,

Wednesday, 16 April 2014

Di Balik Kelembutan Suaramu Wahai Ukhti


Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah

Ukhti Muslimah….!!!
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.

Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan:

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (QS: Al Ahzab: 32)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda :
“Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).

Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)

Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)

Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.

Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).

Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.

 Suara wanita di radio dan telepon
“Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?”

Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”

Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.

Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.

Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)

Laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya
Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (QS: Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605)


Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

oleh Ummu Ishaq dan Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim.

Tuesday, 15 April 2014

Amalan Amalan Yang Bermanfaat Bagi Mayit [2]


B. Amalan Yang Berasal Dari Usaha-Usaha Orang Lain

1. Do’a untuk mayit.
Orang yang telah meninggal akan mendapatkan manfaat dari do’a orang lain pada beberapa tempat/waktu yaitu:

a. Do’a ketika akan meninggal atau setelah meninggal
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
“Jika kalian mengunjungi orang yang sakit atau orang yang telah meninggal maka ucapkanlah kebaikan, sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa-apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

b. Do’a untuk mayit dalam shalat jenazah
Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jika kalian menyalatkan jenazah, maka murnikanlah do’a untuknya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyalatkan satu jenazah, lalu saya hafalkan do’anya. Beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, jauhkanlah dia (dari musibah), maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, dengan es dan embun, bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana pakaian yang putih dibersihkan dari kotoran. Berilah ia ganti kampung yang lebih baik dari kampungnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik dari istrinya (di dunia). Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka.” Lalu Auf bin Malik berkata, “Sampai-sampai aku membayangkan sekiranya akulah mayat itu.” (HR. Muslim).

c. Memohonkan ampunan untuk mayit
Dari ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam apabila selesai menguburkan mayat, beliau berdiri lalu bersabda, “Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah keteguhan, sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah sungguh akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Hamba tadi berkata, “Ya Rabb, bagaimana bisa saya mendapatkan derajat ini?” Allah menjawab, “Karena istighfar anakmu untukmu.” (HR, Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebut anak, karena anak yang biasanya beristighfar untuk orang tuanya. Penyebutan anak di sini sebagai keumuman, bukan sebagai pembatasan manfaat hanya dari anak. Maka seorang Muslim mana saja meminta ampun untuk saudaranya Muslim yang lain, niscaya hal itu bermanfaat baginya.

d. Do’a untuk yang telah meninggal ketika kuburannya diziarahi
Dari Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengajari para sahabat jika ziarah kubur, agar hendaklah mereka mengatakan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ
“Semoga keselamatan bagi kalian wahai penghuni kubur dari golongan mu’min dan muslim. Kami insya Allah pasti akan menyusul kalian. Kalian bagi kami adalah pendahulu dan kami bagi kalian adalah pengikut. Aku memohonkan bagi diri kami dan kalian keselamatan.” (HR. Muslim, An-Nasa’i dan Ahmad).

e. Do’a untuk orang-orang yang telah meninggal secara keseluruhan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (para sahabat), mereka mengatakan, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Do’a seorang Muslim untuk saudaranya (sesama Muslim) yang tidak ada di hadapannya merupakan (do’a) mustajabah (dikabulkan). Di dekat kepala orang yang berdo’a tersebut ada malaikat yang ditugaskan, setiap dia berdo’a kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata, “Amin dan semoga kamu mendapatkan hal yang sama.” (HR. Muslim).

Do’a tersebut berlaku bagi orang yang masih hidup dan juga bagi yang telah meninggal dunia.

2. Banyaknya Orang yang Menyalatkan Jenazah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak ada satu jenazah pun yang dishalatkan oleh sekelompok Muslim yang mencapai seratus—semuanya meminta buat si mayat—kecuali permintaan mereka buat si mayat itu diterima.” (HR. Muslim).

Boleh jadi sang mayit juga diampuni dosanya jika dishalatkan oleh kurang dari seratus orang asalkan orang-orang yang menyalatkan itu termasuk orang-orang yang bertauhid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak ada seorang Muslim pun yang wafat, lalu jenazahnya dishalatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, kecuali Allah menerima permintaan mereka buat si mayit itu.”

3. Melunasi Hutang si mayit
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan seorang mayit yang masih memiliki utang, kemudian beliau bertanya, “Apakah orang ini memiliki uang untuk melunasi hutangnya?” Jika diberitahu bahwa dia bisa melunasinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mensholatkannya. Namun jika tidak, maka beliau pun memerintahkan, “Kalian shalatkan aja orang ini.”
Tatkala Allah memenangkan bagi beliau beberapa peperangan, beliau bersabda,

أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّىَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ
“Aku lebih pantas bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.”[ HR. Bukhari no. 2298 dan Muslim no. 1619]

Hadits ini menunjukkan bahwa pelunasan hutang si mayit dapat bermanfaat bagi dirinya.


Sambungan dari http://www.lp3ui.com/2014/04/amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit-1.html

Oleh: Abu Fawwaz

Sunday, 13 April 2014

Telinga Berdenging, Dipanggil Nabi Shallallahu alaihi Wasallam?


Beberapa kali penulis mendapat kiriman ‘menarik’ di Black Berry Massanger (BBM), Whats App maupun Facebook. Begini isi kiriman tersebut,

“TELINGA BERDENGING” Adalah Panggilan Baginda Nabi MUHAMMAD Sholallohu Alaihi Wasallam

Bismillah… Banyak orang bertanya kenapa terkadang telinga bersuara “Nging” ? Apa sebab musababnya, karena musababnya ada yang mengatakan dengan tidak berpedoman, bertahayul dan sangkaan jelek terhadap hal itu?
Sesungguhnya suara “NGING” dalam telinga, itu ialah Sayyidina Rosululloh Saw sedang menyebut orang yang telinganya bersuara “NGING” dalam perkumpulan yang tertinggi (malail a’laa) dan supaya ia ingat pada sayyidina rosululloh Saw dan membaca sholawat.
Hal ini berdasarkan keterangan dari kitab ( AZIZI ‘ALA JAMI’USH SHAGHIR)

“Jika telinga salah seorang kalian berdengung(nging) maka hendaklah ia mengingat aku (Sayyidina Rosululloh Saw) dan membaca sholawat kepadaku.Serta mengucapkan “DZAKARALLOHU MAN DZAKARONII BIKHOIR”; (artinya, Alloh ta’ala akan mengingat yang mengingatku dengan kebaikan)”.

Demikian isi pesan tulisan tersebut. Pertanyaannya, bolehkah riwayat tersebut dijadikan sandaran dalam berkeyakinan dan beribadah?

Keabsahan Riwayat

Riwayat yang dimaksud adalah,
 
إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ ، وَلْيَقُلْ : ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

”Apabila telinga kalian berdenging, hendaklah dia mengingatku, dan membaca shalawat untukku, dan hendaknya dia mengucapkan, ’Semoga Allah mengingat orang yang mengingatkan dengan mendoakan kebaikan.”

Andaikan diasumsikan bahwa riwayat tersebut shahih, sebenarnya tidak ada keterangan bahwa telinga berdenging adalah tanda panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut hanya berisi anjuran untuk membaca shalawat ketika telinga berdenging. Karena itu, tambahan kesimpulan bahwa denging telinga adalah panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas mengada-ada, tak ada landasan untuk meyakininya.

Riwayat tersebut mengandung konsekuensi keyakinan, sekaligus amal ibadah; keyakinan bahwa denging telinga adalah panggilan Nabi, dan amal ibadah yang berupa dzikir khusus.Sehingga keabsahannya harus dipastikan sebagai dalil yang mu’tamad (bisa dijadikan sandaran).

Seperti yang disebutkan dalam postingan di atas bahwa riwayat di atas disebutkan oleh al-Azizi dalam as-Siraj al-Munir atau yang dikenal dengan Azizi ‘Ala Jami’ush Shaghir. Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak setiap riwayat yang terdapat dalam sebuah kitab (meskipun kitab hadits) itu otomatis dianggap shahih. Karena tidak semua ulama hadits membatasi hadits-hadist shahih saja yang dinukil di dalamnya. Termasuk riwayat ini, ternyata banyak disangkal keabsahannya oleh para ulama hadits. Memang Ibnu Khuzaimah menyebutkan juga riwayat ini dalam shahih Ibnu Huzaimah, akan tetapi tentang keshahihannya dinilai mengherankan oleh as-Sakhawi.

Ibnu ‘Alan dalam al-Futuhaat ar-Rabbaniyah menyatakan, “wa sanaduhu dha’if.” Bahkan al-Uqaily menyatakan, “la ashla lahu”, riwayat ini tidak ada asalnya. Sementara Muhammad bin Ubaidillah yang merupakan satu di antara jalur riwayat tersebut dinyatakan Imam Bukhari sebagai “munkarul hadits.” Seperti yang disebutkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah.
Al-Bukhari mengatakan, “Ma’mar wa Abuuhu kilaahuma munkarul hadits.” Ma’mar dan bapaknya, keduanya adalah munkarul hadis.” (al-Laali’ al-Mashnu’ah fi Ahaadits maudhu’ah). Sementara ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan ‘Matruk’, yang ditinggalkan riwayatnya.
Intinya, riwayat ini tidak memenuhi syarat sebagai hadits yang maqbul sehingga tidak bisa dijadikan sebagai acuan.

Bertentangan dengan Kenyataan
Adapun secara matan (konten) riwayat tersebut juga terdapat kejanggalan. Faktanya, telinga berdenging tak hanya dialami oleh orang muslim saja, tapi juga orang-orang kafir. Maka mungkinkah Nabi memanggil mereka dan mengingatkan mereka untuk bershalawat?
Bahkan dunia kedokteran menyebutnya sebagai gangguan pendengaran yang disebut Tinnitus.

Mc Fadden,1962, mengungkapkan bahwa Tinnitus merupakan sebuah gejala telinga berdengung yang dialami seseorang dalam keadaan sadar. Hampir semua orang pernah mengalami masalah yang satu ini.

Penyakit ini terjadi banyak sekali di Negara bagian Amerika Serikat dan mayoritas diderita oleh 10% dari penduduk umum di wilayah tersebut.
Ringkasnya, tak ada dalil sedikitpun bahwa telinga berdenging itu adalah tanda bahwa Nabi shallallahu memanggilnya. Adapun riwayat tentang perintah bershalawat saat telinga berdenging juga tidak shahih secara sanad, dan janggal dari sisi matan. Sebagai bentuk kehati-hatian, hendaknya tidak menyebarkan riwayat tersebut kecuali disertai penjelasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku, sementara terlihat kedustaan (dalam riwayat itu) maka dia termasuk salah satu pembohong.” (HR Muslim)

Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin menjelaskan hadits ini, “Setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia riwayatkan, apakah hadits tersebut shahih ataukah dhaif, masuk dalam ancaman hadis ini.” Wallahu a’lam bishawab. {Oleh Abu Umar Abdillah}

Saturday, 12 April 2014

Shofiyah binti Huyay Putri Tercantik Khaibar



 Tak pernah terpikir oleh Shofiyah binti Huyay dirinya akan menjadi pendamping Rasulullah dan ibu bagi kaum muslimin. Namun, Allah berkehendak menyatukannya dengan sang Nabi. Tidaklah Allah memilih wanita sebagai pendamping Rasulullah, melainkan ia memiliki kelebihan istimewa.
Shofiyah berbeda dengan istri Rasulullah lainnya yang umumnya berasal dari suku Arab. Wanita ini berasal dari Bani Nadhir yang beragama yahudi. Dalam dirinya mengalir darah Bani Israil. Ayah Shofiyah adalah Huyay bin Akhtab, pemimpin sekaligus pemuka agama Bani Nadhir.

Shofiyah menceritakan bahwa ayahnya tahu Yatsrib akan menjadi tujuan hijrah bagi nabi terakhir. Saat tersiar berita bahwa Muhammad SAW telah sampai di Quba’, ayah dan pamannya, Abu Yasir bin Akhtab bergegas menemui Rasulullah mewakili Bani Nadhir. Mereka berangkat sebelum matahari terbit dan baru pulang saat matahari telah terbenam.
Sejak pertama kali melihat Muhammad SAW, Huyay bin Akhtab langsung mengenalinya. Orang Yahudi mengenal ciri-ciri rasul terakhir seperti mengenal anaknya sendiri. Tapi kesombongan menutup cahaya hidayah dari hatinya. Ia kecewa karena Nabi yang ia tunggu ternyata berasal dari anak cucu Ismail, bukan berdarah Bani Israil seperti yang ia harapkan.
“Apakah dia nabi yang kita tunggu-tunggu?” tanya Abu Yasir bin Akhtab saat mereka sampai di gerbang Khaibar.
“Benar,” kata Huyay lunglai sambil mengabaikan Shofiyah yang datang menyambutnya.
“Kamu mengenalinya dari sifat dan ciri-cirinya?” tanya Abu Yasir.
“Ya. Sungguh. Ia nabi yang kita tunggu,” jawab Huyay.
“Lalu apa yang ada dalam hatimu saat pertama kali melihatnya?”
Huyay menjawab, “Kebencian. Sungguh. Sepanjang hayatku, aku akan menjadi musuhnya.”
Esok harinya, Bani Nadhir berkumpul untuk menentukan sikap. Abu Yasir menyarankan untuk mengikuti Muhammad SAW. “Wahai kaumku! Ikutilah aku. Sungguh, Allah telah mendatangkan orang yang selama ini kalian tunggu. Ikutilah dia dan jangan menyelisihinya,” kata Abu Ammar.
Namun Huyay bin Akhtab memilih menjadi musuh Nabi. Tak ia gubris nasehat dan peringatan saudaranya. Pada akhirnya, Bani Nadhir mengikuti pendirian Huyay bin Akthab karena ia ketua kaum.
Sejak awal, Huyay mengarahkan Bani Nadhir membenci Islam. Diam-diam mereka merusak kesepakatan Piagam Madinah untuk saling menghormati dan menjaga. Bahkan, dalam Perang Khandaq sisa-sisa orang Yahudi bekerja sama dengan Musyrikin Arab untuk melibas Islam. Pengkhiatan tersebut mereka tebus dengan harga mahal. Kaum muslimin menghukum mereka setelah kalah dalam Perang Khaibar. Para pria dijatuhi hukuman mati, sedangkan wanita dan anak-anak menjadi tawanan perang.
Shofiyah binti Huyay, putri tercantik dari Khaibar menjadi tawanan perang. Hampir saja Shofiyah menjadi budak Dihyah Al Kalbi. Namun, seorang sahabat mengarahkan Rasulullah SAW agar tidak menyerahkan Shofiyah kepada orang lain dengan beberapa pertimbangan. Rasulullah SAW lalu memanggil Dihyah bersama Shofiyah. Setelah melihatnya, Rasulullah SAW menyuruh Dihyah memilih tawanan lain. Sedangkan Shofiyah beliau pilih untuk beliau pinang. Sejak saat itu Rasulullah SAW memerdekakannya dan menjadikan hal itu sebagai mahar bagi Shofiyah.
Pernikahan Shofiyah dengan Nabi adalah pernikahannya yang ketiga. Sebelumnya, Shofiyah pernah menikah dengan penyair bernama Sallam bin Misykam. Setelah keduanya bercerai, Shofiyah menikah lagi dengan Kinanah bin Abi Huqaiq, seorang penyair yang tewas pada perang Khaibar.
Pernikahan Shofiyah dengan Rasulullah digelar dalam perjalanan pulang ke Madinah dengan acara yang sederhana. Saat itu beliau melihat ada bekas memar di kelopak mata Shofiyah. Beliau bertanya, “Ada apa di kedua matamu?”
Shofiyah lalu menceritakan kejadian unik yang ia alami, “Sebelum anda datang ke sini, aku bermimpi bulan purnama turun di kamarku. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada suamiku. Tiba-tiba suamiku marah dan menamparku. Ia membentak, Apakah engkau mengharapkan penguasa Yatsrib (Madinah)?”
Shofiyah tidak menyangka bahwa bulan purnama itu adalah Rasulullah. Secara fisik, wajah Rasulullah putih dan cerah bak bulan purnama. Mimpi yang dilihat Shofiyah sebenarnya adalah sebuah isyarat dari Allah.
Pernikahannya dengan Rasulullah mengantarkannya untuk memeluk agama Islam. Agama yang sebelumnya ia benci, kini sangat ia cintai. Rasulullah yang sebelumnya ia benci kini menjadi orang yang paling ia kagumi.
Kecantikan Shofiyah dibanding istri nabi yang kadang memancing kecemburuan. Suatu ketika, ia mendengar Hafshah dan Aisyah mengungkit-ungkit asal-usulnya dari orang Yahudi. Betapa sedih perasaannya, hingga ia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis.
Rasulullah menghiburnya, “Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku? suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.”
Rasa cemburu terhadap Shofiyah juga pernah muncul dari Zainab. Ketika itu keluarga besar Rasulullah berangkat bersama untuk menunaikan Haji Wada’. Unta yang dikendarai Shofiyah kelelahan hingga tak mampu berjalan. Sementara itu, unta Zainab binti Jahsyi berlebih. Rasulullah meminta Zainab memberikan salah satu untanya untuk membawa Shofiyah.
Namun Zainab menjawab ketus, “Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?”
Kata-kata itu berbuntut panjang. Rasulullah menegur zainab atas kalimat pedasnya. Tak hanya itu, beliau tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan hingga zainab sangat menyesal.
Asal-usul Shofiyah juga pernah mengundang masalah. Suatu ketika salah satu budak wanitanya menemui Umar dan mengatakan omongan miring tentang Shofiyah. Dua hal yang disebutnya; Shofiyah masih suka hari sabtu dan kerap mengunjungi orang-orang yahudi. Umar yang saat itu menjabat sebagai khalifah tak langsung percaya dengan berita itu. Ia pun menemui Shofiyah untuk mengklarifikasi berita tersebut.
Shofiyah lalu meluruskan berita itu. “Adapun hari sabtu, aku tidak lagi menyukainya sejak Allah menggantikannya dengan hari jumat untukku. Lalu mengapa aku sering menjenguk orang Yahudi, karena aku sebagian keluargaku masih ada yang bergama yahudi. Sampai sekarang aku masih menjaga tali silaturrahim dengan mereka.”
Bagi Shofiyah, masalah-masalah yang dihadapinya itu tak lebih dari riak-riak ujian untuk membuktikan keimanan. Shofiyah memang pernah beragama Yahudi, tapi itu adalah masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam. Sejarah Islam mencatatnya sebagai Istri Rasulullah dan ibunda bagi kaum muslimin. [arrisalah.net]

Amalan Yang Bermanfaat Bagi Mayit [1]


Sesungguhnya manusia berdasarkan fitrahnya, diciptakan senang memberikan manfaat kepada orang yang telah meninggal dunia, dengan anggapan bahwa amalan yang mereka kerjakan itu bisa memberikan manfaat kepada si mayat ketika berada di dalam kuburan dan setelah ia dibangkitkan darinya.

Di antara amalan yang paling banyak dilakukan oleh umat Islam dewasa ini adalah tahlilan dan yasinan, yaitu dengan memperingati hari-hari tertentu dari kematian seseorang dengan anggapan bahwa itu dapat membantu perjalanan roh orang yang meninggal menuju akhirat. Padahal hal ini sama sekali tidak pernah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka perbuatan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka ada beberapa amalan yang pahalanya bisa terus mengalir bagi seseorang meskipun ia telah meninggal dunia. Diantaranya adalah:
A. AMALAN DARI PERBUATANNYA SENDIRI SEBELUM MENINGGAL
1. Shadaqah jariyah
Shadaqah jariyah adalah suatu ketaatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala, agar orang-orang umum bisa memanfaatkan harta yang disedakahkannya tersebut sehingga pahalanya mengalir baginya sepanjang barang tersebut masih ada.

Para ulama telah menafsirkan shadaqah jariyah dengan wakaf untuk kebaikan. Seperti mewakafkan tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun kurma, mushaf Al-Qur’an, kitab yang berguna, dan lain sebagainya. Disini merupakan dalil disyariatkannya mewakafkan barang yang bermanfaat dan perintah untuk melakukannya, bahkan itu termasuk amalan yang paling mulia yang bisa dilakukan seseorang untuk kemuliaan dirinya di akhirat. Yang pertama ini bisa dilakukan oleh para ulama maupun orang awam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ إِبْنُ آدَمَ إِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِه, أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo’akannya.” [HR. Muslim, HR. Muslim (5/73), Imam Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.8, Abu Daud (2/15), an-Nasa’i (2/129), ath-Thahawi di dalam Al-Musykil (1/85), al-Baihaqi (6/278), dan Ahmad (2/372). Lihat Ahkamul Jana-iz Wa Bida’uha oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal.224].

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Ilmu yang Bermanfaat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ
“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah).

Sama saja apakah dia mengajarkan ilmu tersebut kepada seseorang atau berupa buku yang orang-orang mempelajarinya setelah kematiannya.

وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِى الْمَاءِ 
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Orang yang mengajarkan kebaikan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai ikan-ikan yang ada di dalam lautan.” (HR. Al-Bazzar).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan selainnya).

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Hal ini (yakni ilmu yang bermanfaat) bisa dilakukan dengan cara seseorang mengajarkan ilmu kepada manusia perkara-perkara agama mereka. Ini khusus bagi para ulama yang menyebarkan ilmu dengan cara mengajar, mengarang dan menuliskannya. Orang yang awam juga bisa melakukannya dengan cara ikut serta di dalamnya berupa mencetak kitab-kitab yang bermanfaat atau membelinya lalu menyebarkannya atau mewakafkannya. Juga membeli mushaf lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan atau meletakkannya di masjid-masjid. Hal ini menganjurkan kita untuk mempelajari ilmu dan mengajarkannya, menyiarkannya dan menyebarluaskan kitab-kitabnya agar bisa mengambil manfaat sebelum dan sesudah kematian dia. Manfaat ilmu akan tetap ada selama di permukaan bumi ini masih ada seorang muslim yang sampai kepadanya ilmu tersebut. Berapa banyak ulama yang meninggal semenjak ratusan tahun yang lalu tetapi ilmunya masih ada dan dimanfaatkan melalui kitab-kitab yang telah dikarangnya lalu dipakai dari generasi ke generasi sesudahnya dengan perantara para muridnya kemudian para pencari ilmu setelah mereka. Dan setiap kali kaum muslimin menyebutkan nama dia, mereka selalu mendoakan kebaikan dan mendoakan agar Allah merahmati dia. Ini adalah fadhilah (keutamaan dan karunia) dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Berapa banyak generasi yang diselamatkan Allah dari kesesatan dengan jasa seorang ulama, maka ulama itu mendapatkan seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat”.

3. Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia
Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39).

Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.”[ HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.
Namun sayang, orang tua saat ini melupakan modal yang satu ini. Mereka lebih ingin anaknya menjadi seorang penyanyi atau musisi –sehingga dari kecil sudah dididik les macam-macam-, dibanding anaknya menjadi seorang da’i atau orang yang dapat memberikan manfaat pada umat dalam masalah agama. Sehingga orang tua pun lupa dan lalai mendidik anaknya untuk mempelajari Iqro’ dan Al Qur’an. Sungguh amat merugi jika orang tua menyia-nyiakan anaknya padahal anak sholih adalah modal utama untuk mendapatkan aliran pahala walaupun sudah di liang lahat.

4. Apabila manusia, hewan atau burung memakan tanaman milik orang yang telah meninggal dunia
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya (orang yang menanam). Dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan apa yang dimakan oleh seekor burung dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Dan tidaklah dikurangi atau diambil oleh seseorang dari tanaman tersebut kecuali merupakan sedekahnya.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi berkata mengomentari hadits di atas, “Hadits ini menunjukkan keutamaan menanam dan mengelola tanah, dan bahwa pahala orang yang menanam tanaman itu mengalir terus selagi yang ditanam atau yang berasal darinya itu masih ada sampai hari kiamat.”


Hal ini berbeda dengan shodaqoh jariyah, karena tanaman itu tidak dimaksudkan (diniatkan) sebagai shodaqoh jariyah, akan tetapi hasil yang dimakan dari tanaman ter-sebut menjadi shodaqoh jariyah tanpa keinginan dari pemiliknya atau ahli warisnya.

5. Bersiaga di jalan Allah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
“Bersiaga di jalan Allah (menjaga jika musuh menyerang) sehari semalam lebih baik dari pada puasa dan mendirikan shalat satu bulan, dan apabila (orang yang bersiaga tersebut) meninggal dunia maka amalan yang sedang dia kerjakan tersebut (pahalanya terus) mengalir kepadanya, rezekinya terus disampaikan kepadanya dan dia terjaga dari ujian (kubur).” (HR. Muslim).

6. Menggali kubur untuk mengubur seorang Muslim
Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang memandikan jenazah dan ia menyembunyikan cacat jenazah tersebut, niscaya dosanya diampuni sebanyak 40 dosa. Dan barangsiapa yang mengafani jenazah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya kain sutera yang halus dan tebal dari surga. Dan barang siapa yang menggali kuburan untuk jenazah dan dia memasukkannya ke dalam kuburan tersebut, maka dia akan diberi pahala seperti pahala membuatkan rumah, yang jenazah itu dia tempatkan (di dalamnya) sampai hari kiamat.” (HR. Al Baihaqi dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini sesuai syarat Imam Muslim”, dan Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya).


Bersambung....

Friday, 11 April 2014

Faedah-Faedah Shalat Berjama’ah


Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan 12 faidah yang bisa dipetik dari shalat berjama’ah, yaitu :

Pertama, terjalinnya rasa kasih sayang antara sesama umat Islam. Karena dengan perjumpaan orang satu dengan yang lain dan juga dengan terjadinya saling jabat tangan di antara mereka tentu akan menumbuhsuburkan rasa kasih sayang di antara sesama mereka.

Kedua, saling terjadi perkenalan. Sehingga akan kita temui apabila ada orang lain yang belum dikenal shalat di samping mereka niscaya mereka akan bertanya siapakah orang yang shalat bersama kita ini? Maka dengan itulah kemudian terjadi saling kenal. Dan dengan ta’aruf (saling kenal) itu terdapat faidah lain yaitu jika ternyata orang itu termasuk sanak kerabat anda maka wajib bagi anda untuk menyambung silaturahim dengannya sesuai dengan kedekatan garis kerabat yang dimilikinya.

Ketiga, menampakkan salah satu syi’ar Islam. Karena shalat termasuk salah satu syi’ar Islam yang terbesar. Sehingga jika orang-orang dibiarkan saja untuk shalat di rumah mereka masing-masing tentulah tidak akan mudah diketahui oleh khalayak kalau ternyata ada ibadat shalat.

Keempat, untuk menampakkan kewibawaan umat Islam, yaitu ketika para jama’ah masuk secara berbarengan ke masjid dan keluar darinya secara bersama-sama

Kelima, untuk mengajari orang yang jahil (belum tahu). Karena kebanyakan orang bisa mengambil faidah tentang tata cara shalat yang disyari’atkan melalui media shalat jama’ah. Dimana seseorang bisa mencontoh makmum yang di sampingnya. Begitu pula makmum bisa mencontoh imamnya, dan faedah lain yang serupa.

Keenam, melatih umat Islam untuk bersatu padu dan tidak berpecah belah. Karena di dalamnya para makmum akan senantiasa bersatu mengikuti seorang imam. Sehingga apabila ditinjau dengan pandangan yang lebih luas lagi akan bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk bersatu di bawah kepemimpinan seorang imam sehingga umat ini tidak akan berselisih dan bercerai berai.

Ketujuh, mengendalikan diri. Karena apabila orang sudah terbiasa untuk terus menerus mengikuti imam secara detail, “Jika imam bertakbir maka iapun takbir. dst” tidak berlambat-lambat, tidak mendahului dan juga tidak berbarengan tetapi mengikuti, maka dengan cara ini seorang insan tentu akan terlatih untuk bisa mengendalikan diri.

Kedelapan, kaum muslimin akan merasakan bahwa mereka adalah seolah-olah dalam satu barisan mujahid di medan jihad. Allah ta’ala berirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Allah dengan bershaf-shaf.” (QS. ash Shaff [61] : 4). Orang yang sudah terbiasa diatur dalam barisan shalat niscaya akan mudah pula diatur ketika berada di barisan jihad.

Kesembilan, munculnya rasa kesamaan di antara kaum muslimin. Karena ketika itu orang yang kaya dan miskin bersatu, pemimpin dan rakyat bersatu, tua muda berkumpul, sehingga mereka akan merasakan kesejajaran. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika meluruskan shaf “Janganlah kalian berselisih (tidak lurus dan tidak rapat shafnya, red) , karena itu akan membuat hati-hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)

Kesepuluh, bisa mengetahui keadaan saudaranya yang mungkin sakit sehingga tidak hadir shalat jama’ah, kemudian menjenguknya, dsb. Atau apabila saudaranya sedang kesusahan maka bisa dibantu. Allahu akbar, indah sekali syari’at Islam ini !!

Kesebelas, berkumpul untuk beribadah kepada Allah.
Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila banyak orang bisa berkumpul untuk menyaksikan permainan sepak bola, bahkan jumlah mereka itu bisa mencapai beribu-ribu orang. Maka sesungguhnya mereka itu berkumpul untuk permainan dan kesia-siaan yang tidak ada faidahnya sama sekali, kecuali sedikit manfaat bagi para pemainnya saja. Adapun para penontonnya, maka jika dilihat secara keseluruhan (bukan perindividu, red) tidak ada manfaat yang bisa mereka peroleh. Sehingga saya katakan : Apabila mereka berkumpul untuk ini (shalat jama’ah) maka perkumpulan mereka dalam melaksanakan shalat –yang ia merupakan rukun Islam terbesar setelah syahadatain- merupakan ibadah yang sangat agung kepada Allah ‘azza wa jalla. Sehingga dengan cara itu mereka telah menunaikan ibadah agung ini…” (Syarh Shalat Jama’ah, hal. 18).

Renungkanlah ucapan seorang ‘alim ini saudaraku. Betapa banyak orang bisa ‘berjama’ah’ untuk menonton sepak bola, betapa banyak orang bisa berkumpul untuk kampanye partai sampai-sampai jalanan jadi macet, betapa banyak orang bisa berkumpul untuk antri sembako, antri BBM, betapa banyak orang bisa berkumpul untuk melihat pameran komputer, betapa banyak orang bisa berkumpul untuk ikut rombongan pendakian gunung, betapa banyak orang bisa berkumpul untuk konser musik atau konser nasyid, tetapi untuk shalat jama’ah, untuk ikut pengajian, dll kenapa kok tidak bisa sebagaimana ketika berjubel di pasar, di gedung pameran, di stadion atau di alun-alun??

Keduabelas, generasi akhir umat ini akan merasa terikat dengan generasi awalnya. Yaitu tatkala mereka menjadi makmum sebagaimana dahulu para sahabat juga menjadi makmum. Salah satu dari mereka menjadi imam, sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi imam bagi para sahabat radhiyallahu’anhum. Sehingga masing-masing akan merasakan bahwa mereka sedang meneladani sosok-sosok yang mulia. Dengan demikian niscaya muncul dorongan yang sangat kuat bagi umat Islam sekarang ini untuk bisa mengikuti generasi Salaf dan petunjuk mereka.

Duhai alangkah indahnya, seandainya setiap kali melakukan sebuah amalan syari’at kita bisa merasakan hal seperti ini. Yaitu kita merasa sedang berusaha untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Sesungguhnya dengan demikian niscaya orang akan memiliki motivasi yang sangat kuat di dalam hatinya yang akan mendorongnya untuk bergabung meniti jalan salafu sholeh (Syarh Shalatil jama’ah, hal. 18, silakan baca buku ini hal. 17-18)


Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes