,

Sunday, 25 September 2016

Ternyata, Ini Hukumnya Pasang Foto Mesra di Kartu Undangan


Dalam undangan pernikahan sudah lazim para calon pengantin itu memamerkan kemesraan seolah sudah halal. Padahal, akad nikah belum mereka lakukan.
Seandainya akad nikah sudah dilaksanakan, maka hukum berpelukan antara mereka tidak menjadi masalah. Sebab pada dasarnya mereka sudah suami isteri.
Akan tetapi manakala pasangan itu belum sempat melangsungkan akad nikah, tapi sudah peluk-pelukan atau sejenisnya, lalu difoto dan dipublikasikan dalam bentuk kartu undangan, tentu hukumnya haram. Sebab mereka itu belum lagi sah sebagai pasangan suami isteri, meski nantinya bakalan sah juga.
Memang fenomena ini adalah cara-cara yang kurang baik untuk diikuti, lantaran banyak hal yang bertentangan ajaran agama. Sayangnya, masyarakat kita yang umumnya cenderung permisif (serba boleh), kelihatannya tenang-tenang saja. Seolah hal yang demikian dianggap wajar, apalagi untuk zaman sekarang ini.
Bahkan merebaknya model kartu undangan seperti ini sebenarnya tidak lain adalah cerminan dari kerusakan masyarakat kita dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di mana mereka memang umumnya membiarkan saja adanya pasangan yang belum sah untuk berpelukan, berpacaran, boncengan atau berduaan.
Masyarakat kita yang sudah sakit ini kemudian mendapat tepukan gendang dari para syetan yang mengaku sebagai tokoh kebebasan, persamaan hak laki-laki dan perempuan, para selebiriti atau bahkan para tokoh bangsa. Sehingga fenomena pacaran antara calon pasangan suami isteri dianggap sah, boleh, wajar dan tidak ada masalah.
Padahal semua itu adalah kemungkaran, kemaksiatan, dosa, haram dan larangan yang resmi, sah dan tegas dipandang dari sisi syariah. Kemajuan zaman tidak diukur dari kebebasan pacaran. Kemoderenan juga tidak ada kaitannya dengan bebasnya pergaulan muda-mudi.
Bahkan kalau dipikir-pikir, dosa berpose seperti layaknya suami isteri bagi pasangan yang belum sah itu malah lebih besar daripada mereka melakukan hal itu tapi diam-diam. Sebab kita tahu bahwa perbuatan dosa yang dipamerkan itu jauh lebih berat dari pada dosa yang disembunyikan. Meski pun tetap saja keduanya haram hukumnya.
Calon suami isteri yang belum halal, bila difoto berdua lalu melakukan adegan seolah mereka adalah pasangan yang sah, lantas dipublikasikan, maka hal ini sebenarnya sudah termasuk perbuatan mungkar secara terang-terangan. Dosanya jauh lebih besar ketimbang perbuatan yang sama tapidilakukan diam-diam.




Sumber: Islampos

Beri Sedekah pada Pengemis yang Pura-Pura Miskin, Bolehkah?


Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah

Ingatlah kita hanya punya tugas menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, karena tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini.

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. 
Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.

Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku,

“Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.”

Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.

Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan

Coba ambil pelajaran dari hadits berikut.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422)

Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang bersedekah akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292)

Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? 

Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin. Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru karena di balik itu, bisa jadi ia adalah orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebenarnya tak pantas ia terima.

Begitu pula kalau ada yang menawarkan proposal pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan proposal memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan. 

Bagaimana kalau dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap dapat pahala? Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa.

Subhanallah … Mulia sekali syariat Islam ini.

Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan

Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476)

Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik.

 
 
 
 
Sumber: Rumaysho.com (Muhammad Abduh Tuasikal)

Kobarkan Semangat Ibadah Diusia Lanjut


Rasulullah bersabda,

“Allah telah memberikan toleransi kepada seseorang dengan mengakhirkan kematiannya hingga usianya mencapai 60 tahun.” (HR. al-Bukhari no. 5940 dari shahabat Abu Hurairah)

Para pembaca yang berbahagia. Hendaklah kita sadari bahwasanya keadaan akhir kehidupan seorang hamba di dunia akan sangat menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya pada kehidupan di akhirat kelak.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan melakukan amalan penduduk surga hingga tidak ada jarak antara dia dengan surga melainkan tinggal sejengkal saja. Kemudian takdir menentukan maka dia pun melakukan amalan penduduk neraka hingga diapun masuk ke dalam neraka. Dan sungguh salah seorang di antara kalian akan melakukan amalan penduduk neraka hingga tidak ada jarak antara dia dengan neraka melainkan tinggal sejengkal saja. Kemudian takdir menentukan maka dia pun melakukan amalan penduduk surga hingga diapun masuk ke dalam surga.” (HR. al-Bukhari no. 2969 dan Muslim no. 4781 dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud)

Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk selalu istiqomah (kontinu) dalam beramal shalih, dan janganlah patah semangat meski telah lanjut usia (tua). Terlebih lagi tatkala usia masih muda, di saat semangat masih berkobar-kobar, jasmani masih sehat dan fikiranpun masih kuat, hendaklah lebih bersemangat lagi untuk memperbanyak amalan shalih, jangan sampai kalah dengan orang yang telah lanjut usia. Dikarenakan kita semua tidak mengetahui kapan ajal akan datang menjemput diri kita. Terkadang ajal menjemput seorang hamba tatkala usia masih muda belia, dan terkadang pula ajal menjemput seorang hamba di saat lanjut usia.

Penyesalan tiada guna akan dirasakan oleh para penghuni neraka kelak, tatkala mereka meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari neraka untuk dikembalikan lagi ke dunia agar bisa beramal shalih.

Maka Allah menyatakan,

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berfikir bagi orang yang mau berfikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?” (Fathir: 37)

Para ulama pun berbeda pendapat di dalam menafsirkan kalimat “memanjangkan umurmu”, di antara berbagai tafsiran tersebut adalah: hingga mencapai usia 60th, 80th, 40th dan baligh.

Maka ayat ini menunjukkan bahwa semakin bertambah umur seseorang sudah sepantasnya baginya untuk berfikir, memikirkan masa depannya di akhirat nanti.

Sudah seberapa banyak bekal amal shalih yang akan dia bawa nanti di hadapan Allah? Tidak adakah keinginan baginya untuk menambah bekal tersebut dengan memperbanyak amal shalih?

Dan juga seberapa banyak kemaksiatan yang telah dia lakukan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang api neraka? Tidak adakah keinginan baginya untuk menghapus kemaksiatan tersebut dengan bertaubat kepada Allah?

Maka fikirkanlah wahai hamba-hamba Allah sebelum terlambat!

Makna Hadits

Dalam hadits diatas Rasulullah bersabda,

“Allah telah memberikan toleransi kepada seseorang dengan mengakhirkan kematiannya hingga usianya mencapai 60 tahun.”

Dari hadits ini difahami bahwa Allah telah memberikan toleransi usia kepada hamba-Nya hingga mencapai batas maksimal yaitu usia 60 tahun. Sehingga apabila seseorang telah dipanjangkan umurnya hingga mencapai usia 60 tahun maka tiada lagi toleransi atas kebodohannya terhadap ilmu agama. Terlebih lagi kalau dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin. Karena dengan rentang usia hingga 60 tahun, hakikatnya Allah memberikan kesempatan yang cukup panjang kepadanya agar dapat menuntut ilmu agama sehingga menjadi orang yang berilmu dari keadaan yang sebelumnya diliputi oleh kebodohan, untuk kemudian dia amalkan ilmu yang telah dipelajarinya tersebut.

Al-Imam Ibnu Baththal mengatakan, “Dijadikannya usia 60 tahun sebagai batas toleransi, dikarenakan usia tersebut adalah usia yang mendekati kematian dan usia (yang seharusnya) seorang hamba kembali (bertaubat) kepada Allah, khusyu dan mewaspadai datangnya kematian. Maka ini merupakan toleransi demi toleransi sebagai bentuk kelemah lembutan Allah kepada para hamba-Nya hingga mereka pun menjadi orang yang berilmu dari yang sebelumnya diliputi oleh kebodohan.” (Fathul Bari, juz 11, hlm. 240)

Subhanallah (Maha Suci Allah), sungguh betapa besar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, hingga mereka masih diberikan kesempatan yang panjang untuk memperbanyak amalan shalih dan bertaubat dari berbagai dosa dan kesalahan. Namun sangat disayangkan, betapa sedikitnya manusia yang mau berfikir tentang hal ini.

Berbeda jauh dengan kondisi para salaf (generasi awal umat ini) dahulu, mereka telah mempersiapkan batasan usia tertentu khusus untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Malik, “Aku mendapati para ulama di negeri kami dalam keadaan mereka mencari dunia dan ilmu. Merekapun bergaul dengan masyarakat hingga salah seorang diantara mereka mencapai usia 40 tahun. Maka apabila usia mereka telah mencapai 40 tahun, merekapun akan mengasingkan diri dari manusia dan mulai menyibukkan diri dengan amalan ibadah hingga kematian datang menjemput.” (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal, juz 10, hlm. 152)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Maka yang wajib bagi seseorang untuk bersemangat (beramal) disaat lanjut usia, memperbanyak ketaatan kepada Allah, terlebih lagi pada perkara-perkara yang diwajibkan oleh Allah (seperti salat lima waktu) dan hendaklah memperbanyak kalimat istighfar (Astaghfirullah) dan tahmid (Alhamdulillah).“ (Syarh Riyadhush Shalihin, jilid 1, hlm. 132)

Batas Usia Umat Muhammad

Rasulullah bersabda,

 “Usia-usia umatku adalah antara 60 sampai 70 th dan sangat sedikit sekali yang bisa lebih daripada usia tersebut.” (HR. at-Tirmidzi no. 3473 dari shahabat Abu Hurairah)

Al-Imam Ibnu Baththal berkata, “Bahwasanya usia umat Muhammad antara 60 sampai 70 tahun adalah berdasarkan keumuman yang didukung dengan kenyataan, dan bahkan di antara mereka ada yang meninggal sebelum mencapai usia 60 tahun.” (Faidhul Qadir, juz 2, hlm. 15)

Dengan mengetahui hadits yang demikian, maka akan mendorong diri kita untuk segera memperbanyak amal shalih dan segera bertaubat dari kemaksiatan sebelum ajal datang menjemput diri-diri kita.

Hal ini sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah dari shahabat Abu Bakrah sebagai berikut,

“Bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling baik?’, maka dijawab oleh Rasulullah, ‘Yaitu orang yang panjang usianya dan baik amalannya’. Kemudian dia bertanya kembali, ‘Siapakah manusia yang paling jelek?’, maka dijawab oleh Rasulullah, ‘Yaitu orang yang panjang usianya dan jelek amalannya’.” (HR. at-Tirmidzi no. 2252 dari shahabat Abu Bakrah)


Keadaan Rasulullah

Menjelang Wafat

Sebagai umat Muhammad tentunya lebih pantas bagi kita untuk mengambil teladan dari beliau. Yaitu semangat beribadah kepada Allah di akhir hayat beliau. Menjelang wafatnya yang ditandai dengan turunnya ayat,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1)

Rasulullah memperbanyak ucapan dzikir berikut ini di dalam ruku’ dan sujudnya

“Maha suci Allah Rabb kami, dengan memuji Engkau, ampunilah kami. (HR. al-Bukhari no. 775 dan Muslim no. 746 dari shahabat ‘Aisyah)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebelum meninggal, Rasulullah memperbanyak ucapan dzikir berikut di dalam ruku’ dan sujud:

 “Maha suci Allah dan dengan memuji Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 747 dari shahabat ‘Aisyah)

Hal ini merupakan bentuk pengamalan perintah Allah dalam firman-Nya:

“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha Penerima Taubat.” (an-Nashr: 3)

Nasihat

Maka sudah sepantasnya bagi kita sebagai seorang muslim, untuk memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya baik di masa muda terlebih saat lanjut usia. Semoga Allah mematikan kita semua dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bish shawab






Sumber: Al-Ilmu (Ustadz Abu ‘Abdirrahman Muhammad Rifqi)

Saturday, 24 September 2016

Saat Kita Berobat


Di antara ketetapan Allah (sunnatullah) bagi hamba-Nya adalah sebagaimana yang tertuang dalam sebuah ayat,

“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan  dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya`: 35)

Yakni  akan adanya ujian yang menyapa baik berupa keburukan maupun kebaikan. Keburukan semisal musibah, dan kebaikan semisal kebahagiaan. Fungsinya adalah sebagai pembeda dan penyeleksi, siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Abdullah Ibnu Abbas ketika menjelaskan ayat ini mengatakan, “Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, kesehatan dan kesakitan, kekayaan dan kemiskinan,  halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan lalu Kami akan membalas amalan-amalan kalian.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/300)

Dengan adanya ketetapan ini, terkhusus dalam menyikapi keburukan dan musibah, bukan hal aneh jika masing-masing orang akan berusaha mencari solusi.

Para pembaca rahimakumullah, pada edisi kali ini Kami akan sedikit membahas tentang permasalahan berobat. Sebagaimana yang kita maklumi bersama, berobat merupakan salah satu usaha manusia dalam mencari solusi dari sakit yang sedang menimpanya.

Hal-hal Penting Saat Berobat

Hukum berobat.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab beliau Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni’, beliau membagi dan merinci hukum berobat dalam beberapa keadaan,
  1. Jika diketahui atau diyakini bahwa berobat sangat bermanfaat, disertai adanya kemungkinan buruk jika meninggalkannya, maka wajib untuk berobat.
  2. Jika diyakini bahwa berobat sangat bermanfaat dan tidak ada kemungkinan buruk jika meninggalkannya, maka lebih utama berobat.
  3. Jika keadaannya berimbang antara efek positif dan efek negatif, maka meninggalkan berobat lebih utama agar seseorang tidak terjatuh kepada kejelekan tanpa dia sadari.
Berobat tidak menafikan tawakal.

Para pembaca rahimakumullah, seseorang yang berobat bukan berarti tidak bertawakal kepada Allah. Justru usahanya untuk mengobati penyakitnya merupakan salah satu bentuk tawakal  kepada Allah. Bahkan lebih dari itu, usaha tersebut merupakan bentuk penyempurna tauhidnya kepada Allah.

Al-Imam Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau yang berjudul Zadul Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibad (4/14) setelah menyebutkan dalil-dalil anjuran untuk berobat, beliau menyatakan, “Maka pada hadits-hadits shahih ini terdapat perintah untuk berobat dan bahwasanya berobat tidaklah menafikan tawakal. Sebagaimana menghilangkan rasa lapar, haus, panas dan dingin dengan mengerjakan lawannya (yakni dengan makan, minum dan seterusnya) juga tidak menafikan tawakal. Bahkan tidaklah sempurna tauhid yang hakiki melainkan dengan melakukan sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sesuai dengan akibat-akibatnya secara pengalaman maupun syariat. Disisi lain mengabaikan berobat justru merupakan bentuk kekurangan pada sikap tawakal.”

Berobat dengan cara-cara yang diperbolehkan (mubah) dan tidak bertentangan dengan syariat.

Tidaklah ada sesuatu dari makhluk-makhluk Allah kecuali ada lawannya. Termasuk penyakit, ada obatnya sebagai lawan darinya. Jika obat itu tepat dan mampu mengatasi penyakit, seseorang akan sembuh dengan izin Allah. Tatkala Allah telah mencukupi kita dengan obat-obatan yang bermanfaat dan mubah, Allah melarang pula dari berobat dengan obat-obatan yang haram. Nabi bersabda,

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, namun jangan berobat dengan obat yang haram.” (HR. ad-Daulabi)
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda tentang khamr (minuman keras),

 “Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat akan tetapi ia penyakit.” (HR. Muslim no. 1984 dari Thariq bin Suwaid)

Berobat yang paling dilarang adalah dengan metode pengobatan yang berbau kesyirikan. Sebut saja berobat kepada para dukun dan paranormal yang tentunya tidak diragukan lagi tentang kerjasama mereka dengan jin dan setan. Amalan-amalan nyeleneh yang mereka resepkan pun mau tidak mau dilakukan. Dari menyembelih hewan dengan ciri tertentu yang dipersembahkan untuk selain Allah, menulis tulisan-tulisan arab atau bahkan terkadang ayat-ayat al-Qur’an di secarik kertas atau kain untuk kemudian diletakkan di tempat khusus atau digantungkan, mandi tengah malam dengan ramuan 7 lembar kembang yang berbeda dan amalan-amalan yang menjatuhkan seseorang pada praktek kesyirikan lainnya.

Dikisahkan dalam riwayat al-Imam Ahmad bahwa suatu hari Rasulullah melihat seseorang mengenakan sebuah gelang di tangannya. Beliau bertanya “Apa ini?” “Ini untuk pencegah penyakit.” Jawab orang tersebut. Nabi lalu bersabda “Buang benda ini! Benda ini tidaklah menambah pada dirimu melainkan kelemahan. Jika engkau meninggal dunia sementara benda ini masih ada padamu maka sungguh engkau tidak akan beruntung selamanya.”

Maka, cukupkan dengan pengobatan yang mubah dan tidak bertentangan dengan syariat karena segala penyakit pasti ada jalan keluarnya.

Berobat hanya sekedar sarana.

Suatu hal yang harus terpatri dalam diri setiap insan bahwa berobat bukan sebagai penjamin datangnya kesembuhan. Ia hanya sekedar sarana dan bentuk usaha untuk mencapai kesembuhan. Yang demikian itu karena kesembuhan mutlak datangnya dari Allah, bukan dari obat atau orang yang mengobati. Obat akan manjur dan mengantarkan kepada kesembuhan dengan izin Allah dan kehendak-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda,

“Setiap penyakit pasti ada obatnya. Bila sebuah obat tepat untuk sebuah penyakit maka dia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 2204 dari shahabat Jabir)

Allah mengabarkan ucapan Nabi Ibrahim,

“Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara`: 80)

Beranjak dari sini, tidak boleh bagi seorang hamba meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. Namun wajib baginya bersandar dan bergantung kepada Allah yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah tabaraka wa ta’ala.

Berobat dan istirahat.

Para pembaca rahimakumullah, tidak mengapa seseorang yang sedang sakit banyak menggunakan waktunya untuk istirahat. Hanya saja yang perlu diingat, tidak kemudian segala hal ikut diistirahatkan. Terlebih jika penyakit yang menimpa masih dalam taraf ringan. Sangat disayangkan, masih kita dapati sebagian orang di saat masa-masa pengobatan bermudah-mudahan meninggalkan shalat 5 waktu. Ironis memang, saat dirinya sedang menderita dan sangat butuh terhadap pertolongan Allah justru menjauh dari-Nya. Lebih memprihatinkan lagi manakala kemaksiatan malah dilakukan.
Semoga kita dijauhkan dari sikap yang demikian.

Doa, pengiring saat berobat.

Disamping berobat yang merupakan usaha  dalam memperoleh  kesembuhan, maka langkah selanjutnya adalah berdoa dan memohon pertolongan Allah. Karena doa merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Allah, Dzat Yang Maha mampu menyembuhkan dan menghilangkan segala kesulitan.
Allah berfirman,

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi?” (an-Naml: 62)

Di ayat yang lain Allah menyatakan;

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu terbimbing dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)
Nabi mengingatkan kita semua;

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa lemah!” (HR. Muslim no. 2664 dari shahabat Abu Hurairah)

Terkadang seseorang tertipu dengan kemampuan dirinya. Merasa bahwa apa yang dia upayakan dan usahakan pasti membuahkan apa yang diharapkan. Tatkala melihat dirinya memiliki kemampuan untuk berobat, timbul rasa takjub dan menyandarkan kesembuhan terhadap usaha yang dilakukannya hingga akhirnya lupa untuk berdoa, bersandar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha memberikan kesembuhan.

Oleh karena itu dalam hadits di atas Rasulullah mengingatkan kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memperoleh kebaikan kemudian mengiringinya dengan berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah.  Sungguh kalaulah bukan karena pertolongan Allah, maka tidak ada sedikitpun daya dan upaya yang bisa kita lakukan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab






Sumber: Al-Ilmu (Ustadz Abdullah Imam)

Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga?


Apakah manfaat dzikir pagi petang untuk melindungi keluarga dan harta, bukan hanya manfaatnya bagi yang baca saja?

Soal:

Assalamu’alaykum.. Yaa ustadz, sy ingin bertanya mengenai doa pagi petang. Jika kita rutin mengamalkan doa pagi petang, apakah keluarga kita juga mendapat manfaatnya? Semisal kita membaca doa perlindungan. Apakah Allah juga akan melindungi keluarga dan harta kita? Atau hanya kita saja yg mendapatkan manfaatnya? Syukron..

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh. Keluarga akan mendapatkan manfaat dan mendapatkan perlindungan.

Coba lihat bagian zikir berikut ini:

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

Ada di situ kalimat: sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku.

Oleh karena itu penting kiranya kita memahami arti dan kandungan dari dzikir tersebut sehingga semakin bisa merenung dan raih manfaat.

Semoga Allah beri taufik dan hidayah pada kita untuk terus bisa merutinkan dzikir pagi dan petang. Wallahul muwaffiq.






Sumber: Rumaysho.com (Muhammad Abduh Tuasikal)

Saking Pentingnya Hal Ini, Rasulullah Persingkat Shalatnya


Shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Shalat merupakan sarana istirahat dan penyejuk hati bagi Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Saking khusyuknya, kaki Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bengkak karena lamanya waktu berdiri dalam shalat.

Namun, sebagaimana diriwayatkan secara shahih oleh Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala, ada satu kondisi yang membuat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mempercapat shalatnya. Lantaran hal ini, Nabi segera mengakhiri shalatnya.

Ialah sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sungguh, aku sedang melaksanakan shalat. Pada saat itu, aku ingin memanjangkan bacaan shalat. Kemudian, aku mendengar tangisan anak kecil, lalu aku mempersingkat bacaan shalatku. Karena aku mengetahui perasaan kasih ibunya saat mendengarkan tangisan anaknya.”

Inilah pesona akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Inilah sejatinya shalat yang khusyuk. Bukan tidak mendengar sesuatu pun, tapi mengetahui apa yang terjadi di sekitar tempat shalat.

Nabi yang mulia mempersingkat bacaan shalat karena mendengar anak yang menangis. Beliau bisa saja memanjangkan bacaan, tapi memendekkan bacaan merupakan teladankan lantaran mengetahui bagaimana perasaan sang ibu mendengarkan tangisan buah hati saat dia sedang shalat.

Hadits ini juga mengandung hikmah agar para imam memperhatikan pula kekhusyukan jamaah, bukan hanya kekhusyukan diri sendiri. Sangat tidak bijak memanjangkan bacaan dalam shalat fardhu, tanpa pemberitahuan kepada jamaah, hanya karena ingin disebut sebagai penghafal al-Qur’an yang merdu bacaannya.

Jika memang memanjangkan, hendaknya disesuaikan dengan kebiasaan di masjid tersebut. Sebab banyak jamaah yang memiliki banyak kesibukan di luar shalat.

Riwayat ini juga menunjukkan betapa belas kasihnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kepada para umatnya. Beliau menyayangi umatnya secara sempurna hingga bisa berempati dengan apa yang dirasakan oleh mereka.

Kasih sayang inilah akhlak yang utama. Amat luas cakupannya. Siapa tidak menyayangi apa yang ada di bumi, maka dia tidak akan disayangi oleh siapa yang ada di langit. Dan tidaklah dicabut rasa sayang, kecuali dari hamba-hamba yang celaka.

Sungguh, tiada teladan yang lebih baik dari teladan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Namun, para ayah dan ibu juga harus memberikan edukasi saat anak-anaknya ikut ke dalam masjid untuk shalat berjamaah.

Wallahu a’lam. 






Sumber: [Pirman/Bersamadakwah]

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes