,

Sunday, 7 February 2016

Keutamaan Berdoa kepada Allah


Doa termasuk salah satu jenis ibadah yang paling agung, namun banyak sekali umat Islam yang melupakannya dan meninggalkannya. Padahal, doa adalah alat komunikasi dengan Allah Ta’ala yang paling baik.

Karena itulah, doa memiliki beberapa keutamaan dan keistimewaan seperti yang ditulis Syaikh Dr. Abdul Malik Al-Qasim dalam Durus Al-Am:

Pertama, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu`min: 60)

Allah Ta’ala juga berfirman,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu  (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Kedua: Doa adalah inti ibadah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ketiga: Doa dapat menolak bala dan menghidarkan seseorang darinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya doa itu dapat menolak bala yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, maka berdoalah wahai hamba-hamba Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Keempat: Allah akan selalu bersama orang yang berdoa kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sangat tergantung prasangkaan seorang hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim)

Kelima: Tiada yang dapat menolak keputusan (qadha`) Allah Ta’ala kecuali doa, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sikap menundukkan diri dan mengiba kepada Allah Ta’ala, menyimpan makna yang agung, karena di dalamnya terdapat keikhlasan dan ketergantungan hanya kepada Allah Ta’ala.

Doa merupakan suatu perbuatan yang paling berharga di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tiada sesuatu yang yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala dari pada doa.” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Berdoa berarti menitipkan pahala dan ganjaran kepada Allah Ta’ala, jika permohonan dalam doa itu tidak terkabul di dunia. Ini merupakan hal yang sangat bermanfaat saat menghadap Allah Ta’ala kelak.

Semoga kita termasuk orang-orang yang suka berdoa dan bermunajat kepada Allah. Amin.



Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Friday, 5 February 2016

Beginilah Cerdasnya Teguran Umar bin Khaththab kepada Rakyatnya yang Tidak Shalat Jamaah


Selama beberapa hari terakhir, laki-laki ini tidak ditemukan oleh sayyidina Umar bin Khaththab dalam barisan jamaah shalat Subuh. Sang Khalifah pun berniat mengunjungi rumahnya, siapa tahu laki-laki itu sedang menderita sakit atau berhalangan syar’i.

Pagi harinya, ketika menuju rumah si laki-laki, sayyidina Umar bin Khaththab melihatnya sedang berada di pasar. Sibuk dengan urusan perniagaannya. Pemimpin kaum Muslimin ini pun mengundang laki-laki tersebut, dengan nada agak keras.

Mendengar panggilang sang Khalifah kedua kaum Muslimin ini, laki-laki yang tak disebut namanya itu bergegas, mendatangi sayyidina Umar bin Khaththab dengan ekspresi ketakutan, khas rakyat yang mendatangi panggilan rajanya. Pikirannya juga sibuk menebak, kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga sosok berjuluk al-Faruq ini mengundangnya kala itu.


“Mengapa engkau bersegera mendatangi saat aku menyebut namamu, hai Fulan?” lanjut ayah Hafshah sebelum si laki-laki menjawab, “sementara itu, ketika Allah Ta’ala memanggilmu untuk mendirikan shalat berjamaah, engkau tidak datang! Padahal, aku hanyalah Umar yang tak bisa menolongmu di akhirat!”

Dialog ini bisa kita temukan di banyak riwayat tentang salah satu menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Sosok yang sangat ditakuti oleh setan ini merupakan salah satu sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang jernih jiwa dan pikirannya. Banyak sekali pendapat beliau yang bersesuaian dengan firman Allah Ta’ala dalam banyak kasus.

Dialog ini, sejatinya juga tamparan buat kita semua. Betapa kita ini terlalu sombong dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah Ta’ala. Dengan mudahnya, kita menduakan Allah Ta’ala dengan selain-Nya, dengan atau tanpa disadari, dalam soalan yang besar atau kecil, secara langsung ataupun tidak.

Kita lebih bersegera saat mendapat panggilan pasangan hidup, atasan di tempat kerja, orang tua, atau pemimpin di daerah tempat kita menetap, baik tingkat kecamatan, kabupaten, kota, provinsi maupun negara.

Betapa kita sangat antusias dengan undangan Presiden, misalnya, padahal Allah Ta’ala yang menciptakan Presiden senantiasa mengundang lima kali dalam sehari agar kita mendatangi masjid-Nya untuk beribadah kepada-Nya, lalu kita bersikap acuh dan sama sekali tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa?

Teguran cerdas ini, selain sebagai tamparan buat kita secara individu, sejatinya amat efektif pula jika dipraktikkan kepada anak-anak, adik-adik, pasangan hidup, atau orang-orang yang berada di bawah perwalian/kekuasaan kita.

Semoga dengan teguran ini banyak orang yang tergerak, kemudian bergegas mendatangi adzan sebab menyadarinya sebagai sebuah panggilan yang sangat istimewa.
Wallahu a’lam. 




Sumber: [Pirman/BersamaDakwah]

Thursday, 4 February 2016

Bacaan Shalat Tanpa Menggerakkan Bibir, Bolehkah?


Menghadirkan hati serta khusyu dalam melaksanakan shalat adalah hal yang sangat penting. Ia merupakah intisari dan ruh ibadah shalat, sehingga shalat tanpa menghadirkan rasa khusyu sama seperti jasad tanpa ruh. Untuk menghadirkan rasa khusyu yang maksimal, sebagian orang mungkin ada yang menfokuskan pikirannya dengan membaca lafadh-lafadh shalat di dalam hati, tanpa menggerakkan lidah atau bibir.

Tujuannya mungkin benar, tapi cara yang seperti ini sebenarnya menyelisihi tuntunan Nabi SAW. Dalam melaksanakan shalat, Nabi SAW selalu mengucapkan bacaan shalatnya, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Dalam shalat jahriyah, semua orang yang di belakangnya mendengar suara beliau.

Sedangkan dalam shalat sirriyah, mereka mengetahui bacaan beliau dari gerakan jenggot beliau. Beliau terkadang memperdengarkan bacaan ayat kepada mereka. Berikut ini beberapa dalilnya:

Dalil Pertama

Abu Mu’ammar berkata, “Kami bertanya kepada Khabbab, ‘Apakah Rasulullah membaca (mengucapkan bacaan shalat) dalam shalat Zuhur dan Asar?’

‘Ya, benar,’ jawabnya.

‘Bagaimana kalian mengetahuinya?’ tanya kami lagi.

‘Dari gerakan jenggotnya,’ jawabnya. (HR Bukhari: 746)

Dalil Kedua

Abu Qatadah meriwayatkan bahwa Nabi membaca Ummul Kitab dan dua surat dalam dua rakaat shalat Zuhur. Sedangkan di dua rakaat berikutnya, beliau membaca Ummul Kitab. Beliau memperdengarkan bacaan ayat kepada kami.” (HR Bukhari: 776 dan Muslim: 451)

Dalil Ketiga

Muhammad bin Rusyd berkata, “Menurut pendapat yang benar, bacaan seseorang di dalam hati tanpa gerakan mulut bukanlah bacaan. Karena, bacaan adalah ucapan dengan mulut. Hukuman pun akan dikenakan bila telah diucapkan di mulut. Dalilnya adalah firman Allah:

“… Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya ….” (Al-Baqarah: 286).

Serta sabda Nabi:

‘Allah memaafkan umatnya dari apa yang terlintas dalam hatinya selama tidak diucapkan maupun dikerjakan’.” (HR. Muslim)

Manusia juga tidak akan dihukum karena bacaan atau kebaikan yang dibisikkan di dalam hati, sebagaimana mereka dihukumi karena bacaan yang digerakkan oleh mulut atau perbuatan baik. (Al-Qawlu Al-Mubiin fî Akhthaa’i Al-Mushalliin: 98)

Jadi, meskipun tujuannya ingin meraih rasa khusyu yang sempurna, bacaan shalat tidak semestinya dibaca di dalam hati saja. Namun lisan atau bibir juga harus digerakkan karena demikianlah Rasulullah SAW mengajarkannya. Jika tidak menggerakkan bibir karena ingin mencapai rasa khusyu aja tidak dibenarkan apalagi dilakukan karena ada rasa malas. Wallahu ‘alam bis shawab!



Sumber: Kiblat.net

Wednesday, 3 February 2016

Hidangan Penghuni Surga


Tujuan utama orang-orang beriman di dunia ini adalah beribadah kepada Allah Ta’ala, sementara tujuan utama mereka di akhirat adalah masuk surga dan melihat Wajah Allah.

Sungguh, surga hanya layak bagi orang-orang yang bertakwa. Sebab, Allah telah berfirman,

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 133)

Banyak ayat dan hadits yang menerangkan tentang keadaan surga, penduduknya, dan makanannya. Di antara hadits yang menyebutkannya adalah yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya.

Berikut adalah haditsnya:

1. Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits telah menyampaikan kepada kami, bapakku telah menyampaikan kepadaku, dari kakekku, Khalid bin Yazid telah menyampaikan kepadaku, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Zaid bin Aslam, dari Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda,

“Pada hari kiamat kelak, bumi ibarat sepotong roti yang digerak-gerakkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tangan-Nya, sebagaimana seorang di antara kalian menggerak-gerakkan rotinya dalam perjalanan, yang menjadi hidangan bagi penghuni surga.”

Tiba-tiba datanglah seorang Yahudi, kemudian berkata,

“Semoga Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih) mencurahkan berkah kepadamu, wahai Abul Qasim! Sudikah engkau mendengar informasi dariku mengenai hidangan penghuni surga pada hari kiamat kelak?”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya”

Orang tersebut mengatakan, “Bumi ibarat sepotong roti,” sama dengan yang sampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Mendengar perkataan itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat ke arah kami (para shahabat) kemudian tertawa sampai gigi-gigi geraham beliau kelihatan.

Orang tersebut bertanya kembali, “Sudikah engkau aku beritahukan tentang lauk-pauk mereka?“

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya!“

Orang tersebut menuturkan, “Lauk-pauk mereka adalah palam dan nun.“

Para shahabat lalu bertanya, “Apakah itu?“

Orang Yahudi tersebut menjawab,

“Yaitu banteng dan ikan paus, yang sisa hatinya saja (sebongkah daging yang terpisah dan menempel pada hati) bisa disantap oleh tujuh puluh ribu orang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Yahya bin Habib Al-Haritsi telah menyampaikan kepada kami, Khalid bin Al-Harits telah menyampaikan kepada kami, Qurrah telah menyampaikan kepada kami, Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Hurairah ia mengatakan,

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sekiranya ada sepuluh orang Yahudi yang mengikutiku; maka tidak ada satu pun orang yahudi yang berada di muka bumi ini kecuali dia akan masuk agama Islam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Tafsir hadits

Berkaitan dengan makna Tangan Allah Ta’ala sudah diketahui dan maksudnya bukanlah tangan yang digunakan untuk menyakiti makhluk. Tangan yang dimaksud sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.

Sungguh, Allah Ta’ala berfirman,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ [42]: 11).

Maksud hadits di atas adalah bahwa Allah Ta’ala menciptakan bumi ini seperti roti, yaknik roti yang besar layaknya hidangan bagi penghuni surga. Allah Ta’ala Maha Berkuasa dia atas segala sesuatu.

Perkataan orang Yahudi, “Lauk-pauk mereka adalah palam dan nun.”

Para sahabat bertanya, “Apakah itu?“

Orang Yahudi tersebut menjawab, “Yaitu banteng dan ikan paus, yang sisa hatinya saja (sebongkah daging yang terpisah dan menempel pada hati) bisa disantap oleh tujuh puluh ribu orang.”

Kata النُّوْنُ (nun) berdasarkan kesepakatan ulama maksudnya adalah ikan paus. Sedangkan terkait makna بَالاَمُ, ada banyak pendapat ulama dalam mengartikannya.

Di antara pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh Al-Qadhi dan ulama-ulama peneliti hadits adalah bahwa lafal tersebut berasal dari bahasa ibrani yang maksudnya adalah sapi jantan (banteng).

Oleh karena itu, ketika mendengar kalimat tersebut para shahabat lalu bertanya kepada orang Yahudi; sekiranya kalimat itu dari bahasa Arab; tentu para shahabat memahaminya dan tidak perlu menanyakan maksudnya kepada orang Yahudi itu.

Pendapat inilah yang lebih kuat disbanding yang lainnya.

Sementara itu, lafal, “sisa hatinya“ maksudnya, sebongkah daging yang terpisah dari hati namun menempel padanya, dan itu merupakan bagian yang paling bagus dari hati.

Perkataan orang Yahudi, “bisa disantap oleh tujuh puluh ribu orang.“

Al-Qadhi menafsirkan, “Ada kemungkinan mereka itu adalah tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab; maka diberikan kepada mereka hidangan khusus yang paling bagus.

Ada kemungkinan bahwa juga lafal tujuh puluh ribu itu untuk menerangkan jumlah yang banyak dan bukan hanya untuk membatasi jumlahnya sampai tujuh puluh ribu orang; hal seperti ini sudah dipahami dalam percakapan bahasa arab.“ Wallahu A‘lam.

Sabda Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sekiranya ada sepuluh orang Yahudi yang mengikutiku; maka tidak ada satu pun orang yahudi yang berada di muka bumi ini kecuali dia akan masuk agama Islam.”

Penulis kitab At-Tahrir menjelaskan, sepuluh orang yahudi itu maksudnya ialah sepuluh rabi Yahudi.

Demikian dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim.




Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Monday, 1 February 2016

.ASTAGHFIRULLAH !! Inilah Ciri Ciri 20 Rumah yang Tidak Akan Dimasuki Malaikat


Rumah adalah tempat kita beristirahat dan berkumpul dengan sanak keluarga. Rumah juga adalah tempat kita mengharapkan datangnya rahmat dari Allah, SWT.

Tapi bagaimana jika seandainya tanpa kita sadari rumah yang kita bangun ternyata berisi hal-hal yang dimurkai Allah sehingga malaikat enggan masuk ke dalamnya. Dan bahkan mungkin saja menjadi tempat bersemayamnya para syetan dan jin yang dilaknat.

Rasulullah menjelaskan dalam banyak hadits tentang rumah-rumah tertentu yang tidak akan dimasuki Malaikat Rahmat. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini:

Aku (Abu Thalhah) mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan (atau) gambar patung” (HR. Bukhari)

Dari Abu Thalhah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar”(HR. Muslim)

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak masuk rumah yang padanya terdapat gambar dan anjing serta orang yang junub” (HR. An Nasa’i, dishahihkan Al Albani)

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:“Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani.

Berdasarkan hadits-hadits tersebut, ada sejumlah rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat yaitu:
 
1. Rumah yang di dalamnya ada gambar/lukisan makhluk bernyawa
2. Rumah yang di dalamnya ada anjing.
3. Rumah yang penghuninya junub alias biasa tidak mandi/bersuci dari junub.
4. Rumah yang di dalamnya ada patung.

Selain 4 rumah tersebut, dalam buku Rumah yang Tidak Dimasuki oleh Malaikat, Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad menambahkan rumah-rumah lainnya yang tidak dimasuki oleh Malaikat Rahmat yaitu:

1. Rumah orang yang memutuskan silaturahim
2. Rumah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya
3. Rumah orang yang memakan harta anak yatim
4. Rumah orang yang memakan riba
5. Rumah yang di dalamnya tidak disebutkan Asma Allah
6. Rumah yang tidak ada shalawat di dalamnya dan lebih mementingkan hawa nafsu
7. Rumah yang di dalamnya banyak caci maki dan laknat
8. Rumah yang di dalamnya ada alunan lagu selain dzikir
9. Rumah yang di dalamnya ada lonceng
10. Rumah yang digunakan minum khamr
11. Rumah yang ditempati perjudian dan sajian berhala
12. Rumah yang di dalamnya ada syirik dan mantra-mantra
13. Rumah yang di dalamnya ada bau tidak sedap atau penghuni laki-lakinya melumuri tubuh dengan kunyit
14. Rumah yang penghuninya hidup boros
15. Rumah yang penghuninya terus menerus melakukan kedurhakaan
16. Rumah yang digunakan untuk kekejian, atau dosa besar

Wallahu a’lam bish shawab. .



Sumber: gudanginfo.net / facebook

Sunday, 31 January 2016

Sayang pada Binatang


Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur untuk minum. Tatkala keluar, tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini dahaga sebagaimana yang aku rasakan.” Lalu ia turun lagi ke sumur. Ia penuhi sepatu kulitnya dengan air. Ia bawa sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap yang memiliki hati yang basah, ada pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim. Syaikh Al Albani menyebutkan hadits ini shahih)

Hati yang basah adalah perumpamaan bagi semua makhluk hidup termasuk binatang. Karena makhluk yang mati, hati dan badannya mengering, tidak basah. Karena itulah, Imam Nawawi menyimpulkan kisah di atas bahwa berbuat baik kepada binatang hidup -yang tidak diperintahkan untuk dibunuh-, baik dengan cara memberi minum atau lainnya akan mendapatkan pahala dari Allah.


Termasuk ajaran Islam

Islam mengajarkan untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam semesta. Tidak hanya kepada sesama manusia, namun makhluk lain juga harus mendapatkan pengaruh kasih sayang dari ajaran Islam ini termasuk binatang. Karena Allah telah menciptakan kehidupan binatang bersinggungan dengan kehidupan manusia, bahkan mempermudah kehidupan manusia.
Allah ta’ala telah berfirman,

Dan binatang ternak telah diciptakan-Nya untuk kalian, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, serta sebagiannya kalian makan. Dan kalian memperoleh keindahan padanya, ketika kalian membawanya kembali ke kandang dan ketika kalian melepaskannya. Dan ia mengangkut beban-beban kalian ke suatu negeri yang kalian tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabb kalian benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, baghal dan keledai untuk kalian tunggangi dan sebagai perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” (An Nahl: 5-8)

Dalam sejarah Islam, hubungan antara manusia dengan binatang terjalin dengan baik, contohnya adalah hubungan antara Ashabul Kahfi dengan anjing mereka. Nabi Sulaiman dengan rombongan semut yang beliau perintahkan agar masuk ke lubangnya agar tidak terinjak kaki pasukan nabi Sulaiman. Demikian pula Rasulullah, ketika hijrah ke Madinah beliau mengendarai onta beliau yang bernama Al Qashwa`. Ada pula seorang sahabat yang nama aslinya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Ia gemar membawa kucing kecil hingga Rasulullah memberikan panggilan kesayangan untuknya dengan sebutan Abu Hurairah, yang artinya ayah kucing.


Binatang pun mengadu

Binatang juga merasakan sakit dan kelelahan sebagaimana manusia. Maka Islam melarang membebani dan mempekerjakan binatang diluar kemampuannya.

Suatu saat Rasulullah saw memasuki sebuah kebun milik sahabat Anshar. Di kebun itu terdapat seekor onta, yang tiba-tiba matanya mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah. Akhirnya beliau bertanya,”Siapa pemilik onta ini?” Saat itu seorang pemuda datang dengan mengatakan,”Saya wahai Rasulullah.” Beliau pun menyampaikan,”Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini? Sesungguhnya ia mengadu kepadaku, bahwa engkau membiarkannya lapar dan terus-menerus memaksanya bekerja.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah saw juga bersabda:

“Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah).” (HR. Bukhari)


Membunuh pun dengan cara yang baik

Imam Qurthubi mengatakan bahwa janji Allah swt berupa ampunan dan pahala yang melimpah yang akan diberikan kepada orang yang berbuat baik kepada binatang bukan berarti kita tidak boleh membunuhnya. Kita boleh membunuh binatang jika dengannya akan mendatangkan mashlahah. Contohnya membunuh binatang jahat yang merusak dan banyak mengganggu manusia, merusak tanaman dan memakan ternak. Rasulullah menyebutkan macam-macam binatang tersebut:

“Lima binatang yang semuanya jahat, (boleh) dibunuh di tanah haram (suci) yaitu: burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing yang suka melukai.” (HR. Bukhari)

Namun membunuhnya harus dengan cara yang baik. Tidak boleh dicincang atau dibakar dengan api. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabb yang memiliki api (yaitu Allah)” (HR. Abu Dawud)

Diperbolehkan pula menyembelih binatang yang halal untuk dimakan. Namun dalam masalah menyembelih, Rasulullah memberikan tuntunan sebagai bentuk kasih sayang pada binatang diantaranya dengan menajamkan pisau. Karena pisau yang tumpul akan sulit digunakan untuk menyembelih sehingga binatang yang disembelih tersiksa karenanya. Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguslah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan membuat nyaman binatang sembelihannya.” (HR. Muslim)

Termasuk berbuat baik kepada binatang adalah tidak mengasah pisau yang akan kita gunakan untuk menyembelih di hadapan binatang tersebut, karena akan menyakitinya. Dahulu Nabi saw pernah menegur orang yang melakukan demikian dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini? Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?” (HR. Thabrani dan Baihaqi)


Masuk neraka gara-gara binatang

Bila orang yang berbuat baik kepada binatang mendapatkan ampunan dari Allah, maka sebaliknya orang yang menzhalimi binatang akan diancam dengan adzab-Nya. Nabi saw bersabda:

“Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk neraka, (dimana) dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya, dan dia tidak pula melepaskannya sehingga dia bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah selalu menganugerahkan rasa kasih sayang kepada kita, meski pada binatang. 



Sumber:  Ar Risalah (Abu Hanan)

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes