunya masuk surga. Hikmah dari anjuran Nabi ini memang luar biasa. Berapa banyak orang mengalami kecelakaan di jalan yang menyebabkan luka berat hingga meninggal dunia hanya disebabkan dahan yang melintang, paku yang berserakan, oli yang berceceran di jalan atau sekedar batu kecil yang terlempar dan tidak ada yang tergerak hatinya untuk menyingkirkan.

Atau saat kita berwudlu. Berapa banyak dari kita yang enggan berhenti sejenak sekedar untuk melantunkan doa selepas berwudhu. Andai mereka memahami dengan benar akan janji yang akan Allah berikan bagi pelantun doa selepas wudlu ini tentulah mereka akan berlomba untuk meraihnya.

Dari Umar bin Khattab ra, Nabi saw bersabda: “Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu, lalu membaguskan wudhunya kemudian mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan lalu dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan.” (HR. Muslim)

Coba kita juga renungkan sejenak sebuah kebaikan ringan lainnya yang berbuntut ganjaran tak terkira, yakni tatkala kita mau menjenguk orang sakit. Rasulullah saw pernah bersabda, “Tiada seorang muslim yang menjenguk seorang muslim pada waktu pagi melainkan dia didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore hari. Dan ia menjenguk pada sore hari maka ia di doakan oleh 70.000 malaikat hingga pagi harinya. Dan akan mendapatkan jaminan buah-buahan yang siap di petik di dalam syurga.”(HR.Tirmidzi dan dia berkata hasan dianggap shahih oleh Al Albani)

 Maka janganlah sekali-kali menganggap remeh akan amal kebaikan sekecil apa pun.
 
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim).

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7).



Saturday, 30 August 2014

Al-QUR'AN DAN AS-SUNNAH PENDIDIKAN CERDAS DARI ALLAH SWT


Segala puji hanya bagi Alloh SWT, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya.
Setiap muslim senantiasa merasa lezatnya rukuk dan sujud, bahkan bagi mereka yang berhati bersih dan bening mereka akan senang mengikuti cara Rukuk dan Sujud Rasulullah SAW, dengan membaca 10 kali tasbih dalam rukuknya. Contoh doa ruku’ misalnya Subhana robbiyal ‘adhim (Maha suci Alloh Tuhan yang Maha Agung) serta doa sujud misalnya Subhana robbiyal a’la (Maha suci Alloh Tuhan Yang Maha Tinggi).

Bagi mereka yang telah mencapai derajad bening hati, maka bacaan ruku dan sujud tersebut sesuatu yang amat mengesan dan dilantunkan penuh kecintaan hati untuk mengagungkan dan memuliakan Alloh Tuhan Semesta Alam, Alloh Yang Maha Agung. Sehingga sholat yang dijalankan semakin memberi rasa tenteram, bahagia, puas, dan lapang hati, hati yang puas untuk memuji Alloh SWT. Tuhan semesta Alam.
Sungguh Alloh Dialah Tuhan semesta Alam yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan layak bagi manusia untuk banyak Memuji dan Mengagungkan Alloh SWT. Karena memang Dia Alloh Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam. Tuhan Yang Maha Besar dari segala yang besar. Besarnya Makhluq semua adalah hasil ciptaan Alloh Yang Maha Besar.

Alloh SWT telah memberikan cakrawala yang luas tak terbatas kepada umat manusia lewat Al-Qur’an dan juga memberikan petunjuk kepada manusia lewat Rasulnya Muhammad SAW dengan As-Sunnah. Bahkan cakrawala hingga batas tak terhingga sampai alam akherat, alam kelanggengan manusia.
Dalam bentuk penjelasan alam yang dekat Alloh SWT telah membuka cakrawala aqal manusia untuk keajaiban tatanan Alam yang sangat besar. Seperti firman-Nya

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿١٢﴾

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. 41:12)

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ ﴿٥﴾

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (QS. 67:5)

Alloh SWT memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengarungi ke dalam alam ciptaanya yang sangat luas, dengan firman-Nya

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ ﴿٣٣﴾

Hai jama’ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. 55:33)

Pemberian kesempatan yang Alloh berikan kepada umat manusia, hingga jaman ini baru bisa dilakukan oleh bangsa-bangsa yang memiliki teknologi yang canggih. Berarti sebenarnya apa yang dikehendaki Alloh kepada Manusia agar manusia berani untuk belajar ilmu-ilmu yang canggih dan berani melihat tanda-tanda keagungan Alloh di segenap Alam raya, Yang luas tak bertepi.

Alloh memberi kesempatan kepada manusia untuk menjelajahi Bumi, tentunya tidak hanya yang dipermukaaannya saja, bahkan yang terletak di dalam laut yang sangat dalam,manusia diperintah untuk melihat tanda-tanda keagungan Alloh di sana. Dan ternyata ilmu-ilmu yang canggih pula yang dapat sampai ke sana. Sehingga sebenarnya Alloh telah memerintah kepada manusia untuk Cerdas dalam hidup. Hidup untuk melihat tanda-tanda Keagungan dan Kemuliaan Alloh SWT di manapun.

Orang Cerdas, Apa yang Harus diutamakan

Alloh SWT memerintah manusia untuk melihat ke segenap ufuk alam untuk melihat tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan Alloh SWT dan kemudian diperintah untuk selalu beribadah kepada-Nya.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً ﴿٤٤﴾

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 17:44)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴿٣٦﴾ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ﴿٣٧﴾

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS. 24:36)
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24:37)

Semua apa yang diperlihatkan oleh Alloh SWT kepada manusia adalah berujung kepada kecintaan, kebahagiaan, dan berserah diri, merendahkan diri untuk selalu tunduk patuh kepada Alloh SWT, pemilik seluruh Keagungan Dan Kebesaran.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

Ibadah kepada Alloh SWT, merupakan perpaduan antara perasaan Kehampaan Diri, perasaaan Kepatuhan Diri, Perasaan Kehinaan diri, dihadapan Alloh SWT, Tuhan yang telah memberikan segala nikmat dan Karunia. Dan tumbuhlah pula dalam hati manusia untk kemudian, taat menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh, untuk mendapatkan kecintaan Alloh SWT. Tuhan Pencipta Segenap alam Raya, Tuhan pencipta dan pemelihara Semesta Alam

Ke hati-hatian Orang Cerdas dari Bujuk Rayu Syaiton

Segala perintah dan larangan Alloh adalah sesuatu wujud nyata kasih sayang Alloh SWT kepada umat manusia. Agar manusia selalu bisa dekat kepada Alloh dan bisa tetap tenteram, selamat, bahagia, di dalam hidupnya dimanapun.
Alloh SWT Tuhan yang Maha mengetahui akan segala ciptaannya, dan memberi tahu bahwa di sekeliling diri manusia ada makhluq ghoib tak kasat mata yang selalu mengajak manusia kepada jalan kebinasaan. Dan itu semua dijelaskan oleh Alloh dengan terang benderangdalam Al-Qur’an.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿٦﴾

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)

Dan Dia akan datang kepada orang-orang yang terus menerus membangkang kepada Alloh dan telah dikutuk oleh Alloh SWT

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُواْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْاْ رُسُلَهُ وَاتَّبَعُواْ أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ ﴿٥٩﴾ وَأُتْبِعُواْ فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا إِنَّ عَاداً كَفَرُواْ رَبَّهُمْ أَلاَ بُعْداً لِّعَادٍ قَوْمِ هُودٍ ﴿٦٠﴾

Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (QS. 11:59)
Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Huud itu. (QS. 11:60)

Manusia yang telah diberi kecerdasan dan kemuliaan oleh Alloh, bila tidak mau mengikuti jalan petunjuk Alloh dan mengikuti syaitan, maka aka diajak oleh syaitan kepada jalan yang dimurkai dan dikutuk oleh Alloh SWT.
Bukan kecerdasan aqal saja yang dibutuhkan namun disamping cerdas, yang lebih dikedepankan lagi adalah perasan tunduk, takut dan taqwa kepada Alloh SWT

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾

Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 35:28)

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ وَجَاء بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ ﴿٣٣﴾

(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,” (QS. 50:33)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴿١٢﴾

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 67:12)

Hidup manusia di dunia adalah hidup untuk selalu dalam beriman dan beramal sholih, hidup dengan melihat tanda-tanda keagungan dan kebesaran Alloh dan disertai dengan Rasa Taqwa. Alloh Dialah Tuhan yang menghendaki manusia untuk selalu selamat dan bahagia di dunia dan di akherat dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallohu a’lam

Friday, 29 August 2014

LAYUNYA JIWA AKIBAT, BERJUDI, BERZINA, MABUK, MAKAN RIBA


Alhamdulillahi Robbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Alloh SWT, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau yang selalu mengikuti jalan pentunjuk-Nya, salam untuk seluruh Nabi-Nabi Dan Rasul-Rasul-Nya.  Alloh SWT telah memberikan peringatan-peringatan yang tegas tentang beberapa larangan yang harus dijauhi oleh umat manusia. Bila larangan itu tetap saja dilanggar dilakukan oleh umat manusia, maka mungkin saja kesenangan itu masih diberikan namun hanya sebatas di Dunia saja. Akibat melanggar larangan itu pasti Jiwa manusia ketika hidup di dunia akan mengalami kelayuan dan itu akan berlanjut dengan siksa jiwa di alam selanjutnya, yaitu di alam kubur dan alam akherat.

Larangan berjudi dan mabuk sebagaimana dalam firman Alloh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٩٠﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿٩١﴾


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS 6 ayat 90)
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS 6 ayat 91)

Demikian pula larangan berzina sebagaimana firman-Nya

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً ﴿٣٢﴾


Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(QS 17 ayat 32)

Dan larangan memakan riba, sebagaimana dalam firman-Nya

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٧٥﴾


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS 2 ayat 275)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٣٠﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS 3 ayat 130)

Banyak Hadist Rasulullah yang membahas tentang larangan Berjudi, Berzina, Mabuk dan Memakan harta Riba. Diantaranya adalah

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ إِنْ مَاتَ لَقِيَ اللَّهَ كَعَابِدِ وَثَنٍ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pecandu khamar apabila mati, maka ia akan berjumpa dengan Allah seperti penyembah berhala.”(HR Ahmad 2325)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَلَعَنَ شَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَآكِلَ ثَمَنِهَا

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, yang mengoplos, yang minta dioploskan, penjualnya, pembelinya, pengangkutnya, yang minta diangkut, serta orang yang memakan keuntungannya.”(HR Ahmad 5458)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ قَالَ وَقَالَ مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الرِّبَا وَالزِّنَا إِلَّا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, para saksi dan penulisnya.” Ia berkata; Beliau juga bersabda: “Tidaklah nampak pada suatu kaum riba dan perzinaan melainkan mereka telah menghalalkan bagi mereka mendapatkan siksa Allah Azza wa Jalla.”(HR Ahmad 3618)

Bila ditinjau dari kaca mata manusia awam, apalagi manusia yang telah bersahabat dengan bujukan syaitan, maka berjudi, berzina, mabuk dan memakan harta riba adalah semuanya menyenangkan. Bila ditinjau dari psikologi jiwa manusia kesenangan di dalamnya adalah kesenangan-kesenangan puncak yang padat dengan bisikan-bisikan syaitan dengan kwalitas yang sangat super hebat.

Berjudi, sesuatu angan-angan yang terus menggelayut di hati manusia untuk mendapatkan kesenangan harta dengan cara yang amat mudah dengan jalan mudah dan tipu-tipu.

Berzina, sesuatu nikmat yang luar biasa yang penuh dengan tipu daya syaitan yang penuh gurisan-gurisan kelezatan. Sesuatu bujukan nafsu yang selalu terus menerus membujuk manusia yang tidak mengenal kelezatan iman.

Mabuk, baik dengan minuman keras atau zat-zat kimia yang memabukkan, sebuah kenikmatan imaginasi yang sangat memuncak dan sangat mencandui, namun dapat merusak aqal, tubuh dan jiwa manusia.

Memakan Riba, mendapatkan penghasilan dengan cara melipat gandakan uang, tanpa suatu jenis produksi fisik. Proses mendapatkan uang sebagai sarana hidup dengan cara yang amat-amat mudah, sehingga manusia akan mendapatkan keuntungan kekayaan dengan cara yang amat-amat mudah. Namun beresiko dengan kerusakan tatanan ekonomi sektor riil bagi manusia.

Bila dibiarkan manusia asyik untuk selalu berjudi, berzina, mabuk dan makan riba, tentu masing-masing indifidu akan merasakan sebagai puncak-puncak kenikmatan dan kesenangan dunia. Namun dibalik itu semua adalah terkandung dosa - dosa besar yang telah Alloh tetapkan padanya.
Sehingga orang-orang yang terpelengket dengan kebiasaan berjudi, berzina, mabuk dan makan riba pasti akan mengalami kelayuan jiwa, sangat sulit untuk mentaati kebenaran dan kesholehan yang telah Alloh tetapkan dan akan dijauhkan dari Rahmat Alloh, dan kenikmatan yang telah direguk pasti akan dibalas dengan azab dan siksa, baik di dunia ataupun di akherat.

Banyak kasus-kasus pemerasan terjadi di tengah-tengah masyarakat, yang sebenarnya merupakan pengembangan dari perbuatan sekelompok orang yang telah kecanduan dengan efek menyenangkan dari perbuatan berjudi, berzina, mabuk dan makan uang riba. Sehingga kadang penyakit ini bisa mengembang menjadi budaya yang meluas di tengah-tengah masyarakat, dan sering menumbuhkan mafia-mafia raksasa yang ditakuti dan amat sulit ditangani.

Sebagai contoh mari kita sadari sejenak, berapa uang yang telah dibelanjakan oleh generasi muda yang berduit untuk membeli zat-zat pemabuk semacam narkoba. Suatu kesia-siaan yang amat nyata, baik kerugian materi dan kerugian immateri, kerugian jiwa dan raga, kerugian dunia dan akherat.
Keadaan manusia, bahwa dibalik enaknya sebuah kenikmatan yang dibujukkan syaitan, namun bersamaan dengan itu munculah manusia berjiwa syaitan di dalam diri-diri yang telah terperangkap dalam kesenangan, berjudi, berzina, mabuk dan makan uang riba.

Bila budaya berjudi, berzina, mabuk dan makan riba telah membudaya di tengah-tengah masyarakat, maka layulah jiwa-jiwa masyarakat, bersamaan dengan itu akan tercabutlah Rahmat dan Barokah dari Alloh SWT.
Bila Alloh sudah berlepas tangan dari sebuah masyarakat, maka tinggal menunggu waktu-waktu datangnya azab Alloh, sebagimana di zaman ini telah banyak muncul kekerasan antar manusia, pelecehan seksual, penyakit kelamin (missal AIDS), Karakter manusia yang mengarah pada kebobrokan moral, atau pula kejahatan yang berkwalitas amat sangat kejam.

Sudah seharusnya manusia di jaman ini segera bertekun untuk kembali bertaat kepada Alloh SWT. Meningkatnya kwalitas dan kwantitas kejahatan di tengah-tengah masyarakat merupakan tumpukan dari ketidak disiplinan aparat dan masyarakat dalam mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar. Pembiaran-pembiaran siaran-siaran TV, Internet, Multi media yang merangsang dan memicu manusia untuk menegak kejahatan dibiarkan lepas, dan tidak dibendung dengan maksimal.

Bahkan da’wah Islam yang nyata-nyata menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mulai dijauhi dan dibenci, Berapa banyak dakwah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang disampaikan oleh lembaga-lembaga dakwah telah di demo oleh masyarakat awam.
Semuanya menunjukkan bahwa masyarakat awam sedang mengalami pergeseran nilai. Fitnah-fitnah buruk telah dilipat gandakan dengan teknologi modern sehingga menimbulkan efek keburukan yang berlipat ganda.

Kepada Alloh saja orang-orang yang bertaqwa kepada Alloh mengharap penyelesaian yang adil dan tuntas. Manusia yang masih sadar, harus terus menerus mengingatkan kepada manusia awam agar mereka bertaqwa kepada Alloh, dan selebihnya, segala masalah diserahkan kepada Alloh SWT. Sebab bila Alloh Murka maka semua akan terkena.
Alloh dialah pemilik pasukan langit dan bumi, Dia Alloh yang akan menyelesaikan berbagai penyimpangan yang telah dilakukan oleh manusia. Dia yang akan menuntaskan segala masalah di tengah tengah kehidupan umat manusia. Mari kita bertaubat sebelum kita diadili oleh Alloh SWT.   Wallohu a’lam

Thursday, 28 August 2014

MENJAGA DIRI DAN KELUARGA DARI API NERAKA




يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ . التحريم : 6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim :6)

Segala puji bagi Allah Ta’ala, sholawat dan salam kita tujukan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Salam , para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta kepada siapa saja yang mengikuti jejak mereka sampai hari Qiyamat.

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan amal harian kita, sebagai suatu bukti ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga hidup kita mendapat ridha dari-Nya. Yaitu dengan cara menjaga diri dan keluarga, istri, anak, orang tua, dan sanak kerabat kita dari adzab api neraka. Berikut ini kami ambilkan beberapa perkataan sahabat dan tabiin serta ahli fiqih dari berbagai macam Tafsir.

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Umar bin Khottob radhiaallahu ‘anhu berkata; saat turun ayat ini, bertanya kepada Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Salam. Kami akan jaga diri kami, lalu bagaimana dengan keluarga kami ? Jawab Rasul: “Kau larang mereka apa yang Allah telah larang dari-Nya, kamu perintah mereka dengan apa yang Allah telah perintah dari-Nya, jika itu kau lakukan, akan menyelamatkan mereka dari neraka.”
 Al-Qurtubi rahimahullah berkata: “Di dalamnya hanya ada satu masalah, yaitu penjagaan seseorang terhadap diri dan keluarganya dari siksa neraka.”
 Ali bin Abi Tolhah t berkata dari Ibnu Abbas z: Jaga diri dan keluargamu, suruhlah mereka dzikir dan doa kepada Allah, sehingga Allah menyelamatkan kamu dan mereka dari neraka.
Sebagian Ulama berkata: “Kalau dikatakan Qu anfusakum, mencakup arti anak-anak, karena anak adalah bagian dari mereka. Maka hendaklah orang tua mengajarkan tentang halal dan haram dan menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa, juga mengajarkan hukum-hukum lain selain hal tersebut.”

على بن أبى طالب : ادبوهم وعلموهم

Ali bin Abi Tholib z berkata: “Didiklah dan ta’limlah (ajarlah) mereka (dirimu & keluargamu).”

ابن عباس : اعملوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله وأمروا أهليكم بالذكر ينجيكم الله من النار

Ibnu Abbas z berkata: “Ta’atlah kamu kepada Allah. Janganlah bermaksiat kepada-Nya, Suruhlah keluargamu untuk dzikir mengingat Allah, niscaya Allah akan selamatkannya dari neraka.”

مجاهد : اتقوا الله وأوصوا اهليـكم بتقوى الله.

Mujahid t berkata: “Takwalah kepada Allah dan suruhlah keluargamu untuk takwa kepada-Nya.”

قتادة : تأمرهم بطاعة الله وتنها هم عن معصية الله فإذا رأيت لك معصية قذعتهم عنها وزجرتهم عنها

Qotadah t berkata: “Kau suruh keluargamu untuk taat kepada Allah, kau cegah mereka supaya tidak maksiat. Jika kamu lihat maksiat di antara keluargamu, maka ingatkan mereka dan tinggalkan kemaksiatannya.

الضحاك : حق على المسلم ان يعلم اهله من قرابته وامائه وعبيده ما فرض الله عليهم وما نهاهم الله عنه.

Adh-Dhohak t berkata: “Hak seorang muslim adalah supaya mengajari keluarga dan sanak kerabatnya tentang kewajiban mereka kepada Allah dan memberitahu larangan-larangan-Nya.”

الفقهاء : وهكذا فى الصوم, ليكون ذلك تمرينا له على العبادة لكى يبلغ وهو مستمر على العبادة والطاعة ومجانبة المعصية وترك المنكر.

Ulama Fiqih berkata: “Demikian juga seperti mengajarkan masalah-masalah shoum, agar keluarga membiasakan ibadah, agar mereka terus-menerus dalam kondisi selalu ibadah, taat kepada Allah, menjauhi larangan dan meninggalkan kemungkaran.”

Al-Maroghi t berkata: “Hai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, hendaklah di antara kamu memberitahukan satu dengan yang lain, yaitu apa-apa yang menyelamatkan kamu dari neraka, selamatkanlah diri kalian darinya, yaitu dengan taat kepada Allah melaksanakan perintah-Nya, beritahulah keluargamu, tentang ketaatan kepada Allah, karena dengan itu akan menyelamatkan jiwa mereka dari neraka, berilah mereka nasehat dan pendidikan. Hendaklah seorang lelaki itu membenahi dirinya dengan ketaatan kepada Allah, juga membenahi keluarganya sebagai rasa tanggungjawabnya sebagai pemimpin dan yang dipimpinnya.

Al Qurthubi t mengingatkan lagi: “Hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik. Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur 7 tahun, dan pukullah jika umur 10 th, jika meninggalkan sholatnya, pisahkan tempat tidur mereka.”

Tadzkiroh & Peringatan Bagi Kita
  • Jika suatu keluarga ingin selamat dari api neraka, hendaklah mereka mempelajari dan mengikuti jejak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam, para Sahabat radhiallahu ‘anhum, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in, dengan memahami pesan-pesan mereka.
  • Islam mendorong pemeluknya untuk menjadi pandai dan berkwalitas, memotivasi untuk selalu mencari ilmu yang benar, kemudian mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, dalam hal ayat tersebut adalah perhatian tegas kepada sanak keluarga dekat, agar tidak lengah & tenggelam dalam kebodohan.
  • Semoga Allah Ta’ala  Menjaga diri kita, keluarga, dan sanak kerabat kita dari siksa api neraka, kita ingatkan kembali do’a berikut ini :
                                                                                        ربنا آتنا فىالدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Rob kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Tentang do’a ini, Al Hasan t mengatakan: “kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah yang baik” sedang Ibnu Wahab t mengatakan: “kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang baik, dan penjagaan dari api neraka, adalah Surga.” – Wallahu A’lam Bish Showab -


Saturday, 23 August 2014

Muhasabah Diri


 Karakteristik Ajaran Islamيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُ اللَّهَإِنَّ    اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ,  وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ
 أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”  (Qs. al-Hasyr: 18-19 )


Muhasabah Diri Adalah Salah Satu Bentuk Ketaqwaan

Ayat di atas menjadi rujukan utama dalam pembahasan muhasabah (intropeksi). Yang menarik dari ayat  tersebut bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa sebanyak dua kali, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kandungan ayat di atas.

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (17/29): “Dikatakan bahwa Taqwa yang pertama, maksudnya adalah taubat dari dosa-dosa yang telah lalu. Adapun Taqwa yang kedua adalah menghindari dari maksiat di masa mendatang.“

Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa, kemudian Allah memerintahkan setiap jiwa dari mereka untuk melihat apa saja bekal yang yang sudah disiapkan untuk menyambut hari esok, inilah makna muhasabah dan intropeksi.

Artinya bahwa salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah adalah selalu bermuhasabah diri terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini.
Persiapan Untuk Hari Esok

Mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Hari esok ada dua; hari esok yang dekat, dan hari esok yang jauh.

Adapun hari esok yang dekat adalah hari-hari mendatang di dalam kehidupan dunia ini bisa satu hari lagi, satu minggu lagi, satu bulan lagi, satu tahun lagi, sepuluh tahun lagi dan seterusnya. Yang jelas, setiap diri kita harus mempersiapkan diri untuk masa depan.

Ayat ini memerintahkan kita umat Islam untuk selalu mempunyai rencana dan rancangan yang matang dalam setiap aktivitas, tidak asal kerja, tidak asal beramal. Sehingga hasil kegiatan yang terencana dan terprogram dengan rapi akan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat, baik di dunia ini maupun di akherat.

Adapun hari esok yang jauh maksudnya adalah hari akherat, maka setiap diri kita hendaknya mempersiapkan bekal amal untuk dibawa ke akherat.

Berkata Imam al-Qurtubi : “Hari esok adalah hari kiamat. Orang Arab menyebut sesuatu yang akan datang dengan esok hari.“

 Ayat di atas sesuai dengan hadist Abu Ya’la Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّي عَلَي الله

“Orang yang cerdik adalah oraang yang selalu menahan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah“ (HR Tirmidzi, dan beliau berkata: hadist ini Hasan Shahih)

Macam-Macam Muhasabah Diri

Pertama: Muhasabah Sebelum Beramal.
Sebelum beramal hendaknya kita bermuhasabah, apakah amal yang akan kita kerjakan sudah benar-benar diniatkan karena Allah semata, atau ada niat lain?  seandainya sudah ikhlas, maka apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
 Berkata Imam Hasan al-Bashri :

رَحِمَ الله عَبْداً وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ، فّإِنْ كَانَ لِلهِ مَضَى، وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ
.
“Mudah-mudahan Allah selalu memberikan rahmat kepada seorang hamba yang selalu merenungi sebelum melakukan aktifitas, jika diniatkan karena Allah, maka ia lakukan aktivitas tersebut, tetapi jika bukan karena Allah, dia urungkan aktivitas tersebut. “

Kedua: Muhasabah Pada Saat Beramal.

Ketika sedang beramal, hendaknya  kita terus berusaha agar amal kita tetap berada pada jalur yang telah digariskan Allah, jangan sampai lengah dan keluar dari jalur, maka kita akan celaka.
Jika kita sedang sholat umpamanya, hendaknya tetap berusaha agar sholat kita tetap khusu’ dan diniatkan hanya karena Allah hingga akhir sholat. Jangan sampai di tengah-tengah sholat muncul hal-hal yang mengganggu kekhusu’an dan keikhlasan kita.
Ketiga: Muhasabah Setelah Beramal

Setelah melakukan suatu amal, hendaknya seseorang melakukan muhasabah kembali, apakah amalnya sudah bermanfaat bagi orang lain atau belum, jika sudah bermanfaat, sejauh mana manfaat tersebut, sedikit atau banyak, jika masih sedikit hendaknya ditingkatkan kembali.

Melihat amal perbuatan yang dikerjakannya belum sempurna, maka hendaknya disempurnakan kembali di masa mendatang. Amal perbuatannya yang belum ikhlas, hendaknya diusahakan untuk benar-benar ikhlas karena Allah di masa-masa mendatang, dan seterusnya.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوَزِّنُوا، فَإِنّ أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الحِسَابِ غَداً أَنْ تُحَاسَبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْم، وتُزَيِّنُوا للْعَرْضِ الأكْبِر، يَوْمَئِذ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة
“ Bermuhasabalah atas diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab pada hari kiamat, dan timbanglah amal kalian di dunia ini sebelum nanti ditimbang pada hari kiamat. Sesungguhnya kalian akan merasa ringan dengan bermuhasabah pada hari ini untuk menghadapi hisab kelak. Dan berhiaslah kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi hari pameran agung. Pada hari itu perbuatan kalian akan ditampilkan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun. “

Berkata Imam Hasan al-Bashri :

إنّ العَبْدَ لَا يَزَالُ بِخَيْرٍ مَا كَانَ لَهَ وَاعِظُ مِنْ نَفْسِهِ، وِكِانَتْ المُحَاسِبِةُ هِمَّتَهُ.

“Sesungguhnya seorang hamba akan selalu dalam keadaan baik selama dia mempunyai penasehat dari dirinya sendiri, dan selalu bermuhasabah diri.“

Berkata Maimun Mahran:

 لَا يَكُوْنُ العَبْدُ تَقِياً حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدّ مُحاسَبة مِنَ الشَّرِيْكِ لشريكه

“ Seseorang tidak akan mendapatkan predikat ketaqwaan sampai dia melakukan muhasabah kepada dirinya lebih ketat dibanding seorang teman yang bermuhasabh terhadap temannya . “
Diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Wahab, telah tertulis di dalam Hikmah Keluarga Nabi Daud  ‘alaihi as-salam bahwa :

” Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya menjadi 4 bagian ; waktu untuk bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, waktu untuk intropeksi terhadap diri sendiri, waktu untuk bergaul dengan teman-temannya yang bisa memberitahu kekurangannya, dan waktu untuk bertafakkur tentang dirinya dan kenikmatan yang didapatkan. Sesungguhnya waktu-waktu tersebut bisa membantu untuk memperbaiki hati. “

Orang Fasik Adalah Orang Yang Lupa Kepada Allah.

Allah berfirman :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa 
kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr : 18-19 )
Salah satu bentuk muhasabah dan intropeksi diri adalah tidak lupa kepada Allah, sebaliknya dia selalu berdizikir dan mengingat Allah, serta mempersiapkan diri dan mencari bekal untuk hari dimana dia akan bertemu dengan Allah.

Maka Allah melarang kita untuk menyerupai orang –orang yang melupakan Allah, karena lupa kepada Allah akan menyebabkan seseorang melupakan dirinya sendiri. Bagaimana hal itu terjadi ?

Kalau seseorang lupa bahwa Allah adalah Rabb dan Penciptanya, maka dia akan lupa terhadap dirinya, lupa terhadap asal-usulnya yang dulu tidak ada, kemudian menjadi ada. Dulu, dia hanya berupa air mani yang hina, kemudian Allah menjadikannya menjadi orang yang dewasa dan kuat, yang kemudian akan kembali lemah dan akhirnya akan mati dan kembali lagi kepada Allah.

Maka kalau seseorang lupa kepada Allah, dia akan lupa kepada hal-hal tersebut, selanjutnya dia akan berbuat semena-mena dan semau-maunya di muka bumi ini, tanpa ada aturan yang mengikatnya, orang-orang seperti ini akan menjadi orang  yang merugi di dunia, karena akan dijauhi masyarakat, akan dikucilkan bahkan akan ditahan karena daya rusaknya yang begitu hebat di masyarakat.

Maka Allah selalu mengingatkan manusia akan asal usulnya dan mengingat juga bahwa dia akan kembali kepada asalnya dan pemiliknya yaitu Allah. Lihat umpamanya di dalam Qs al-Mukminun, Qs. al-Haj, Qs. ar-Rum, Qs. al Insan, Qs. as-Sajdah dan banyak lagi ayat-ayat yang serupa.

Ibnu Katsir di dalam “ Tafsir al-Qur’an al-Adhim ‘ (  4/432 ) berkata :

“ Maksudnya janganlah kalian melupakan untuk mengingat Allah, maka Allah akan membuat kalian lupa beramal sholeh yang akan membawa manfaat bagi kalian di akherat. Sesungguhnya ganjaran itu sesuai dengan amal perbuatan. “

Berkata Syekh Abdurrahman as-Sa’di di dalam :

بل أنساهم الله مصالح أنفسهم، وأغفلهم عن منافعها وفوائدها، فصار أمرهم فرطا، فرجعوا بخسارة الدارين، وغبنوا غبنا، لا يمكنهم تداركه،

“ Bahkan Allah menjadikan mereka lupa terhadap maslahat mereka sendiri, Allah memalingkan mereka sehingga lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka sendiri, sehingga urusan mereka menjadi kacau, dan akhirnya mereka rugi dunia dan akherat, kerugian yang tidak mungkin bisa diganti lagi. “

Kesibukan mengumpulkan harta dan memikirkan masa depan anak-anak mereka membuat mereka lupa kepada Allah sehingga mereka menjadi orang yang merugi.

 Ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
 .
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Qs. al-Munafiqun : 9).
 Wallahu A’lam

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes