,

Thursday, 27 November 2014

Tauhid Ibadah



Orang Muslim beriman kepada ketuhanan Allah Ta'ala bagi manusia sejak pertama hingga generasi terakhir, kerububiyahan-Nya terhadap alam semesta, bahwa tidak ada pengaturan dunia selain Dia, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.

Oleh karena itu, ia memperuntukkan bagi Allah ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya kepadanya, dan tidak memalingkannya sedikit pun kepada selain Allah. Jika ia minta pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah. Jika ia bernadzar, ia tidak bernadzar untuk selain Allah. Untuk Allah-lah semua amal perbuatan batinnya, seperti takut, berharap, taubat, cinta, pengagungan, tawakkal, dan amal perbuatan lahiriyahnya seperti shalat, zakat, haji, dan jihad. Itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut.


Dalil-Dalil Wahyu

1. Perintah Allah Ta'ala kepada sikap seperti di atas dalam firman-firman-Nya, seperti firman-firman-Nya berikut ini.
¤ "Sesungguhnya Aku Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengikuti Aku." (Thaha: 14)
¤ "Dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk)." (Al-Baqarah: 40)
¤ "Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untuk kalian karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22)
¤ "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang benar melainkan Allah."(Muhammad: 19)
¤ "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat:36)"
¤ Dan hendaklah orang-orang Mukmin itu bertawakal kepada Allah saja." (At-Taghabun: 13)

2. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini.
¤ "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut'." (An-Nahl: 36)
¤ "Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat dan tidak akan putus." (Al-Baqarah: 256)
¤ "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku'." (Al-Anbiya': 25)"Katakanlah, 'Maka apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?'." (Az-Zumar: 64)
¤ "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)
¤ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah oleh kalian, bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku'." (An-Nahl: 2)

3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam hadits-haditsnya, seperti dalam hadits-haditsnya berikut ini.
¤ Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a. yang beliu utus ke Yaman,  "Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah hendaknya mereka beribadah kepada Allah Ta'ala." (Muttafaq Alaih).
¤ Sabda Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., "Hai Muadz, apa hak Allah atas hamba-hamba?" Muadz bin Jabal menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu hendaknya mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan An-Nasai dan ia men-shahih-kannya).
¤ Sabda Rasulullah saw. kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (Diriwayatkan At-Tirmidzi).
¤ "Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian ialah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Riya'. Pada hari kiamat Allah berfirman setelah membalas manusia dengan amal perbuatan mereka, Pergilah kepada orang-orang yang kalian lakukan riya' di dunia, kemudian lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?" (Diriwayatkan Ahmad dari banyak jalur dan hadits ini hasan).
¤ "Bukankah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah bagi kalian kemudian kalian juga menghalalkannya dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian juga mengharamkannya?"Orang-orang menjawab, "Ya betul." Rasulullah saw. bersabda, "Itulah bentuk ibadah mereka kepadanya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).
¤ Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. kepada Adi bin Hatim ketika ia mendengar firman Allah Ta'ala, "Mereka menjadikan pendeta-pendeta, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah."Kemudian Adi bin Hatim berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak menyembah mereka.""Sesungguhnya permintaan tolong itu tidak kepadaku, namun permintaan tolong itu kepada Allah." (Diriwayatkan Ath-Thabrani. Hadits ini hasan).
¤ Sabda di atas diucapkan Rasulullah saw. setelah sebagian sahabat berkata kepada sebagian sahabat yang lain, "Mari kita minta tolong kepada Rasulullah saw. dari orang munafik yang mengganggu kita.""Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah melakukan syirik." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).
¤ "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah syirik." (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan lain sebagainya. Hadits ini hasan).


Dalil-Dalil Akal

1. Kesendirian Allah Ta'ala dalam penciptaan makhluk, pemberian rizki, dan pengurusan alam semesta mengharuskan manusia beribadah kepada-Nya saja, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

2. Semua makhluk membutuhkan Allah Ta'ala. Jadi, tidak satu pun dari makhluk-makhluk pantas menjadi Tuhan yang disembah bersama Allah Ta'ala.

3. Sesuatu yang tidak mampu memberi pertolongan atau perlindungan tidak berhak untuk dimintai kepadanya pertolongan, bernadzar untuknya, bergantung atau bertawakkal kepadanya.


Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi,Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 65-70.

Tuesday, 25 November 2014

Hikmah Dan Keutamaan Wudhu’


Wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang besar. Sehingga tidak boleh kita memandangnya dengan sebelah mata. Karena seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam terkandung padanya hikmah dan manfa’at. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya (siapa pun) walau menzhalimi sekecil dzarrah (sekecil apapun), dan jika ada kebajikan walau sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 40)

Seperti halnya dengan wudhu’, meski amalan ini terkesan ringan dan ringkas, tetapi memiliki keutamaan yang besar tiada tara. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala janjikan pada ayat diatas. Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan wudhu’, diantaranya:

1. Pembersih dari Noda-Noda Dosa dan Penambah Amal Kebajikan

Perlu kita sadari, bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah subhanahu wata’ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) mensifati manusia dengan sifat yang sering lalai dan bodoh, sehingga sering terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

“Sesungguhnya manusia itu amat aniaya (zhalim) dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72)

Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik, “Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi)

Akan tetapi, dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang amat luas, Allah subhanahu wata’ala memberikan solusi yang mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa diantaranya dengan wudhu’. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu’ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut.Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim no. 244).

Subhanallah… sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar tiada tara yang diberikan Sang Rabbul ‘Alamin kepada para hamba-Nya.

2. Anggota Wudhu’ Akan Bercahaya Pada Hari Kiamat

Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang nampak pada anggota wudhu’. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

Dalam riwayat yang lain:Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Mslim no. 249)

Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang akan bercahaya nanti pada hari kiamat itu disebabkan karena amalan wudhu’. Tentunya, siapa yang tidak pernah berwudhu’, maka bagaimana mungkin dia akan bercahaya yang dengan tanda itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan mengenali sebagai umatnya?

3. Mengangkat Derajat Disisi Allah subhanahu wata’ala

Semulia-mulia derajat adalah derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Adapun seseorang yang meraih derajat tinggi dihadapan manusia itu belum tentu ia berada pada derajat tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Maka dengan wudhu’ yang sempurna akan dapat mengangkat derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya! Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)

Selain wudhu’ memiliki keutamaan yang besar, wudhu’ juga memilki peranan dan pengaruh penting pada amalan yang lainnya. Coba perhatikan pada shalat lima waktu atau shalat sunnah lainnya yang kita kerjakan! Tidak akan sah shalat jika tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. Karena wudhu’ merupakan salah satu syarat sahnya shalat.

Sebagaiamana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu’.” (HR Al Bukhari no 135 dan Muslim no 225 dari sahabat Abu Hurairah)

Demikian pula ijma’ (kesepakatan) para ‘ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu’ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu’ tersebut (Al Ausath 1/107).

Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu’. Dengan ini kita akan mengetahui betapa tinggi peranan dan pengaruh dari sebuah amalan wudhu’. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng. Diantara waktu yang disunnahkan untuk berwudhu’, yaitu:

1. Berwudhu’ Ketika Hendak Pergi ke Masjid

Termasuk sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ sebelum berangkat shalat berjama’ah ke masjid. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak berwudhu’ sebelumnya. Yaitu Allah subhanahu wata’ala menjadikan barakah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa pengahusan dosa dan penambahan pahala. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Apabila seorang dari kalian berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir dari shahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 454)

2. Menyentuh Mushaf Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memulikan Al Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) maka disunnhakan berwudhu’ sebelum memegang kitab suci Al Qur’an ini. Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari shahabat Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu,

“Janganlah kamu menyentuh Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci”.Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Ya, hal itu disunnahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabdanya:“Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani). Tentunya, membaca Al Qur’an adalah semulia-mulia dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.

3. Berwudhu’ Ketika Hendak Tidur

Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu’ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam keadaan suci.

Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27)

Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari sahabat Al Barra’ bin ‘Azib, bahwasanya beliau berkata, “Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)

Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berdzikir dan bersuci, kemudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124)

Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu’ lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas radhiallahu ‘anhuma,

“Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu’) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217)

4. Berwudhu’ Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri) ketika hendak bersetubuh. Hendaknya bagi pasutri berdo’a sebelum melakukannya, dengan doa’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan (gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rezikan kepada kami.” (HR. Al Bukhari no. 141)

Kemudian ketika sudah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya keduanya berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang telah berhubungan denga istrinya, kemudia ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no 308, At Tirmidzi, Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ats Tsamarul Mustathob hal.5)

Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini dan bila dikarunia anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.

Bila kita baca biografi para ‘ulama, maka kita dapati mereka amat bersungguh-sungguh menjaga wudhu’nya dalam setiap keadaan. Sebagai contoh, Al Imam Asy Syathibi. Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk disuatu majlis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci. Bahkan diantara ‘ulama ada yang tidak mau membaca hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hingga mereka berwudhu’ terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu’ ketika hendak membaca hadits, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu’.

Wudhu’ bukanlah amalan yang remeh bahkan amalan yang besar disisi Allah subhanahu wata’ala. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci (berwudhu’) dan berupaya bagaimana berwudhu’ dengan sempurna yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Wallahua'lambishshawab


Sumber: Alilmu

Sunday, 23 November 2014

Penghalang Seseorang Menerima Syafa’at



Allah membukakan bagi kaum muslim pintu syafa’at sebagai rahmat Allah kepada kaum muslim. Sehingga mungkin, sebagian orang muslim mengira bahwasanya syafa’at tersebut tidak memiliki kriteria ataupun syarat khusus untuk mendapatkannya. Mereka yang memegang pendapat ini,memunculkan para pelaku maksiat yang berlebih-lebihan dalam melakukan maksiatnya, hingga mereka pun meremehkan perkara-perkara yang diharamkan.

Ini adalah pendapat yang batil. Karena di sana ada beberapa perkara yang dapat menghalangi seseorang memperoleh syafa’at di hari Kiamat. Dan kita semua perlu mengetahuinya. Berikut adalah perkara-perkara yang dapat menghalangi seseorang memperoleh syafa’at pada hari Kiamat.

Pertama; Kesyirikan dapat menghalangi seseorang memperoleh syafa’at. Karena ada dua syarat yang harus terpenuhi sehingga seseorang dapat menerima syafa’at, yaitu izin dari Allah kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’alaa, “ Siapakah yang dapat memberi syafa’at tanpa izin-Nya.” (Al-Baqarah: 225). Dan yang selanjutnya adalah ridho Allah kepada orang yang akan diberi syafa’at.

Allah ta’alaa berfirman, "Dan mereka tidak memberi syafa’at kecuali terhadap orang-orang yang diridhoi-Nya.” (Al-Anbiyaa’: 28).

Sehingga sudah jelas. Allah tidak akan mengizinkan seseorang yang berbuat kesyirikan dan kekafiran untuk mendapatkan syafa’at. Allah ta’alaa berfirman,

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syiri), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisaa’: 48).

Syirik membatalkan amalan bahkan menghilangkan nilai pahala dari suatu amalan. Sehingga amalan yang dilakukan oleh seseorang yang berbuat kesyirikan tidak akan diterima. Dan amalan mereka laksana debu yang beterbangan,

“ Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh. Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.’” (Az-Zumar: 65).

Orang-orang yang dapat mengambil manfaat dari syafa’at adalah para pelaku maksiat, walaupun mereka adalah orang yang melakukan dosa-dosa besar. Semoga Allah mangampuni mereka dan mengizinkan mereka untuk memperoleh syafa’at. Adapun pelaku kesyirikan dan orang-orang yang beraqidah kufur maka tidak bermanfaat syafa’at seperti ini kepada mereka, walaupun orang yang memberikan syafa’at memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Allah ta’alaa berfirman, “ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (Al-Muddatsir: 48), dan firman Allah ta’alaa,

“ Dan berikah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zhalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya).” (Ghafir: 18)

Kedua; Pemimpin yang zhalim kepada pengikutnya, dan orang-orang yang berlebihan dalam perkara agamanya. Kedua golongan ini telah disebutkan dalam sebuah hadits dari Abi Umamah radliyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafa’atku, Pemimpin yang zhalim, dan orang yang ghuluw dan melampaui batas (agama).” (Riwayat ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabaair, al-Haitsami berkata, perawinya tsiqah).

Sebab diharamkannya syafa’at atas kedua golongan ini yang pertama adalah, kewajiban seorang pemimpin memelihara dan memenuhi hak dari yang ia pimpin. Ia juga bertanggung jawab dalam menegakkan syari’at-syari’at Allah secara keseluruhan. Juga berlaku adil kepada semua pihak. Pemimpin yang adil termasuk salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari Kiamat, dimana pada hari itu tidak ada naungan selain naungan dari Allah ta’alaa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil…” (Riwayat al-Bukhari).

Bahwasanya zhalim adalah sifat yang tercela, yang menghasilkan kerusakan, fitnah, musibah, keburukan dan lainya. Ia juga menjadi kezaliman yang akan menimpa pelakunya pada hari Kiamat. Tidaklah suatu kaum dan bangsa dibinasakan kecuali karena kezaliman yang mereka lakukan. Maka dengan akibat-akibat yang ditimbulkan dari kezaliman, bagaimana mungkin pemimpin yang zhalim memperoleh syafa’at pada hari Kiamat.?

Dijelaskan dalam hadits bahwasanya kezhaliman dapat menghancurkan ikatan persaudaraan, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh menghinanya.” (Riwayat Muslim). Pemimpin-pemimpin yang zhalim bertindak tanpa berlandaskan pada persaudaraan yang seperti ini, maka bagaimana mungkin mereka berhak mendapatkan syafa’at.?

Kemudian yang selanjutnya adalah sifat ghuluw dalam beragama. Tidak diragukan lagi bahwasanya sifat ghuluw dalam beragama adalah sifat yang tercela dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Karena hal ini telah keluar dari manhaj yang lurus, Allah telah melarang dan memperingatkan golongan ahli kitab dari sifat ghuluw dalam berbagai aspek agama dan keyakinan mereka. Allah ta’alaa berfirman,

“ Wahai Ahli Kitab! Janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar……”(An-Nisaa: 171).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah melarang hal ini dalam sabda beliau, “ Wahai sekalian manusia, jauhilah sifat ghuluw (berlebih-lebihan) dalam perkara agama, karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kamu adalah karena ghuluw dalam perkara agama mereka.” (Riwayat Ibnu Maajah).

Ketiga; Orang yang mendustakan syafa’at. Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu, ia berkata, “ Barang siapa yang mendustakan syafa’at maka ia tidak akan mendapatkan bagian darinya.” Maka siapapun yang tidak membenarkan adanya syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , mengingkari kedudukan beliau yang mulia di sisi Allah pada hari Kiamat, dan menafikannya dari beliau. Maka orang seperti ini tidak akan mendapatkan syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keempat; Orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama, nash-nash telah menunjukkan bahwasanya hal ini dapat menghalangi seseorang mencicipi telaga Rasulullah pada hari Kiamat, dan tidak bermanfaat syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhumaa, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Bahwasanya akan di datangkan laki-laki dari umatku lalu mereka akan digiring ke arah kiri. Maka aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, ia adalah shahabatku.’ Kemudian Allah berkata, ‘Sesungguhnya kamu tidak tau apa yang terjadi setelah (kematian)-mu.’ Maka aku berkata sebagaimana perkataan hamba yang shaleh (Nabi Isa), ‘ …Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkanku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.’” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Ada satu perkara lain yang dapat menjadi penyebab terhalangnya seseorang memperoleh syafa’at, akan tetapi perkara ini tidak disandarkan kepada nash yang shahih. Ia adalah menipu orang Arab. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan menceritakan tentang larangan menipu orang Arab. Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “ Barangsiapa yang menipu orang Arab, tidak akan termasuk pada golongan orang-orang yang menerima syafa’atku, dan ia tidak akan mendapat kasih sayangku.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata, “ Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya, kecuali sebuah hadits dari Khusain bin ‘Umar al-Akhmasi, dan Muhariq. Khusain di kalangan ulama hadits bukanlah perawi yang kuat, para Huffadz banyak yang mengingkari hadits yang diriwayatkan olehnya.”

Menipu adalah perkara yang tercela secara syar’i, dan pelakunya termasuk dalam golongan pelaku dosa besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” (Riwayat Muslim). Ini merupakan pelarangan bersifat umum, berdasarkan hadits tersebut. Adapun pengkhususan larangan menipu bangsa Arab, dengan ancaman bahwa pelakunya akan terhalang dari mendapat syafa’at Nabi, maka hal ini diperlukan nash yang shahih. Wallahu a’lam.


Sumber: Alislamu

Saturday, 22 November 2014

Membudayakan Rasa Malu




Di antara fitrah manusia adalah mendambakan figur atau sosok teladan yang akan mereka contoh dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena yang demikian sangat jelas terlihat pada kawula muda. Karena masa-masa mereka adalah masa mencari jati diri. Namun sangat disayangkan, kebanyakan mereka salah dalam memilih figur yang akan mereka tiru. Karena figur yang mereka pilih sangat jauh dari tuntunan agama.

Hal itu tidak adanya kemampuan pada mereka dalam memilih figur yang sesuai dengan tuntunan agama. Atau dengan kata lain, tidak memiliki filter untuk memilih figur yang tepat. Selaku umat Islam, tentu figur utama kita adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’aalaa telah berfirman:

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)

Oleh karena itu pada kesempatan ini kita luangkan waktu sejenak untuk menengok salah satu tuntunan beliau n yang pada masa sekarang sedikit demi sedikit mulai luntur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ia adalah rasa malu.


Definisi Malu

Malu adalah sifat yang tertanam pada jiwa, yang akan membawa seseorang untuk melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin tulisan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullaah)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan.” Muttafaq ‘alaih

Rasa malu akan menambah keimanan dan menjadi perhiasan seorang muslim. Suatu ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang laki-laki yang sedang mencerca saudaranya karena rasa malu yang ada padanya (seakan-akan rasa malu dianggap sebagai aib). Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu bagian daripada iman.” HR. al-Bukhari

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan pula, "Iman itu ada 70 sekian cabang atau 60 sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa Ilaha Ilallah. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah cabang dari iman.” Muttafaq ‘alaih


Mengapa Rasa Malu itu Bagian dari Iman?

Al-Imam al-’Aini rahimahullaah mengatakan, “Karena dengan rasa malu, jiwa seseorang  akan terdorong untuk melakukan kebaikan dan akan terbentengi dari perbuatan maksiat. Rasa malu itu terkadang timbul karena suatu upaya sebagaimana pula dalam beramal kebaikan dan terkadang pula sebagai sifat bawaan semenjak lahir. Penerapan rasa malu yang bersifat bawaan harus sesuai dengan tuntunan syar’i, dan itu pun membutuhkan upaya dan niat, oleh karena itulah sifat tersebut merupakan bagian daripada iman.” (Lihat Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari)

Tatkala rasa malu pada jiwa seseorang telah dicabut, maka tak ada lagi rasa canggung dalam melakukan perbuatan maksiat. Bisa jadi malah bangga tatkala melakukannya. Tingkah polahnya bak hewan liar yang hidup tanpa aturan. Yang akibatnya, seks bebas (zina), minum-minuman keras, perdagangan, dan konsumsi narkoba (semacam sabu-sabu dan yang semisalnya), pornografi, dan pornoaksi, berpakaian ketat, mengambil harta orang lain, dan sebagainya bisa merebak dengan subur.

Bahkan sebagiannya telah membudaya di masyarakat, seperti mengenakan busana yang ketat atau menampakkan bagian tertentu dari tubuhnya. Sebuah kenyataan yang tak terbantah. Ini semua adalah akibat dari lunturnya rasa malu di tengah masyarakat.Padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Sesungguhnya dari apa yang didapatkan oleh manusia pada ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukan sesukamu.” HR. al-Bukhari

Kalimat “Apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukan sesukamu” mengandung beberapa makna, di antaranya:

1. Bermakna ancaman keras. Yaitu apabila kamu tidak punya rasa malu, maka silakan lakukan sesukamu, niscaya Allah akan membalas perbuatanmu.

2. Bermakna pemberitaan. Yaitu apabila seseorang tidak punya rasa malu, maka ia akan melakukan perbuatan sesuka hatinya. Karena sifat malu dapat menghalanginya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.Kedua makna inilah yang dikuatkan oleh al-Imam Ibnu Baththal rahimahullaah.


Pembagian Malu

Ketahuilah bahwa malu terbagi menjadi 2 jenis:

1. Sifat bawaan sejak lahir. Ini merupakan anugerah mulia dari Allah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

2. Sifat yang diupayakan untuk dimilikinya. Hal ini terjadi pada seorang yang asalnya tidak memiliki sifat malu. Kemudian ia sadar dan berusaha menerapkan rasa malu pada dirinya.Yang paling utama adalah jenis pertama dengan terus diarahkan kepada tuntunan syar’i.

Ditinjau dari masalah hak, malu juga terbagi 2:

1. Malu adalah salah satu bagian dari iman.
“Dan malu itu adalah cabang dari iman.” Muttafaq ‘alaih

2. Malu yang berkaitan dengan hak Allah.
Yaitu seseorang malu kalau Allah melihatnya melakukan maksiat dan meninggalkan perintah-Nya.

3. Malu yang berkaitan dengan hak makhluk.
Yaitu ia tidak melakukan perbuatan yang dapat menodai akhlak dan kewibawaannya.


Kedudukan Malu

1. Merupakan syariat dan akhlak para Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dari apa yang didapatkan oleh manusia pada ucapan kenabian yang pertama adalah apabila engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” HR. al-Bukhari

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya dari apa yang didapatkan oleh manusia pada ucapan kenabian yang pertama…” menunjukkan bahwa sifat malu merupakan akhlak para Nabi dan umat-umat terdahulu.

2. Merupakan syariat dan akhlak Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallamAbu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Nabi adalah seorang yang sangat pemalu, melebihi seorang gadis yang berada dalam pingitan. Maka apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, kami mengetahuinya melalui raut wajah beliau.” Muttafaq ‘alaih


Malu yang Tercela

Malu selamanya merupakan sifat yang terpuji selama tidak membawa pelakunya melalaikan atau meninggalkan hak-hak Allah subhaanahu wa ta’aalaa seperti menuntut ilmu, memakai jilbab bagi wanita, shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki dsb. Atau selama tidak menjerumuskan pelakunya kepada perkara yang haram.

Mungkin timbul satu pertanyaan pada benak kita, bukankah Rasulullah telah mengatakan bahwa sifat malu itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. Dan juga disebutkan dalam hadits yang lain bahwa sifat malu itu semuanya baik. Namun mengapa rasa malu itu terkadang membuat seseorang lalai dari hak-hak Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan manusia atau menjerumuskan kepada perkara yang haram? Bagaimana menggabungkan kedua hal yang terkesan bertentangan ini?

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullaah menjawab, “Yang dimaksud dengan malu sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits adalah malu yang syar’i. Adapun malu yang menyebabkan pelakunya melalaikan hak-hak (Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan manusia), maka ini adalah malu yang tidak syar’i, yang hakikatnya adalah kerendahan, kehinaan dan kelemahan (minder) pada jiwanya. Karena adanya kemiripan dengan malu yang syar’i maka ia pun disebut dengan malu.”


Mutiara Hikmah

Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, "Sifat malu dan iman adalah dua sejoli, maka apabila sifat malu dicabut, pasangannya pun akan mengikutinya.”

Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullaah mengatakan: Kata malu berasal dari pecahan kata hidup. Karena sesungguhnya hati yang hidup itu identik pemiliknya punya rasa malu. Rasa malu akan mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang jelek. Maka sesungguhnya hidupnya hati merupakan penghalang dari berbagai kejelekan yang akan merusak hati. (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Setelah kita mengetahui betapa pentingnya sifat malu pada seseorang, maka kita harus berupaya untuk memiliki sifat malu dan menerapkannya pada hal-hal yang diridhai oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aalaa menganugerahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua. Amin.Wallahu a’lamu bish shawab


Sumber: Alilmu

Friday, 21 November 2014

Nikmat yang Tak Pernah Tamat



Tak ada yang masuk surga secara kebetulan. Semua penghuninya sejak di dunia adalah orang-orang yang merindukannya, menyengaja menuju ke arahnya dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Kerinduan itu terus terbawa, hingga tatkala mereka melewati setiap fase-fase di akhirat. Sampailah mereka di pintu jannah, yang lebarnya empat puluh tahun perjalanan. Malaikat menyambut mereka dengan hangat dan ramah, sembari mengucapkan selamat, “Salaamun ‘alaikum bimaa shabartum,” selamat atas kalian karena kalian telah bersabar


Saat Pertama Memasuki Jannah

Ketika itu, kerinduan mereka benar-benar terobati. Merekapun melihat dirinya dengan fisik sempurna seperti Nabi Adam, usia muda seperti nabi Isa saat diangkat ke langit, dan dengan ketampanan atau kecantikan yang sempurna.

Mereka pun melihat keindahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, bahkan belum pernah mereka bayangkan ada keindahan yang begitu rupa. Mereka menginjakkan kaki di surga yang bukan lagi tanah yang dipijaki, tapi za’faran yang semerbak merata bau wanginya. Bukan lagi butiran kerikil batu yang terdapat di sana, melainkan mutiara dan permata yang menampakkan gemerlap keindahannya.

Tidak ada kesulitan sama sekali bagi mereka utuk menemukan tempat tinggalnya di surga. Allah telah menghilangkan segala bentuk kesusahan dan kesulitan, bahkan segala hal yang bisa mengurangi kenikmatan pun disingkirkan. Karenanya, mereka langsung hafal tempat tinggalnya di jannah, melebihi hafalnya mereka terhadap rumahnya di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih hafal terhadap rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia.” (HR Bukhari)

Lalu bagaimana mereka bisa mengenali tempat tinggalnya? Ibnu Bathal rahimahullah tatkala menjelaskan hadits tersebut dalam Syarh Bukhari,”Mereka mengenali rumahnya di jannah, karena berulang-ulang telah diperlihatkan kepada mereka setiap pagi dan sore (sewaktu di barzakh), sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, apabila (penghuni kubur) adalah calon penghuni jannah maka ditampakkan kepadanya tempatnya pada tiap pagi dan sore hari.”

Lantas seperti apa gambaran tempat tinggal penduduk jannah? Bukanlah aib tatkala seseorang bertanya dan ingin tahu perihal seperti apa rumah di jannah, semewah apa banguannya dan dari apa bahan bangunannya. Karena naluri manusia pastilah berfikir tentang nasib masa depannya. Hingga Rasulullahpun tidak memungkiri saat seorang sahabat bertanya kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Bangunan apa yang berada di jannah?” Beliau menjawab,

“Bangunan di surga itu, batu batanya dari perak dan batu bata dari emas, tanah lapisannya dari minyak kesturi terbaik, lantainya dari mutiara dan Yaqut, sedangkan tanahnya adalah za’faran.” (HR Tirrmidzi)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menggambarkan seberapa luas kemah yang disediakan untuk penduduk jannah,

“Sesungguhnya di jannah terdapat kemah untuk penghuninya yang terbuat dari mutiara yang berongga, panjang dan lebarnya 60 mil.” (HR Bukhari)


Hidangan yang Memuaskan

Pastilah nurani kita juga bertanya-tanya, makanan jenis apa yang dihidangkan di jannah, minuman seperti apa pula yang disajikan untuk mereka. Di dunia, memang banyak jenis makanan yang beraneka macam rasanya, namun tidak semua makanan mengundang selera kita. Banyak pula aneka minuman yang bervariasi rasanya, pun begitu tidak semua minuman kita menyukainya. Begitupun dengan buah-buahan dengan berbagai macam jenisnya, pun tidak semua jenis kita menyenanginya.

Berbedahalnya dengan jannah, semua yang tersedia hanyalah segala macam dan jenis yang sesuai dengan selera, baik rasa, performa maupun aromanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“…di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh jiwa dan sedap (dipandang) mata.” (QS Az Zukhruf 71)

Para penghuni jannah tak lagi terkurangi kenikmatannya saat menyantap hidangan. Tak lagi ada kekenyangan, kekhawatiran datangnya penyakit akibat makanan, dan tak ada pula kerepotan untuk buang air kecil maupun besar. Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda,

"Sesungguhnya ahlul jannah mereka makan dan minum di dalamnya, tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak beringus.” (HR Muslim)

Ketika Nabi ditanya, “Lantas jadai apa makanan yang mereka telan?” Beliau menjawab, ““Menjadi sendawa, dan keringat yang berbau misk. Mereka diilhami selalu bertasbih dan bertahmid, sebagaimana kalian selalu bernafas.” (HR Muslim)

Tak lengkap jika ada hidangan makanan namun tak disertai minuman. Maka disediakan pula minuman dengan aneka rasa kesegaran dan kelezatannya, dan mereka bebas memilihnya dankapanpun menghendaki. Ada sungai susu, madu, arak yang tidak memabukkan, ada pula jahe seperti yang banyak disebutkan dalam banyak ayat dan hadits. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

“Perumpamaan taman surge yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, disana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungi-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar yang lezat rasanya (yang tidak memabukkan) bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Didalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.”(QS. Muhammad (15))

Tapi, jangan bayangkan hidangan yang sama namanya dengan apa yang di dunia itu berarti sama dari sisi rasa dan kelezatannya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “laa yusybihu syai’un mimma fil jannati maa fid dunya illa fil asma’i,” tidak ada yang serupa antara apa yang ada di surga dengan apa yang ada di dunia, selain hanya namanya.”


Nikmat tak Pernah Tamat

Kenikmatan yang mereka rasakan tak pernah putus, tak ada jeda dan tak akan ada akhirnya. Tak ada istilah bosan atau kelelahan dan mereka juga tak akan dikeluarkan darinya. Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS. Al Hijr : 48)

Di manapun mereka singgah, serba nyaman dirasakan, semua elok untuk dipandang, dan tak ada kata membosankan. Berbeda dengan tempat wisata di dunia. Seindah apapun tempat tamasya kita singgah, pasti ada masa bosan dan lelah. Sebutlah pantai yang paling indah, taman yang paling elok, air terjun yang paling fantastis, goa-goa yang unik atau tempat apapun itu, kita tak betah untuk berlama-lama singgah di situ. Ada masanya bosan dan lelah, atau ingin segera berpindah. Tapi tidak demikian halnya dengan tempat di jannah, tak ada kata bosan dan ingin berpindah,

"Mereka kekal di dalamnya, dan mereka tidak ingin berpindah darinya.” (QS al-Kahfi: 108)

Mereka tidak mengkhawatirkan lunturnya kenikmatan, berkurangnya kesempurnaan atau ausnya sesuatu yang mereka kenakan, karena semua itu tak berlaku di sana sejak mereka memasuki jannah. Tak ada yang sakit, tak ada gelisah, tak ada baju kumuh, tak ada rumah reot, tak ada usia tua dan bahkan mereka kekal dan tak akan mati selamanya. Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda,

"Barang siapa yang memasukinya akan mendapatkan kenikmatan yang tidak membosankan, kekal tidak akan mati, pakaiannya tidak akan usang, dan usia muda yang takkan luntur.” (HR Tirmidzi)

Dan masih ada lagi kenikmatan di atas segala yang telah disebutkan sebagai bonusnya, yakni kenikmatan untuk bisa melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala berfirman: “Apakah kalian mau tambahan nikmat (dari kenikmatan surga yang telah kalian peroleh)? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Dan Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah singkap hijab (penutup wajahNya yang mulia), dan mereka mengatakan,

"Tidak ada satu pun kenikmatan yang lebih kami cintai dari memandang wajah Allah Ta’ala.” (HR. Muslim).

Inilah rehat yang sesungguhnya, tak ada jerih payah lagi setelah mereka mendapatkannya. Alangkah tepat ketika Imam Ahmad ditanya, “kapankah kita bisa rejat?” Beliau menjawab, “Saat pertama kali menginjakkan kaki di jannah.” Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah.


Sumber: Ar Risalah(Abu Umar Abdillah) 

Wednesday, 19 November 2014

Zakat Emas dan Perak



Emas dan peraka dalah di antara logam mulia yang paling berharga. Keduanya adalah perhiasan dan simpanan harta yang mahal harganya. Syariat Islam telah menetapkan bahwa keduanya wajib dikeluarkan zakatnya bila telah memenuhi dua syarat yaitu mencapai nishab dan melewati haul (berlalu satu tahun dalam kepemilikannya).

Emas dan perak yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah mencakup segala bentuk dan ragamnya, baik dalam bentuk batangan/lempengan, mata uang (dinar/dirham), peralatan rumah tangga, dan perhiasan.

Emas dengan segala macam bentuknya dijadikan satu dalam penghitungan nishab dan zakatnya. Demikian pula perak dengan segala mmacamnya dianggap satu jenis dalam perhitungan nishab dan zakatnya.


Landasan Hukum

Kewajiban mengeluarakan zakat dari emas dan perak ini berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman (yang artinya),

“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, sementara mereka tidak menngifakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka dengan azab yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dahi-dahi, lambung-lambung dan punggung-punggung mereka diseterika dengannya, seraya diserukan kepada mereka “Inilah balasan dariapa yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah akibatnya sekarang.”(at-Taubah: 34-35)

Dalam as-Sunnah terdapat riwayat-riwayat yang shahih dan secara tegas menerangkan kewajiban zakat dari kedua logam mulia ini. Di antaranya,Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallalahualiwasalam bersabda,

“Tidak ada seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya, kecuali pada hari kiamat nanti dibuatkan untuknya lempeng-lempeng dari api (yang  terbuat dari emas dan perak miliknya sendiri).  Kemudian lempeng-lempeng itu dipanaskan dalam neraka jahannam dan dengannya diseterikalah lambung, dahi dan punggungnya. Setiap kali mendingin lempengan itu maka diulangi lagi untuknya. Pada satu hari yang lamanya sebanding dengan 50 ribu tahun, hingga diputuskan di antara hamba-hamba (Allah), maka ia pun akan melihat jalannya menuju surge ataukah menuju neraka. (HR. Muslim no. 987b)

Apakah Perhiasan Emas dan Perak Wajib Dikeluarkan Zakatnya?  Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa perhiasan yang terbuat dari emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya. Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz bersama anggota al-Lajnah ad- Daimah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh al-Albani, dan asy-SyaikhMuqbil al-Wadi’Irahimahumullah, bahwa kedua logam mulia tersebut wajib dizakati secara mutlak sekalipun dalam bentuk perhiasan seperti cincin, kalung, gelang, anting-anting atau giwang. Pendapat ini sangat kuat dan benar karena berdasarkan tiga alasan,

Pertama, ayat dan hadits di atas menunjukkan kewajiban zakat pada emas dan perak secaramutlak (umum) apapun bentuknya, baik berupa lempengan ataupun perhiasan. Sementara tidak ada dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang mengecualikan bahwa perhiasan emas dan perak tidak ada kewajiban zakat.

Kedua, terdapat hadits-hadits yang shahih dansharih (tegas) yang menunjukkan kewajiban zakat pada perhiasan emas dan perak. Hadits-hadits tersebut sebagai berikut,

1. Hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Amr bin al ‘Ashradhiyallahu ‘anhum), beliau berkata,

“Sesungguhnya ada seorang wanita menemui Rasulullah dan bersamanya putrinya yang mengenakan gelang yang tebal ditangannya. Apakah kamu telah menunaikan zakatnya? Wanita itu menjawab, “Belum. ”Rasulullah berkata, ”Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan memakaikan kepadamu dua gelang dari api neraka pada hari kiamat nanti? Maka wanita itu melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Rasulullah, seraya berkata, “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.”(HR. Abu Dawud no. 1563, at-Tirmidzi no. 637, an-Nasaa’i no. 2479. Hadits ini dikuatkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Bulughul Maram dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Irwa’ 3/296)

2. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Rasulullah masuk menemuiku dan melihat beberapa cincin perak tak bermata ditanganku, maka beliau berkata, “Apa ini wahai Aisyah? Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah aku mengenakannya karena berhias untukmu. Seraya beliau berkata, “Apakah engkau telah mengeluarkan zakatnya? Aku berkata, “Belum. Maka beliau berkata, “Cukuplah dia akan menjerumuskanmu kedalam neraka.” (HR. Abu Dawud no. 1565, ad-Daruquthni no. 7547-7548, danal-Hakim no. 1437, beliau rahimahullahberkata, “Hadits shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, dibenarkan oleh al-Imam adz-Dzahabi dan al-Albani rahimahullah dalam al-Irwa’ 3/296-297).

3. Hadits Ummu Salamah radhiyallahu,

“Dahulu Ummu Salamah pernah mengenakan beberapa perhiasan emas,  kemudian beliau menanyakannya kepada Rasulullah, maka beliau (ummu Salamah) berkata, “Apakah perhiasan itu kanzun? Rasulullah menjawab, “Yang sampai pada jumlah untuk dizakati (sampai nishab) dan ditunaikan zakatnya makan bukan kanzun.”(HR. Abu Dawud no. 1564 dan ad-Daruquthni no. 1950, al-Baihaqi no 1201. Hadits ini dengan adanya syahid (penguat dari riwayat lain) dishahihkan oleh al-Albanirahimahullah dalam ash-Shahihah no. 559)

Ketiga, adapun hadits yang marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

“Tidakada zakat pada perhiasan.” (HR. Ibnul Jauzi rahimahullah dalam at-Tahqiq dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini adalah batil tidak ada asalnya, sebagaimana yang dihukumi oleh al-Baihaqi dalam Ma’rifat as-Sunan wal Atsar dan juga al-Albani rahimahullahdalam al Irwa’ no. 817.


Nishab Emas

Nishab emas adalah 20 dinar, senilai dengan 85 gr. Dasarnya adalah beberapa hadits, di antaranya hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda

“Tidak ada zakat pada dinar yang jumlahnya kurang dari 20 dinar, dan pada 20 dinar zakatnya setengah dinar. ”(HR. Ibnu Abi Syaibah no. 9873 dan Abu Dawud no. 1753. Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahdalam Bulughul Maram dan dishahihkan oleh al-Albanirahimahullah dalam al-Irwa’ 3/290-291)

Asy-syaikh al-Utsaiminrahimahullahmenguraikan, 20 dinar seberat 85 gram emas. Dengan rincian, 1 dinar Islami = 1 mitsqal, berarti 20 dinar = 20 mitsqal. 1 mitsqal = 4,25 gr. Jadi, 20 mitsqal adalah 85 gr. (asy-Syarhul Mumti’ 6/103 dan Majalis Syahri Ramadhan).


Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 dirham, seberat 595 gr perak. Dasar hukumnya adalah hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

"Tidakada zakat pada perak yang beratnya kurang dari 5 awaq.” (HR. al-Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 979)Hasil penelitian para ulama, 1 awaq senilai dengan 40 dirham, berarti 5 awaq = 200 dirham. 1 dirham Islami = 0,7 mistqal. Berarti 200 dirham = 140 mitsqal, yaitu 595 gr (1 mitsqal = 4,25 gr). (Majalis Syahri Ramadhan dan asy-Syarhul Mumti’ 6/103)


Kadar Zakat Emas Dan Perak

Ulama sepakat bahwa kadar zakat pada kedua logam mulia ini adalah 2,5 %. Di antara dasar hukumnya adalah hadits Abu Bakr ash-Shiddiqradhiyallahu ‘anhu,

“Pada perak zakatnya seperempatpuluh (2,5%).”(HR. al-Bukhari no. 1454)


Peringatan Penting

Pertama, emas dan perak tidak disatukan dalam perhitungan nishab dan zakat. Masing-masing memiliki nishab tersendiri.

Kedua, kelebihan dari nishab (emas 85 gr dan perak 595 gr) tetap dikeluarkan zakatnya. Jadi2,5 % dari keseluruhan yang dimilikinya dari kedua logam mulia itu. Bukan maksudnya 85 gr emas atau 595 gr perak yang hanya dikluarkan zakatnya, berbeda dengan zakat hewan ternak kelebihan (sisa) nishab dari jumlah hewan ternak tidak terkena zakat sampai mencapai nishab beikutnya.

Ketiga, emas dan perak yang baru diambil dari pertambangan tidak dikeluarkan zakatnya kecuali bila memenuhi dua syaratnya itu mencapai nishab dan berlalu satu tahun (haul). Tidak setiap kali hasil menambang dikeluarkan zakatnya, tetapi harus melalui haul (berlalu setahun) dan mencapai nishab. Tidak dikiaskan (dianologikan) dengan zakat pertanian, yaitu dikeluarkan zakatnya pada setiap kali panen apabila telah mencapai nishab.

(zakat uang akan diulas pada edisi berikutnyainsya Allah). Wallahua’lambishshawab.


Sumber: Alilmu

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes