,

Sunday, 4 December 2016

Wahai Para Ayah, Perhatikanlah Ibadah Shalat Anak-Anakmu (Bagian 2)


Di samping itu, seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang-orang yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).
Allah Ta’ala firmankan dalam kitab-Nya Al-Qur`an tentang Nabi Ismail Alaihissalam bapak orang Arab. Ismail memerintahkan keluarganya agar mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan beliau adalah hamba yang diridhai.
Dengan demikian, dapat kita ketahui bersama bahwa tidak pantas bagi seorang ayah untuk meninggalkan anak-anaknya di rumah dalam keadaan tidur tanpa membangunkan mereka guna mendirikan shalat dan mengawasi semua aktivitas mereka.
Jadi, tidak cukup dengan membangunkan mereka yang sedang tidur saja, tapi juga harus mengawasi mereka. Sebab, mungkin saja mereka bangun dan ketika dia pergi mereka pun tidur kembali.
Jika seseorang ingin segera berangkat menuju masjid dan meninggalkan anak-anaknya di rumah karena khawatir tertinggal shalat berjamaah dan pada saat yang sama dia juga berusaha membangunkan kemudian mengawasi dan mengajak mereka, maka tidaklah mengapa dia keluar rumah meninggalkan mereka kemudian pulang menemui mereka di rumah.
Setelah itu, menyuruh mereka untuk mengerjakan shalat.
Namun, jika seseorang tidak peduli dan tidak membangunkan anak-anaknya yang sedang sebelum berangkat ke masjid, dia juga tidak memberi peringatan satu atau dua kata saja, kemudian berangkat menuju masjid dengan alasan khawatir tertinggal shalat berjamaah, maka dia telah meremehkan masalah ini.
Seorang ayah harus membangunkan anak-anaknya yang tertidur pulas sesuai dengan keadaan mereka.
Jika sekiranya mereka susah bangun tidur maka dia harus mengambil waktu lebih awal untuk membangunkan mereka. Jika mereka cepat bangun maka dia harus berusaha sesuai dengan keadaan mereka.
Intinya, seorang ayah harus mengetahui ibadah shalat anak-anaknya. Jika anak-anaknya tertidur, hendaklah dia bangunkan lalu diajak ke masjid.
Jika tidak memungkin, dia menyuruh anak-anak mengerjakan shalat di rumah.
Demikian ditulis kembali dari kitab Durus Al-Am karya Syaikh Dr. Abdul Malik Al-Qasim.








Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Wahai Para Ayah, Perhatikanlah Ibadah Shalat Anak-Anakmu


Shalat berjamaah lima waktu bagi laki-laki di masjid sangat dianjurkan. Bahkan, ada sebuah pendapat bahwa shalat berjamaah itu hukumnya wajib bagi laki-laki.
Salah satu argumennya, kata ganti yang ada dalam perintah Allah Ta’ala tentang shalat itu menggunakan jamak (plural), sehingga menunjukkan bahwa perintah shalat bagi kaum laki-laki adalah berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman,
Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah: 43).
Sebagian ulama ada yang mengatakan shalat berjamaah bagi laki-laki adalah fardhu kifayah. Ada yang mengatakan sunnah muakkad (sangat dianjurkan).
Ada pula yang mengatakan fardu ain dan bukan syarat sahnya shalat. Bahkan, ada pendapat yang ekstrem, hukum shalat berjamaah bagi laki-laki adalah wajib dan merupakan syarat sahnya shalat.
Terlepas dari semua pendapat tersebut, tidak ada alasan bagi kaum laki-laki untuk tidak ikut shalat berjamaah di masjid kecuali ada uzur yang menghalanginya.
Seorang ayah yang notabene bertindak sebagai kepala keluarga hendaklah mengajak anak-anaknya untuk menjalankan shalat lima waktu di masjid. Jika tidak sempat, dia boleh menyuruh anaknya shalat di rumah dengan sepengetahuannya.
Terkadang, dalam kehidupan bermasyarakat kita melihat sebagian orang pergi ke masjid untuk menjalankan shalat secara berjamaah tapi dia meninggalkan anaknya tanpa menyuruh mereka untuk shalat di rumah atau tidak mengajak mereka untuk bersama-sama shalat masjid.
Terkait hal ini Syaikh Muhammad bin Utsaimin, salah seorang ulama Arab Saudi pernah ditanya. Ia mengatakan bahwa wajib bagi setiap orang untuk menjalankan perintah Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Sungguh, wajib hukumnya bagi setiap orang untuk memerintahkan keluarganya mendirikan shalat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sabda NabiShallallahu Alaihi wa Sallam,
“Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mereka meninggalkan shalat) ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad).

Bersambung.....








Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Saat Hati Mulai Lelah, Ingatlah Hal Ini


Suatu ketika, saat hati mulai lelah dalam berdoa, ingatlah Allah tak henti-hentinya mendengarkan jeritan doa-doa kita. Dia pun memenuhi segala kebutuhan kita. Maka, nikmat Allah manakah yang kita dustakan?
Maka jangan pernah berhenti berdoa. Teruslah bertahan, tetaplah berharap. Karena doa itu akan menjadi ladang amal kita kelak.
Suatu ketika, saat hati kita mulai lelah dengan keadaan yang ada, ingatlah saat Allah tak henti-hentinya menemani kita. Bahwa Dia akan selalu bersama orang-orang yang sabar. Tiada pernah memberi kita sesuatu di luar kemampuan kita. Maka nikmat Allah manakah yang kita dustakan?
Maka tetaplah tegar melangkah dalam kesabaran, seperti Maha Penyangnya Allah pada kita. Yang tiada lelah mengampuni hamba-Nya yang berbuat khilaf dan berdosa.
Suatu ketika, saat hati kita mulai lelah dalam memberi, ingatlah Allah,bahwa Dia tak pernah lelah memberi terhadap hamba-Nya. Walau terkadang hamba-Nya lalai dalam perintah-Nya. Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?
Tetaplah memberi walau hanya dalam senyum sederhana. Karena sedekah itu tidaklah harus berupa materi.
Suatu ketika, saat hati kita mulai lelah dalam memaafkan, ingatlah Allah yang tiada pernah
lelah memaafkan hamba-Nya. Patutkah kita menyombongkan diri? Sementara Allah yang menciptakan kita begitu Maha Penyantun dan Pemaaf. Maka, nikmat Allah manakah yang kita dustakan?

Tetaplah memaafkan, karena memaafkan itulah salah satu cara melapangkan hati dari belenggu kebencian.
Saat hati mulai lelah, sandarkan selalu pada Dia yang memiliiki hatimu. Pada dia yang selalu menjagamu siang dan malam. Yang tiada pernah lelah mendengar keluhan kita mendengar rengekan kita. Tiada lain hanya Allah semata.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Allah, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya,” (QS. Hud: 23). 









Sumber: Islampos

Saturday, 3 December 2016

Penjagaan Nikma Dunia dan Akhirat


‘ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIKA, WATAHAWWULI ‘AAFIYATIKA, WAFUJAA-ATI NIQMATIKA, WAJAMII’I SAKHOTHIKA’
Doa adalah ibadah dan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT, maka tidaklah boleh bagi seorang muslim untuk berdoa, meminta dan menggantungkan harapannya kepada selain Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya do’a itu adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca ayat: ‘(Dan Rabmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina).” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
Bahkan Apabila seorang muslim yang tidak melakukan kesyirikan (tidak berdoa kepada selain Allah SWT) bersamaan dengan itu dia juga tidak berdoa kepada Allah SWT, maka Allah pun murka kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak berdoa/memohon kepada Allah SWT, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Mari kita simak teladan terbaik, Nabi kita Muhammad SAW dalam hal berdoa kepada Allah SWT, diantara doa yang di beliau SAW panjatkan :
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar dia berkata; “Diantara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: ‘ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIKA, WATAHAWWULI ‘AAFIYATIKA, WAFUJAA-ATI NIQMATIKA, WAJAMII’I SAKHOTHIKA “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari lepasnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.’
Tidak bisa dipungkiri bahwasannya Allah SWT telah memberikan kepada hambanya banyak kenikmatan, tak mampu kita menghitungnnya. Dimulai ketika bangun dari tidur, kita bisa bernapas lega –hidup kembali-, dikembalikannya penglihatan, pendengaran dan anggota badan dengan keadaan yang sehat. Kita bisa bisa menikmati segarnya air putih, yang seluruh makluq pantas bersyukur atas karunia Allah SWT yang berupa air ini, sehingga hiduplah bumi dan apa yang ada di dalamnya, kita bisa merasakan lezatnya makanan yang tersedia, dan masih banyak lagi nikmat yang bentuknya harta, keamanan, anak. Bahkan diantara kenikmatan yang luput dari pandangan manusia adalah kenikmatan dari penjagaan untuk tidak melakukan kemaksiatan, karena tindak kemaksiatan menghilangkan kenikmatan, dengarkanlah perkataan Ali bin Abi Tholib RA :
Jika engkau dalam kenikamatan jagalah ia…karena sungguh kemaksiatan akan menghapusnya
Do’a diatas memberikan pelajaran kepada kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari hilangnya kenikmatan yang sudah diberikan, diantara penjagaan kenikmatan adalah tidak bermaksiat kepada Allah dan bersyukur atas kenikmatan, menunaikan hak-haknya, mengeluarkan dan membaginya kepada saudara dan yang berhak menerimanya.
Rosulullah SAW juga mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah SWT dari perubahan kenikmatan, dari keadaan sehat berubah menjadi sakit, kaya menjadi miskin. Dalam sabdanya yang lain Nabi Mumammad SAW mengingatkan kelalaian yang menjangkiti banyak manusia akan nikmat sehat ini :
“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Bahkan mewanti-wanti kepada umatnya untuk benar-benar mempergunakannya kepada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat dengan sabdanya :
Gunakanlah kesempatan sehatmu sebelum datang sakitmu (Hadits shahih riwayat Hakim dan Baihaqi dari Ibnu Abbas)
yaitu pergunakanlah nikmat sehat yang diberikan Allah SWT dengan memperbanyak amal shaleh sebagai bekal menuju perjalanan panjang di akhirat, karena bisa jadi sakit akan menghalanginya untuk giat dan memperbanyak amal shaleh.
Tentunya kita bertanya, apakah kita termasuk orang yang lupa akan kenikmatan sehat ini, iyadzan billah,ataukah kita sudah benar-benar bersyukur dengan menjaga dan mempergunakannya untuk ta’at kepada Allah SWT, menjadikannya modal untuk berbekal, serta mendoakan agar Allah senantiasa menjaganya?!
Seorang Nabi, Rosul Allah pun tidak mengetahui musibah yang akan menimpa dirinya, oleh karena itu Rosulullulah SAW berdoa berlindung kepada Allah SWT akan musibah yang spontan datang tak diundang. Bila musibah yang datang secara tiba-tiba ini terjadi ditakutkan tidak memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat, karena jika Allah telah berkehendak maka tidak ada yang mampu merubahnya meskipun seluruh makhluq berkumpul bersatu dan berupaya membantunya.
Dan yang terakhir beliau berdoa dan mengajarkan kepadak kita untuk berlindung kepada Allah dari sebab-sebab yang bisa mendatangkan kemurkaaNya, bila Allah murka kepada hamba, tentulah hamba ini merugi, sengsara dan binasa. karena itu kita memohon kepada Alah untuk dijauhkan dari sebab-sebab kemurkaanNya sehingga datanglah kebalikannya, yaitu keridhoan Allah SWT.









Sumber: arrisalah.net

Makna dan Ciri-Ciri Ghuroba’ edisi 2


Makna hadits ghurbah yang telah kami sampaikan tempo lalu sangatlah banyak karena makna ghurbah ini relatif terkait dengan masa, tempat dan syari’at. Dan insya Allah kami akan menyampaikan rincian makna-makna ghurbah tersebut dan semoga kita termasuk di dalamnya.
  1. Makna Ghurbah Secara Umum
 Makna ghurbah secara umum yaitu (asing)nya kaum muslimin di tengah-tengah masyarakat kafirdi setiap masa dan tempat. Kaum muslimin di tengah-tengah masyarakat kafir, ibarat rambut putih pada seekor banteng hitam, atau seperti rambut hitam pada banteng putih. Pada dasarnya golongan ini sangat sedikit. Allah berfirman:
“…Dan sangat sedikit dari hamba-hambaku yg bersyukur.” (Saba’: 13)
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Tatkala didalam kemah bersama Rasulullah, beliau bersabda, “Relakah kalian menjadi seperempat daripada penghuni surga? Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda,”Relakah kalian menjadi sepertiga daripada penghuni surga?” Kami menjawab,“Ya.” Beliau bersabda lagi “Relakah kalian menjadi separuh daripada penghuni surga?”Kami menjawab “Ya.”
Beliau kemudian melanjutkan, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamannya, saya mengaharapkan semoga kalian mejadi setengah dari pada penghuni surga. Yang demikian karena surga ahnya akan dimasuki oleh jiwa yang yang muslim. Keberadaan kalian diantara orang-orang musyrik hanyalah bagaikan rambut putih yang terdapat pada kulit banteng yang hitam atau sperti rambut hitam pada kulit banteng yang merah.” (H.R Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Kemudian juga makna ghurbah secara umum yaitu suatu kelompok atau individu yang senantiasa berbuat kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf di tengah-tengah masyarakat yang kebanyakan mereka berbuat rusak. Keterasingan ini menjadi pembeda mana orang-orang yang sholih dan mana orang-orang yang fajir atau fasid.
Ghurbah ini telah di takdirkan dan di tetapkan oleh syari’at, bahwa kaum beriman lebih sedikit di banding orang-orang kafir. Maka seorang muslim harus memandang masalah ini secara obyektif dan berimbang di antara dua sudut pandang yang ekstrim keduanya adalah:
  1. Orang yang senantiasa tamak dan terlalu berlebihan dalam berambisi untuk mensucikan dunia dari pengaruh kufur dan syirik. Mereka adalah orang-orang yang terlalu idealis dan tenggelam dalam lautan optimisme. Pun demikian, pergolakan antara tauhid dan syirik memang akan senantiasa terjadi hingga ketentuan Allah tiba.
  2. Orang-orang yang menjadikan realitas ini sebagai alasan untuk vakum dan berhenti mendakwahkan non-muslim kepada islam, bahkan mengerahkan segala potensi untuk itu. Mereka orang yang keliru dalam bersikap dan pura-pura akn realitas yang terjadi.
Keseimbangan cara pandang ini tidak mencegah Rasulullah dan sahabatnya untuk berdakwah di jalan Allah secara terang-terangan, berkorban dan sabar di jalan Allah, hingga Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki melalui wasilah mereka.
  1. Makna Ghurbah Secara Khusus
Makna ghurbah ini adalah golongan pemegang teguh sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang senantiasa sabar dan bersandar kepadanya. Mereka juag berlepas diri dan menghindarkan diri dari selain tuntunan sunnah di bandingkan komunitas muslim lainnya.
Ghurbah mereka di tengah komunitas muslim terkadang lebih dahsyat di banding kaum muslimin yang hidup di tengah orang-orang kafir. Ketika seorang mukmin semakin berpegang teguh terhadap sunnah Nabi, baik dari sisi keilmuan maupun praktik, maka keterasingannya akan semakin meningkat pula. Demikian pula orang yang menopang dan mengikuti juga semakin berkurang dan sedikit, sementara banyak sekali orang yang menetang dan berseberangan dengannya.
Dia laksana musafir bersama beberapa sahabat karib yang meniti perjalanan sangat jauh dan banyak rintangan.  Setiap kali fase perjalanan terlewati, sebagian dari mereka tertinggal dan terputus di jalan. Pada akhirnya, sedikit saja yang senantiasa ikut bersamanya dalam mengarungi perjalanan. Mereka lebih merasakan derita, kepedihan, serta dahsyatnya keterasingan jiwa, mana kala penentang yang berseberangan dan tidak menyetujui pendapatnya adalah saudara-saudara mereka yang seagama.
Karena Sufyan Ats-tsauri berkata, “Mintalah wasiat kebaikan kepada para pemegang teguh sunnah Rasulullah karena mereka adalah Al-ghuroba’. (Syarah Usul I’tiqad Ahlus Sunnah wa Jama’ah (I/64), Siyar A’lamin Nubala’ (VII/273)
Ia berkata pula, “Jika kamu mendapatkan kabar mengenai seseorang yang senantiasa berpegang teguh kepada sunnah di negeri timur dan satu lag di negeri barat, maka kirimkanlah salam kepada keduanya dan doakanlah. Betapa sedikit orang yang benar-benar berpegang teguh kepada sunnah dan jama’ah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). (Syarh Usul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah (I/6))
Abu Bakar bin Ayyash berkata, “Posisi sunnah dalam agama islam lebih mulia daripadda posisi islam terhadap agama-agama lain. (Ibid)
Perkara yang disebut ghurbah Islam di tengah komunitas agama lain berlaku juga disini. Ghurbah para pengemban sunnah di tengah komunitas muslimin sendiri tidak mesti membuat mereka duduk dan berputus asa. Akan tetapi mereka harus tetap komiten menyebarkan akidah yang benar, sistem pengambilan dalil yang benar dan persepsi perilaku yang benar di tengah komunitas muslim.
Ghurbah ini mesti terjadi dan bukan mustahil jika bersifat relatif. Keberadaannya senantiasa berbeda antara satu masa dengan masa yang lain, atau antara satu daerah dengan daerah yang lain. Terkadang ghurbah tersebut membuat para pelakunya merasakan kesempitan di dunia yang luas ini. Diri mereka pun terasa sesak.
Tetapi pada saat yang lain mereka akan memperoleh pemecahan atas berbagai problema yang dihadapi. Sehingga kaum beriman yang tertindas dan menderita dapat bernafas lega dan leluasa. Mereka merasakan kebahagiaan dengan wajah yang berseri-seri dengan kejayaan dan kemengan yang diperoleh agama dan sunnah.
Kemudian kita harus membedakan antaraghurbah  seperti ini dengan ghurbah yang terjadi di kahir zaman menjelang kiamat. Di kala itu, ajaran islam akan luntur dan gugur sebagaimana rontoknya benang-benang baju, hingga ajaran islam hilang dari muka bumi secara keseluruhan.
Di masa ghurbah akhir zaman ini, masih terdapat para reformis dan juru da’wah. Akan tetapi orang yang mendurhakai jauh lebih banyak jika di banding mereka yang menaati syariat, dan keterasingan ini pun melanda seluruh pelosok negeri. Madinah yang sebelumnya merupakan pusat ibu kota dan kejayaan islam dan muslimin hanya akan di masuki orang-orang yang tidak mengindahkan islam. Ghurbah seperti dalam bentuknya terbagi menjadi tiga:
  • Ghurbah Syariat, dalam bentuk ini ajaran Islam dianggap aneh dan asing, seperti jihad, amar ma’ruf nahi mungkar. Karena itu Rasulullah menggambarkan agama ini sebagai ajaran yang asing dan aneh dipermulaan dan penghabisannya.

  • Ghurbah Tempat, Islam begitu asing di salah satu negeri. Para pemeluknya di anggap asing di negeri tersebut. Sementara di negeri yang lain, islam dominan, di sanjung dan berjaya. Sehingga dengan kata lain,ghurbahnya hanya pada satu tempat saja.

  • Ghurbah Masa, yaitu ghurbah yang merambah di seluruh pelosok negeri. Saat itu, Islam terasa begitu asing kapanpun dan dimanapun. Sebagaimana yang terjadi pada masa sebelum di utusnya Rasulullah ghurbah ini hanya akan terjadi pada ummat nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah turunnya Nabi Isa Alaihi Salam dan sebelum terjadinya kiamat.









Sumber: Alislamu[Ghuraba’ Al-Awwalauun kaya Syaikh Salman Al-Audah,terjemah indonesia“Generasi Ghuraba’” penerbit Aqwam, Jakarta]

Generasi Ghuraba’ edisi 1


Tulisan ini akan sedikit memapar makna-makna Al-Ghuroba’ sesuai perspektif hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam. Pembahasan ini akan terbagi menjadi edisi. Edisi pertama akan membahas definisi secara bahasa dan istilah Al-Ghuroba’ dan pemaparan hadits-hadits tentangnya, edisi kedua akan membahas ciri-ciri orang atau golongan yang masuk dalam kriteria Al-Ghuroba’.
A. Pengertian Ghurbah secara bahasa
Kata ghurbah terpecah dalam tiga golongan huruf, yakni huruf ghain, ra’ dan ba’. Huruf-huruf ini termasuk kata asal yang shahih. (Mu’jam Maqayisul Lughoh (IV/420)).
Kata ini memiliki makna yang begitu luas, seperti yang disebutkan pengarang buku “Al-Qamus” terhadap salah satu perubahan bentuk kalimatnya (yakni al-gharbu) yang mencakup dua puluh empat makna. Akan tetapi Az-Zubaidi pensyarah Al-Qamus menemukan sepuluh pengertian yang belum disebutkan dalam kamus aslinya. Sehingga secara keseluruhan berjumlah tiga puluh empat makna. Jika dari satu bentuk perubahan kalimat saja ditemukan pengertian sebanyak ini, tentunya akan lebih banyak pengertian baru pada bentuk perubahan lainnya.

Kata Ghurbah sendiri memiliki bebrapa pengertian:
1. Diantara pengertiannya adalah An-Nawa wal Bu’du (kejauhan yang menjauh) jika dikatakan “ightaraba ghurbatan” artinya: menjauh , “nawa ghurbatan” artinya: pergi menjauh. (Al-Qamus (I/114), Al-Lisan (I/638), Ash-Shihah (I/190-191))
2. Pengertian yang agak mirip dengan makna sebelumnya adalah An-Nuzuhu ‘anil wathan wal ightirab (mengasingkan diri dan mengungsi dari tanah air). Dikatakan, rajulun ghurubun wa gharibun artinya: menjauh dari tanahnya airnya. Bentuk pluralnya adalah Ghuraba’ .
3. Pengertian yang agak mendekati pada kedua pengertian diatas adalah Al-gharib artinya: orang asing. (Sh-Shihah (I/191), Al-Lisan (I/640).
4. Kalimat Al-Ghurbatu juga dapat berati Al-Ghumudhu wal khafa’u wa ‘adamusyuhrati (kesamaran, tersembunyi, dan tidak populer). Diantara contohnya adalah gharibul hadits maksudnya adalah kesamaran yang tidak menampakkan maknanya. Adapun kalimat aghraba berarti mendatangkan sesuatu yang asing.
5. Dapat diartikan juga sebagai Adz- dzihabu wat tanahhi ‘anin naasi (menghindari dan berpaling dari orang lain). Dikatakan, gharaba’ ‘anna , yaghribu gharban yaitu ia menghilang dari tengah-tengah kita.
Menurut hema kami, kelima pengertian diatas, saling memiliki keterkaitan satu sama lain yang sering di ungkapkan dalam penggunaan bahasa arab.

Dalam pengertian An-nawa wal bu’du (menjauh) maksudnya seseorang meninggalkan tanah airnya ke tempat lain. Ia meninggalkan kaumnya menuju kaum yang lain. Sehingga ia pun menjadi asing di tengah-tengah masyarakat yang baru, karena bukan golongan mereka.
B. Pengunaan Kalimat Ghurbah dalam As-Sunnah.
Pengunaan kalimat ghurbah dalam as-sunnah nabawiyah banyak sekali pengertiannya. Semua pengertian itu terkumpul dalam satu kata yang telah kami isyaratkan sebelumnya. Sekarang kami akan sebutkan dua pengertian yng saling berdekatan:
Pertama, kalimat ghurbah disebutkan dalam arti fisik yakni bermukim diluar tanah airnya dan tinggal di tengah komunitas selain kaumnya. Pengertian ini brsumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar yang meriwayatkan,
“Rasulullah menarik kedua pundakku, lalu beliau bersabda, “Jadilah kamu didunia ini orang yang senantiasa asing atau seorang pengembara.” Kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Jika kamu berada di waktu sore, janganlah kamu menunggu watu pagi, dan jika kamu berada di waktu pagi janganlah kamu menunggu waktu sore datang. Manfaatkanlah waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan manfaatknlah waktu hidupmu untuk matimu. (H.R Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dll)
Rasulullah mengibaratkan kondisi yang seharusnya dijalani oleh mukmin yang taat dan rajin beribadah dengan kondisi orang asing yang tidak mempunyai tempat bernaung atau rumahnya di tempati. Seluruh urusannya, mulai dari makan, minum, tempat tinggal, kendaraan, dan seterusnya hanya sementara dan akan berlalu seiring dengan masa berakhirnya masa keterasingannya.
Ibnu Batthal mengatakan, “Orang asing itu sedikit berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya, bahkan dia merasa hidup di tengah-tengah lingkungan yang jahat, dia hanya sekedar berlalu diantara orang-orang yang tidak di kenalinya, karena merasa dalam keadaan lemah dan penuh kekhawatiran atas dirinya, begitu pula halnya dengankeadaan seorang pengembara.”
Rasulullah menyerupakan kondisi seorang mukmin sejati dengan kedua tipe manusia ini (orang asing dan pengembara). Hal ini mengandung isyarat tentang betapa penting dan perlunya mengutamakan zuhud di dunia, mengambil secukupnya saja dan menahan diri dari hal yang bukan miliknya.
Kedua, pengertian ghurbah secara maknawi, dalam pengertian ini hendaknya seorang tetap beristiqomah senantiasa berusaha secara serius untuk menghindari segala bentuk fitnah dan pengaruh hawa nafsu, serta mengambil sikap pasif dan menyembunyikan diri sebagaimana yang dicontohkan oleh generasi “unik” pertama. Sikap tersebut mereka pilih selain karna sedikitya kekuatan, penolong dan pengikut yang membelanya, juga menghadapi banyak pihak yang membelot, mencemooh dan menyerang mereka.
Keadaan orang yang seperti ini disebut orang asing sebagaimana pengertian global yang telah saya isyaratkan. Suatu keadaan yang menunjukkan tidak adanya orang-orang di sekitarnya yang menyepakatinya. Sebab, ia mempunyai urusan tersendiri dan mereka mempunyai urusan tersendiri. Ia berada pada satu lembah dan mereka berada di lembah lainnya.
Pada dasarnya, pengertian seperti inilah maksud dari pokok pembahasan ini dan merupakan pengertian yang dapat di pahami dari sabda Rasulullah:
“Sesugguhnya agama islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan di anggap asing sebagaimana datangnya.” (H.R Muslim)

C. Penelitian dan Kajian tentang Hadits- Hadits Ghurbah
Hadits-hadits tentang keterasingan islam ini di temukan dari beberapa jalur periwayatan dengan berbagai bentuk dan susunannya. Ada yang maushul dan ada yang mursal. Hadits ini di riwayatkan oleh sejumlah sahabat Rsulullah yang mulia, bahkan lebih dari dua puluh orang sahabat yang perincian hadits-haditsnya yang artinya adalah sebagai berikut:
1. Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak is akan kembali asing sebgaimana awalnya. Ia akan kembali terpusat di dua masjid sebagaimana ekor masuk kembali ke sarangnya.” (H.R Muslim)
2. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut.” (H.R Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)
3. Dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf bin Zaid bin Milhah dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya islam ini benar-benar akan kembali berpusat di negeri Hijaz, sebagaimana seekor ular kembali masuk kedalam sarangnya. Sungguh, agama ini benar-benar akan tertambat di negeri hijaz sebagaimana hutan betina yang tertambat di puncak gunung. Sesungguhnya agama islam bermula datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing, yaitu mereka yang tetap melakukan perbaikan atas sunnahku yang telah dirusak oleh orang-orang sepeninggalku. (H.R Tirmidzi, Baihaqi dan Al-Bazar)
4. Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yangasing itu.” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi)
5. Yang kelima kami sebutkan hadits yang diriwayatkan oleh 4 orang sahabat dengan matan yang sama , di antara sahabat itu adalah: Abu Darda, Abu Umamah, Watsilah bin Atsqa’ dan Anas bin Malik bahwa nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya islam bemula datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang-orang yang asing itu?” Be;iau menjawab, “Mereka yang senantiasa melakukan perbaikan meskipun orang lain merusak. Mereka tidak saling membantah di dalam agama Allah (islam). Mereka juga tidak mengkafirkan ahli tauhid hanya karna sebuah dosa.” (H.R Ath-Thabarani, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
6. Dari Anas bin Malik dari Rasulullah beliau bersabda: “Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing itu.” (H.R Ibnu Majah)
7. Dari Sa’ad bin Abi Waqash ia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya iman bermula dalam keadaan asing, kelak ia akan kembali sebagaimana dia bermula datang. Pada waktu itu maka beruntunglah orang-orang terasing tatkala orang lain rusak. Demi Allah Zat yang menguasai nyawa Abu Qasim (Nabi Muhammad), iman ini akan bersarang di kedua masjid sebagaimana seekor ular yang kembali ke sarangnya.” (H.R Ahmad, Al-Bazar, Ibnu Mandah, dll dengan sanad shahih menurut Al-Albani)
8. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing, ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang asing itu?” Beliau menjawab, “Merekalah orang yang senantiasa shaleh meskipun orang lain rusak.” (H.R Ath-Thabarani, Al-Baihaqi)
9. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Suatu ketika kami bersama Rasulullah beliau bersabda: “Beruntunglah orang-orang asing, ada yang bertanya, siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa saleh dalam komunitas orang-orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.” (H.R Ahmad dan Thabarani)
10. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah bersabda: “Orang yang paling di cintai Allah adalah orang yang terasing.” Ada yang bertanya, “siapakah orang-orang terasing itu ?” Beliau menjawab, “Yaitu orag-orang yang lari menyelamatkan agama mereka. Kelak pada hari kiamat Allah akan membangkitkan mereka bersama Isa bin Maryam Alaihi Salam.” (H.R Ibnu Ahmad, dll dha’if )
11. Dari Abdurrahman bin Sinnah bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: “Islam bermula datang dalam keadaan asing, kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa saleh meskipun manusia rusak. Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sungguh iman akan berhimpun ke Madinah seperti halnya air berhimpun. Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya sesungguhnya islam akan berhimpun di dua masjid sebagaimana ular bersarang masuk kembali ke sarangnya.” (H.R Ibnu Ahmad , Ibnu Wadhdhah, Ibnu Ady)
12. Dari Sahl bin Sa’ad As-Saidi dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali seperti awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Para sahabat bertanya, “Wahai rasulullah siapakah orang-orang yang asing itu?” beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa saleh tatkala manusia rusak.” (H.R Ad-Dulabi )
13. Dari Salman ia berkata , Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali menjadi asing.” (H.R Ath-Thabarani)
14. Dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali seperti halnya pertama kali datang. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (H.R Al-Haitsami dha’if)
15. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ia berkata, Rasulullah bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak akan kembali seperti halnya datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (H.R Al-Haitsami dha’if )
16. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ia berkata, Rasulullah bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga bumi kenyang meminum darah dan islam menjadi asing.” (H.R Al-Haitsami dha’if)
17. Dari Bilal bin Mirdas Al-fazari dari Nabi Muhammad bahwa ia bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing.” (H.R Bukhari, mursal, Ibnu Abi Hatim berpendapat: dha’if)
18. Dari Abu bakar bin Amr Al-Mu’arifi ia berkata Rasulullah bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang asing, yaitu mereka yang senantiasa berpegang teguh kepada Kitabullah tatkala ia di tinggal orang. Dan mereka mengetahui As-Sunnah di kala ia padam.” (H.R Ibnu Wadhdhah, mursal)
19. Dari Syuraih bin Ubaid ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing. Ingatlah bahwa seorang mukmin tidak pernah merasakan keterasingan. Tidaklah seorang mukmin meninggal dunia pada suatu tempat yang asing yang tak seorang pun menangis, untuknya, melainkan langit dan bumi akan menangisinya. Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.” (Ad-Dukhan: 29) lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menangisi orang kafir.” (H.R Ibnu Jarir Ath-Thabari , mursal , karena Syuraih seorang Tabi’in)
20. Dari Al-Hasan bahwa Rasulullah bersabda: :Sesungguhnya islam bermula datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seorang bisa menjadi asing?” Beliau bersabda “Sebagaimana seseorang yang di anggap asing di kampung orang lain.” (H.R Ibnu Wadhdhah, Abu Amr, ad-Dani dan Daruquthni, mursal, Al-Hasan Al-Bashri adalah tabi’in)










Sumber: Alislamu[Ghuraba’ Al-Awwalauun kaya Syaikh Salman Al-Audah,terjemah indonesia“Generasi Ghuraba’” penerbit Aqwam, Jakarta]

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes