,

Wednesday, 28 January 2015

Bagaimana Hukumnya Mengucapkan Niat?


Jawaban:

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu berdasarkan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau karena seorang perempuan yang ingin dikawininya maka hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Niat itu tempatnya di dalam hati dan tidak perlu diucapkan. Jika Anda bangun dan berwudhu, maka itulah niat Anda dan tidak mungkin seorang yang berakal dan tidak terpaksa melakukan sesuatu, lalu dia melakukannya tanpa disertai dengan niat. Maka dari itu, sebagian ahlul ilmi berkata, “Seandainya Allah membebani kita dengan amal yang tanpa niat, tentu ada beban yang tidak kuasa kita melaksanakannya.”

Tidak ada riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang menjelaskan bahwa mereka melafalkan niat. Adapun jika ada di antara mereka yang melafalkan niat, jika Anda mendengarnya, tentu karena mereka tidak mengetahuinya atau karena bertaklid kepada sebagian ulama yang berpendapat bahwa sebaiknya niat itu dilafalkan agar terjadi kesesuaian antara hati dan lisan. Tetapi kami katakan bahwa pendapat mereka itu tidak benar. Seandainya melafalkan niat ini perkara yang disyariatkan tentu dijelaskan Rasulullah kepada umatnya, baik dengan sabda maupun perbuatannya.


Sumber: Alislamu {Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 324}

Tuesday, 27 January 2015

Pesan Imam al-Ghazali Kepada Penuntut Ilmu


Pertama
Orang yang menuntut ilmu harus menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan menjauhi perangai yang buruk; seperti mudah emosi, memperturutkan hawa nafsu, dengki, iri hati, sombong, dan besar hati. Semua itu merupakan kegelapan yang akan menghalanginya dari cahaya ilmu. Parameter menguasai ilmu bukan dilihat dari banyaknya periwayatan dan banyaknya muatan hafalan, melainkan cahaya mata hati, yang dengannya seseorang dapat membedakan antara perkara yang hak dan yang adil, antara hal yang berbahaya dan hal yang bermanfaaat, antara kebaikan dan keburukan, serta antara petunjuk dan kesesatan.

Kedua
Penuntut ilmu harus mengurangi kesibukannya dari hal-hal yang dapat memalingkannya dan melalaikannya dari menuntut ilmu. Mengonsentrasikan waktu untuknya, karena Allah tidak akan menjadikan dua hati dalam rongga seseorang.

Ketiga
Seorang yang sedang belajar tidak boleh bersikap sombong dengan ilmunya dan tidak boleh menjerumuskan pengajarnya. Ia harus patuh kepada nasihatnya sebagaimana seorang pasien yang mematuhi dokter yang merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sangat mengharapkan kesembuhan dalam waktu yang singkat. Hendaknya ia bersikap rendah diri kepada pengajar atau guru, senang melayaninya karena mengharapkan pahala dari Allah. Ilmu itu hanya dapat diraih dengan sikap rendah diri, penuh perhatian, dan mau mendengar dengan khidmat. Allah telah berfirman,

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaff: 37)

Keempat
Perhatikan dengan baik maksud, tujuan, dan kesimpulan akhir dari suatu bidang ilmu yang terpuji. Janganlah seorang penuntut ilmu membiarkannya begitu saja.

Kelima
Janganlah seorang yang sedang mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan mempelajarinya dengan sekaligus, tapi harus tertib dan memulainya dari bagian yang paling dasar.

Keenam
Janganlah seorang penuntut ilmu beralih ke bidang lain sebelum menguasai bidang yang sebelumnya, karena ilmu pengetahuan ada tertib urutan yang harus diperhatikan, sebagiannya merupakan penghantar bagi sebagian yang lain. Orang yang memperoleh kesuksesan pasti akan memperhatikan urutan dan tahapan ini. Allah telah berfirman dalam kitab-Nya,

Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.” (Al-Baqarah: 121)
Yakni, mereka tidak tergesa-gesa ketika mempelajari suatu bidang ilmu, melainkan harus menguasainya terlebih dahulu, ilmu dan juga pengamalannya.

Ketujuh
Ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, serta ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan ilmu-ilmu tersebut.

Kedelapan
Hendaknya niat sang pelajar saat sedang menuntut ilmu ialah untuk menghiasi batin dan memperindahnya dengan keutamaan. Sedangkan pada masa mendatang akan menjadi sarana baginya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai ia berniat menuntut ilmu untuk meraih jabatan, harta, kedudukan, mendebat orang-orang yang kurang akalnya, dan menyombongkan diri, karena Allah telah menjamin akan meninggikan derajat orang-orang yang dianugerahi iman dan ilmu pengetahuan melalui firman-Nya,

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Syahr bin Hausyab telah mengatakan, “ Ada riwayat yang sampai kepadaku bahwa Luqmanul Hakim berpesan kepada putranya sebagai berikut,
‘ Wahai anakku, janganlah kamu mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, untuk mendebat orang-orang yang bodoh, atau untuk memamerkan dirimu di berbagai pertemuan. Janganlah kamu meninggalkan ilmu karena tidak suka kepadanya dan lebih suka kebodohan. Wahai anakku, pilihlah tempat pertemuan menurut pandanganmu sendiri. Apabila kamu menjumpai suatu kaum yang sedang berdzikir menyebut nama Allah maka bergabunglah bersama mereka. Karena, jika kamu seorang yang alim maka ilmumu akan bermanfaat, atau jika kamu seorang yang bodoh tentu mereka akan mengajarimu. Mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat-Nya kepada mereka sehingga kamu pun akan mendapatkan bagian karena kamu menjadi teman duduk mereka. Sebaliknya, apabila kamu melihat suatu kaum yang tidak berdzikir kepada Allah, janganlah kamu duduk bersama mereka. Karena, jika kamu seorang yang alim maka ilmumu tidak akan berguna, jika kamu orang yang bodoh, maka mereka akan makin menjerumuskanmu dalam kebatilan. Barangkali Allah menurunkan adzab-Nya kepada mereka sehingga kamu pun ikut mendapat bagian, karena kamu menjadi teman duduk mereka.’” (Riwayat Ahmad, no. 1650, dishahihkan oleh Ahmad Syakir)


Sumber: Alislamu (Diadaptasi dari Syaikh Jamal Abdurrahman, Athfaalul-Muslimin kaifa Rabbahumun-Nabiyyul-Aamin shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi, Terj. Agus Suwandi, Penerbit Aqwam, Solo, 2010, hal. 244-246).

Monday, 26 January 2015

Cairan Ajaib itu bernama Air Mata


Mata adalah organ tubuh yang sangat istimewa. Ia menjadi jendela untuk melihat dunia. Dengan mata, kita dapat melihat, membaca, dan mengamati setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Menjadikannya nikmat yang tak terkira besarnya, yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.

Jika tubuh terlindungi oleh kulit, maka mata seolah dibiarkan terbuka. Tak ada kulit yang melindunginya. Bagian terluarnya hanya berupa lapisan tipis tembus cahaya, yang bernama kornea. Kornea ini sekaligus berfungsi yang berfungsi menerima cahaya dari luar. Mirip kulit yang menerima rangsangan dari luar.

Dengan kondisi semacam ini, mata berisiko tinggi terkena kotoran maupun terinfeksi kuman. Tapi faktanya, mata kita jarang terkena sakit atau terinfeksi. karena Allah sudah melengkapi mata dengan pelindung yang sangat hebat, yaitu air mata.
Ya, air bening yang keluar saat menangis itu, ternyata adalah pelindung mata yang sangat efektif. Air mata adalah cairan yang sangat spesial. Air mata mengandung zat lisozom, zat anti kuman alami yang sangat efektif, yang dapat membunuh 90% hingga 95% kuman yang masuk ke mata. Dan hebatnya, meskipun mengandung zat anti kuman yang hebat, ia sama sekali tidak membahayakan mata.
Dan, tanpa disadari, mata kita tetap menghasilkan air mata, meskipun tidak sedang menangis. Gunanya, agar mata terhindar dari dehidrasi pada membran yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.

Mengeluarkan air mata saat menangis juga berdampak positif bagi tubuh. Saat kita menangis karena emosi, air mata yang keluar ternyata mengandung racun. Artinya, zat racun dari dalam tubuh ikut terbuang melalui air mata yang keluar saat menangis.
Air mata yang dihasilkan dari menangis mengandung 24% protein albumin yang berguna meregulasi sistem metabolisme tubuh. Air mata juga mampu mengeluarkan hormon endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin, yang berguna mengurangi stres dan menurunkan risiko penyakit karena stres.

Subhanallah, inilah kesempurnaan ciptaan Allah yang Mahasempurna. Air mata diciptakan dengan cara yang sangat tepat. Tepat secara struktur kimia, dan juga fungsinya.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)


Sumber: Ar Risalah

Sunday, 25 January 2015

Berjodoh karena Kemiripan Wajah?


 Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ustadz yang terhormat, apakah ada kaitannya antara kemiripan wajah dengan jodoh? Masyarakat di sekitar saya banyak yang memiliki kepercayaan seperti itu. Kata mereka, orang yang memiliki kemiripan wajah biasanya berjodoh. Dan jika ada seseorang yang mengajak kita untuk menikah, dari mana kita yakin bahwa dialah jodoh kita?
Jazakumullah untuk jawabannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Hamba Allah di Semarang





Jawab:
Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh
Hamba Allah yang baik, istilah jodoh sebenarnya bukan istilah ilmiyah maupun syariah. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jodoh adalah pasangan hidup. Sehingga ketika sepasang lelaki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah, maka mereka berdua disebut berjodoh. Dan saat keduanya bercerai, kita sebut mereka sudah tidak berjodoh. Lalu, apakah jodoh itu? Tidak ada satu pun definisi ilmiyah yang bisa menjelaskannya.

Dalam bahasa syariah, kita mengenal istilah pasangan yang disebut dengan zauj dan zaujah. Dan istilah pasangan ini terkadang bukan hanya terdiri dari dua orang, melainkan bisa terdiri dari banyak orang. Sebab dalam pernikahan poligami, dimungkinkan seorang laki-laki beristri lebih dari satu. Hal ini tentu berbeda dengan konsep pemikiran monogami sekuler yang mengharuskan seorang laki-laki beristri hanya satu.

Di sisi lain, keyakinan bahwa yang satu itu juga harus yang memiliki kemiripan wajah, tentu saja sangat menggelikan dan berbahaya bagi seorang yang berakidah islamiyah. Sebab tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan atau menguatkan hal ini, meski hadits dhaif atau palsu sekalipun. Sehingga masalah kesamaan atau kemiripan wajah seseorang dengan orang lain tidak ada urusannya dengan perjodohan. Karena secara genetika, dimungkinkan adanya kemiripan wajah seseorang dengan sekitar delapan orang lain meski mereka tidak sekandung. Jadi hanya sebuah kebetulan jika ada sepasang suami istri yang memiliki kemiripan wajah.

Hamba Allah yang baik, di dalam syariat ada istilah kesekufuan, yaitu kesamaan dalam hal-hal yang membuat hati nyaman menjalani kehidupan berumah tangga, semisal status sosial, karakter, fisik, kecerdasan, dan hal-hal lain. Namun secara mendasar, kesekufuan adalah dalam pemahaman agama, karena ia lebih menjamin adanya titik temu saat mengambil solusi dari syariat.

Maka pernikahan barakah dimulai dari ta’aruf syar’i untuk mencari titik temu. Kemudian dilanjutkan dengan shalat istikharah untuk mendapatkan kemantapan, atau bermusyawarah dengan keluarga jika belum mantap. Untuk selanjutnya adalah tawakal kepada Allah.

Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh


Sumber: Ar Risalah

Saturday, 24 January 2015

Akses Setan ke Dalam Hati Manusia


Hati ibarat sebuah benteng. Sementara setan ialah musuh yang selalu ingin menaklukannya agar bisa menguasai dan mengendalikannya. Menjaga benteng dari serangan musuh, adalah dengan menjaga pintu-pintunya, dan celah-celah yang memiliki kemungkinan diterobos oleh musuh.

Oleh sebab itu, menjaga hati dari bisikan-bisikan setan adalah sebuah kewajiban. Sementara itu, mengusir setan yang ada dalam hati, hanya bisa dicapai dengan cara mengetahui dari jalan mana mereka masuk. Maka mengetahui jalan-jalan masuknya merupakan suatu keharusan.

Jalan masuk setan berikut adalah sifat-sifat buruk yang dimiliki seorang hamba. Di antara pintu-pintu setan adalah amarah dan syahwat. Marah adalah malapetaka bagi akal. Jika tentara yang bernama akal melemah, tentara setan akan menyerang. Selama manusia masih marah, setan akan menjadikannya mainan seperti anak kecil yang memainkan mainannya.

Pintu setan yang berbahaya lainnya adalah iri dan tamak. Selama manusia masih tamak, ketamakan tersebut akan membuat hati menjadi buta dan tuli. Sementara yang mampu mengetahui jalan masuk setan ialah cahaya mata hati.

Karena itu, apabila mata hati telah terututupi oleh iri dan tamak, ia tak lagi bisa melihat. Saat itulah setan memperoleh kesempatan.

Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “ Dua serigala lapar yang dilepaskan pada sekawanan kambing itu tidak lebih merusak daripada ambisi seseorang kepada harta dan kemuliaan sehingga merusak agamanya.” (Riwayat Ahmad no. 15784 dan 15794, At-Tirmidzi no. 2376, An-Nasai dalam As-Sunan al-Kubra no. 11796, Ad-Darimi no. 2772, Ibnu Hibban no. 3228, Ibnu Abi Syaibah no. 34380, Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah no. 4054, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, 19/96 no. 189. Hadits shahih).

Pintu setan lainnya yang berbahaya ialah kenyang lantaran makan, meskipun barang tersebut halal dan bersih. Sebab, kenyang bisa menguatkan syahwat, sedangkan syahwat adalah kendaraan setan.

Kemudian, Pintu setan yang berbahaya selanjutnya adalah tergesa-gesa dan tidak teliti dalam menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Tergesa-gesa berasal dari setan, dan (sifat) hati-hati dari Allah.” (Riwayat at-Tirmidzi dengan lafadz al-‘Anah dan menurutnya hadits ini hasan)

Termasuk pintu setan lainnya adalah bakhil dan takut fakir. Karena semua itu mencegah infak dan sedekah, serta mengakibatkan penimbunan kekayaan dengan cara yang tidak halal, yang berakibat siksaaan pedih di hari kiamat kelak.

Kemudian pintu setan yang wajib kita waspadai adalah fanatik terhadap suatu madzhab atau golongan tertentu. Iri dengki yang menimbulkan fitnah terhadap orang yang tidak kita sukai, serta memandang mereka dengan tatapan hina. Semua perkara tersebut termasuk penyebab kehancuran seorang hamba. Pasalnya, memfitnah manusia dan sibuk mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan salah satu sifat yang tercela dan melenakan, sehingga lalai dan tidak mengetahui kekurangan atau kesalahan pada diri sendiri.
Selanjutnya adalah berprasangka buruk terhadap sesama kaum muslimin. Allah ta’alaa berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecuriagaan), karena sebagiand dari prasangka itu dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Jika pokok-pokok sifat tercela yang menjadi pintu masuk setan ini dibersihkan dari hati, setan tak lagi bisa menggoda. Setelah itu, dzikir kepada Allah akan bisa menghalaunya. Sebab, hakikat dzikir tidak akan bisa hadir di dalam hati, kecuali setelah hati dimakmurkan dengan takwa dan disucikan dari sifat-sifat tercela. Jika tidak demikian, dzikir hanyalah celotehan untuk jiwa dan tidak bisa menguasai hati. Akibatnya, ia tidak bisa mengusir kekuasaan setan. Oleh sebab itu Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201).
Kondisi ini khusus bagi orang yang bertaqwa.

Setan ibarat seekor anjing lapar yang menghampiri anda. Bila anda tidak mempunyai daging dan roti, ia akan menyingkir. Sementara, jika anda berkata padanya “ Pergi!” hanya sekedar ucapan, anda bisa mengusirnya jauh-jauh. Akan tetapi, bila anda memiliki daging, sementara anjing tersebut sedang lapar, ia akan merebut daging tersebut dan tidak akan pergi jika hanya anda gertak dengan ucapan.

Begitu pula hati, jika ia tidak memiliki makanan kesukaan setan, setan akan menjauh hanya sekedar dengan dzikir. Namun, bila syahwat menguasai hati, ia akan mengusir hakikat dzikir sampai ke tepian hati, sehingga dzikir tak lagi bisa membersihkan noda hitam dalam hati. Lantas, setan akan menetap pada noda hitam tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Di dalam hati ada dua keinginan. Pertama, keinginan dari Allah, yaitu (keinginan) yang mengajak kepada kebaikan dan mengakui kebenaran. Barang siapa yang mendapatinya, hendaknya ia tahu bahwa itu dari Allah dan hendaklah ia memuji-Nya. Kedua, keinginan dari musuh, yaitu (keinginan) yang mengajak kepada keburukan, mengingkari kebenaran, dan mencegah dari kebaikan. Karena itu, barang siapa yang mendapatinya, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Beliau kemudian membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla,

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)….” (Al-Baqarah: 268)

Al-Hasan mengatakan, “ Keduanya ialah keinginan yang menghuni hati, keinginan yang datang dari Allah dan keinginan yang datang dari musuh (Allah). Allah merahmati hamba yang berhenti di depan keinginannya apabila keinginan itu dari Allah ia meneruskannya, dan apabila dari musuh-Nya akan diperangi.”

Berdasarkan fitrahnya, hati sebenarnya siap menerima perintah-perintah Allah dan perintah-perintah setan dengan kadar yang sama. Kecondongan terhadap salah satu sisi terjadi karena mengikuti hawa nafsu dan menuruti syahwat. Atau, karena berpaling dari hawa nafsu dan menentang keinginan syahwat
Jika manusia mengikuti hal-hal yang memicu amarah dan syahwat, menanglah pengaruh setan melalui hawa nafsu. Akhirnya, hati menjadi sarang setan dan tempat penggembalaannya. Apabila ia melawan syahwat, tidak memberinya kesempatan untuk menguasai hati, maka terbebaslah ia dari pengaruh setan.
Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Fitnah-fitnah itu akan dihadapkan kepada hati seperti tikar, helai demi helai. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka satu noda hitam tertempel dalam hatinya. Dan hati mana saja yang tidak menerimanya, akan tertitiklah pada hati itu satu titik putih, sehingga, jadilah hati itu dua macam; putih seperti batu pualam, sehingga fitnah apapun tidak akan membahayakannya selama ada langit dan bumi, sementara hati lainnya berwarna hitam legam, seperti dasar panci, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran selain hawa nafsu yang diserapnya.”

Jika muncul fitnah syubhat dan syahwat, maka dalam menyikapinya hati akan menjadi dua macam, 

Pertama, hati yang menuruti hawa nafsunya sebagaimana bunga karang yang menyerap air, lalu ia ditempeli bintik hitam. Ia terus menerus menyerap fitnah yang dihadapkan kepadanya, hingga menjadi hitam legam dan membusuk.

Bila ia menjadi hitam legam dan kian memburuk, ia menghadapi dua bahaya. Salah satunya ialah kebaikan yang menyerupai kemungkaran. Ia tidak menganggap yang baik sebagai kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Bisa jadi, penyakit ini akan menguasainya, hingga ia meyakini kebaikan sebagai kemungkaran dan kemungkaran sebagai kebaikan, sunnah sebagai bid’ah dan bid’ah sebagai sunnah, serta hak sebagai batil dan batil sebagai perkara yang hak. 

Kedua, hati yang mampu menguasai dan mengendalikan hawa nafsu berdasarkan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati yang putih ialah hati yang diterangi cahaya iman. Bila dihadapkan pada suatu fitnah, ia mengingkarinya dan menolaknya. Sehingga, cahaya dan kilaunya kian terang.

Segala penyakit hati terhimpun dalam penyakit-penyakit syahwat dan syubhat. Dan al-Qur’an ialah obat bagi kedua jenis penyakit ini. Sebab, di dalam al-Qur’an mengandung keterangan yang menjelaskan antara yang hak dengan yang batil. Inilah obat mujarab bagi penyakit syubhat dan keragu-raguan. Namun, semua itu tergantung pada pemahaman dan pengetahuan terhadap apa yang dimaksud al-Qur’an. Barang siapa yang dianugerahi pemahaman dan pengetahuan Allah, ia akan mampu melihat yang hak dan yang batil secara jelas dengan mata hatinya, seperti melihat malam dan siang.
Adapun penyakit syahwat, ia bisa diobati dengan hikmah serta nasihat yang baik melalui motivasi dan peringatan. Selain itu, menekankan zuhud di dunia dan memotivasi untuk meraih akhirat, disertai dengan teladan, serta kisah-kisah yang mengandung pelajaran dan petunjuk.

Allah ta’alaa berfirman,

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-prang yang beriman.” (Yunus: 57)

Hati harus diberi nutrisi yang bisa menumbuhkan dan menguatkannya. Karena hati seperti halnya badan, perlu dilatih dan dirawat, agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Ia perlu tumbuh dengan makanan yang baik baginya. Dan dilindungi dari hal yang membahayakannya. Dan tak ada cara lain untuk mencapai semua itu, kecuali dengan al-Qur’an.

Selayaknya Seorang hamba mempelajari tanda-tanda penyakit hati dan tanda-tanda hati yang sehat, hingga ia yakin terhadap kondisi hatinya. Apabila hatinya sakit, hendaklah ia segera mengobatinya sebelum Allah mencampakkan hati yang sakit dan tidak memperkenankannya masuk surga. Bila sehat, hendaklah ia menjaga kesehatannya, hingga akhir hayatnya.
Wallahu a’lam


Sumber: Alislamu (Diringkas dari Syaikh Ahmad Farid, al-Bahru ar-Raqaa’iq fiz-Zuhdi war-Raqaa’iq, atau Tazkiyatun-Nafs, terj. Muhammad Suhadi, Ummul Qura, hlm. 19-25).

Friday, 23 January 2015

Indahnya Kepasrahan




Indahnya Kepasrahan
Kita membutuhkan bukti-bukti karena menyukai kenyataan, apalagi yang segera karena kita bersifat tergesa. Semua yang datang sesuai harapan dalam tempo cepat sangatlah menyenangkan, hingga yang sebaliknya terasa sangat menyakitkan. Bukan selalu salah memang, meski tidak juga selalu benar. Di sinilah kewaspadaan sangat diperlukan. Agar kita tidak salah memaknai kenyataan yang ada.
Sebab, kita sering mencari pembenaran akan enggannya kita menempuhi jalan panjang, proses berliku, sampai lamanya waktu. Hingga kemenangan pun ingin kita raih dengan cara termudah, lancar, sesegera mungkin, atau seandainya bisa, meringkas tahapan dari awal ke akhir hanya dengan selangkah saja. Semua tawaran percepatan menjadi sangat menarik, hingga hukum penahapan bahkan tidak kita lirik.

Pada akhirnya, selain menjadi sangat tidak sabar, kita sering lupa bahwa kemenangan bisa saja tertunda waktunya, atau datang dalam bentuk yang tidak kita kenali sebab tak serupa dengan angan-angan kita. Atau bahkan diakhirkan di akhirat nanti atas nama Allah yang sempurna ilmu-Nya. Sehingga semua rencana-Nya mengandungi hikmah yang sempurna juga, meski tidak paralel dengan harapan kemanusiaan kita.

Memang, ada beberapa hal yang segera memberi hasil. Hari ini kita menanam, esok hari musim panennya datang. Melimpah ruah yang membuat hati bungah. Dekatnya kemenangan yang sangat kita suka, dan kita mengira bahwa hal itu akan berlaku dalam semua. Padahal kita tahu, Allah-lah Penentu segalanya. Menuntaskan semua rencana-Nya tanpa ada satu pihak pun yang kuasa menolak. Dan mengingkarinya hanyalah kesia-siaan.
Tapi di sana, sunatullah berjalan dengan kemestian proses. Bahwa selalu ada waktu untuk meraih hasil, dan ia adalah mayoritasnya. Sehingga apa yang kita tanam sekarang, tidaklah ia memberikan kematangan buahnya, kecuali dalam tahun-tahun berbilang, dan ia bisa menjadi sangat panjang. Pada saat itulah, harapan akan kesegeraan hasil hanyalah kesia-siaan belaka. Yang tidak menambah apa-apa selain sakitnya jiwa.

Bukankah bagi hamba yang mengaku beriman, tidak ada yang lebih buruk daripada kecewa akan Sang Mahakuasa?
Maka marilah kita menyadari, bahwa tugas kita adalah membaguskan proses, agar ia bersesuaian dengan syarat keikhlasan dan peneladanan Rasul. Seraya menebalkan keyakinan bahwa tidak ada yang sia-sia di hadirat-Nya, agar kita mampu istiqamah di jalan panjang yang terjal berliku, bahkan ketika orang lain menyangsikan dan ada terselip bimbang di dada kita. Dan inilah ujian iman dan kesabaran yang sebenarnya.

Sebab suka tidak suka, terkadang pilihan kebenaran meniscayakan lambatnya pertolongan Allah, dengan kesempurnaan hikmah yang seringkali tidak mampu kita mengerti, atau kuasa kita jangkau hakikatnya meski hanya secuil. Sebab semua indah pada waktunya. Dan Dia-lah yang paling tahu kapan saat itu tiba.

Jadi, biarkanlah proses ini mengalir mengikuti sunatullah. Kita pasrahkan semua hasil, kapan dan apapun itu, kepada Allah, agar kepasrahan ini menjadi indah dan menyamankan jiwa raga. Alangkah eloknya!

Sumber : http://www.arrisalah.net/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes