,

Saturday, 29 April 2017

Hukum Cadar Bagi Muslimah


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Bagaimana hukum wanita
menutup muka (cadar) ?”

Jawaban.
Kami tidak mengetahui ada seorangpun dari shahabat yang mewajibkan hal itu. Tetapi lebih utama dan lebih mulia bagi wanita untuk menutup wajah. Adapun mewajibkan sesuatu harus berdasarkan hukum yang jelas dalam syari’at. Tidak boleh meajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah.

Oleh karena itu saya telah membuat satu pasal khusus dalam kitab ‘Hijabul Mar’aatul Muslimah’, untuk membantah orang yang menganggap bahwa menutup wajah wanita adalah bid’ah. Saya telah jelaskan bahwa hal ini (menutup wajah) adalah lebih utama bagi wanita.
Hadits Ibnu Abbas menjelaskan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam ‘Al-Mushannaf’.
Pendapat kami adalah bahwa hal ini bukanlah hal yang baru. Para ulama dari kalangan ‘As Salafus Shalih’ dan para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lain-lain mengatakan bahwa wajah bukan termasuk aurat tetapi menutupnya lebih utama.
Sebagian dari mereka berdalil tentang wajibnya menutup wajah bagi wanita dengan kaidah.
“Artinya : Mencegah kerusakan didahulukan daripada mengambil kemanfaatan”
Tanggapan saya.
Memang kaidah ini bukan bid’ah tapi sesuatu yang berdasarkan syari’at.
Sedangkan orang yang pertama menerima syari’at adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian orang-orang yang menerima syari’at ini dari beliau adalah para shahabat. Para Shahabat tentu sudah memahami kaidah ini, walaupun mereka belum menyusunnya dengan tingkatan ilmu ushul fiqih seperti di atas.

Telah kami sebutkan dalam kitab ‘Hijaab Al-Mar’aatul Muslimah’ kisah seorang wanita ‘Khats’amiyyah’ yang dipandangi oleh Fadhl bin ‘Abbas ketika Fadhl sedang dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam, dan wanita itupun melihat Fadhl. Ia adalah seorang yang tampan dan wanita itupun seorang yang cantik. Kecantikan wanita ini tidak mungkin bisa diketahui jika wanita itu menutup wajahnya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu memalingkan wajah Fadhl ke arah lain. Yang demikian ini menunjukkan bahwa wanita tadi membuka wajahnya.
Sebagian mereka mengatakan bahwa wanita tadi dalam keadaan ber-ihram,
sehingga boleh baginya membuka wajah. Padahal tidak ada tanda-tanda
sedikitpun bahwa wanita tadi sedang ber-ihram. Dan saya telah men-tarjih (menguatkan) dalam kitab tersebut bahwa wanita itu berada dalam kondisi setelah melempar jumrah, yaitu setelah ‘tahallul’ awal.

Dan seandainya benar wanita tadi memang benar sedang ber-ihram, mengapa
Rasulullah tidak menerapkan kaidah di atas, yaitu kaidah mencegah kerusakan .?!

Kemudian kami katakan bahwa pandangan seorang lelaki terhadap wajah wanita, tidak ada bedanya dengan pandangan seorang wanita terhadap wajah lelaki dari segi syari’at dan dari segi tabi’at manusia.
Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Artinya : "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman. ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya” [An-Nuur : 30]
Maksudnya dari (memandang) wanita.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Artinya : "Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. ‘Hendaklah mereka
menahan pandangannya” [An-Nuur : 31]

Maksudnya yaitu jangan memandangi seorang laki-laki.
Kedua ayat diatas mengandung hukum yang sama. Ayat pertama memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah wanita dan ayat kedua memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah pria.
Sebagaimana kita tahu pada ayat kedua tidak memerintahkan seorang laki-laki untuk menutup. Demikian pula ayat pertama tidak memerintahkan seorang wanita untuk menutup wajah.
Kedua ayat di atas secara jelas mengatakan bahwa di zaman Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sesuatu yang biasa terbuka dan bisa dilihat yaitu wajah. Maka Allah, Sang Pembuat syari’at dan Yang Maha Bijaksana memerintahkan kepada kedua jenis menusia (laki-laki dan perempuan)untuk menundukkan pandangan masing-masing.

Adapun hadits.
“Artinya : Wanita adalah aurat”
Tidak berlaku secara mutlak. Karena sangat mungkin seseorang boleh menampakkan auratnya di dalam shalat.
Yang berpendapat bahwa wajah wanita itu aurat adalah minoritas ulama.
Sedangkan yang berpendapat bahwa wajah bukan aurat adalah mayoritas ulama (Jumhur).

Hadits diatas, yang berbunyi.
“Artinya : Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syaithan memperindahnya”
Tidak bisa diartikan secara mutlak. Karena ada kaidah yang berbunyi :
“Dalil umum yang mengandung banyak cabang hukum, dimana cabang-cabang hukum itu tidak bisa diamalkan berdasarkan dalil umum tersebut, maka kita tidak boleh berhujah dengan dalil umum tersebut untuk menentukan cabang-cabang hukum tadi”.
Misalnya : Orang-orang yang menganggap bahwa ‘bid’ah-bid’ah’ itu baik adalah berdasarkan dalil yang sifatnya umum. Contoh : Di negeri-negeri Islam seperti Mesir, Siria, Yordania dan lain-lain…. banyak orang yang membaca shalawat ketika memulai adzan. Mereka melakukan ini berdasarkan dalil yang sangat umum yaitu firman Allah.
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Al-Ahzaab : 56]
Dan dalil-dalil lain yang menjelaskan keutamaan shalawat kepada Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan dalil-dalil umum (yang tidak bisa daijadikan hujjah dalam adzan yang memakai shalawat, karena ia membutuhkan dalil khusus, wallahu a’lam, -pent-).

Mewajibkan wanita menutup wajah. Berdasarkan hadits : “Wanita adalah aurat”, adalah sama dengan kasus di atas. Karena wanita (Shahabiyah) ketika melaksanakan shalat mereka umumnya membuka wajah. Demikian pula ketika mereka pulang dari masjid, sebagian mereka menutupi wajah, dan sebagian yang lain masih membuka wajah.
Jika demikian hadits diatas (wanita adalah aurat), tidak termasuk wajah dan telapak tangan. Prinsip ini tidak pernah bertentangan dengan praktek orang-orang salaf (para shahabat).

















Sumber: Alislamu.com [Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa AlBani, hal 150-154 Pustaka At-Tauhid]

Friday, 28 April 2017

Nasehat Syaikh Shalih Al Fauzan Untuk Para Penuntut Ilmu


Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menutup pelajaran beliau, Syarh Kitab Ash Shiyam min Dalil Ath Thalib, dengan wasiat yang bermanfaat untuk para penuntut ilmu di tengah umat Islam. Kita memohon agar dengannya Allah memberikan manfaat.
Pertanyaan:
Apakah Anda dapat menyampaikan kalimat yang bermanfaat untuk mengarahkan murid-murid dan saudara-saudara Anda, para penuntut ilmu,  di tengah umat Islam seluruhnya?
Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala pun mengatakan:
Na’am. Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Terus menuntut ilmu, bersemangat di atas itu, mengamalkan ilmu yang telah Allah karuniakan kepada kalian, berdakwah kepada Allah ‘azza wa jalla, mengajarkan ilmu kepada manusia apa yang telah kalian pelajari, dan meninggalkan permusuhan yang sekarang ini terjadi di tengah para penuntut ilmu. [Meninggalkan] saling bermusuhan, saling mencela, dan membuat perpecahan di tengah mereka sampai mereka memecah-belah umat. Memecah-belah para penuntut ilmu.
“Hati-hati dari Fulan!“. “Jangan bermajelis dengan Fulan!“. “Jangan belajar kepada Fulan!“. Yang seperti ini tidak boleh. Jika Fulan memiliki kesalahan, maka nasehati ia. Antara dirimu dan dirinya saja. Adapun jika engkau sebarkan itu di tengah orang-orang, engkau peringatkan orang darinya—sedangkan ia adalah orang yang berilmu, penuntut ilmu atau seorang yang shalih tetapi ia keliru, maka tidak semestinya untuk disebarkan seperti itu.
Sesungguhnya, orang-orang yang senang tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman, untuk merekalah azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nur: 19)
Karena itu, yang wajib, saling menasehati di antara kaum muslimin. Yang wajib, saling mencintai antara kaum muslimin. Apalagi di antara para penuntut ilmu. Apalagi dengan para ulama. Menghormati para ulama.  Menghilangkan penggiringan manusia agar bersama sebagian ulama dan mengeluarkan tahdzir dari sebagian ulama yang lain. Yang seperti ini memunculkan kerusakan-kerusakan yang banyak. Menyebabkan saling bermusuhan dan saling membenci. Menyebabkan fitnah. Jauhilah oleh kalian semua perkara ini.
Jazakumullahu khairan. Jadilah kalian seperti apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan.
Dan sesungguhnya inilah umat kalian, umat yang satu.” (QS. Al Mukminun: 52)
Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah dan berselisih setelah datang kepada mereka petunjuk. Dan untuk mereka itulah azab yang sangat pedih.” (QS. Ali Imran: 105)
Bersungguh-sungguhlah kalian untuk saling bersaudara. Bersungguh-sungguhlah kalian untuk saling menasehati di antara kalian. Bersungguh-sungguh pulalah kalian untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Jauhilah oleh kalian apa-apa yang dapat membuat perpecahan di tengah kaum muslimin, terkhusus di zaman ini.
Kaum muslimin sekarang ini sangat perlu untuk bersatu. Sangat perlu menyingkirkan perselisihan di antara mereka. Sangat perlu saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Jangan kalian jadi penolong musuh dalam membuat kaum muslimin pecah-belah dan porak-poranda. Jika terjadi perpecahan antara ulama dan para penuntut ilmu, maka siapa lagi yang tersisa untuk umat?
Orang-orang awam tidak memiliki kesungguhan. Kesungguhan itu ada pada para penuntut ilmu. Yang mereka ini memperbaiki keadaan manusia. Yang mereka ini mengajari orang-orang. Tinggalkan oleh kalian perkara-perkara tersebut. Permusuhan-permusuhan itu. Ucapan-ucapan provokatif dan hal-hal yang tercela lainnya.
Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibah sebagian yang lain. Apakah salah seorang kalian suka memakan bangkai saudara kalian?” (QS. Al Hujurat: 12)
Dan jangan engkau ikuti setiap yang bersumpah sekaligus hina. Yang banyak mencela, yang ke sana-sini menebar fitnah. Yang banyak menghalangi kebaikan, yang melampaui batas serta banyak dosanya.”(QS. Al Qalam: 10-12)
Jangan taati orang-orang itu, sehingga kalian jadi penolong setan dalam memecah-belah dan membuat lemah umat. Siapa saja di antara kalian mendapati kesalahan saudaranya, kalian nasehati ia, jika memang betul itu. Jangan kalian benarkan desas-desus.
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka periksa dulu kebenarannya oleh kalian, supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada satu kaum dengan ketidaktahuan itu yang membuat kalian menyesal nanti.” (QS. Al Hujurat:6)
Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian pergi berperang di jalan Allah, maka periksa dulu kebenarannya. Dan jangan kalian katakan kepada orang yang mengucapkan kepada kalian, ‘Salam’, ‘Engkau bukan mukmin’.” (QS. An Nisa’: 94)
Allah jalla wa ‘ala telah memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dan memerintahkan mereka untuk satu kalimat serta saling tolong-menolong dan saling nasehat-menasehati. Kita tidak mengatakan, “Biarkan kesalahan itu.” Kita katakan, “Perbaikilah kesalahan itu.” Akan tetapi, kalian perbaiki kesalahan itu dengan cara-cara yang syar’i.
Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada semuanya untuk melakukan apa yang Allah cintai dan ridhoi.











Sumber: Alislamu.com

Thursday, 27 April 2017

4 Impian Orang Shalih Saat Meninggal


Kelak mereka orang-orang shalih saat sudah meninggal, mereka mempunya beberapa angan-angan yang berharap semoga segera tercapai. Sebelumnya, mereka adalah orang-orang yang selamat dari siksa neraka yang kekal. Dan mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan derajat yang mereka peroleh.
Adapun diantara angan dan harapan mereka adalah,

1.Setelah meninggal dunia, ia ingin segera diantar ke liang kubur.
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda, “Apabila jenazah telah siap, kemudian dipikul oleh kaum laki-laki di atas punggungnya, apabila ia jasad yang shalih akan berkata, “dahulukan aku, dahulukan aku.” Dan apabila tidak shalih, dia berkata, “Celaka, kemana mereka hendak pergi? Suara itu didengar oleh siapapun kecuali manusia, dan seandainya saja mereka dapat melihat, pasti akan goncang.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasa’i).

2.Dia berharap tidak akan kembali lagi ke dunia dan berharap kiamat segera tiba
Sebab mereka melihat derajat yang begitu mulia di surga. Mereka ingin segera memasukinya. Sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah, “saat seorang mukmin ditanya oleh dua malaikat di dalam kubur, “…tiba-tiba terdengar suara yang memanggil dari langit, hamba-Ku benar, maka persilahkan ia menempati tempat tidurnya di jannah, pakaikanlah pakaian jannah, bukakanlah baginya pintu menuju jannah. Kemudian arwahnya datang beserta bau harum, kuburnya di luaskan sejauh mata memandang, lalu datanglah seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum, dia berkata, “Saya datang memberi kabar gembira untukmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan. Orang shalih itu berkata, “Siapakah kamu? Laki-laki itu manjawab, “saya adalah amal shalihmu.” Dia berkata:” Ya Rabbku bangkitkanlah hari kiamat, ya Rabbku bangkitkanlah hari kiamat, sehingga saya dapat kembali menemui keluarga dan hartaku.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan Ibn Khuzaimah)
Sedangkan orang kafir dan munafik akan berkata, “Wahai Rabbku, jangan engkau bangkitkan hari kiamat, jangan engaku bangkitkan hari kiamat.” karena mereka tahu apa yang akan terjadi setelah alam kubur itu.

3.Orang shalih punya keinginan untuk menemui keluarganya agar bisa memberi kabar gembira bahwa dia selamat dari neraka.
Apabila seorang mukmin meninggal dan melihat apa yang dijanjikan kepadanya serta selamat dari api neraka, ia berkata:“Biarkan aku (kembali), agar saya memberi kabar gembira kepada keluargaku.” Maka  dikatakan kepadanya: “Tetaplah tinggal.” (HR. Ahmad)
dan Allah berfirman,
“Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke jannah.” Ia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampunan kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”(QS. Yasin: 26-27).

4.Angan-angan orang syahid
Meski telah mencapai kedudukan yang tinggi, namun masih ada yang mereka inginkan. Yaitu seandainya saja bisa kembali ke dunia untuk berjihad memerangi musuh-musuh Allah. Dia ingin berperang dan terbunuh hingga sepuluh kali, sebab dia melihat karomah yang sangat besar.
Nabi bersabda, “Tiada seorangpun yang masuk jannah kemudian ingin kembali lagi ke dunia, tidak ada satu permintaanpun di bumi kecuali mati syahid, dia ingin kembali ke dunia kemudian terbunuh hingga sepuluh kali, karena dia melihat banyak karomah.”(Muttafaq ‘alaih)
Demikian angan-angan orang shalih yang senantiasa bertaqwa dan mengerjakan kebajikan. Angan-angan tersebut hanyalah sebuah harapan, karena pada hakikatnya mereka sudah mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih indah dan nikmat yaitu jannah.














Sumber: arrisalah.net

Dunia Di Mata Orang Kafir Dan Mukmin


Saudaraku.. Dunia yg kita huni saat ini,  dg segala hiruk pikuknya, kenikmatan serta kehinaannya. Memiliki banyak opini, warna warni di mata manusia, namun mereka semua sepakat bahwa suatu hari nanti dunia ini akan hancur dan binasa.
Lalu bagaimana pandangan mereka ttg dunia itu? Allah jelaskan dalam QS.  Al Baqarah : 212
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Bukan harus seimbang antara mencari dunia dan mencari akhirat. Namun Allah berpesan berpesan utk lebih mendahulukan dan mementingkan akherat
Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77).
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita agar memanfaatkan nikmat dunia yang Allah berikan, untuk meraih kemuliaan akherat. Artinya raih kebahagiaan hidup mu kelak di akhirat, jangan kau korbankan akhirat mu demi kesenangan dunia yang sesaat dan penuh tipu daya.
Lalu Allah katakan, jangan kamu lupakan BAGIANMU dari dunia. Ya, “bagianmu”, yakni bagian kecil dari duniamu, bukan setengahnya, apalagi semuanya. Jelas sekali dari ayat ini, bahwa kita harusnya mementingkan akherat, bukan seimbang dengan dunia, apalagi mendahulukan dunia.
Wal aakhirotu khoirul laka minal uulaa.(QS.  Adhuha : 4) – – – “akhirat itu lebih baik (diutamakan) dari dunia’
Wallahu A’lamu Bis Shawab

Wednesday, 26 April 2017

Alasan Mengapa Seorang Mukmin Dilarang Membatalkan Janji


Ikatan perjanjian dalam berbagai hubungan kerja merupakan suatu interaksi yang tidak mungkin dielakkan. Apalagi menyangkut pekerjaan yang menuntut adanya saling percaya satu sama lain. Namun, dalam keadaan terpaksa, terkadang seseorang membatalkan suatu perjanjian.
Misalnya, karena sakit yang menyebabkan lemahnya jiwa dan fisik, karena sempitnya waktu, atau penyebab lain yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak yang membuat perjanjian.
Atas dasar mufakat, seseorang dapat membatalkan perjanjiannya. Pembatalan janji seperti ini, baik secara manusiawi maupun secara syariat dapat dibenarkan. Namun ada kalanya seseorang mempunyai penyakit di dalam hatinya, yaitu dengan mudah membuat perjanjian dengan orang lain lalu dengan mudahnya pula membatalkan janji yang telah dibuatnya tanpa persetujuan.
Jika kondisinya telah separah itu, maka seseorang dapat terjangkit penyakit hati yang harus diobati. Sikap seperti ini termasuk haram dimiliki oleh seorang mukmin. Alasannya adalah sebagai berikut.
1. Secara materi, sikap itu merugikan orang lain, terutama jika dia membawahi banyak orang atau punya relasi usaha. Ingat, semua orang yang merasa dirugikan harus dipertanggungjawabkan.
2. Secara moral, sikap seperti itu akan menghilangkan kepercayaan orang lain. Tidak mustahil jika suatu hari nanti semua orang akan menjauhinya.
3. Pelakunya akan dikenal sebagai tukang membatalkan janji (ghadir), baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Saw bersabda,
“Setiap orang yang suka membatalkan janji(nya) pada hari kiamat akan memikul bendera di bagian belakangnya (sebagai tanda atas perbuatannya di dunia) yang akan ditinggikan sesuai dengan kadar pembatalannya.” (HR. Ahmad)
Oleh karena itu, setiap orang beriman wajib memelihara setiap janjinya, dengan memenuhi seluruh ketetapan atau semua persetujuan yang telah dibuatnya. Allah berfirman, “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti bakal diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra : 34)
Agar selamat dari penyakit ghadir ini, yang terpenting kita harus pandai-pandai dan hati-hati membuat suatu keputusan dan perjanjian.














Sumber: Islampos [60 Penyakit Hati/Uwes Al-Qorni/Remaja Rosdakarya/2005]

10 Alasan Kenapa Laki-Laki Harus Shalat Berjamaah Di Masjid


Memang ada ikhtilaf ulama apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat  berjamaah di masjid atau hukumnya sunnah saja. Akan tetapi, mohon maaf, kami memilih pendapat terkuat hukumnya wajib. Dengan beberapa alasan berikut:
  1. Allah yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar shalat berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah berkata,
“makna firman Allah “ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.” (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha)
  1. saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam al-Quran
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan  satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.”(An-Nisa’ 102)
Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
“pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.”(Al-Ausath)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau fardhu kifayah,  Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang).” (Kitabus Sholah, Ibnu Qayyim)
3.Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar adzan, maka bagaimana yang matanya sehat?
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhudia berkata,
“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR.Muslim)
Dalam hadits yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,
Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”. (HR. Abu Dawud, Shahih)
4.wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar adzan
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, Shahih)
5.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh.Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
“keinginan beliau (membakar rumah) orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid.”
6.tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.
Dari Abdullah bin Mas’udradhiallahu anhu dia berkata:
“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya.Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim)
7.shalat berjamaah mendapat pahala lebih banyak.
Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”(HR.Bukhari)
diriwayat yang lain 25 kali lebih banyak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.” (HR. Muslim)
Banyak kompromi hadits mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “mafhum adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.
  1. Keutamaan shalat berjamaah yang banyak.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barang siapa shalat isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat isya dan subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.” (HR. Bukhari)
  1. tidak shalat berjamaah akan dikuasai oleh setan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itutetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, Hasan)
10.amal yang pertama kali dihisab adalah shalat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah kita pilih shalat yang sekedarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan shalat berjamaah?
Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui,“Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Khusus bagi yang mengaku mazhab Syafi’i (mayoritas di Indonesia), maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat berjamaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).
Imam Asy Syafi’i  rahimahullahberkata,
“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” (Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha)











Sumber: Alislamu.com

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes