,

Thursday, 18 December 2014

Paranormal Para Perusak Iman



Kami tidak membenarkan dukun dan peramal, juga siapa saja yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijma’ umat.

Praktik paranormal, dukun, peramal, tukang sihir, dan yang sejenisnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw, bahkan sebelum zaman beliau. Pada masa Abu Ja’far ath-Thahawiy semua praktik itu masih ada dan sampai zaman sekarang pun masih ada. Seperti pada zaman ath-Thahawiy, beberapa praktik dinisbatkan kepada orang yang diklaim atau mengklaim diri sebagai wali Allah, sekarang pun demikian. Padahal para ulama telah sepakat mengenai keharamannya.

Biasanya bentuk praktik mereka adalah mengabarkan posisi barang yang hilang atau diambil orang lain, meramal nasib dengan melihat posisi bintang-bintang, meramal masa depan, memberitahukan siapa yang akan menjadi jodoh seseorang, mengubah nasib, dan lain sebagainya. Ada juga yang sampai menimpakan mudarat kepada orang lain. Semua bentuk perbuatan ini hukumnya haram.


Dalil Keharaman

Keharaman berbagai macam praktik mereka ini disebut dalam al-Qur`an dan as-Sunnah. Di antaranya:

“Dan di sisi Allah saja semua kunci (ilmu) gaib. Tidak ada yang tahu selain Dia.” (Al-An’am: 59)

“Katakanlah, tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi selain Allah.” (An-Naml: 65)

Ayat-ayat di atas menunjukkan secara tegas bahwa yang mengetahui perkara gaib hanyalah Allah. Maka siapa pun yang mengklaim diri memilikinya atau meyakini bahwa ada orang yang memilikinya, sadar atau tidak ia telah menolak ayat-ayat di atas.

Sedangkan dari Rasulullah saw, Imam Muslim meriwayatkan dari Hafshah ra bahwa beliau bersabda;

"Barangsiapa yang mendatangi peramal lalu ia bertanya kepadanya, sholatnya tidak diterima selama 40 malam.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurayrah ra bahwa Nabi saw bersabda;

“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu ia percaya kepada apa yang dikatakannya, sungguh ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.”

Dengan sanad yang shahih Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurayrah juga bahwa Nabi saw bersabda;

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal lalu ia bertanya kepadanya dan percaya kepadanya, sholatnya tidak diterima selama 40 malam.”


Tingkatan Dosa

Percaya atau membenarkan kata-kata dukun bertingkat-tingkat dosanya. Ada yang sampai ke tingkatan kufur dan ada pula yang merupakan dosa besar. Yang merupakan kufur adalah mempercayai kabar gaib yang dikatakannya. Termasuk perkara yang gaib di sini adalah perkara yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Misalnya peramal mengatakan, “Kamu akan menikahi laki-laki/perempuan dari daerah tertentu, kamu akan mati di daerah ini.”Barangsiapa yang percaya kepada kata-kata seperti ini, maka ia telah kafir. Sebab ia telah mengkafiri firman Allah tersebut di atas (yakni an-Naml: 65).

Sedangkan percaya kepada kata-kata dukun tentang perkara gaib yang sifatnya nisbi (ada orang yang mengetahuinya) seperti posisi barang hilang, barang yang dicuri, dan lain sebagainya), maka ini tidak sampai ke tingkatan kufur. Meskipun demikian, ia berada dalam bahaya besar. Seberapa besar bahayanya, cukuplah peringatan dari Nabi saw bahwa shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Ada juga di antara para ulama yang menggeneralisir, percaya kepada ucapan dukun adalah perbuatan kufur. Namun yang lebih kuat adalah diperinci seperti tersebut di atas. Dasarnya, dalam hadits disebut tentang tidak diterimanya shalat selama 40 hari. Ini menunjukkan orang yang melakukannya masih punya iman. Sebab jika tidak punya iman, mestinya shalatnya tidak diterima selamanya. Dasar berikutnya, orang-orang yang datang kepada dukun atau peramal umumnya tahu bahwa para dukun dan peramal mendapatkan kabar gaib dari jin. Maknanya, mereka tidak meyakini bahwa dukun/peramal memiliki ilmu gaib secara mutlak.

Pada matan disebut juga tentang orang yang mengklaim sesuatu yang menyelisihi al-Qur`an, as-Sunnah dan Ijma’; bahwa kita tidak boleh membenarkan ucapannya. Baik dukun, peramal, atau orang yang mengklaim sesuatu yang bertantangan dengan al-Qur`an, as-Sunnah, atau Ijma’. Apa pun yang menyelisihi al-Qur`an, as-Sunnah, atau Ijma’ tak boleh dibenarkan, meskipun ada hakikatnya. Sama seperti dukun yang terkadang apa yang dikabarkannya ada hakikatnya dan benar-benar terjadi.


Kabar Curian

Barangsiapa yang mengklaim diri memiliki ilmu gaib, sungguh ia termasuk setan atau saudara-saudaranya setan. Allah berfirman;

"Dan (Ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia!’ Lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia, ‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)!’ Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 128)

Ayat ini menjelaskan bahwa baik manusia maupun jin telah sama-sama saling menikmati interaksi yang Rabb-ku bangun. Setan jin jin menikmati ibadah dan taqarrub manusia kepadanya. Dan sebaliknya, manusia menikmati kabar-kabar gaib yang disampaikan oleh jin.

Mengenai kebenaran yang disampaikan oleh dukun setelah mendapatkan bisikan dari jin, hal itu dikarenakan saat Allah mewahyukan kepada malaikat akan berbagai kejadian di masa yang akan datang, dan para malaikat itu menyampaikannya kepada malaikat lain yang bertugas untuk melaksanakannya, beberapa jin mencuri dengar. Maka, kabar itu disampaikan oleh para jin kepada para dukun dengan imbalan kesesatan mereka dan ibadah mereka kepada mereka. Allah berfirman;

“Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (al-Hijar: 18)


Shalat yang Tidak Diterima

Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat 40 yang tidak diterima, apakah maknanya tidak diterima tetapi gugur kewajiban ataukah tidak gugur kewajiban, meskipun seseorang mengerjakannya. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah tidak diterima tetapi gugur kewajiban, sebab ulama telah berijmak bahwa orang yang melakukannya tidak wajib mengulang shalatnya yang 40 hari itu. Ini menunjukkan gugurnya kewajibannya, tetapi ia tidak mendapatkan pahalanya.


Hukum Paranormal dan Dukun

Mengenai hukum dukun atau peramal, jika orang yang bertanya dan membenarkan saja diancam dengan shalatnya selama 40 hari tidak diterima dan bisa jadi sampai ke tingkatan kafir, lantas bagaimana dengan yang ditanya?

Jika dalam melakukan praktik perdukunan dan peramalannya paranormal atau dukun atau peramal meminta bantuan kepada jin/setan, maka ini adalah perbuatan kufur. Para ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad berpendapat, mereka telah kafir. Kecuali dalam beberapa kasus, menurut Imam Ahmad, tidak sampai perbuatan kufur.

Menurut Imam Syafi’i, jika perbuatannya mengandung unsur kekafiran seperti beribadah kepada setan, memanggil setan dan mengajak bicara dengannya, menyembelih binatang tertentu untuknya, memenuhi keinginannya dengan menyalakan dupa/kemenyan dan lain sebagainya maka ini adalah kekafiran. Sedangkan jika tidak melakukan hal itu, maka itu termasuk dosa besar. Namun jika ia meyakini kebolehannya, maka itu juga kekafiran.

Wallahu a’lam.


Sumber: ArRisalah (Imtihan Syafi'i)

Wednesday, 17 December 2014

Apa CiriI Fiqrah Najiyah (Golongan Yang Selamat)Yang Paling Nampak?



OlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol?

 Apakah bila terjadi kekurangan akan mengeluarkan seseorang dari firqah najiyah?

Jawaban:

Karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol adalah berpegang teguh dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam aqidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah.

Di dalam empat perkara inilah kamu akan mengetahu firqah najiyah.Dalam masalah aqidah, kamu mendapati firqah najiyah selalu berperang teguh dengan apa yang ditunjukkan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tauhid yang murni dalam uluhiyah Allah, rububiyah-Nya dan asma’ wa sifat-NyaDalam masalah ibadah, kamu dapati firqah najiyah ini begitu unik di dalam berpegang teguh yang sempurna dan dalam merealisasi apa yang datang dari Nabi dalam masalah ibadah, berupa jenis, sifat, ukuran, waktu, tempat dan sebab-sebabnya. Kamu tidak akan mendapati mereka berbuat bid’ah dalam agama Allah ini, namun justru mereka sangat tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam memasukkan bentuk ibadah yang tidak diridhai-Nya.

Dalam masalah akhlak kamu dapati mereka juga istimewa dari yang lainnya ; dalam hal kebagusan akhlak, seperti cinta akan kebaikan untuk orang-orang muslim, lapang dada, wajah berseri, bagus dan mulia ucapannya, berani dan akhlak mulia lainnya.

Dalam masalah mu’amalah, kamu dapati mereka bermu’amalah kepada manusia dengan jujur dan terus terang. Mereka itulah yang ditunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

“Dua orang yang jual beli (penjual dan pembeli) mempunyai hak memilih barang selama mereka belum berpisah, yang jika keduanya jujur dan terus terang maka jual beli keduanya diberkahi” [1]

Bila karakteristik-karakteristik ini kurang pada diri seseorang, hal itu tidak menjadikan ia keluar dari firqah najiyah, akan tetapi segala sesuatu ada derajadnya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Namun bila terjadi dalam tauhid, bisa jadi mengeluarkan dia dari firqah najiyah seperti rusaknya keikhlasan. Demikian juga bid’ah, bisa jadi dia berbuat bid’ah yang mengeluarkan dia dari firqah najiyah.

Sedang kekurangan dalam masalah akhlak dan mu’amalah tidaklah mengeluarkan seseorang dari firqah najiyah ini, tapi mengurangi martabatnyaKita membutuhkan perincian dalam masalah akhlak. Hal yang terpenting dalam akhlak adalah bersatunya kalimat dan sepakat di atas kebenaran. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wasiatkan kepada kita dalam firman-Nya;

“Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” [Asy-Syura : 13]

Dan juga mengkhabarkan bahwa orang-orang yang memecah belah dien dan mereka menjadi terpecah-pecah, maka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka” [Al-An’am : 159]

Bersatunya kalimat dan hati yang saling berkasih sayang adalah karakteristik firqah najiyah ahlul sunnah wal jama’ah yang paling tampak. Bila terjadi perselisihan di antara mereka dalam berijtihad pada masalah-masalah yang memang diperbolehkan untuk berijtihad, maka hal itu tidak membuat mereka saling dengki, saling bermusuhan dan saling membenci, tapi mereka meyakini bahwa mereka tetap bersaudara walaupun terjadi perselisihan di antara mereka.

Seseorang di antara mereka masih tetap ikut shalat di belakang seorang imam yang dianggap belum wudlu, tapi sang imam meyakini bahwa dia sudah wudlu. Seperti seseorang di antara mereka shalat di belakang seorang imam yang telah makan daging unta. Sang imam berpendapat bahwa memakan daging unta tidaklah membatalkan wudlu, sedangkan makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudlu, maka ia bependapat bahwa shalat dibelakang imam tersebut adalah tidak sah.

Semua ini bisa berlangsung karena mereka memandang bahwa perselisihan ijitihad yang terjadi dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad ; pada hakekatnya bukanlah perselisihan, karena masing-masing dari mereka telah mengikuti apa yang seharusnya diikuti, yaitu dalil yang mereka tidak boleh menyimpang darinya.

Mereka memandang bahwa saudaranya yang menyelisihi mereka dalam amalan yang sama-sama mengikuti dalil, pada hakekatnya mereka telah bersepakat, karena mereka selalu menyeru untuk mengikuti dalil di mana mereka berada. Jika perselisihan di antara mereka adalah sesuai dengan yang mereka pegangi, pada hakekatnya mereka sepakat, karena berjalan sesuai dengan apa yang mereka serukan dan apa yang mereka tunjukkan, yaitu berhukum pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Ny Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tak bisa dipungkiri, perselisihan juga terjadi pada kebanyakan Ahlul ilmu dalam perkara-perkara seperti ini, bahwa hal inipun terjadi pada para sahabat, bahkan juga menimpa pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi satu sama lain tidak mencela. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari perang Ahzab, Jibril datang mengisyaratkan untuk berangkat ke Bani Quraidlah karena mereka telah mengingkari janji, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabat dan bersabda;

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat ashar kecuali di Bani Quraidlah” [2]

Maka para sahabat keluar dari Madinah menuju Bani Quraidlah dan mengakhirkan Ashar, sebagian ada yang mengakhirkan shalat hingga tiba di Bani Quraidlah meski waktu Ashar sudah habis, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Seseorang di antara kalian jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidlah”, maka sebagian ada yang melaksanakan shalat tepat pada waktunya dan berkata : ‘Sesungguhnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan kita bersegera untuk berangkat berperang, bukan menginginkan untuk mengakhirkan shalat pada waktunya’, mereka inilah yang benar.

Walaupun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencerca salah satu dari dua kelompok ini, dan seseorang di antara mereka tidak menimbulkan permusuhan kepada yang lain, atau menimbulkan kebencian yang disebabkan perselisihan mereka dalam memahami nash.

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa yang wajib bagi kaum muslimin yang bepegang kepada sunnah untuk menjadi umat yang satu dan jangan sampai menjadi berpartai-partai, golongan ini hanya mau dengan kelompoknya sendiri, partai ini hanya konsisten dengan partai yang lain, dan partai yang ketiga konsisten dengan partai ketiga, demikian terus hingga mereka saling bertengkar, adu mulut, saling membenci dan saling memusuhi dikarenakan perselisihan dalam perkara-perkara yang sebenarnya diperbolehkan berijtihad. Masing-masing golongan tidak perlu megkhususkan partainya sendiri, dan orang yang cerdik akan mudah memahami perkara ini.

Saya berpendapat bahwa ahlus sunnah wal jama’ah wajib bersatu, meskipun terjadi perselisihan yang disebabkan perbedaan faham tentang maksud suatu nash, karena ini termasuk perkara-perkara yang alhamdulillah ada kelonggaran. Yang terpenting adalah saling berkasih sayangnya hati dan bersatunya kalimat. Tidak diragukan lagi bahwa musuh-musuh Islam senang bila kaum muslimin berpecah belah. Baik musuh yang terang-terangan memusuhi ataupun musuh yang menampakkan loyalitasnya kepada kaum muslimin atau dienul Islam, padahal hakekatnya mereka membenci yang wajib bagi kita adalah memilih sepakat di atas kalimat yang satu. Itulah keistimewaan firqah najiyah

Sumber: [Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]

__________Foote Note[1]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitabul Buyu, Bab Idza Bayyana Albai’ani Walam Yaktuma wa Nasahaa, no. 2079. Dan Muslim dalam Kitabul Buyu’, Bab As-Sidqu Fil Bai’i wal Bayan, no. 1532[2]. HR Bukhari : 946 dan Muslim :1770 

Tuesday, 16 December 2014

Mari Menuntut Ilmu…!!!



Mengingatkan kembali tentang pentingnya ilmu syar’i bagi kehidupan seorang muslim. Bahkan kebutuhan seorang muslim terhadap ilmu agama Islam melebihi kebutuhan dia terhadap makanan dan minuman.

Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin sudah kurang peduli dengan amalan yang mulia ini yaitu mempelajari ilmu syar’i. Hal ini terjadi, di antaranya disebabkan kesalahan dalam memahami makna ilmu yang disebutkan dalam hadits nabi. Sebagian memahami bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang wajib dipelajari adalah bersifat umum baik ilmu agama maupun ilmu umum. Padahal tidak demikian, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu syar’i yaitu ilmu tentang agama Islam yang mencakup perkara akidah, ibadah, akhlak dan berbagai sendi agama yang lainnya. Bukanlah yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan dengan dunia seperti teknik, kedokteran, ekonomi, matematika, informatika dan lain sebagainya.

Kedudukan Ilmu Syar’iAllah berfirman: “Dan tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi sebagian dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan untuk kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. at-Taubah: 122)

Dalam ayat ini Allah menjadikan amalan menuntut ilmu sama tingkatannya dengan amalan jihad di jalan Allah dan bahkan lebih utama dari jihad. Dikarenakan seorang tidak akan bisa menegakkan jihad, shalat, zakat, puasa, haji, umroh, dan ibadah-ibadah yang lainnya secara benar kecuali dengan ilmu. Maka ilmu merupakan pokok segala sesuatu, oleh karena itulah Rasulullah  bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan maka Allah akan fahamkan ia tentang agama.” (HR. al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1719)(Syarh Riyadhus Shalihin lil ‘Utsaimin juz 2, hlm. 1470)

Keutamaan Ilmu Syar’iAyat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabi serta ucapan para salaf  banyak sekali yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu syar’i. Dan pembahasan mengenai keutamaan ilmu syar’i juga mencakup keutamaan orang-orang yang berilmu. Berikut ini adalah beberapa kesimpulan tentang keutamaan ilmu syar’i:

1. Ilmu merupakan warisan para nabi.

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan harta benda kepada umatnya, namun mereka mewariskan ilmu.Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut berarti ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud no. 3641, at-Tirmidzi no. 2683 dan Ibnu Majah no. 223)

2. Ilmu merupakan amalan yang paling utama

Datang seorang laki-laki kepada Abdullah bin Mas’ud dan berkata, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian laki-laki tersebut kembali bertanya, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu”. Laki-laki tersebut berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amalan apakah yang paling utama namun engkau menjawab ilmu”. Maka Abdullah bin Mas’ud berkata, “Celaka kamu, sesungguhnya berilmu tentang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan sedikit dan banyaknya amal, sedangkan kebodohan tentang Allah maka tidak akan memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sedikit dan banyaknya amal.” (Syarh Shahih al-Bukhari  li Ibni Bathal juz 1, hlm. 133)3. Ilmu merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada pemiliknya walaupun telah meninggal dunia.Rasulullah bersabda:

“Apabila seseorang meninggal dunia maka akan terputus darinya amalannya kecuali 3 perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4843)

4. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di dunia dan akhirat.

Di akhirat, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu sesuai dengan besarnya amalan dan dakwah yang dilakukannya. Demikian pula di dunia, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu di antara hamba-hamba-Nya sesuai dengan besarnya amalan dan dakwah yang dilakukannya.

Berdasarkan firman Allah : “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11)

Zaid bin Aslam menafsirkan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 76: “Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki,” yaitu (diangkat) dengan ilmu. (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Bathal juz 1, hlm. 133)

5. Rasulullah tidaklah membolehkan seseorang untuk iri atas kenikmatan yang Allah berikan kepada seorang hamba kecuali kepada 2 golongan yaitu orang berilmu yang mengamalkan ilmunya dan orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Rasullullah bersabda, “Tidak boleh iri kecuali kepada 2 golongan: orang yang diberikan nikmat oleh Allah berupa harta yang kemudian dibelanjakan di jalan kebenaran dan orang yang diberikan nikmat oleh Allah berupa ilmu yang kemudian diamalkan dan diajarkan kepada yang lainnya.” (HR. al-Bukhari no. 71)

6. Ilmu merupakan cahaya yang akan menerangi kehidupan seorang hamba.

Dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, dia akan mengetahui tentang tata cara beribadah kepada Rabbnya, bermuamalah dengan sesama manusia dan sebagainya. Sehingga ia pun menjalani kehidupannya di atas ilmu. (Syarh al-Ushul as-Sittah hlm. 166)7. Orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah.Allah berfirman: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)

8. Orang yang berilmu adalah orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan maka Allah akan fahamkan ia tentang agama.” (HR. al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1719)

9. Orang yang menuntut ilmu akan dipermudah jalannya menuju surga

Rasulullah bersabda: “Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 4867)

10. Penduduk langit dan penduduk bumi serta hewan air akan memintakan ampunan kepada orang-orang yang berilmu.

Rasulullah bersabda: “Dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan baginya oleh para penduduk langit dan penduduk bumi bahkan hewan yang hidup di air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2606 dan Abu Dawud no. 3157)

11. Orang yang berilmu adalah ibarat cahaya yang akan membimbing manusia dalam berbagai urusan agama dan dunianya.

Rasulullah bersabda, “Dahulu di zaman orang-orang sebelum kalian tersebutlah seorang yang telah membunuh 99 orang. (Dia pun bermaksud ingin bertaubat) kemudian menanyakan tentang siapakah penduduk bumi yang paling alim. Ditunjukkanlah kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia mendatangi ahli ibadah tersebut dan menceritakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, masih adakah pintu taubat baginya?. Maka dijawab oleh ahli ibadah tersebut, “Tidak ada taubat.” Maka dibunuhlah ahli ibadah tersebut sehingga genap menjadi 100 orang yang telah dia bunuh. Setelah itu dia kembali menanyakan tentang siapakah penduduk bumi yang paling alim (ingin bertaubat lagi). Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang berilmu. Kemudian dia menceritakan kepadanya bahwa dia telah membunuh 100 orang. Masih adakah pintu taubat baginya?. Maka dijawab oleh orang yang berilmu, “Ya, masih ada kesempatan bertaubat dan siapakah yang menghalangi antaramu dengan taubat?! Pergilah engkau menuju negeri ini dan ini. Karena para penduduknya adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah saja maka beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu karena sesungguhnya negerimu adalah negeri yang jelek”. Maka pergilah orang tersebut menuju negeri yang baik hingga ketika baru sampai setengah perjalanan datanglah malaikat maut menjemput ajalnya. Sehingga malaikat rahmat dan malaikat adzab pun berdebat. Malaikat rahmat berkata, “Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Adapun malaikat adzab berkata, “Dia belum pernah beramal kebaikan sedikitpun”. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat dalam rupa manusia sebagai hakim bagi keduanya, seraya berkata, “Ukurlah jarak antara kedua negeri tersebut, jarak manakah yang terdekat maka dialah yang berhak mengambilnya”. Maka diukurlah jaraknya dan ternyata dia lebih dekat kepada negeri yang dia tuju (negeri yang baik). Sehingga malaikat rahmat pun yang berhak mengambilnya.” (HR. Muslim no. 4967)

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber:ArRisalah (Ustadz Muhammad Rifqi)

Monday, 15 December 2014

Apakah Memulai Shaf Harus dari Tengah?



Ustadz, suatu ketika saya masbuq. Di shaf kedua hanya ada satu orang dan tidak berada di tengah shaf (belakang imam). Padahal yang saya tahu, memulai shaf harus dari tengah. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Membuat shaf sendiri dari tengah (tepat di belakang imam), atau berdiri merapat ke orang tadi, meski dia berada di pinggir?

Jawab:
Hadits yang menjadi dalil bahwa memulai shaf harus dari tengah di antaranya:

وَسِّطُوا الإِمَامَ وَسُدُّوا الْخَلَلَ

“Jadikanlah Imam di tengah kalian dan tutuplah celah shaf.” (HR abu Daud).

Hadits ini dinilai dhaif karena ada dua perawi yang majhul. Abdul haq al Isybili juga menilai hadits ini lemah, sebagaimna dituturkan oleh Syaikh al Albani dalam Tamamul Minnah I/284.

Hadits kedua:

:أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِى يَلِيهِ فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِى الصَّفِّ الْمُؤَخَّر

“Sempurnakanlah shaf yang paling depan lalu setelahnya. Jika ada yang kurang hendaknya shaf yang paling belakang.” (HR Abu Daud).

Syamsyul Haq alAzhim al Abadi menjelaskan bahwa jika dipadukan dengan hadits riwayat abu Daud di atas, shaf akhir yang kurang semestinya berdiri di belakang imam. (Aunul Ma’bud 2/260).

Jadi, memulai shaf memang hendaknya dari tengah. Adapun jika ada yang memulai shaf tidak dari tengah, maka hendaknya orang yang datang berikutnya tidak memisahkan diri dan tetap merapat ke dalam shaf yang sudah dibentuk.

DR Shalah Shawi menjelaskan bahwa jika shaf kedua telah dibentuk, yang datang belakangan harus merapat ke shaf yang ada. Bukan membentuk shaf lagi di belakang Imam hanya karena shaf yang ada tidak tepat di belakang imam. Demikian keterangan beliau dalam situs resminya. ( http://el-wasat.com/assawy/?p=2636).

Dalil merapatkan shaf telah jelas dan shahih. Inilah yang diutamakan. Hanya saja, beliau menambahkan, setelah shalat harus diberitahukan kepada orang yang memulai shaf tidak dari belakang imam mengenai sunahnya memulai shaf dari belakang imam.

Wallahua’lam.

Sumber: Ar Risalah 

Saturday, 13 December 2014

Hukum Jual Beli Anjing



Di beberapa sudut jalan ibu kota dan di beberapa pusat perbelanjaan terlihat sebagian orang menjual anjing dan didapatkan sebagian kaum muslimin ternyata memelihara anjing di rumahnya, apakah hal itu dibolehkan dalam ajaran Islam? Bagaimana dengan anjing-anjing yang dibawa oleh polisi untuk melacak para penjahat dan mengendus barang-barang haram seperti ganja ? Tulisan di bawah ini menjelaskannya.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama: Boleh memperjualbelikan anjing secara mutlak. Ini pendapat ulama Hanafiyah. Berkata al-Babruti di dalam al-‘Inayah Syarh al-Hidayah ( 9/465 ):

"Menjual anjing dan semua binatang buas hukumnya boleh, baik anjing yang terlatih maupun anjing yang tidak terlatih. Ini terdapat dalam riwayat asli (dari Abu Hanifah ). “

Mereka beralasan bahwa anjing yang dilatih sangat bermanfaat untuk menjaga sawah dan berburu, sehingga boleh diperjual-belikan. Sedangkan anjing yang tidak dilatih, bermanfaat juga untuk keperluan lainnya, maka dibolehkan juga, karena setiap yang bermanfaat dikatagorikan harta dan boleh diperjualbelikan.

Pendapat Kedua: Tidak boleh memperjualbelikan anjing secara mutlak, dan jika seseorang membunuhnya, maka tidak wajib menggantinya. Ini pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanabilah dan salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah.

Berkata Imam Nawawi di dalam al-Majmu’ (9/228 ) :

“Madzhab kami berpendapat bahwa tidak boleh memperjualbelikan anjing, baik yang terlatih maupun yang tidak terlatih, baik yang kecil maupun yang besar. Dan orang yang membunuhnya tidak wajib menggantinya.”

Dalil mereka adalah sebagai berikut :

Pertama: Hadist Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata: “Bahwasanya Rasulullah melarang hasil penjualan anjing, penghasilan pelacur, dan upah perdukunan.” (HR. Bukhari, 2237).

Kedua: Hadist Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah melarang hasil dari jual-beli darah dan jual-beli anjing, dan upah pelacur, serta melaknat pemakan riba, dan yang mewakilkannya, dan orang-orang yang mentato dan meminta untuk ditato, serta melaknat para penggambar ( makhluq hidup).” (HR. Bukhari: 2238).           

Ketiga: Hadist Rofi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda: "Sejelek-jelek penghasilan adalah upah pelacur, hasil penjualan anjing, dan penghasilan tukang bekam.” (HR. Muslim)

Pendapat Ketiga: Boleh memperjualbelikan anjing kecuali anjing buas. Ini pendapat Abu Yusuf dari ulama Hanafiyah.

Berkata az-Zaila’I di dalam Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq ( 11/ 325 ): “Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa beliau berpendapat tidak boleh memperjualbelikan anjing buas karena dia tidak bermanfaat seperti binatang-binatang buas lainnya yang membahayakan.”Berkata al- Babruti di dalam al-‘Inayah Syarh al-Hidayah (9/465): “

Juga karena Nabi melarang untuk memeliharanya dan memerintahkan untuk membunuhnya.”Dalilnya adalah hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Hafshah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Lima binatang siapa saja boleh membunuhnya, “gagak, rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing buas.” (HR. Bukhari, 1828 dan Muslim, 2069).

Pendapat Keempat: Tidak boleh memperjualbelikan anjing kecuali anjing untuk menjaga tanaman dan ternak serta anjing pemburu. Ini pendapat lain dari ulama Malikiyah.Dalil mereka adalah sebagai berikut:

Pertama: Hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

“Barang siapa memelihara anjing maka amalnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (sebesar gunung uhud), kecuali anjing untuk menjaga tanaman atau binatang ternak.” (HR Bukhari, 2322).

Kedua: Hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Barang siapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak maka amalnya berkurang setiap hari sebanyak dua qirath (sebesar dua gunung uhud).” (HR. Bukhari, 5480 dan Muslim, 1574).

Ketiga: Hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:

"Barang siapa memelihara anjing kecuali anjing untuk menjaga hewan ternak, atau anjing untuk berburu, atau anjing penjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qirath.” (HR. Muslim, 1575).           

Kesimpulan:

Dari keterangan para ulama di atas maka pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan tidak boleh memperjualbelikan anjing kecuali anjing untuk menjaga tanaman dan binatang ternak serta anjing untuk berburu. Dan termasuk dalam katagori ini dan dibolehkan adalah anjing pelacak. Pilihan ini berdasarkan alasan –alasan sebagai berikut:

Pertama: Pendapat ini menggabungkan dan mengambil semua hadits-hadits di atas yang kelihatannya saling bertentangan, sehingga tidak membuang salah satunya. Berbeda dengan pendapat yang membolehkannya secara mutlak, atau melarangnya secara mutlak, mereka hanya mengambil sebagian hadits saja.

Kedua: Adapun pendapat Hanafiyah yang membolehkan untuk memperjual-belikan anjing secara mutlak jelas bertentangan dengan hadits-hadits yang melarangnya.

Ketiga: Adapun pendapat Abu Yusuf yang mengecualikan anjing buas, juga kurang tepat, karena binatang yang tidak diperintahkan dibunuh bukan berarti boleh dipelihara dan diperjualbelikan seperti halnya binatang babi, tidak ada perintah secara tegas untuk membunuhnya, tetapi walaupun begitu dilarang untuk diperjualbelikan.

Keempat: Adapun pandangan yang menyatakan bahwa setiap yang bermanfaat itu boleh diperjual belikan, tidaklah sepenuhnya benar, karena manfaat yang dijadikan standar adalah manfaat yang diakui oleh syariat Islam, bukan setiap manfaat, seperti halnya khamr, dia bermanfaat untuk menghangatkan tubuh ketika musim dingin, tetapi manfaat ini tidak diakui oleh syariat, maka khamr dilarang untuk diperjualbelikan.

Kelima: Pendapat yang melarang jual-beli anjing secara mutlak, akan menutup sebagian maslahat yang dibolehkan syariat dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya pada zaman sekarang, seperti kebutuhan terhadap anjing pelacak untuk mengejar para penjahat dan anjing untuk berburu yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (Qs. al-Maidah: 4)

Wallahu A’lam.

Sumber: ArRisalah (Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA)

Friday, 12 December 2014

Peringatan dari suatu majlis yang tidak disebut nama Alloh



Alloh عز وجل berfirman tentang bagaimana ucapan manusia yang baik / yang buruk dalam setiap tempat dan keadaan kecuali disana ada malaikat yang mencatat apa yang mereka ucapkan dan perbuat (taisir alkarimi rohman:903)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qof :18)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan abu hurairoh ra. Ia berkata Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda :

"Barang siapa yang duduk pada suatu tempat duduk dengan tidak menyebut nama Alloh (berdzikir) di dalamnya, maka ia akan mendapat kerugian dari Alloh dan barang siapa berbaring ditempat pembaringanya dengan tidak menyebut nama Alloh, maka hal itu akan mendapat kerugian dari Alloh.
(Hr. Abu dawud di shahihkan oleh syaikh Al-albani dalam Al-misykat,2/703)

Kata ترة berarti kerugian juga maknanya adalah konsekuensi sebagaimana hal itu disebutkan oleh ibnu Al-atsir dalam (An-nihayah 1/189)

Semakna pula dengan hadits di atas ,Abu hurairoh رضي الله عنه juga berkata, "Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda :

"Tidaklah suatu kaum duduk duduk dalam suatu majlis dan tidak menyebut nama Alloh di dalamnya. Serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka , melainkan mereka akan mendapatkan kerugian, jika Alloh menghendaki dia akan meng adzab mereka dan jika Alloh menghndaki dia akan mengampuni mereka. (Hr. Tirmidzi -shahihul jami :5607)

Kita semua tau bahwa manusia memiliki suatu majlis /pertemuan yang didalamnya mereka berkumpul untuk membicarakan suatu urusan keluarga ,pekerjaan dan sebainya. Namun sebaik baik majlis adalah yang didalamnya disebut nama Alloh / shalawat kepada nabi. Adapun jika suatu majlis /pertemuan yang didalamnya tidak disebut nama Alloh an shalawat kepada Rosululloh ,maka ia merupakan majlis yang Tercela.

Dan terlalu banyak bicara pada hal yang tidak penting untuk dibicarakan dapat mengeraskan hati , dan orang yang keras hatinya. Adalah yang paling jauh dari Alloh sebagai mana Rosululloh sebutkan..
Beliau mengingatkan kita bahwa pada hari kiamat nanti majlis itu akan jadi kerugian karna mereka telah menghabiskan waktu pada hal yang tidak bermanfaat..dan bisa mengeraskan hati, sehingga dia akan susah untuk menerima nasehat dan peringatan..

Wallohuta'ala a'lam

Abu abdillah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes