,

Friday, 24 February 2017

Buah Merenungi Al-Qur’an


Jika kamu perhatikan apa yang diserukan Allah SWT untuk direnungkan, hal itu mengantarkan kamu pada ilmu tentang Tuhan, tentang keesaan-Nya, serta sifat-sifat keagungan-Nya seperti qudrat, ilmu, hikmah, rahmat, ihsan, keadilan, ridha, murka, pahala, dan siksa-Nya. Demikianlah. Dia memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dan menyeru mereka untuk merenungi ayat-ayat-Nya. Kami akan menyebutkan beberapa contoh saja yang disebutkan Allah SWT dalam kitab-Nya; yang lain dapat anda cari sendiri.
Di antaranya adalah penciptaan manusia.Bukan hanya dalam satu tempat Allah SWT menyuruh kita untuk merenungkannya, seperti firman-Nya,
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?” (ath-Thaariq: 5)
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (adz-Dzaariyaat: 21)
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.” (al-Hajj: 5)
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia dahulu dan setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)? Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan dari-padanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyaamah: 36-40)
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kamilah sebaik-baik yang menentukan.” (al-Mursalaat: 20-23)
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (Yaasiin: 77)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia darisuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (al-Mukminuun: 12-14)
Amat banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyeru manusia untuk memikirkan proses awal, tengah, dan akhir dalam penciptaan manusia. Karena diri manusia dan cara penciptaannya adalah sebagian di antara dalil terkuat atas sang Pencipta. Selain itu juga karena yang terdekat dengan manusia adalah dirinya sendiri. Di sana terdapat keajaiban-keajaiban yang menunjukkan keagungan Allah SWT yang manusia tidak dapat mengetahui walaupun sebagiannya saja. Tapi, manusia lalai dan tidak mau merenungkan dirinya sendiri. Kalau ia mau merenungkan diri sendiri, tentu keajaiban-keajaiban penciptaan yang diketahuinya mencegah para manusia untuk berbuat kafir. Allah SWT berfirman,
“Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (Abasa: 17-20)
Allah SWT ketika menyebutkan hal ini berulang kali di telinga kita bukan hanya agar kita mendengar kata nuthfah, ‘alaqah, mudhghah, turab, atau agar kita membicarakannya saja, atau sekedar ingin memberitahukan kepada kita. Tetapi, maksud dan tujuan Tuhan adalah untuk sesuatu yang berada di balik itu semua. Karena alasan inilah, tuhan membicarakan hal tersebut.
Sekarang, perhatikanlah nuthfah dengan seksama! la hanyalah setetes air yang hina dan lemah serta menjijikkan. Kalau berselang sesaat saja, akan rusak dan busuk. Bagaimana Tuhan Yang Maha Tahu dan Kuasa mengeluarkannya dari antarashulb (tulang sulbi lelaki) dan taraa’ib(tulang dada perempuan). Bagaimananutfah itu bisa dan tunduk kepada kekuasaan dan kehendak-Nya meski jalan yang dilalui sempit dan bercabang-cabang, sampai Dia menggiringnya ke tempat kediaman dan tempat berkumpulnya? Bagaimana pula Allah SWT mengumpulkan lelaki dan wanita dan menciptakan cinta kasih di antara keduanya?
Bagaimana Dia menggiring keduanya dengan rentetan syahwat dan cinta untuk berkumpul yang akhirnya menjadi sebab terciptanya anak? Dan, bagaimana Dia menetapkan bertemunya dua air itu padahal letak kedua air itu sebelumnya berjauhan? Bagaimana Allah menggiringnya dari dasar urat-urat dan organ yang dalam dan mengumpulkan keduanya di satu tempat yang dijadikan sebagai tempat kediamannya yang kokoh, tidak tersentuh udara sehingga rusak, atau dingin sehingga membeku, dan tidak terjangkau oleh penyakit?
Kemudian Dia mengubah nuthfah yang amat putih itu menjadi ‘alaqah yang merah kehitaman. Lalu dijadikan-Nya mudhghah(segumpal daging) yang berbeda dengan‘alaqah dalam warna, hakikat, dan bentuknya. Lalu Dia menjadikannya tulang belulang tanpa pembungkus yang berbeda dengan mudhghah dalam bentuknya, keadaannya, ukurannya, dan warnanya.
Lihatlah bagaimana Dia membagi bagian-bagian yang mirip dan sama itu menjadi organ-organ, tulang-tulang, urat-urat, dan otot-otot; ada yang keras, lunak, dan sedang. Kemudian bagaimana Dia mengikat antara bagian-bagiannya dengan ikatan tali paling kuat yang paling sulit terurai. Bagaimana la membungkusnya dengan daging yang dijadikan-Nya sebagai wadah, penutup, dan pelindungnya; dan menjadikan tulang itu sebagai sarana yang membawa daging tersebut dan yang menjadikannya berdiri tegak. Jadi, daging berdiri dengan bantuan tulang, dan tulang berlindung dengan daging.
Bagaimana Allah SWT membentuknya dengan bentuk yang indah; membuat lubang telinga, mata, mulut, hidung, dan luang-lubang yang lain; memanjangkan tangan dan kaki, dan membagi ujung-ujungnya menjadi jari-jemari, lalu membagi jari-jari menjadi ruas-ruas lagi. Dia memasang organ-organ dalam; seperti jantung, usus, hati, paru-paru, ginjal, rahim, kandung kencing. Masing-masing punya ukuran khusus dan manfaat yang khas.
Lalu perhatikanlah hikmah-Nya yang luar biasa dengan menjadikan tulang sebagai penegak dan tiang penopang badan. Bagaimana Tuhan menakarnya dengan ukuran-ukuran dan bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada yang besar, kecil, panjang, pendek, melengkung, lurus, tipis, dan tebal. Bagaimana Dia memasang satu sama lain. Ada yang pasangannya adalah seperti masuknya kemaluan jantan ke betina, ada yang dipasang dengan sambungan saja. Bagaimana bentuk-bentuknya berbeda sesuai dengan perbedaan manfaat masing-masing. Gigi geraham misalnya. Karena gigi ini fungsinya adalah mengunyah, bentuknya dibuat lebar. Sedang gigi yang lain, yang fungsinya memotong dijadikan bentuknya tipis dan tajam.
Karena manusia butuh bergerak dengan keseluruhan badannya dan dengan sebagian organ tubuhnya untuk melaksanakan hajatnya, Dia tidak menjadikan tulang sebagai satu kesatuan, melainkan tulang-tulang yang banyak, dan dia menjadikan antara tulang-tulang itu persendian agar memungkinkan bergerak. Tiap persendian itu ukuran dan bentuknya pas dengan gerak yang dibutuhkannya. Allah SWT mengikat kuat persendian dan organ itu dengan tali-tali yang ditumbuhkan-Nya dari salah satu ujung tulang dan dilekatkan-Nya ujung yang lain pada ujung tulang satunya sebagai pengikat.
Lalu, di salah satu ujung tulang Dia juga membuat tonjolan-tonjolan keluar, dan pada ujung yang lain ada lubang-lubang yang pas benar dengan bentuk tonjolan itu sehingga dapat dimasukinya. Sehingga, bila manusia ingin menggerakkan salah satu bagian badannya, hal itu menjadi mungkin. Kalau tidak ada persendian, tentu ha] itu tidak bisa dilakukan.
Perhatikanlah bentuk kepala dan jumlah tulangnya yang begitu banyak, sampai ada yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima puluh lima buah yang bentuk, ukuran, dan manfaatnya berbeda-beda. Bagaimana Allah SWT memasangnya di atas badan, dan menjadikan tempatnya tinggi seperti posisi orang yang menunggang kendaraannya. Karena tinggi di atas badan, Dia meletakkan kelima indera di sana, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan perasa. Dia menjadikan indera penglihatan di depan agar berfungsi sebagai penjelajah dan penjaga bagi badan. Dia menyusun setiap mata terdiri dari tujuh lapisan. Setiap lapisan punya sifat, ukuran, dan manfaat khas. Satu saja di antara ketujuh lapisan itu hilang atau bergeser dari posisinya tentu mata tidak dapat melihat. Kemudian Allah SWT menciptakan di bagian tengah di dalam lapisan-lapisan itu satu makhluk yang ajaib, yaitu ‘manusia mata’ sebesar biji adas.
Dengannya manusia melihat benda-benda dari ujung barat ke timur, antara langit dan bumi. Dia menjadikannya seperti kedudukan hati terhadap organ tubuh yang lain. Dia adalah rajanya. Lapisan-lapisan, pelupuk, dan bulu-bulu mata adalah sebagai pembantu, penjaga, dan pelindungnya. Maha agung Allah, sebaik-baik Pencipta.
Lihatlah bagaimana Dia mengindahkan bentuk kedua mata itu, posisinya, dan ukurannya. Lalu Dia memperbagus dengan pelupuk mata sebagai penutup, pelindung, dan hiasannya. Pelupuk itu mencegah masuknya kotoran dan debu ke mata, melindungi mata dari dingin dan panas yang berbahaya. Kemudian Dia menanam bulu-bulu di tepi pelupuk sebagai hiasan dan keindahan serta untuk manfaat lainnya. Kemudian memberinya cahaya dan sinar mata yang menembus angkasa antara langit dan bumi, lalu menembus langit untuk melihat bintang-gemintang di atasnya. Allah SWT memberikan rahasia yang mengagumkan ini pada satu makhluk kecil tersebut. Sehingga, gambar langit yang sedemikian luasnya dapat terlukis di sana.
Dia menciptakan telinga dalam bentuk yang paling indah dan paling sesuai dengan fungsinya. Dia menjadikan bentuk daun telinga itu seperti sendok agar dapat mengumpulkan suara lalu mengirimkannya ke lubang telinga. Juga agar merasakan hewan serangga yang merayap di sana sehingga cepat-cepat dikeluarkannya. Dia menciptakan lipatan, rongga, dan lengkungan-lengkungan yang dapat menahan dan mengontrol udara dan suara yang masuk, mengurangi pedasnya, kemudian baru mengirimkannya ke lubang telinga. Di antara hikmah itu semua, agar jalannya menjadi panjang bagi hewan sehingga ia tidak dapat sampai ke lubang telinga sebelum manusia terbangun atau sadar untuk mencegahnya. Selain itu masih ada hikmah yang lain.
Sesuai dengan hikmah-Nya, Dia menjadikan air telinga amat pahit sehingga hewan tidak dapat melewatinya menuju ke dalam telinga. Bahkan, kalaupun hewan dapat sampai ke dalam, ia masih dapat mengusahakan mengusir hewan itu. Dan Dia menjadikan air mata rasanya asin untuk menjaga mata itu; karena mata adalah lemak yang mudah rusak. Jadi, asinnya rasa air mata adalah untuk menjaganya. Dia menjadikan air mulut (ludah) tawar manis untuk digunakan mencicipi rasa benda-benda sesuai dengan rasanya yang sebenarnya. Sebab, kalau rasanya tidak tawar, tentu akan menjadikannya seperti rasa air ludah itu; seperti orang yang pahit mulutnya, dia akan merasakan benda-benda yang sebenarnya tidak pahit menjadi terasa pahit sebagaimana dikatakan,
“Siapa sakit dan pahit mulutnya Air tawar pun akan pahit rasanya.”
Allah SWT memasang hidung di wajah, dengan bentuk dan posisi yang indah. Dia membuat dua lubang hidung dan memisahkan keduanya dengan penghalang; memberikan indera penciuman kepadanya untuk merasakan berbagai bau-bauan baik yang harum maupun yang busuk, yang bermanfaat ataupun yang berbahaya; menghirup udara untuk ditransfer ke jantung sehingga menjadi dingin dan segar. Dia tidak menciptakan bengkokan atau kerutan di dalamnya seperti di telinga agar tidak menahan bau sehingga menjadikannya lemah dan menghentikan alirannya.
Dia menjadikan hidung sebagai tempat tumpahnya sisa-sisa otak. Sisa-sisa otak itu terkumpul di sana lalu keluar. Sesuai dengan hikmah-Nya, Dia menjadikan bagian atas hidung lebih kecil dari bagian bawahnya. Karena bila yang bawah lebar, maka sisa-sisa otak terkumpul di sana lalu keluar dengan mudah. Juga karena dia menghirup udara sepenuh-penuhnya, lalu naik sedikit demi sedikit dan masuk ke jantung sehingga dengan cara seperti itu tidak mengagetkan dan membahayakannya.
Kemudian Dia memisahkan kedua lubang hidung itu dengan dinding pemisah. Tentu saja ini mengandung hikmah dan rahmat. Karena hidung merupakan sebuah batang saluran turunnya sisa-sisa otak dan sekaligus sebagai saluran naiknya pernafasan, maka perlu diletakkan pemisah agar tidak rusak karena mengalirnya sisa itu sehingga hidung tidak dapat menghirup udara. Bahkan, terkadang sisa-sisa itu mengalir turun dari salah satu lubang sehingga yang satunya terbuka untuk bernafas. Atau mungkin juga sisa itu mengalir terbagi kepada dua lubang itu sehingga hidung tidak tersumbat keseluruhan, tetapi tetap ada sisa ruang untuk menarik nafas.
Di samping itu, hidung adalah satu organ dan satu indera. Tidak dua organ dan dua indera seperti telinga dan mata yang hikmah menuntutnya untuk menjadi dua organ. Mungkin saja salah satu hikmah dijadikannya telinga dan mata menjadi dua adalah supaya seandainya ada salah satu mata atau telinga yang tidak normal atau menderita cacat sehingga mengurangi kesempurnaannya, maka masih ada yang satunya, yang utuh dan sehat. Sehingga apabila hal itu terjadi, fungsi indera ini tidak rusak secara total. Tapi, karena kalau ada dua hidung di wajah, maka akan tampak begitu jelas. Maka dipasanglah satu hidung saja, tapi lubangnya dibuat dua yang dipisahkan dengan sebuah penghalang yang fungsinya seperti dua telinga dan dua mata meski ia cuma satu. Maka, Maha Mulia Allah SWT, Tuhan Sebaik-Baik Pencipta.
Dia menciptakan mulut pada letak yang teramat pas. Di dalamnya tersedia berbagai manfaat, alat-alat pengecap, bicara, mengunyah, dan memotong yang mengagumkan akal. Dia memberikan lidah yang merupakan salah satu ayat-Nya yang menunjukkan bahwa Dia ada. Dia menjadikan lidah itu sebagai juru bicara bagi raja organ tubuh (hati). Lidah adalah pengungkap dan penjelas kata hati. Sebagiamana D43 menjadikan telinga sebagai agen (utusan) yang mengambil berita dan menyampaikannya kepada hati. Jadi telinga adalah tukang pos yang menyampaikan berita-berita kepada hati, sedang lidah adalah tukang pos yang mengungkapkan apa yang dikehendakinya.
Sesuai dengan hikmah-Nya, Dia menjadikan agen ini terjaga, terlindungi, dan tertutup; tidak tampak atau terbuka seperti telinga, mata, dan hidung. Karena organ-organ tersebut mengambil dari luar untuk diantarkan ke dalam, maka mereka diletakkan di bagian luar. Sedang karena lidah adalah sebaliknya, yaitu mengungkapkan dari dalam ke luar, maka dibuatkanlah penutup untuknya karena tidak ada gunanya menampakkan—sebab lidah tidak mengambil dari luar untuk dikirim ke hati.
Juga, karena lidah adalah organ termulia setelah hati, dan kedudukannya sebagai juru bicara dan menteri. Allah menciptakan “tenda” yang menutupi dan melindunginya, dan meletakkannya di dalam “tenda” itu seperti posisi jantung di dalam dada. Juga, ia adalah termasuk organ paling lunak, elastis, dan paling lembab. Ia tidak bergerak tanpa bantuan kelembaban yang mengelilinginya itu. Makanya, seandainya lidah berada di luar, tentu terancam serangan panas dan kekeringan yang menghalanginya bergerak. Dan, seterusnya masih ada hikmah dan faedah yang lain.
Kemudian, Allah SWT menghiasai mulut dengan gigi-gigi yang ada di dalamnya yang menambah keindahan sebagai hiasan, juga sebagai alat mengunyah makanan. Dia menjadikan sebagiannya sebagai alat menumbuk dan yang lain untuk memotong. Dia menancapkan pangkalnya dengan kokoh dan membuat ujung-ujungnya tajam, memutihkan warnanya, merapikan barisnya dengan tinggi yang sama dan urutan yang elok seakan-akan gigi itu adalah untaian permata yang putih, bening, dan indah.
Dan masih banyak lagi kebesaran Allah yang ada pada penciptaan manusia sebagai makhluk yang sempurna bentuknya.Wallahu A’lamu bis Shawwab.

Sumber: Miftah Dar As-Sa’adah oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Thursday, 23 February 2017

Perturutkan Nafsu di Dunia, Terhalang Keinginan di Akhirat


“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini  sebagai mana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.” (QS. Saba’: 54)
Suatu kali, Abdullah bin Umar h minum air yang dingin dan segar. Tiba-tiba beliau menangis. Beliau ditanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan Anda menangis?” Beliau menjawab, “Aku teringat akan firman Allah, “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini…” (QS Saba’ 54)
Saya tahu, bahwa penduduk neraka tidaklah menginginkan sesuatu melebihi keinginan mereka untuk mendapatkan air yang dingin.”
Keinginan Penghuni Neraka
Benar apa yang dikatakan Ibnu Umar h, betapa bernafsunya mereka ingin mendapatkan air. Hingga mereka mengemis kepada penduduk jannah agar sudi memberikan air kepada mereka, Alloh mengisahkan dalam firman-Nya,
“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Alloh kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir,” (QS. al-A’raf: 50)
Tidak saja kandas apa yang mereka minta, yang terjadi bahkan sebaliknya. Saat mereka sangat mendambakan minuman yang segar, justru yang didapatkan adalah ‘hamim’, air yang panasnya mencapai puncaknya. Allah berfirman,
“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,” (QS. an-Naba’ : 24-25)
Begitupun tatkala mereka menginginkan makanan lezat untuk mengusir rasa lapar dan memenuhi hasrat lidahnya, justru yang mereka dapati adalah duri, yang justru merusak jasad dan membuat hasrat minum makin kuat.
Apa yang dialami oleh penghuni neraka itu sebagai balasan sepadan atas apa yang mereka lakukan di dunia. Dahulu mereka mengumbar syahwatnya, mengambil setiap apa yang diinginkannya dan berbuat sesuai dengan kehendak hawa nafsunya, meskipun dalam hal yang jelas-jelas Alloh melarangnya. Maka sebagai balasannya, merekapun terhalang untuk memenuhi setiap keinginannya di akhirat.
Qatadah v juga menjelaskan maksud firman Alloh, “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini..” Maksudnya adalah, “Tatkala mereka mernyaksikan adzab dihadapan mereka, merekapun ingin dikembalikan lagi ke dunia, agar ia bia ataat kepada Allah Azza wa Jalla dan menyudahi hidupnya dengan apa-apa yang diperintahkan Alloh. Namun Alloh menghalangi keinginan mereka untuk itu, karena masa di dunia telah berlalu.”
Makna ini tidaklah bertentangan dengan makna yang pertama. Mereka terhalang mendapatkan kenikmatan di akhirat, mereka juga terhalang dari keinginan ingin kembali lagi ke dunia. Betapa banyak al-Qur’an mengisahkan perihal angan-angan orang mati yang ingin dikembalikan ke dunia lagi, untuk memulai hidup baru, tidak sebagaimana cara hidup yang telah dijalaninya dahulu. Sebagaimana firman-Nya,
“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.” (QS. al-Mukminun: 99-100)
Dan masih ada lagi keinginan mereka yang lain. Tatkala penghuni neraka berputus asa untuk terbebas dari siksa, apalagi untuk mendapatkan kenikmatan dan kelezatan, maka merekapun ingin sekiranya mereka dimatikan saja. Agar siksa tak lagi mereka rasakan. Namun, lagi-lagi keinginan tersebut tidak dikabulkan,
“Mereka berseru: “Hai Malik (penjaga neraka-pen), biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).”(QS. az-Zukhruf: 77)
Begitulah, tak ada keinginan sekecil apapun yang mereka inginkan lalu dikabulkan. Apalagi keinginan yang besar. Maka siksa mana yang lebih dahsyat dari kenyataan yang berkebalikan dengan keinginan? Apalagi, keinginan yang remeh di akhirat, akan diganti dengan sesuatu yang paling dibenci dan dihindari, berupa siksa tak terperi.
Agar tercapai Segala Hasrat di Akhirat
Merenungkan ayat ini, semoga meningkatkan kesabaran kita untuk menahan keinginan syahwat dari yang haram. Meskipun begitu kuat desakan nafsu merajuk dan betapa setan gigih merayu. Jika kita berharap keinginan kita tidak terhalang di akhirat, maka keharusan bagi kita untuk menghalangi nafsu kita dari yang haram.
Ayat ini pula yang diajarkan kita oleh Syaqiiq al-Balkhi, sebagai jawaban dari hembusan setan yang menggiring kita kepada syahwat. Beliau berkata,  “Tiada suatu pagi pun melainkan setan telah mengincarku dari empat penjuru. Dari depan dan belakangku, serta dari arah kanan dan kiriku. Setan membujukku, “Janganlah kamu takut (berbuat dosa), karena sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Maka aku pun menjawab de-ngan firman  Alloh, “Dan sesungguhnya Aku (Alloh) Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS.  Thaha: 82)
Adapun dari arah belakang, ia menakut-nakutiku akan terlantarnya keluarga yang kelak aku tinggalkan. Maka aku pun membaca, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Lalu dari arah kananku ia mendatangiku dari sisi wanita, maka aku pun membaca, “Dan kesudahan yang baiklah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 128) Sedangkan dari arah kiri, ia mendatangiku dengan memamerkan aneka syahwat dan keinginan haram, maka aku pun membaca, “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan.” (QS Saba: 54)
Allahumma ati anfusana zakkaaha wa Anta khairu man zakkaaha.aamiin.













Sumber: arrisalah.net(Abu Umar Abdillah)

Kedudukan Terendah Penghuni Jannah


Tentang penghuni surga yang paling dasar atau paling bawah, Nabi pernah bercerita dalam Haditsnya,
Musa bertanya kepada Allah, “Bagaimana nasib penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?” lalu Allah menjawab, “Yaitu orang yang datang setelah penghuni surga dimasukkan ke surga. Lalu dikatakan kepada orang ini, Masuklah ke surga!”
Orang ini menjawab, “Wahai Rabbku, bagaimana akau bisa masuk surga sementara mereka sudah menempati tempat mereka masing-masing dan mengambil bagian mereka?”
Lalu dikatakan kepadanya, “Apakah kamu rela mendapatkan bagian kerajaan seperti para raja di dunia?” Ia menjawab, “Aku rela wahai Rabbku” Lalu Allah berkata, “Itu bagianmu ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu.”
Pada kelima kalinya, orang itu mengatakan, “Aku rela wahai Rabbku” kemudian Allah berkata, “Ini bagianmu ditambah sepuluh kali lipatnya. Dan kamu mendapatkan apapun yang kamu inginkan dan yang matamu sukai.” Orang tersebut berkata, “Aku rela wahai Rabbku.”
Lalu Musa bertanya kembali, “(Lalu bagaiman nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya di surga?
Allah menjawab, “mereka itu orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tangan-Ku, dan kemuliaannya tidak pernah berubah, ia belum pernha dilihat oleh mata, belum pernha terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik di dalam hati manusia.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh Musim, Tirmidzi dan Ahmad)














Sumbet: arrisalah

Pendosa yang Masuk Surga dan Ahli Ibadah yang Masuk Neraka


Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,

Ada dua orang laki-laki bersaudara dari Bani Israil. Salah seorang dari mereka adalah pendosa, sementara yang lain ahli ibadah. Ahli ibadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa dan ia selalu berkata, “Berhentilah dari berbuat dosa.”

Suatu hari ia melihatnya sedang berbuat dosa, lalu ia berkata kepadanya, “Berhentilah dari berbuat dosa.” Pendosa itu berkata, “Biarkan aku bersama Rabbku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku?”

Ahli ibadah itu berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!, atau berkata, “Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.”

Allah kemudian mencabut nyawa keduanya sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah, “Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?”

Allah lalu berkata kepada pendosa, “Pergi dan masuklah kamu kedalam surga dengan Rahmat-Ku.” Dan Allah berfirman kepada para malaikat, “Bawalah ia ke neraka.”
(Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ahmad).

Terkadang kita terlalu dini menilai seseorang karena kemaksiatannya, bahwa dia ahli neraka, Allah tidak akan mengampuni dosa-dosanya, dan ia akan kekal di neraka. Kita juga cepat pesimis ketika harus berdakwah kepada para pendosa karena hidayah tidak segera datang saat kita disana. Padahal bisa jadi Allah mengundur pintu hidayah tersebut agar kita semakin banyak berdakwah dan mengingatkan orang itu. Yang demikian akan menjadi ladang pahala bagi kita.

Tapi ketika hati sudah resah dan tidak lagi percaya dengan janji dan rahmat Allah, bisa saja justru kita yang tekun ibadah akan menjadi penghuni neraka. Wal iyadzubillah. Maka, tak perlu kesusu untuk melihat pertaubatan dari orang yang kita dakwahi, semoga Allah memberinya hidayah entah saat kita masih ada atau kelak saat kita sudah dipanggil-Nya.
















Sumber: arrisalah.net

Wednesday, 22 February 2017

Hukum Makan Dari Penghasilan Haram


Pertanyaan:
Saya mempunyai seorang saudara muhajir (yang hijrah) di Prancis dan menjual minuman keras ( khomer ), bolehkah saya pergi berkunjung kepadanya dan makan dari sebagian hartanya, dan jika dia memberikan hadiah kepada saya, bolehkah saya menerimanya ?
Jawab:
Adapun menyebutnya sebagai muhajir ( yang hijrah ) adalah salah, karena muhajir menurut pengertian syari’at adalah orang yang meninggalkan negeri orang-orang kafir menuju negeri Islam karena melarikan diri untuk mempertahankan agamanya, dan inilah yang disebut muhajir, dan lafadz yang lebih umum, muhajir berarti setiap orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah, sedang orang yang pergi meninggalkan negeri Islam menuju negeri orang-orang kafir tidaklah disebut muhajir.
Adapun bahwa dia mengumpulkan hartanya dari jual beli minuman keras, maka Allah telah mengharamkan minuman keras dan mengharamkan harganya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat minuman keras, melaknat penjualnya dan pemakan harganya ( harta yang dihasilkan dari jual-beli minuman keras ), mereka semua termasuk dalam sepuluh orang yang dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikarenakan minuman keras, semuanya dilaknat. Harga (harta yang dihasilkan dari ) minuman keras haram, oleh karena itu, jika penghasilan saudaramu seluruhnya bersumber dari jual-beli minuman keras, maka tidak boleh bagimu untuk memakan sebagian dari penghasilannya itu, dan tidak boleh kamu mengambil manfaat darinya sesuatu apapun.
Karena Allah akan mencukupkan kamu dari menggunakan atau memakan dari harta haram tersebut. Tetapi kamu wajib menasehati dan mengingatkan saudaramu akan Allah dan menasehatinya karena Allah, semoga Allah memberikan taubat kepadanya dan agar dia segera meninggalkan pekerjaan yang jelek ini, dan jika dia terus-menerus melakukan pekerjaannya itu, maka janganlah kamu pergi kepadanya dan tinggalkan dia, dan jika kamu mengetahui bahwa hadiahnya itu berasal dari jual-beli minuman keras maka janganlah kamu menerimanya.










Sumber: Alislamu.com [Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan dalam kitab Muntaqa Fatawa Syaikh Al-Fauzan, jld. III Hal. 220 fatwa no. 335]

Tuesday, 21 February 2017

Nafkah Anak dari Mantan Suami


Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Ustadz, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya bercerai dengan suami. Saat ini kedua putra kami ikut bersama saya. Namun, nafkah mantan suami untuk anak-anak tidak lancar dan cenderung kurang.
Apakah berdosa jika saya meminta nafkah untuk anak-anak? Bagaimana jika suami tidak mau memberi nafkah? Atas nasihatnya saya haturkan banyak terima kasih. Jazakumullah!
Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Akhwat di bumi Allah.


Jawaban:
Wa’alaikum salam wa rahmatullahi Wa barakatuh
Akhwat yang dimuliakan Allah, ketika sepasang suami istri memutuskan mengakhiri pernikahan mereka, dan sudah selesai masa iddah bagi istri, status mereka sudah berubah menjadi mantan istri dan mantan suami. Tidak ada mantan anak, sehingga bagaimanapun, anak-anak tetaplah darah daging orangtua yang menjadi tanggung jawab orangtua mereka terlepas mereka nantinya tinggal bersama siapa. Hak mereka tidak terputus oleh perceraian kedua orangtua mereka.
Islam membebankan nafkah kepada laki-laki sebagai kepala keluarga, Dimana dia wajib menanggung semua kebutuhan anggota keluarganya; istri dan anak-anak. Dalilnya adalah arahan Rasulullah kepada Hindun binti Utbah saat mengadukan suaminya, Abu Sufyan yang tidak memberikan kecukupan nafkah yang cukup untuk Dirinya dan anak-anak. Rasulullah bersabda, “Ambillah harta Abu Sufyan untuk mencukupi dirimu dan anak-anak secara patut.” HR. Bukhari dan Muslim. Jawaban Rasulullah ini menunjukkan bahwa dalam harta suami, ada bagian yang wajib diberikan kepada istri dan anak-anaknya.
Sehingga sangat boleh jika seorang ibu menuntut nafkah seluruh kebutuhan anaknya kepada mantan suami, bapak anak-anak itu. Jika dia tetap tidak bersedia, si ibu bisa menggunakan bantuan pihak lain, bahkan jalur hukum kalau memang dirasa sangat perlu.
Sedang kepada para laki-laki yang sudah bercerai dengan istri mereka, saya mengingatkan tentang tanggung jawab Anda semua kepada anak-anak meski mereka memilih untuk tinggal bersama mantan ibu mereka. Jangan sia-siakan mereka, karena Anda bertanggung jawab tentang mereka di sisi Allah kelak.
Pernah, mantan budak Abdullah bin Amr pamit kepadanya untuk beribadah sebulan penuh  di Baitul Maqdis. Abdullah bin Amr ra. bertanya, “Apakah engkau meninggalkan nafkah untuk keluargamu yang cukup untuk makan bagi mereka selama bulan ini?” Dan ketika orang itu menjawab belum, maka dia berkata, “Kembalilah kepada keluargamu, dan tinggalkan nafkah yang cukup untuk mereka, karena saya mendengar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdosa, jika dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggung jawabnya.” HR. Ahmad 6842. Semoga bermanfaat.














Sumber: arrisalah.net

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes