,

Saturday, 7 March 2015

Kejadian-Kejadian Penting yang Diberitahukan Sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bag. 1)


1. Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu ‘anhu akan memerintah kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Antara lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada seorang perempuan, “Pulanglah kamu!”

Perempuan itu berkata, “Katakanlah, bagaimana kalau tuan tidak aku temukan lagi?”

Seolah-olah ia dapat merasakan bahwa ajal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir dekat. “Kalau kamu tidak menemui aku lagi, maka datanglah kepada Abu Bakar.” (Riwayat al-Bukhari dalam shahihnya, hlm 93,
kitab al-Ahkam 51, bab al-Istikhlaf, no. 7220).

Dan ternyata bernar, bahwa yang memerintah kaum muslimin sepeninggal beliau adalah Abu Bakar.

Begitu pula, sabda beliau ketika hendak menulis surat wasiat bahwa Abu Bakar yang akan menggantikan kedudukan beliau sebagai Khalifah, tetapi tidak jadi, karena beliau tahu para shahabatnya takkan berpaling dari Abu Bakar. Dan hal itu karena mereka mengakui keunggulan dan keutamaan Abu Bakar sebagai orang yang pertama-tama masuk Islam.

Sabda beliau, “Allah dan orang-orang mukmin menolak selain Abu Bakar.” (Riwayat Muslim dalam Shahihnya, hadits no. 2387, 44, Kitab Fadhaailus-Shahabah, 1, Bab Min Fadhaail Abi Bakar ash-Shiddiq).

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…(Patuhlah kamu sekalian) kepada dua orang sepeninggalku, Abu Bakar dan Umar.”

Hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, yang menurutnya hadits ini hasan. Sedangkan menurut Ibnul-Yaman, hadits ini shahih. Dan hadits ini telah diriwayatkan pula dari sanad Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Darda’.

Masalah ini telah kami bicarakan panjang-lebar dalam Kitab Fadhaailus-Shahihain, yang intinya, bahwa apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disusul Umar, persis seperti yang diberitahukan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Riwayat at-Tirmdizi dalam Sunannya 2/290 dari Hudzaifah bin Yaman. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, 1/27).

  1. Kaum muslimin akan menaklukkan Mesir
Mesir ditaklukkan pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anhu oleh Amr bin Ash pada tahun 20 H.

Dalam kitab Shahih Muslim riwayat Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya kamu akan menaklukkan suatu negeri yang ada disebutkan di sana istilah Qirath (satuan berat emas di Mesir. 1 Qirath = 4/6 dinar). Maka perlakukanlah penduduknya dengan baik. Karena mereka berhak mendapat perlindungan dan ada hubungan kekeluargaan dengan kita.” (Riwayat Muslim dalam Shahihnya 44, Kitab Fadhaailus-Shahabah 56, Bab Washiyyatun-Nabi bi Ahli Mishr, hadits no. 2543).

  1. Persia dan Romawi akan musah dan takkan muncul kembali
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan secara otentik dari beliau dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim,

“Apabila Kaisar ini telah mati, maka takkan ada kaisar lagi sesudahnya. Dan apabila Kisra ini telah mati, juga takkan ada kisra lagi sesudahnya. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan membelanjakan gudang-gudang kekayaan mereka berdua di jalan Allah.” (Riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, 83, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, 3, Bab Kaifa Kanat-Yaminun-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, no. hadits 6229).

Apa yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar terjadi, persis seperti yang beliau kabarkan. Pada masa Abu Bakar, Umar, Utsman radliyallahu ‘anhum kekuasaan Kaisar Hiraklius tersingkir dari Syam dan seluruh jazirah. Kekuasannya kemudian terbatas di Romawi saja. Orang Arab memang biasa menyebut kaisar kepada siapa saja yang menjadi penguasa Romawi berikut Syam dan Jazirah.

Hadits ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi penduduk Syam, bahwa kekuasaan Romawi tidak akan kembali ke negeri itu buat selama-lamanya sampai Hari Kiamat.

Dan hadits ini sebentar lagi akan kami sebutkan lagi, In Syaa Allah, dengan sanad dan matan selengkapnya.
Adapun Kisra, sebagian besar kekuasaannya lepas pada masa Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anhu, dan habis sama sekali pada masa Ustman radliyallahu ‘anhu. Ada pula pendapat yang mengatakan pada tahun 32 H. Segala puji dan karunia Allah jua kiranya.

Hal ini telah dibahas secara rinci dalam Kitab al-Bidayah, termasuk kisah kutukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Kisra ketika mendengar bahwa raja itu merobek-robek surat yang beliau kirim kepadanya. Waktu itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar kerajaanya terobek-robek dan hancur lebur. Ternyata doa beliau menjadi kenyataan.

  1. Umar bin Khatthab akan terbunuh
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Hudzaifah mengisahkan, “Kami sedang duduk di dekat Umar radliyallahu ‘anhu, tiba-tiba dia berkata, ‘Siapakah di antara kamu sekalian yang hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fitnah?’

Saya jawab, ‘Aku.’

Umar bekata, ‘Ucapkan, sungguh, berani juga kamu ini.’

Maka saya katakana, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut fitnah yang dialami seorang lelaki dalam keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya, itu semua bisa terhapus dengan shalat, sedekah, amar makruf dan nahi munkar.’

Umar berkata, ‘Bukan ini yang aku maksudkan, tetapi yang aku maksud fitnah yang bergejolak laksana gelombang laut.’

Maka saya berkata, ‘Yaa Amirul Mukminin, sesungguhnya antara anda dan fitnah itu ada pintu tertutup.’

Umar berkata, ‘Celaka, pintu itu akan dibuka dan didobrak?”

‘Bahkan Didobrak.’ Jawabku. Maka umar pun berkata, ‘Kalau begitu, pintu itu takkan bisa ditutup lagi buat selama-lamanya?’

‘Benar.’ Kataku.

(Mendengar periwayatan Hudzaifah itu), maka kami bertanya kepadanya, ‘Sepertinya Umar tahu siapa yang dimaksud pintu itu?’

‘Ya.’ Jawab Hudzaifah, ‘Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya bukan hadits yang keliru.’”

Perawi hadits ini (Syaqiq) berkata, “Namun kami takut menanyakan kepada Hudzaifah siapa yang dimaksud pintu itu. Oleh karena itu, kami ketakan hal itu kepada Masruq, supaya dia menanyakannya kepada Hudzaifah, dan ternyata jawabnya, ‘(Pintu itu adalah) Umar.’”

Demikianlah, ternyata apa yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar-benar terjadi. Persis setelah terbunuhnya Umar pada tahun 23 H, terjadilah berbagai macam fitnah di tengah masyarakat, dimana penyebab tersebarnya fitnah-fitnah itu adalah terbunuhnya Umar. (Riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya, 92, Kitabul-Fitan, 17, Bab al-Fitnatil-lati Tamuju Kamaujul-Bahr, hadits no. 7096).

  1. Ustman bin Affan akan mengalami cobaan berat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan bahwa Utsman bin Affan shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk penghuni surga, dikarenakan bencana yang menimpanya. Ternyata berita tersebut benar-benar terjadi. Utsman dikepung di rumahnya lalu dibunuh sebagai syahid yang sabar dan ikhlas. Semoga Allah subhanahu wa ta’alaa senantiasa meridhainya.

Berkenaan dengan kisah pembunuhan Utsman ini, kami telah menyebutkan hadits-hadits yang berisi peringatan dan pemberitahuan sebelumnya tentang bakal terjadinya peristiwa ini. Dan semuanya ternyata benar-benar terjadi persis seperti yang diisyaratkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula telah kami sebutkan hadits-hadits tentang akan terjadinya Perang Jamal dan Shiffin. Baik yang berkenaan dengan jalannya kedua insiden tersebut maupun huru-hara dan berbagai macam peristiwa yang terjadi waktu itu. Dan kepada Allah kita memohon segala pertolongan-Nya.



Sumber: Aislamu {Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, hlm. 3-8.}

Tuesday, 3 March 2015

Doa Nabi Nuh ‘alaihissalam


“ Ya Rabbku! ampunilah Aku, ibu bapakku, dan bagi siapa saja yang masuk ke rumahku dengan keimanan dan semua orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan. dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh : 28)

Allah Ta’ala memilih diantara manusia yang diciptakanNya sebagai pengemban risalah Islam, mereka mendapat hidayah dan petunjuk dariNya. Salah satu petunjuk Allah kepada Para Nabi dan Rasul adalah dibukakanNya pintu doa.

Banyak doa dari para Nabi dan Rasul di dalam al Qur’an, diantaranya adalah doanya Rasul yang pertama Nuh ‘alaihissalam (“Ya Rabbku! ampunilah Aku, ibu bapakku, dan bagi siapa saja yang masuk ke rumahku dengan keimanan dan semua orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan. dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”). Dan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diperintahkan Allah untuk mengikuti dan mencontoh petunjuk dari para Nabi sebelumnya, Allah berfirman :

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al An’am : 90)

Dalam tafsir Ibnu katsir disebutkan, bahwa ibnu Abbas berkata, “itu adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad, supaya mengikuti mereka.”

Tentunya kita juga termasuk yang diperintahkan Allah untuk mengikuti petunjuk para Nabi, terkhusus Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.


Permohonan Ampun

Doa ini diawali dengan permohonan ampun atas dosa-dosa, tutupilah yaa Rabb dan ampunilah. Dan kita memohonkannya untuk diri kita dahulu, ‘Rabbighfirlii’, baru kemudian orang yang terdekat ‘waliwalidayya’ yaitu kedua orang tua dan selanjutnya ‘waliman dakhola baitiyaa mukminan’ kaum mukminin yang laki-laki dan perempuan.

Dan permohonan ampun ini tentunya adalah untuk orang yang beriman, karena Allah ta’ala berfirman :

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah : 113)

Namun orang beriman boleh mendoakan orang-orang kafir untuk mendapat hidayah. Hal ini disebutkan dalam bab tersendiri oleh imam bukhari dalam shahihnya, ‘bab doa kepada orang musyrik untuk mendapatkan hidayah.’

Memintakan ampun kepada mukmin yang laki-laki dan perempuan termasuk doa yang akan mendatangkan pahala yang sangat banyak, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
 
“Barang siapa yang memintakan ampun kepada (Allah) bagi mukmin laki laki dan mukmin perempuan, maka Allah akan menuliskan baginya dari setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan.” (HR. Tabrani, dihasankan Al Albani)

Berapa banyak jumlah orang mukmin sejak zamannya Nabi Adam ‘alaihissalam hingga nanti hari kiamat. Inilah keutamaan yang diberikan Allah kepada orang-orang mukmin, mendapatkan pahala yang sangat banyak dengan kalimat yang sedikit. Bahkan dengan karunia dan kemuliaanNya Allah melipatgandakan setiap satu kebaikan menjadi sepuluh kebaikan.


Kehancuran Dan Kebinasaan Bagi Orang Dzalim

Semua mukmin mendapatkan bagian dari doa ini, begitu juga setiap orang dzalim (orang-orang kafir) zaman dahulu hingga hari akhir pun mendapatkan bagian dari doa ini. seorang muslim boleh mendoakan hidayah kepada orang kafir, dan tidak boleh mendoakan ampunan bagi mereka. Ada pula suatu keadaan yang membuat seorang muslim berdoa untuk kehancuran dan kebinasaan bagi orang kafir dan musyrik. Hal ini telah dicontohkan Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, suatu ketika beliau pernah berdoa;

Semoga Allah memenuhi rumah dan kuburan mereka dengan api, karena mereka telah menyibukkan kita dari (tidak melaksanakan) shalat Al-wushtha hinga matahari terbenam. (HR. Bukhari)

Ya Allah, Yang Menurunkan kitab, Yang Maha cepat perhitungan-Nya. Ya Allah, kalahkanlah pasukan sekutu (Al-Ahzab). Ya Allah, kalahkanlah mereka dan guncangkanlah mereka. (HR. Bukhari)

Bahkan pernah berdoa dalam shalat, dengan qunut nazilah memohon kepada Allah untuk keselamatan kaum muslimin di makkah yang disiksa yang tidak bisa ikut hijran dan berdoa dengan kehancuran untuk suatu kaum;

Ya Allah, tolonglah Hisyam. Ya Allah tolonglah Al Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah orang-orang yg lemah dari kalangan orang-orang beriman. Ya Allah, keraskanlah siksaan-Mu kepada (suku) Mudhar. Ya Allah timpakanlah kepada mereka kekeringan sebagaimana kekeringan yg menimpa (kaum) Nabi Yusuf. (HR. Bukhari)


Sumber: Ar Risalah

Monday, 2 March 2015

Antara Shalat Khusyuk dan Harta yang Hilang


Malam-malam, lelaki itu buru-buru datang ke rumah Imam Abu Hanifah. Dengan raut muka sedih, ia berkata kepada beliau, “Aku pernah menyimpan hartaku di suatu tempat. Tapi sekarang aku lupa,  padahal aku lagi butuh harta itu.” “Apakah Anda punya solusi?” tanyanya lagi.

Jawab beliau, “Ini bukan persoalan fikih. Aku tidak tahu solusinya.” Lelaki itu pun tertunduk lesu. Saat ingin beranjak dari tempat duduknya, Imam Abu Hanifah mencegahnya. “Tunggu dulu, aku punya satu solusi.” Kata beliau. “Coba pulanglah dulu, tenangkan hatimu, ambil air wudhu, terus shalatlah kamu. Insya Allah ketemu.” Lanjutnya.

Wajah lelaki itu tampak sedikit berbinar. Setelah berpamitan, ia langsung pulang dan mengerjakan shalat. Di tengah shalat, tiba-tiba ingatannya kembali. Ia sekarang bisa tahu letak hartanya. Seketika itu juga, ia datangi tempat itu dan ambil hartanya.

Pagi harinya, sambil tersenyum gembira ia kembali datang ke rumah Imam Abu Hanifah. Ia bercerita kalau hartanya sudah ketemu. Lalu, ia pun berterima kasih kepada beliau. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia masih terpaku di sana, penasaran, “Kok bisa ya beliau tahu kalau dengan shalat akan ketemu.”

Ternyata Imam Abu Hanifah tahu apa yang ada di pikirannya. Langsung, beliau mendatanginya, “Kenapa aku bisa tahu? Itu karena kamu shalat bersama setan. Ia terus “menghantui” pikiranmu. Kamu bukan fokus shalat, tapi terus terbayang-bayang hartamu.”

Mendengar itu, ia pun malu. Ketahuan, kalau shalatnya tidak khusyuk dan bukan karena Allah. Tapi karena harta yang diharapkan bisa ketemu.


Sumber: KIBLAT.NET (Riwayat ini dapat Anda lihat di tulisan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi di situs islamway.net)

Sunday, 1 March 2015

Menanamkan Kecintaan Anak Pada Allah (Usia 3-10 Tahun)


Usia 3-6 tahun

Pada usia 3-6 tahun, adalah fase dimana kemampuan anak untuk menerima pengetahuan, mengambil pelajaran, dan mencontohnya, mencapai puncaknya. Sebagaimana pula dia senang mendengarkan kisah-kisah. Karenanya, kita mesti mempergunakan fase ini untuk mengarang dan menceritakan kisah-kisah yang mengarahkannya pada perilaku mulia. Cara ini sangat besar pengaruhnya.

Seandainya kisah-kisah tersebut bercerita tentang seorang tokoh yang memiliki nama tertentu, jika anaknya adalah laki-laki, maka yang dijadikan tokoh di dalamnya hendaknya laki-laki pula, demikian pula sebaliknya, alur kisahnya yang berbeda, bercerita tentang kondisi yang berbeda-beda pula. Semua itu diarahkan dalam rangka mengenalkan anak kepada Allah. Bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang Maha Mencintai, Maha Memberi Karunia, Maha Mulia, Maha Pemaaf, Maha Pengampun, Maha Berterima Kasih, Maha Penerima Taubat, Maha Menguasai, sebagaimana tujuan penyampaian cerita ini, yakni untuk menanamkan berbagai macam perilaku mulia melalui contoh-contoh cerita yang disajikan secara bergantian dengan metode satu hari satu cerita –untuk memberikan kesempatan kepada anak supaya merenunginya. Sehingga, anak selalu mengidolakan kepribadian sang pahlawan dan setiap hari selalu menunggu kelanjutan kisah yang membuatnya penasaran. Pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah tersebut, akan tertanam dalam jiwa anak dengan sendirinya.

Jika seorang ibu tidak mampu mengarang sebuah cerita, dia bisa dibantu dengan kisah-kisah yang sudah beredar.

Lebih lanjut lagi, sebaiknya pada fase ini, ketika kita berbicara tentang Allah kepada mereka, kita harus berbicara dengan benar, jangan berlebihan. Kita bisa mengatakan bahwa “Allah ada di atas langit, kita mengangkat kedua tangan ketika memohon kepada-Nya. Dan Dia malu untuk menolak permintaan di saat kita menengadahkan tangan kepadanya. Dia Maha Pemurah, Dia Maha Besar, Dia Maha Kuat di atas segalanya.

Dia melihat dan mendengar kita di manapun kita berada, bahkan ketika kita sedang sendirian. Dia sangat mencintai kita, karena itu kita harus mencintai-Nya, Dia telah menciptakan kita dan memberikan segala keinginan kita. Dia-lah yang memerintahkan segala tentara-Nya untuk melaksanakan semua perintah-Nya. Dia katakana kepada awan “Turunkan hujan kepada hamba-hamba-Ku agar mereka bisa minum, menyirami tanaman dan ternak mereka.” Dan hujan pun turun. 

Dia-lah yang memasukkan orang-orang muslim yang Dia cintai ke dalam surga –yaitu tempat yang menyediakan segala yang diinginkan oleh manusia. Surga tidak akan dimasuki dan dinikmati segala isinya, kecuali oleh orang muslim yang mencintai Allah. Shalat, puasa, sedekah, jujur kepada orang lain, mematuhi kedua orang tua, menghormati orang yang lebih tua, bersungguh-sungguh dalam belajar, dan tidak menyakiti perasaan saudara-saudara atau teman-temannya.

Allah sangat menyukai anak-anak. Dia akan memberikan semua yang mereka inginkan apabila mereka menjauhi segala yang tidak disukai-Nya.

Selayaknya untuk tidak terlalu detail ketika berbicara tentang Dzat Allah dengan anak-anak, karena khawatir terjatuh ke dalam kekeliruan yang dapat menyebabkan kita diadzab. (Shaghirati Tas’aini: Aina Allah?, Samirah al-Mishri).


Usia 7-10 tahun

Fase ini merupakan fase usia yang paling penting. Karenanya, kita tidak boleh menganggap remeh. Sebab, pada fase ini, akal dan daya nalar sang anak mulai terbuka dengan baik. Pada usia ini, dia sangat membutuhkan agar kita berinteraksi dengannya seperti teman. Dari sini, kita tanamkan dalam jiwanya pengetahuan tentang ibadah kepada Allah secara mendalam.

Jika kita memberinya hadiah, misalnya, lalu dia katakan “Terima kasih”, kita ingatkan bahwa Allah juga berhak mendapatkan ucapan “Terima kasih”. Dia-lah pemberi pertama. Kita katakan kepadanya “Bagaimana dengan dua matamu, apakah keduanya sangat berharga bagimu? Apakah mungkin keduanya bisa diganti dengan harta simpanan dunia?”

Begitu juga dengan kedua telinga, lidah dan panca indera lainnya. Dari situ diharapkan tertanam pada perasaan sang anak betapa pentingnya panca indera. Selanjutnya kita lontarkan pertanyaan padanya, “Siapa yang memberi panca indera ini kepada kita untuk memuliakan kita? Apa jadinya hidup ini kalau seandainya Dia tidak memberikannya kepada kita? Tidak ada yang bisa memberikannya selain Allah. Karena itu, kita harus mensyukuri panca indera yang diberikan kepada kita yang merupakan pemberian paling berharga setelah nikmatnya keimanan.

Yang tidak boleh dilupakan adalah, membuat pijakan-pijakan metode pendidikan yang bisa dipilih anak untuk menumbuhkan minat bacanya. Juga memberikan hadiah berupa cerita, ensiklopedi ringan, buku yang bermanfaat dan majalah yang menarik. Namun sebelum kita membelikan apa yang akan ia baca, terlebih dahulu kita teliti dengan baik. Kita harus menghindari majalah atau bacaan yang kurang bermanfaat, yang mengajarkan budaya Barat, dan memindahkan adat kebiasaan mereka kepada kita, yang pada akhirnya dapat memberi pengaruh negatif kepada anak kita.

Kita juga bisa menemaninya ke took-toko atau pameran buku islami, yang kita tahu bahwa buku-buku yang ada di toko atau pameran tersebut adalah buku-buku yang baik untuk anak-anak seusianya.


Teladan Nabi Yahya

Nabi Yahya mempunyai prestasi luar biasa dalam hal ibadah, kezuhudan, dan kecintaan kepada Allah. Demikian pula kecintaannya kepada sesama makhluk. Sampai-sampai darahnya tumpah karena membela kebenaran yang dia sampaikan di hadapan raja yang lalim. Banyak ulama menyebutkan kelebihan Nabi Yahya dengan mengemukakan berbagai contoh.

Nabi Yahya hidup semasa dengan Nabi Isa ‘alaihimas-salaam, dan masih kerabat dari pihak ibunya (anak bibi ibunya). Sebuah hadits meriwayatkan bahwa Yahya dan Isa ‘alaihimas-salaam pernah bertemu pada suatu hari. Isa berkata kepada Yahya, “Minta ampunlah kepada Allah untukku, hai Yahya, karena engkau lebih baik daripada aku.” Sebaliknya Yahya berkata, “Minta ampunlah engkau untukku, wahai Isa. Sebab engkau lebih baik daripada aku.” Selanjutnya Isa berkata, “Justru engkau lebih baik dariku, engkau mengucap salam padaku dan Allah mengucapkan salam padamu.”

Kisah ini menunjukkan kemuliaan Nabi Yahya ketika Allah memberi salam atasnya di saat ia lahir, mati, dan saat dibangkitkan kembali.

Dikatakan bahwa, pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui para shahabatnya yang sedang menyebut-nyebut keutmaan-keutamaan para nabi. Ada yang berkata, “Musa ‘alaihis-salaam adalah Kalimullah (Nabi yang diajak bicara Allah).” Yang lain berkata. “Isa ‘alaihissalaam adalah Ruh Allah dan Kalimat-Nya.” Ada lagi yang berkata, “Ibrahim ‘alaihissalaam adalah Khalilullah (Kekasih Allah).” Demikianlah para shahabat terus membicarakan tentang para nabi.

Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut nimbrung ketika beliau melihat mereka tidak menyebutkan Nabi Yahya ‘alaihissalaam. Beliau bersabda, “Lalu dimana syahid anak dari orang yang juga syahid? Memakai bulu domba yang memakan kayu-kayuan karena takut dosa, di mana Yahya bin Zakaria ‘alaihimas-salaam.”

Kelahirannya sungguh merupakan mukjizat. Allah yang telah mengaruniakannya kepada Zakaria setelah dia tua renta, saat hampir putus asa untuk mendapatkan keturunan. Dia lahir setelah Nabi Zakaria memanjatkan doa yang tulus dengan hati bergetar.

Masa kecil Nabi Yahya berbeda dengan anak-anak yang lain. Kebanyakan anak-anak sangat senang bermain-main, sementara Nabi Yahya sangat serius sepanjang waktu. Sebagian anak-anak senang mencari hiburan dengan menyiksa binatang sementara Yahya memberi makan binatang dan burung-burung dari makanannya sendiri. Karena kasih sayang dan kelemah-lembutannya kepada mereka, sampai-sampai dia sendiri kehabisan makanan dan hanya memakan daun-daun kayu atau buahnya.

Semakin bertambah usianya, semakin bertambahlah cahaya di wajahnya. Hatinya dipenuhi hikmah, kecintaan kepada Allah, pengetahuan, dan ketentraman. Yahya sudah terbiasa membaca dan mempelajari ilmu sejak kecil. Ketika dia masih kecil Allah telah menyebutnya,

“Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak.” (Maryam: 12).

Telah turun perintah kepada Yahya untuk “Mengambil” kitab Taurat, padahal dia masih sangat kecil. Maksud dari mengambil adalah mempelajari kitab dan hukum-hukumnya, yaitu syariat yang ada dalam kitab Taurat. Allah juga telah mengaruniakan pengetahuan tentang ajaran-ajaran syari’at dan kemampuan untuk memutuskan perkara di tengah-tengah masyarakat di saat dia masih kanak-kanak.

Dia adalah manusia yang paling tahu dan bijaksana di masanya, mengenal masalah syari’at secara sempurna. Karena itu, Allah memberikan padanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak. Pada masa itu dia telah memutuskan perkara di antara manusia, dia juga menjelaskan kepada mereka rahasia-rahasia agama dan mengajari mereka tentang jalan yang benar serta mengingatkan mereka tentang jalan yang salah. Semakin besar Yahya, semakin bertambah ilmu, kasih sayang, dan cinta kasihnya kepada kedua orang tuanya, manusia, dan semua makhluk. Dia mengajak manusia untuk bertaubat dari segala dosa dan dia memohonkan ampunan kepada Allah bagi mereka. Tidak ada seorang pun yang tidak menyukainya ataupun ingin mencelakainya. Dia sangat disukai karena kasih sayang, kecerdasan, ketakwaan, ilmu dan kemuliannya. Semuanya membuat Yahya semakin giat dalam beribadah.

Apabila Yahya sedang berdiri di tengah-tengah manusia untuk menyeru mereka kepada Allah, dia membuat mereka menangis karena kecintaan dan kekhusyukannya. Dia bisa mempengaruhi perasaan mereka dengan nasihat-nasihat yang baik.

Pagi pun menjelang, Yahya keluar ke masjid yang sudah dipenuhi oleh manusia. Lalu Yahya bin Zakaria berdiri dan memulai ceramahnya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah ta’alaa memerintahkanku untuk mengamalkan beberapa perintah-Nya dan aku menyuruh kalian untuk mengerjakannya juga. Hendaklah kalian menyembah Allah Yang Esa tanpa ada sekutu. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dan menyembah selain-Nya maka Dia seperti hamba (budak) yang dibeli tuannya lalu pergi bekerja dan memberikan gaji kerjanya kepada tuan yang lain. Siapa di antara kamu yang senang melihat hamba (budak)nya berbuat seperti itu?

Aku juga memerintahkan kalian untuk mendirikan shalat, karena Allah memperhatikan hamba-Nya yang sedang shalat, selama tidak berpaling dari shalatnya. Oleh karena itu, berlaku khusyuklah apabila kalian sedang shalat.

Aku juga menyuruh kalian untuk berpuasa, karena yang demikian itu laksana seorang laki-laki yang mempunya bungkusan minyak kesturi yang harum sekali baunya, yang apabila setiap kali laki-laki ini berjalan, semerbaklah bau harum dari minyaknya.

Aku juga memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah ta’alaa. Karena yang demikian itu laksana seorang laki-laki yang sudah diincar oleh musuhnya. Lalu ia cepat-cepat membangun bentengnya dan menguncinya. Sedangkan benteng yang paling kokoh adalah dzikrullah dan tidak ada keselamatan tanpa adanya bentng ini.” (Kaifa Nurabbiyul-Muslim Auladahu).

Sementara kepada anak perempuan, kita ceritakan kisah sayyidatuna Maryam dan bagaimana dia bisa menjadi wanita ahli ibadah juga bagaimana dia bisa sukses dalam menghadapi cobaan yang sangat berat, serta bagaiamana Allah menyelamatkannya.



Sumber: Alislamu {Dr. Amani ar-Ramadi, Athfaluna wa Hubbullah, Hubbur-Rasul, Hubbul-Islam Kaifa Nuraghghobu Auladana ilas-Shalalati Banatunaa wal-Hijaab atau Pendidikan Cinta Untuk Anak “Bagaimana Menanamkan Kecintaan Kepada Allah, Rasul, Islam dan Hijab”, Terj. Fauziah Nur Faidah .Lc, Solo: Aqwam, 2013, hal. 30-37.}

Saturday, 28 February 2015

Buruknya Sifat Mencela Makanan


Pernahkah anda ditawarkan makanan oleh seseorang, kemudian anda menolaknya? Ya, bagi sebagian orang pasti pernah melakukan penolakan itu, dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang menolaknya dengan diam, ada yang mengungkapkan ketidak gemarannya terhadap makanan tersebut dan lain sebagainya, namun bagaimanakah jika penolakannya dengan mencela makanan, apa pandangan islam tentang hal itu?

Jika seseorang merasakan ketidak lezatan makanan yang sedang ia santap, hendaklah ia berdiam tanpa celaan terhadap makanan tersebut. Jika ia suka hendaklah ia menyantap dan memakannya sampai habis, namun jika ia tidak menyukainya maka hendaklah ia meninggalkannya yakni tidak memakannya. Sebagaimana di dalam hadits shahih berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau mau, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau meninggalkannya,” (HR al-Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud)

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Semua makanan yang mubah (dibolehkan untuk dimakan), Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencelanya. Adapun yang haram, maka Beliau mencela dan menghinanya serta dilarang dari (memakan)nya. Terdapat keagungan akhlak Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau senantiasa menjaga perasaan para pembuat makanan dan juru masaknya. Beliau tidak mencela karya mereka, tidak mengoyak perasaan mereka dan mematahkah hati mereka. Terdapat penjelasan akan adab yang baik, karena seseorang itu terkadang tidak berhasrat kepada suatu makanan tetapi berminat kepada makanan yang lainnya.”

Maksudnya adalah jika seseorang memakan suatu makanan, lalu ia merasakan makanan tersebut tidak enak, maka janganlah ia berkata yang tidak-tidak akan makanan tersebut. Jangan pula ia mencela, mengejek dan mengolok-oloknya, apalagi sampai mengucapkan, ‘makanan apa ini? rasanya tidak enak sekali!’. Atau mengatakan, ‘Aduh makanannya asin banget, atau hambar sekali, dan sejenisnya. Atau jika dihidangkan kurma kepada seseorang, namun kondisi kurma itu kurang baik maka janganlah ia mengatakan, ‘Ini kurma yang jelek’. Maka jika ia berselera, silahkanlah ia memakannya. Tetapi jika tidak, tinggalkanlah kurma tersebut tanpa mencela dan mengejeknya.

Dan dalam hadits yang lain, apabila makanan tersebut terasa lezat dan nikmat, maka dianjurkan baginya untuk memuji makanan tersebut ketika sedang menikmatinya.

Dari Jabir bin Abdillah radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah meminta lauk daripada para isterinya. Maka para isterinya berkata, “Tiada apa di sisi kami kecuali khall (cuka).” Maka beliau pun meminta dibawakan cuka tersebut lalu beliau pun makan berlauk dengannya. Dan beliau mengatakan, “Lauk yang paling nikmat (enak) adalah cuka, lauk yang paling nikmat adalah cuka,” (HR Muslima, Turmudziy, Ibnu Majah, ad-Darimiy, Ahmad)

Tetapi apabila ditanya kenapa kita tidak makan makanan tertentu, maka dibolehkan menyatakan alasannya dengan baik tanpa memburuk-burukkan makanan tersebut. Ini sebagaimana hadits dari Kholid bin al-Walid di mana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam enggan makan makanan berupa daging dhabb (biawak padang pasir).

Apabila beliau ditanya tentang dhabb apakah haram dimakan, maka Rasulullah mengatakan, “Dhabb tersebut tidak terdapat di kampung halamanku (bukan makanan kebiasaan bagi masyarakatnya), jadi aku rasa tidak biasa dengannya (atau tidak selera terhadapnya),” [HR al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, al-Baihaqiy dan asy-Syafi’i)

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan ini juga termasuk dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa jika Beliau menyukai suatu makanan maka Beliau akan memujinya. 

Dan seperti itu pula seandainya engkau menyanjung (kelezatan rasa) roti yaitu engkau mengatakan, ‘Roti yang paling nikmat adalah roti si Fulan atau yang semisalnya’. Maka ini juga jelas termasuk dari sunnah Rasul Shallallahu alaihi wa sallam.”

Nah itu lah, adab bagaimana seorang Muslim harus dapat menempatkan kata-katanya dengan baik dan tidak mencela makanan yang tidak digemari atau disukai, sehingga salah satu pihak tidak ada yang merasa sakit hati. Sesungguhnya dengan kita menjaga lisan adalah salah satu amal yang disukai Allah SWT. 

Sumber: Islampos (Karya: Muhammad Said/Penerbit: Putra Al Ma’arif)

Friday, 27 February 2015

Saudaraku, Jauhilah Cara yang Haram dalam Mencari Rizki


Saudaraku seiman -semoga rahmat Allah subhaanahu wa ta’alaa selalu mengiringi kita-, ketahuilah bahwa mencari rizki yang halal diperintahkan oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa, sedangkan mencari rizki dengan cara yang haram dilarang oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa. Semua itu tentunya demi kebaikan dan keberkahan hidup para hamba-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Namun, ketidaksabaran seseorang atas tempaan dan ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskannya ke dalam murka Allah subhaanahu wa ta’alaa.
 
Dalam hal mencari rizki misalnya; di kala seseorang sudah maksimal dalam mencari rizki dan hasilnya ternyata belum mencukupi, langkah-langkah setan lah yang akhirnya menjadi pilihan, bahkan sambil bergumam: “Mencari yang halal itu susah banget!” Atau “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!”
Wallahul musta’an.
 
Dengan rahmat-Nya yang luas, Allah subhaanahu wa ta’alaa mengingatkan mereka dalam firman-Nya (yang artinya):
 
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)
 
Demikian pula Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik (Suci) tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang telah Allah subhaanahu wa ta’alaa perintahkan kepada para Rasul. Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Mukminun: 51) Dia juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman makanlah dari segala sesuatu yang baik, yang telah kami rizkikan kepada kalian.’ (Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar), dalam kondisi rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi debu, lalu menengadahkan tangannya ke langit (seraya) berdoa: ‘Ya Rabbi! Yaa Rabbi!’ sementara makanannya dari hasil yang haram, minumannya dari hasil yang haram, pakaiannya pun dari hasil yang haram, dan (badannya) tumbuh berkembang dari hasil yang haram. Maka mana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa?” (HR. Muslim no. 1015, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)
 
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata: “Seorang laki-laki (yang disebutkan dalam hadits di atas, pen) mempunyai empat kriteria:
 
Pertama, bahwa dia sedang melakukan perjalanan (safar) yang jauh, dan safar merupakan salah satu momen dikabulkannya sebuah doa.
 
Kedua, rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu…, ini juga merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.
 
Ketiga, menengadahkan tangannya ke langit, dan ini pun merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.
 
Keempat, dia berdoa dengan menyeru: ‘Ya Rabbi! Ya Rabbi!’ yang merupakan tawassul dengan kekuasaan (rububiyyah) Allah subhaanahu wa ta’alaa Ini pun salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa. Namun ternyata doanya tak dikabulkan oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa, karena makanannya dari hasil yang haram, pakaiannya dari hasil yang haram, dan (badannya) tumbuh berkembang dari hasil yang haram.” (Diringkas dari kitab Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullaah)
Subhanallah…
 
Betapa besar pengaruh makanan, minuman, dan pakaian yang diperoleh dari cara haram bagi kehidupan seseorang. Doa dan permohonannya tak lagi didengar oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa. Lalu, ke manakah dia akan mengadukan berbagai problematikanya?!
 
Kepada siapakah dia akan meminta perlindungan dan pertolongan?! Betapa meruginya dia…
Betapa sengsaranya dia, manakala Allah subhaanahu wa ta’alaa Rabb semesta alam ini telah berlepas diri darinya.
 
Saudaraku seiman -semoga rahmat Allah subhaanahu wa ta’alaa selalu mengiringi kita-, ketahuilah bahwa standar haram dalam mencari rizki itu adalah manakala cara tersebut diharamkan oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah;
 
- Mencari rizki dengan cara riba seperti; praktek renten yang pelakunya di tengah masyarakat di kenal dengan rentenir atau lintah darat, deposito bank, dan lain sebagainya:
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan dari kuburnya, pen.) melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), urusannya (terserah) Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni An-Nar; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak suka terhadap orang yang tetap di atas kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tiada kekhawatiran pada diri mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian masih keberatan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok (modal) harta; kalian tidaklah menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 275-279)
 
- Memakan harta orang lain dengan cara yang batil seperti; menipu, mencopet, mencuri, merampok, korupsi dan lain sebagainya.
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)
 
- Perjudian dengan segala modelnya.
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari perbuatan itu).” (Al-Ma`idah: 90-91)
 
Saudaraku seiman -semoga rahmat Allah subhaanahu wa ta’alaa selalu mengiringi kita-, di tengah hiruk pikuknya kehidupan mencari rizki ini, ada satu prinsip yang harus kita yakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah subhaanahu wa ta’alaa Dzat Yang Maha Pemberi Rizki (Ar-Razzaq) dan kepunyaan-Nya lah seluruh perbendaharaan langit dan bumi.
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy-Syura: 12)
 
Dia lah Allah subhaanahu wa ta’alaa, yang keluasan kasih sayang-Nya membentangkan segala kemudahan bagi para hamba-Nya untuk mencari rizki dan karunia-Nya.
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari sumber penghidupan.” (An-Naba`: 11)
 
“Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’at), maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia (rizki) Allah, dan ingatlah selalu kepada Allah agar kalian beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
 
Dia-lah Allah subhaanahu wa ta’alaa, Dzat Yang Maha Menentukan rizki tersebut (dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya) kepada segenap makhluk-Nya, sesuai dengan jatah dan porsinya masing-masing.
 
Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman (yang artinya):
 
“Dan Allah melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam hal rizki.” (An-Nahl: 71)
 
Demikianlah keagungan dan kekuasaan Allah subhaanahu wa ta’alaa Ar-Razzaq. Maka dari itu, sudah seyogyanya bagi kita untuk bersabar dalam mencari rizki yang halal dan berupaya meninggalkan cara-cara yang haram di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini. Sebagaimana pula kita harus bersyukur kepada Allah subhaanahu wa ta’alaa manakala usaha (yang halal) itu membuahkan hasil sesuai apa yang diharapkan. Karena semua itu tak lepas dari kebijaksanaan dan keadilan Allah subhaanahu wa ta’alaa Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.
Wallahu a’lamu bish shawab…
 

 Sumber: Alilmu (Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ Lc, hafizhahullaahu ta’aalaa)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes