,

Monday, 2 May 2016

Beberapa Larangan Terkait Kuburan (Bagian 2)


Jika Anda mengatakan, “Bagaimana jika seseorang membangun di atas kuburan dengan asumsi untuk menjaganya?”

Kami katakan, penjagaan terhadap kuburan tidak harus dengan melakukan hal tersebut, seperti bisa dibuatkan pagar yang mengelilingi pekuburan secara umum jika memang itu di kuburan umum, atau hanya satu kuburan saja.

Adapun jika ada kekhawatiran akan dibongkarnya kuburan, maka kuburan tersebut diratakan dengan tanah.
Oleh karena itu, para ulama mengatakan,

“Jika seorang muslim meninggal dunia di negeri kafir, lalu dikhawatirkan akan dibongkarnya kuburannya, maka kuburan tersebut diratakan dengan tanah.”

Maksudnya, tidak ditampakkan, karena adanya kekhawatiran terhadapnya. Jadi, jika seseorang khawatir terhadap keamanan kuburan orang lain, maka kekhawatirannya bisa dihilangkan dengan cara lain selain membangun bangunan di atasnya.

Sebab, bagaimana pun juga, membangun bangunan di atas kuburan hukumnya haram.

4. Adanya konsekuensi hukum terkait satu wasilah (perantara), dan bahwa wasilah memiliki hukum sama dengan tujuannya.

Ini merupakan kaidah syariah yang dipandang sebagai hujjah oleh para ulama.
Kaidah ini memiliki dalil yang cukup banyak di antaranya hadits yang telah disebutkan di atas. Dalil lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

“Dan Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (QS. Al-An’aam: 108)

Hal itu disebabkan karena ketika memaki sesembahan orang-orang kafir, maka itu menjadi penyebab dimakinya Allah Ta’ala. Sehingga, Allah Ta’ala melarang memaki sesembahan orang-orang kafir.

Karena wasilah (perantara) memiliki hukum yang sama dengan tujuannya.

5. Syariat menutup semua jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan, meskipun jalan itu jauh.
Hal ini tercermin dari larangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengapuri dan membangun kuburan.
6. Haramnya menghinakan kuburan, berdasarkan perkataannya, “Duduk di atasnya (kuburan).”

Di antara bentuk menghinakan kuburan adalah mengencinginya atau berak di atas atau di sekitarnya.
Oleh karena itu, para ulama menuturkan,

“Diharamkan kencing di antara kuburan dan di atasnya, demikian pula berak. Sebab, dalam perbuatan tersebut terkandung penghinaan terhadap kuburan, sementara kuburan itu dimuliakan.”

Jika seseorang mengatakan, “Apakah bisa disimpulkan dari perkataannya, “Duduk di atasnya (kuburan),” sebagai dasar perlindungan terhadap kuburan?”

Kita katakan, bisa saja disimpulkan demikian, meskipun terkadang seseorang mengatakan,

“Kuburan pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidaklah berdinding?”

Hal tersebut bisa dijawab, bahwa memberi perlindungan terhadap kuburan bukanlah perkara yang dilarang, bahkan itu merupakan perantara untuk melindungi kuburan dari penghinaan.

Alasannya, jika kuburan tidak diberi dinding mungkin saja orang-orang akan menghinakannya, atau mungkin saja mereka berbuat jahat terhadap tanah kuburan sehingga mereka memasukkan sebagian tanah kuburan kepada tanah milik mereka.
Wallahu A’lam.





Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Sunday, 1 May 2016

Beberapa Larangan Terkait Kuburan


Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temui hal-hal yang terlarang dalam agama terkait kuburan. Hal itu terjadi karena karena banyak kaum muslimin yang tidak mengerti hukum-hukum yang berkaitan dengan kuburan.

Di antara hal-hal yang terlarang tersebut adalah seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Bulughul Maram.

Hadits tersebut adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam melarang mengapuri kuburan, duduk di atasnya (kuburan), serta membangunnya (kuburan).” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dapat kita petik beberapa hukum seperti yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram yaitu sebagai berikut:

1. Haramnya mengapuri kuburan, sesuai dengan perkataannya, “Melarang,” sedangkan hukum asal bagi larangan adalah haram, sampai adanya dalil yang memalingkannya dari makna haram.

Di samping itu, karena menghiasi kuburan itu dapat menghantarkan pada sikap berlebihan sehingga menyebabkan penyembahan terhadap orang yang ada di dalamnya.

Sementara itu, sesuatu yang menyebabkan atau menjadi perantara kepada hal-hal yang haram, maka ia dihukumi haram juga.

2. Haramnya duduk di atas kuburan.

Hal ini berdasarkan perkataannya, “Duduk di atasnya (kuburan),” hukumnya adalah haram.
Telah valid sebuah riwayat dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga menghanguskan pakaiannya, kemudian membakar kulitnya, maka itu lebih baik baginya daripada dia duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan akan tegasnya pengharaman duduk di atas kuburan.

3. Haramnya membangun kuburan.

Hal ini berdasarkan perkataannya, “Serta membangunnya (kuburan).”

Seandainya seseorang mengatakan, “Apa yang semestinya kita lakukan jika masalahnya bahwa kuburan sudah terlanjur dibangun, dan di atasnya sudah diletakkan kapur?”

Kita katakan, wajib dimusnahkan bangunan yang ada di atas kuburan tersebut; karena sesuatu yang haram tidak boleh dibiarkan.

Atas dasar ini, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk menghancurkan semua kubah yang dibangun di atas kuburan; karena itu merupakan bangunan yang haram yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam

Apa saja yang dilarang oleh beliau tidah boleh dilakukan, tidak boleh pula dibiarkan ketika ada kemampuan untuk menghilangkannya.


Bersambung..




Sumber: [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Saturday, 30 April 2016

Islam Menepis Mitos Sial Bulan Shafar (bag.2)


Akibat Thiyarah

Seseorang yang sudah terbiasa melakukan thiyarah, maka hidup ini akan terasa sempit baginya. Dia akan selalu dihinggapi oleh rasa khawatir. Perasaan takut akan bernasib sial selalu terbayang di benaknya. Setiap kali mendengar atau melihat pemandangan yang tidak disukainya, muncul anggapan bahwa itu pertanda ia akan bernasib sial. Sehingga ia pun takut untuk melakukan aktivitasnya ketika itu.

Setiap kali akan mengadakan acara tertentu, ia pun memilih hari-hari yang menurut keyakinannya adalah hari baik, sehingga iapun benci, anti, dan bahkan terkadang sampai mencela hari, bulan, maupun waktu-waktu tertentu lainnya yang dianggap hari nahas.

Barangsiapa yang menganggap sial waktu tertentu atau mencelanya, maka sungguh berarti ia telah mencela dan menganggu Dzat Yang menciptakannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Anak Adam (manusia) menyakiti-Ku, (dengan) mencela waktu. Padahal Aku adalah pengatur waktu, Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. al-Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246)

Bangsa Arab jahiliah dahulu terbiasa menyandarkan berbagai musibah dan kesusahan yang mereka alami kepada waktu tertentu. Sehingga ketika terjadi musibah, mereka pun mencela waktu saat terjadinya musibah tersebut. Dalam hal ini, berarti mereka telah mencela Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat yang menciptakan dan mengatur waktu.

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa sebanyak 70.000 orang dari umatnya akan masuk ke dalam surga secara langsung tanpa melalui proses hisab (perhitungan amalan) dan tanpa merasakan adzab di neraka terlebih dahulu. Di antara ciri mereka adalah tidak pernah melakukan thiyarah (HR. al-Bukhari no. 6541, dan Muslim no. 220). Berarti orang yang melakukan thiyarah akan terhalangi dari meraih keutamaan ini.

Akhir Kata

Semestinya bagi umat Islam untuk memperbanyak doa, zikir, dan amal shalih di setiap waktunya. Tidak hanya di bulan Shafar saja, namun juga di bulan-bulan yang lain. Di samping itu, kemaksiatan dan segala bentuk kemungkaran harus dijauhi. Apalah artinya seseorang rajin beribadah, namun ia masih tetap saja bergelimang dengan maksiat, riba, tidak jujur, menipu, menggunjing tetangga, korupsi, bermain suap, kesyirikan, dan keengganan dalam menjalankan sunnah Rasul jelas merupakan kemungkaran yang akan mendatangkan bencana dan murka Allah. Allah berfirman (artinya),  

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Para pembaca rahimakumullah. Tidaklah musibah itu datang karena mengadakan acara hajatan di bulan Shafar. Tidak pula azab Allah subhanahu wa ta’ala itu menimpa karena tidak menjalankan ritual khusus di bulan Shafar. Sebaliknya, ketika bencana itu tidak menimpa seseorang, maka bukan karena ia telah menunaikan semua prosesi ritual di bulan Shafar yang diada-adakan sendiri tanpa ada bimbingan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketahuilah bahwa adzab Allah subhanahu wa ta’ala, bencana, dan bala’ itu tidak akan turun menimpa hamba selama hamba tersebut beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar dan bersyukur kepada-Nya dengan sebenar-benarnya syukur. Allah berfirman (artinya),  

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?” (An-Nisa`: 147)

Di antara bentuk keimanan yang benar adalah menjauhkan diri dari segala bentuk thiyarah. Yakin bahwa tidak ada hari, tanggal, atau bulan tertentu yang dapat mendatangkan kesialan. Segala musibah yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tentukan pasti akan menimpa siapapun, kapanpun, dan di manapun tanpa ada hubungannya sedikitpun dengan waktu atau keadaan tertentu.
Demikian pula banyak beristighfar (meminta ampun), akan mencegah datangnya azab Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),  

“Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal: 33)

Maka hendaknya masing-masing kita mengoreksi diri, sudahkah iman ini dan keyakinan kita benar dan bersih dari segala yang mengotorinya? Sudahkah diri ini bersyukur atas nikmat yang selama ini dirasakan? Sudahkah hati ini jujur dalam meminta ampun, bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan kembali ke jalan-Nya?
        
Wallahu a’lam bish shawab.





Sumber: Alilmu.net [Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullaahu ta’aalaa]

Friday, 29 April 2016

Islam Menepis Mitos Sial Bulan Shafar


Dahulu, orang-orang Arab jahiliah memiliki keyakinan yang salah terhadap bulan Shafar. Mereka menganggap bahwa bulan kedua penanggalan hijriyah tersebut adalah bulan sial dan bisa mendatangkan bencana. Sehingga pada bulan itu, mereka tidak mau melakukan aktivitas yang biasa mereka lakukan pada bulan-bulan lainnya, seperti pernikahan dan lain sebagainya.

Mitos Bulan Shafar di Negeri Ini

Sangat disayangkan, kepercayaan dan tradisi Arab jahiliah tersebut masih dianut oleh sebagian umat Islam di dunia, termasuk sebagian kaum muslimin di negeri ini. Menurut mereka, bulan Shafar memiliki sifat yang hampir sama dengan bulan sebelumnya, yaitu bulan Muharram (Suro). Diyakini bahwa kedua bulan ini merupakan bulan yang penuh bala’, malapetaka, dan membawa sial. Sebagian umat Islam di negeri ini masih mempercayai bahwa bulan Muharram dan Shafar dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan. 

Sehingga mereka pun beranggapan bahwa bulan tersebut merupakan saat yang tidak baik untuk mengadakan acara-acara penting semacam pernikahan, khitanan, membangun rumah, pindah rumah, dan sebagainya.

Bahkan di beberapa tempat, saat memasuki bulan Shafar, sebagian orang menyibukkan diri dengan melakukan tirakat dan bershadaqah hingga berlalunya bulan ini. Lalu pada puncaknya, yaitu pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, mereka melaksanakan berbagai ritual dalam rangka memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dijauhkan dari bencana dan malapetaka, bahkan sebagiannya menuliskan rajah-rajah tertentu di kertas lalu dimasukkan ke dalam bak mandi, sumur, dan tempat-tempat penampungan air lainnya. Walaupun banyak kalangan yang menilai bahwa ritual seperti ini merupakan penyimpangan karena tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sedikit kaum muslimin yang masih saja meneruskan dan melestarikannya.

Thiyarah Telah Dihapus oleh Islam

Dalam kamus syari’at, anggapan atau keyakinan di atas dinamakan dengan tathayyur atau thiyarah, yaitu menganggap datangnya kesialan (nasib buruk) semata-mata bersandarkan pada apa yang dilihat, didengar, atau dengan bersandarkan pada waktu tertentu. (Lihat al-Qaulul Mufid).

Contoh menganggap datangnya kesialan semata-mata dengan bersandarkan pada apa yang dilihat adalah sebagaimana juga kebiasaan orang Arab jahiliah, bahwa ketika hendak bepergian atau melakukan aktivitas tertentu, mereka menerbangkan seekor burung. Kemudian dilihat apakah burung tersebut terbang ke arah kanan atau ke arah kiri. Kalau ke arah kanan, mereka meyakini adanya keberuntungan sehingga mereka meneruskan aktivitasnya. Dan sebaliknya, kalau ke arah kiri, mereka mengurungkannya. Karena mereka menganggap hal ini pertanda akan datangnya nasib buruk kalau mereka tetap melanjutkan aktivitasnya.

Adapun contoh menganggap datangnya kesialan semata-mata bersandarkan pada apa yang didengar adalah keyakinan bahwa orang yang mendengar suara burung tertentu berarti sebentar lagi akan mengalami nasib buruk, atau setidaknya akan mendengar berita yang tidak disukainya.

Sedangkan contoh menganggap datangnya kesialan semata-mata dengan bersandarkan pada waktu tertentu adalah beranggapan bahwa pada waktu-waktu tertentu, seseorang tidak boleh mengadakan acara semacam pernikahan, khitanan, atau yang lainnya karena hal itu tidak akan membawa keberuntungan bagi yang punya hajat. Biasanya waktu-waktu yang dimaksud di sini adalah bulan Muharram, Shafar, hari Rabu, malam Jum’at, dan sebagainya.

Orang-orang Arab jahiliah sejak dahulu terus berada di atas aqidah dan kepercayaan yang menyimpang ini. Dikatakan menyimpang karena nampak sekali bahwa orang yang terjatuh ke dalam perbuatan thiyarah menunjukkan lemahnya iman dan tauhid dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini disebabkan karena orang yang melakukan thiyarah berarti telah meyakini bahwa kejelekan dan nasib buruk yang menimpa itu tidak lain disebabkan oleh makhluk, baik waktu, tempat, ataupun kejadian yang dilihat atau didengar. 

Sementara ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya segala yang menimpa hamba itu, dari nasib yang baik maupun yang buruk merupakan ketentuan dan taqdir Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, maka musibah, bencana, dan kesialan itu pasti akan datang dan bisa menimpa siapapun, kapanpun dan di manapun hamba berada.

Musibah itu datang bukan karena mendengar suara burung hantu atau burung gagak. Nasib buruk itu menghampiri seseorang bukan karena melihat kucing hitam di tengah jalan yang ia lewati. Demikian pula ketidakharmonisan rumah tangga itu bukan disebabkan pernikahan yang dilangsungkan di bulan Muharram atau bulan Shafar.

Thiyarah ini terus menjadi tradisi di kalangan bangsa Arab jahiliah, hingga datanglah Islam yang kemudian meluruskan keyakinan yang bengkok ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar, tidak ada (kesialan) pada burung hantu.” (HR. al-Bukhari no. 5717, dan Muslim no. 2220)

Hadits ini merupakan sanggahan terhadap mitos dan kepercayaan orang-orang jahiliyyah, bahwa penyakit bisa menular dengan sendirinya tanpa adanya taqdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak ada (kesialan) pada burung hantu,” mengandung penghapusan terhadap keyakinan orang-orang jahiliyyah, yaitu apabila burung tersebut hinggap di rumah mereka, maka mereka akan mendapat kesialan, seraya mengatakan, “Burung ini membawa kabar buruk tentang aku atau salah seorang penghuni rumahku.” Sehingga ia pun meyakini bahwa dirinya atau salah satu anggota keluarganya akan tertimpa musibah, sebagai bentuk kesialan dari burung tersebut. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menepis dan membantah keyakinan ini.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar,” adalah bantahan terhadap orang-orang jahiliah dahulu yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa bulan tersebut tidak bisa memberikan pengaruh apa-apa. Bulan tersebut sama seperti bulan-bulan lainnya.

Dalam Islam, tidak ada bulan maupun hari yang dianggap buruk atau mendatangkan kesialan karena semua itu adalah sebatas anggapan manusia semata. Tidak ada seorang pun yang memiliki pengetahuan -walaupun sedikit- tentang hari baik maupun hari buruk. Dengan tegas Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa bencana yang menimpa itu justru terjadi akibat dari perbuatan manusia itu sendiri, bukan karena hari sial atau yang semisalnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),  

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS :  Asy-Syura: 30)




Bersambung..........





Sumber: Alilmu.net [Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullaahu ta’aalaa]

Thursday, 28 April 2016

Konsekuensi Dua Kalimat Syahadat


Rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu Asyhadu Alla Ilaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Dua kalimat syahadat itu mempunyai konsekuensi tersendiri, yaitu diucapkan dengan lidah, dibenarkan oleh hati, dan dipraktikkan dengan amal dan perbuatan.

Di samping itu, seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat harus menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan kalimat tersebut yang mana bisa berpengaruh pada keimanannya.
Adapun terkait konsekuensi kalimat syahadat ini Syaikh Shalih Al-Fauzan pernah ditanya,

“Syahadat “La Ilaha illallah” adalah kunci masuk agama Islam dan pondasinya yang paling mendasar, apakah seseorang dengan mengucapkannya saja tanpa beramal bisa dikategorikan sebagai orang Islam?
Di samping itu, apakah agama samawi (langit) selain Islam diturunkan dengan membawa kalimat seperti ini?”
Syaikh menjawab sebagai berikut:

Barangsiapa yang mengucapkan kalimat syahadat Asyhadu Alla Ilaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dinyatakan bahwa dia telah masuk Islam dan haram darahnya (tidak boleh dibunuh).

Jika seseorang mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin maka dia adalah seorang muslim yang hakiki dan mendapatkan kesenangan dunia dan akhirat.

Jika dia mengamalkan konsekuensinya secara lahir saja, maka dia dikatakan muslim secara zhahir saja. Dia diperlakukan selayaknya orang muslim, tapi secara batin dia adalah orang munafik, dan hanya Allah yang akan melakukan hisab atas dirinya.

Jika dia tidak mengerjakan konsekuensi dari kalimat La Ilaha illallah, sekadar mengucapkannya saja, atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kalimat ini, maka dia disebut dengan orang murtad, dia akan diperlakukan selayaknya orang-orang murtad.

Jika dia melakukan sebagian dari konsekuensinya dan meninggalkan sebagian yang lain, maka dalam keadaan seperti ini perlu dilihat dulu.

Jika sesuatu yang dia tinggalkan itu dapat menyebabkan kemurtadan ketika ditinggalkan, maka dia dihukum sebagai orang murtad, seperti meninggalkan shalat dengan sengaja, atau melaksanakan suatu ibadah untuk selain Allah.

Jika apa yang ditinggalkannya itu tidak menyebabkan kemurtadan, maka dia disebut mukmin yang kurang imannya sesuai dengan apa yang dia tinggalkan, seperti para pelaku dosa selain dosa syirik.

Hukum yang terperinci ini ada dalam syariat-syariat agama samawi sebelum Islam.”

Demikian dikutip dari Kitab Durus Al-Am karya Syaikh Abdul Malik Al-Qasim.




Sumber: Demikian dikutip dari Kitab Durus Al-Am karya Syaikh Abdul Malik Al-Qasim. [Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Wednesday, 27 April 2016

Abu Musa al-Asy’ari Shahabat Mulia dari negeri Yaman


Mungkin, kita semua telah tahu, bahwa hati yang baik lagi bersih akan memunculkan keelokan pada lahiriah pemiliknya. Di dalamnya tersimpan ketulusan niat, keikhlasan yang memancarkan cahaya kebaikan. Menjadi baguslah amalan yang terlahir darinya. Demikianlah kiranya, gambaran seorang shahabat mulia,  Abu Musa al-Asy’ari. Kebenaran iman yang menghiasi sanubarinya mewujud dalam pribadinya yang shalih. Sosok pemimpin yang taat beribadah, banyak berpuasa, berilmu, sekaligus pendidik sejati. Sekelumit dari rangkaian kehidupannya terangkum dalam tulisan berikut ini.


Abu Musa, Pemilik Suara  yang Merdu

Beliau bernama ‘Abdullah bin Qais al-Asy’ari at-Tamimi. Beliau dilahirkan di daerah Zabid, Yaman. Ibunya adalah Zhabyah bintu Wahb yang masuk Islam dan kemudian meninggal di Madinah. Abu Musa seorang yang bertubuh pendek, ramping dan tidak lebat jenggotnya. Beliau termasuk salah seorang shahabat yang mahir dalam membaca al-Qur’an. Di antara kelebihan yang Allah berikan kepada beliau adalah suara yang sangat indah. Rasulullah bersabda tentangnya, “Sungguh Abu Musa telah diberi satu seruling dari seruling-seruling keluarga Daud.” Pernah suatu malam, Abu Musa melantunkan bacaan al-Qur’an dengan merdunya. Bangkitlah istri-istri Rasulullah mendengarkan bacaan Abu Musa. Pagi harinya, dikabarkan hal itu kepada Abu Musa. Beliaupun berujar, “Kalau saja aku mengetahui hal itu, niscaya aku akan perbagus dengan bacaan yang indah.” Di masa Khalifah ‘Umar, beliau seringkali meminta kepada Abu Musa, “Ingatkanlah kami wahai Abu Musa!” atau, “Buatlah kami rindu kepada Rabb kami!”. Maka Abu Musa membacakan al-Qur’an dengan alunan yang demikian merdu.


Kisah Keislamannya

Asy’ariyyun adalah sebuah kaum yang berasal dari negeri Yaman. Abu Musa al-Asy’ari datang ke Mekkah dan di sanalah beliau mendapatkan hidayah Islam. Lalu beliau kembali ke negerinya. Hingga akhirnya beliau bersama 50 orang lebih dari kaumnya yang telah berislam pergi meninggalkan negeri mereka. Di tengah perjalanan, kapal yang mereka naiki terbawa angin hingga mengantarkan mereka ke Habasyah. Di sanalah kemudian kaum Asy’ariyyun ini bergabung dengan Ja’far bin Abi Thalib dan para shahabat lainnya. Kemudian, bersama-sama mereka berhijrah ke Madinah. Sebelum kedatangan Asy’ariyyun ke Madinah, Rasulullah bersabda, “Besok akan datang kepada kalian suatu kaum yang lebih lembut hatinya terhadap Islam daripada kalian.” Lalu datanglah mereka, di antaranya Abu Musa. Tatkala mereka telah dekat ke Madinah, merekapun mendendangkan syair, “Besok kita akan bertemu orang-orang tercinta, Muhammad dan golongannya.” Setibanya di Madinah, mereka pun melakukan jabat tangan. Dan mereka inilah yang awal kali melakukan dan mengenalkan jabat tangan.


Kedalaman Ilmu yang Dimiliki

Perjumpaannya dengan Rasulullah menjadi awal mula perjalanan keilmuan beliau. Semasa Rasulullah hidup, Abu Musa banyak meraup ilmu darinya. Sekian banyak hadits beliau hafal dari Nabi. Abu Musa pun menjadi salah satu dari sedikit shahabat Nabi yang memberikan fatwa di masjid pada masa Rasulullah, selain ‘Umar, ‘Ali, dan Mu’adz bin Jabal. Tak berhenti sampai di sini, keilmuan beliau semakin cemerlang dengan mengambilnya dari para shahabat senior. Di antaranya beliau memperoleh ilmu dari Abu Bakr, ‘Umar, Mu’adz dan Ubay bin Ka’b. Yang demikian ini menjadikan Abu Musa sebagai seorang yang paham agama, hakim, mufti (pemberi fatwa), serta pengajar ilmu agama.


Kepemimpinan dan Perhatiannya terhadap Pembinaan Umat

Di masa Nabi, Abu Musa bersama Mu’adz menjadi kepercayaan Rasulullah untuk memegang urusan penduduk Zabid dan Aden, Yaman. Di masa  Khalifah ‘Umar serta ‘Utsman, Abu Musa dipercaya menjadi gubernur Bashrah dan Kufah. Sebagai seorang pemimpin, Abu Musa adalah sosok yang begitu memerhatikan urusan rakyatnya, terlebih perkara agama mereka. Beliau mengajarkan al-Qur’an kepada penduduk Bashrah serta memaparkan tentang hukum-hukum Islam. Suatu ketika Abu Musa mengutus Anas bin Malik kepada Khalifah ‘Umar. Lalu bertanyalah ‘Umar kepadanya, “Bagaimana keadaan al-Asy’ari ketika engkau meninggalkannya?” Anas menjawab, “Aku meninggalkannya dalam keadaan beliau mengajarkan al-Qur’an kepada manusia.” ‘Umar lantas memuji hal itu. Pernah pula, Abu Musa mengumpulkan 300 penghapal al-Qur’an. Lalu beliau menyampaikan nasihat, “Sesungguhnya al-Qur’an ini akan bisa menjadi pahala bagi kalian, dan bisa pula menjadi dosa atas kalian. Maka ikutilah al-Qur’an dan jangan sampai al-Qur’an yang mengikuti kalian. Karena barangsiapa yang mengikuti al-Qur’an, maka dia akan memasuki taman-taman Surga dengannya. Dan barangsiapa yang al-Qur’an mengikutinya, maka dia akan terjungkir ke belakang dan terlempar ke dalam neraka.” Maka pantaslah apabila ‘Umar menetapkan masa jabatan bagi Abu Musa selama empat tahun, tidak sebagaimana gubernur lainnya yang hanya menjabat satu tahun. Ketika peristiwa peperangan Shiffin, dengan jiwa kepemimpinan serta keilmuannya,  Abu Musa menjadi utusan yang mewakili pihak ‘Ali bin Abi Thalib untuk melakukan perundingan.


Kiprahnya dalam Jihad Fi Sabilillah

Jiwa kepemimpinan memang lekat pada pribadinya.  Berpadu dengan keberanian yang lahir dari kebenaran iman, menjadikan beliau sosok pemimpin dalam medan jihad fi sabilillah. Banyak pertempuran beliau ikuti, ketika Rasulullah masih hidup, berlanjut pada masa-masa khalifah beliau. Baik peran  sebagai pemimpin pasukan, ataupun aksi perseorangan di tengah medan pertempuran. Pada suatu hari, sepulang dari pertempuran dan kembali kepada Nabi, beliau mendoakan Abu Musa dengan doa yang agung, “Ya Allah, ampunilah dosa ‘Abdullah bin Qais, dan masukkanlah dia pada hari kiamat di tempat yang mulia” Di masa Khalifah ‘Umar, Abu Musa terjun memimpin berbagai penaklukan negeri-negeri. Beliau berhasil menaklukkan Asfahan, Tustar, dan selainnya.


Upaya dalam Menjaga Kemurnian Nilai-nilai Islam

Sebuah faedah dari perjalanan beliau menaklukkan negeri Tustar, dengan ditemukannya jasad yang diyakini oleh mereka sebagai jasad Nabi Danial di atas sebuah  keranda. Bangsa Persia menyimpan jasad beliau selama 300 tahun. Dahulu, mereka menawan Nabi Danial hingga tiba ajalnya. Tidak ada yang berubah dari jasadnya kecuali beberapa helai rambut di tengkuknya. Adapun panjang hidung beliau berukuran sejengkal. Bangsa Persia biasa memohon pertolongan agar turun hujan kala musim kemarau dengan mengeluarkan keranda beserta jasad Nabi Danial tersebut. ‘Umar pun menginstruksikan agar jasadnya  dikuburkan  untuk menghilangkan kebiasaan Bangsa Persia tersebut. Maka Abu Musa memerintahkan 13 tawanan agar menggali  lubang di dasar sungai pada tiga belas tempat berbeda. Lalu pada malam hari jasad Nabi Danial dikubur pada salah satu lubang, selanjutnya seluruh lubang tersebut diratakan. Demikian ini agar makamnya tidak diketahui oleh umat manusia. Sebagaimana telah maklum, bahwa ritual-ritual yang tidak syar’i banyak terjadi lantaran pengagungan yang berlebihan terhadap orang-orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Sungguh, demikian besar penjagaan generasi terdahulu umat ini terhadap hal yang demikian. Tak hanya dalam permasalahan ini. Abu Musa juga bersemangat menjaga kemurnian ajaran Rasulullah. Suatu hari, beliau mendapati didalam masjid terdapat kelompok-kelompok orang yang duduk menunggu shalat. Pada setiap kelompok ada satu orang  yang  memimpin, sementara masing-masingnya memegang batu-batu kerikil guna  memudahkan hitungan bacaan dzikir. Lalu orang tersebut memberikan aba-aba kepada yang lain untuk bertakbir, bertahlil, serta bertasbih masing-masing 100 kali. Lalu terbetik pengingkaran dalam hati Abu Musa. Beliaupun tak tinggal diam, didatanginya shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud yang beliau pandang lebih berilmu. Sebuah adab yang mulia. Hingga akhirnya, dengan tegas Ibnu Mas’ud mengingkari amalan yang mereka lakukan. Sebuah bentuk amalan baru dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah.


Abu Musa, Pribadi yang Bertaqwa

Telah terkumpul banyak keutamaan pada diri Abu Musa. Lebih dari itu, beliau adalah seorang yang memiliki ketakwaan. Hari-hari beliau berhias dengan sifat-sifat dan amalan yang mulia. Beliau adalah seorang yang tidak silau terhadap dunia, tidak pula berubah walaupun kekuasaan berada di tangannya. Tatkala jabatan sebagai gubernur Bashrah telah berakhir, beliau hanya membawa enam ratus dirham yang merupakan pemberian nafkah untuknya. Abu Musa adalah hamba Allah yang banyak beribadah. Sampaipun dalam suatu pertempuran, di sebuah kebun yang telah hancur tatkala malam telah larut, Abu Musa berdiri untuk shalat, lalu bermunajat kepada Allah. Beliau juga banyak berpuasa, dan hampir tak pernah beliau ditemui pada hari yang panas, kecuali dalam keadaan berpuasa.


Akhir Hayat Beliau

Sebelum meninggal, Abu Musa demikian bersungguh-sungguh dalam beribadah. Disarankan kepadanya agar menahan diri dan mengurangi porsi ibadahnya. Namun beliau menjawab, “Sesungguhnya sekawanan kuda apabila engkau lepaskan dan telah mendekati titik akhir, maka dia akan mengerahkan seluruh yang dimilikinya. Adapun yang tersisa dari umurku adalah lebih pendek dari itu.” Akhirnya, beliau pun wafat di kota Mekkah pada tahun 52 H. Semoga Allah meridhainya.
Wallahu a’lamu bishshawab.





Sumber: Alilmu.net (Ustadz Muhammad Hadi)

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes