,

Friday, 20 January 2017

Muslim Kaya, Boleh Kok! Asal…


Siap di antara kita yang tak ingin menjadi kaya? Tentu, hampir semua orang menginginkannya. Hanya saja, ada satu hal yang membuat kita patah semangat nih. Yakni, terdengar ungkapan bahwa muslim itu tidak boleh kaya. Lantas, apakah hal itu benar?
Ketahuilah, sahabat Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang sangat kaya. Dan Rasulullah ﷺ tidak pernah memerintah beliau untuk menghilangkan kekayaanya dan menjadi miskin. Bahkan, para sahabat lain seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, adalah orang-orang kaya dan tidak dilarang untuk kaya.
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ali dari bapaknya ia berkata, saya mendengar Amru bin Ash berkata, “Rasulullah ﷺ mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, ‘Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku’.”
Maka aku pun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudhu. Beliau kemudian memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda, “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah ﷺ.”
Maka beliau bersabda, “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih,” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih sesuai syarat Muslim).
Dari hadis di atas bisa kita lihat, Rasulullah ﷺ berharap Amru bin Ash mendapatkan harta yang baik. Dengan alasan sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.
"Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan,” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih).
Artinya kita boleh menjadi kaya asal bertakwa dan shalih. Sepakat?
Yang tidak boleh adalah saat kita menuhankan harta, tujuan hidup kita hanya untuk harta. Yang tidak boleh adalah saat harta justru menjauhkan kita dari Allah. Yang tidak boleh saat dengan harta kita malah semakin maksiat. Yang tidak boleh adalah menghalalkan segala cara demi harta. []












Sumber:  Islampos [www.motivasi-islami.com]

Hukum Meninggalkan Zakat


Bagaimana hukum meninggalkan zakat itu? Apakah ada perbedaan antara orang yang meninggalkannya karena menentang, karena pelit, dan karena malas?
Jawab:
Bismillah, segala puji hanya bagi Allah, dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah atas rasulullah, keluarga beliau dan para sahabatnya, wa ba’du:
Mengenai meninggalkan zakat, hukumnya harus diperinci. Jika meninggalkan zakat karena menentang kewajibannya, padahal seluruh syarat wajib zakat dimilikinya, maka dia telah kafir menurut ijma` meski ia mengeluarkan zakat, selama ia menentang kewajiban tersebut.
Adapun jika meninggalkan zakat karena pelit atau karena malas, orang seperti ini dianggap sebagai orang fasik yang telah mengerjakan sebuah dosa besar. Orang ini tergantung kepada masyi`ah (kehendak) Allah jika meninggal atas perbuatan tersebut, Allah berfirman:
 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S An-Nisa: 8)
Al-Qur`an dan as-sunnah yang mutawatir telah menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan zakat akan disiksa pada hari kiamat dengan hartanya yang tidak dizakati. Kemudian ia melihat kemana arah jalannya, apakah ke neraka atau surga. Ancaman ini diberikan kepada orang yang meninggalkan zakat bukan karena menentang kewajibannya. Allah berfirman dalam surat At-Taubah,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”(Q.S Taubah: 34-35)
Sedangkan hadits-hadits shahih dari NabiShallallahu `Alaihi wa Sallam juga menjelaskan hal yang sama, seperti yang telah dijelaskan oleh al-qur`an mengenai siksaan orang-orang yang tidak menzakati emas dan perak. Hadits-hadits itu juga menjelaskan siksaan pedih bagi orang-orang yang tidak menzakati binatang ternak mereka, seperti unta, lembu dan kambing. Orang-orang itu bakal disiksa oleh binatang mereka sendiri di hari kiamat.
Sedangkan yang meninggalkan zakat uang kertas dan barangbarang dagangan, maka hukumnya seperti orang yang meninggalkan zakat emas dan perak. Karena uang itu berperan sama seperti barang dagangan, emas dan perak. Sekarang mengenai orang-orang yang meninggalkan zakat, karena menentang kewajibannya. Orang-orang itu hukumnya sama seperti orang-orang kafir, mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang kafir itu dalam neraka. Siksaan mereka terus menerus dan kekal seperti layaknya orang-orang kafir.
Karena Allah telah menceritakan mereka dalam surat al-Baqarah,
“Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Q.S Al-Baqarah: 167)
Dan dalil-dalil lainnya dalam masalah ini masih sangat banyak.









Sumber: Alislamu.com [Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibatin Muhimmah Tata’allaqu bi Arkanil Islam oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz]

Thursday, 19 January 2017

Sedekah, Tak Melulu Soal Uang


Menyoal sedekah, acapkali kita berpikir tentang uang. Ketika kita memiliki rezeki berlebih—terutama dalam bentuk uang—maka saat itulah kita bisa bersedakah. Namun benarkah jika sedekah itu harus selalu dengan uang?
Bagaimana ketika kita ingin bersedekah, namun tak memiliki uang? Pastinya urung dilakukan. Rasulullah member tuntunan pada kita semua, perihal bersedekah tanpa menggunakan uang—harta.

Senyum
Ah, siapa yang tak suka melihat teman, sejawat, keluarga yang sedap dipandang mata—selalu menebar senyum manis kepada kita. Itulah sedekah paling sederhana dan mudah yang bisa kita lakukan untuk bersedekah.
“Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah” (H.R. Tirmidzi, no. 1956)
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu hanya berupa wajah ceria di hadapan saudaramu!” (HR.Muslim, no.2626)

Memberikan salam
Salam adalah doa, apalagi ketika kita meniatkannya sebagai sedekah. Bukankah mudah untuk mengucap “Assalaamu’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh” ketika bertemu handai taulan

Menyingkirkan gangguan di jalanan
Kerapkali kita menemukan paku, duri, atau benda tajam lainnya yang mengganggu perjalanan. Menyingkirkan hal itu sangat mudah, dan tak butuh tenaga berlebih. Ia bahkan bernilai sedekah.
Jalan kaki menuju masjid atau mushalla untuk melakukan shalat, itu bernilai sedekah. Cermati hadits berikut.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR.al-Bukhari, no.2989 dan Muslim, no 1009).

Berhubungan intim
Bagi yang sudah memiliki pasangan hidup—pasutri—berhubungan intim ternyata bernilai sedekah lho. Selain mendapat kebahagaiaan, juga berlimpah pahala.
“Hubungan intim (dengan istrimu) adalah sedekah.” (HR. Muslim, no.1006).












Sumber: Islampos

Manfaat untuk Orang Banyak


Beri manfaat untuk orang banyak ataukah diri sendiri lebih dahulu?
Ini kaedah fikih yang disebutkan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair pada kaedah ke-20. Beliau menyatakan,
“Amalan yang manfaatnya untuk orang banyak lebih utama daripada yang manfaatnya untuk segelintir saja.”
Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan,
“Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.”
Namun tidak semua amalan yang bermanfaat untuk orang banyak lebih afdhal. Ada amalan yang sifatnya individu dipandang lebih utama. Seperti disebutkan dalam hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling afdhal?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iman pada Allah.” Kemudian beliau ditanya, “Terus apa lagi?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” Kemudian beliau ditanya, “Terus apa lagi?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji mabrur.” (HR. Bukhari, no. 47; Muslim, no. 83)
Dalam hadits lain disebutkan bahwa shalat adalah sebaik-baik amalan. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Tidaklah yang menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, no. 277; Ahmad, 5: 280. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Namun Imam Ghazali rahimahullah mengungkapkan bahwa dalam kitabnya Al-Ihya’ bahwa sebaik-baik ketaatan tergantung pada waktunya masing-masing.
Semoga bermanfaat.





















Sumber : rumaysho.com

Doa Penangkal syirik


“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui.”
Kala itu Ma’qal bin Yasar bersama denga Abu bakar menuju Rasulullah y, setelah sampai dan bertemu Rasulullah y, Rasulullah y berkata kepada Abu Bakar: “Wahai Abu Bakar syirik itu lebih halus dari langkah semut.”Bukankah syirik itu adalah seseorang menjadikan bersama Allah, ilah yang lain. sahut Abu Bakar.  Maka Nabi menegaskan :
Demi dzat yang jiwaku berada ditangnNya, sunguh kesyirikan itu lebih samar/halus dari langkah semut!, maukah kutunjukkan pada suatu doa yang jika engkau berdoa dengannya, akan pergi darimu kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar. Berdoalah : ALLAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA A’LAM WA ASTAGHFIRUKA LIMA LAA A’LAM. (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui). (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Al Albaniy)
Dosa dan kemungkaran terbesar yang harus dihindari setiap muslim adalah kesyirikan. Disamping membatalkan semua amal yang pernah diperbuat, kesyirikan bisa menghantarkan seseorang kedalam jurang neraka selama-lamanya (bila ia mati belum bertaubat dan membawa dosa syirik). Hal ini telah difirmankan Allahk :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An Nisa : 48)
Sungguh senangnya bisa terhindar dari kesyirikan dan mendapat kabar gembira dari Rasulullah y :
“Orang yang meninggal dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun maka wajib masuk surga, dan orang yang meninggal dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu maka wajib masuk neraka.” (HR. Muslim)
Dalam kitab ad Daa’u wa Dawaa karya Ibnu Qoyyim t diterangkan contoh-contoh kesyirikan, diantaranya menyekutukan Allah dalam hal kecintan dan keagungan. Misalnya mencintai mahluk sama dengan mencintai Allah. Contoh lain syirik dalam perbuatan adalah bersujud kepada selain Allah, menjalankan thawaf selain di baitullah, mencukur kepala guna merendahkan diri kepada selain Allah, mencium, mengusap dan bersujud kepada kuburan. Sebegitu ketatnya Nabi menjaga tauhid, sampai-sampai beliau melarang melakukan shalat sunah (mutlak) ketika terbit dan terbenamnya matahari, supaya tidak menyerupai orang kafir yang menyembah matahari.
Dalam hal ucapan terdapat juga perkataan kesyirikan. bersumpah dengan selain nama Allah, seperti demi ka’kah!. Kemudian perkataanMasyaAllahu wa syi’ta (Atas kehendak Allah dan kehendakmu), atau perkataan ‘kalaulah tidak ada kucing ini, pasti habislah harta kita dicuri maling’ dan yang semisalnya seperti ‘kalau bukan karena dokter ini, tentu kamu sudah mati.’ Begitu samarnya kesyirikan ini sampai-sampai beberapa patah kata yang keluar dari lisan bisa menyeret orang masuk neraka, nasalullahal ‘afiyah.
Lebih samar lagi adalah syirik dalam kehendak dan niat. Barang siapa yang mengerjakan amalan ibadah bukan karena mengharap ridha Allah, juga tidak berniat mendekatkan diri kepada Allah serta tidak mengharapkan balasan pahala dariNya, maka orang tersebut telah berbuat syirik dalam niat dan kehendaknya. Atau dalam berhubungan dengan Allah dan beribadah tidak mengkhususkan kepada Allah saja, terkadang ia beramal untuk mendaptkan keuntungan dunia, mencari penghormatan, kedudukan dan pangkat di mata manusia. Jadi hawa nafsu, syetan dan makhluk yang lain mendapat bagian dari amalnya. Inilah riya’ yang merupakan kesyirikan kepada Allahk.
Sebegitu samarnya syirik ini, sampai-sampai Rasulullah y bersumpah menegaskan hal ini, makanya kita perlu berilmu tuk dapat menguak kesyirikan dan menghindar darinya dan tentunya berdoa dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah y , berta’awudz (meminta perlindungan) kepada Allah dari tindak kesyirikan yang sudah kita ketahui dan beristighfar (memohon ampun) kepada Allah terhadap apa yang tidak kita ketahui. Allahumma Innii A’uudzubika An Usyrika Bika Wa Ana A’lam Wa Astaghfiruka Lima Laa A’lam.











Sumber: arrisalah.net

Wednesday, 18 January 2017

Menyikapi Berita Dusta (HOAX)


Di era modernisasi saat ini, kita dimanjakan dengan berbagai macam gadget dan alat komunikasi. Dengan begitu kita bisa leluasa mengakses apapun yang kita inginkan. Berita, tontonan, musik dan lain sebagainya tersaji di depan mata tinggal menekan tombol enter pada keyboard kita. Sampai anak balita yang belum paham tulisan dengan baik sekalipun mampu mengoperasikannya meski hanya bermain game atau hanya sekedar menonton video animasi.
Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari perkembangan teknologi yang satu ini, tapi perlu dicermati dan menjadi perhatian bagi kita semua bahwa apa yang ditampilkan dan diberitakan di media sosial tidak serta merta benar adanya. Dengan kemudahan yang ada justru menjadi lahan subur bagi para pendusta dan orang-orang fasik untuk menebar kebencian dan berita hoax untuk menyerang islam dan kaum muslimin.
Dalam islam Allah sudah mewanti jauh-jauh hari agar kita berhati-hati dengan berita dusta yang dibawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana Allah berfirman,
“Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan” (QS. al-Hujurat:6)
Ayat diatas turun pada saat peristiwa bani musthaliq yang mana kepala kaum mereka al-Harits bin dhirar masuk Islam dan mengajak kaumnya memeluk Islam dan membayar zakat dan membuat kesepakatan dengan Nabi untuk mengambil zakatnya pada waktu yang ditetukan. Tiba saat pengambilan zakat Nabi mengutus seorang utusan, ditengah perjalanan Ia kembali ke madinah dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Nabi al-Harits menghalangi diriku untuk mengambil zakat mereka dan akan membunuhku” Seketika Nabi marah dan mengutus pasukan menemui al-Harits pemuka bani Musthaliq tadi. Di tengah jalan mereka bertemu dengannya dan al-Harits pun bertanya pada mereka, “Kepada siapa kalian diutus?” mereka menjawab, “kepadamu” al-harits balik bertanya, “Ada apa denganku?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah mengutus al-Walid bin Uqbah kepadamu untuk mengambil zakat, namun kamu halangi dan hendak kau bunuh”. Al-Harits berkata, “Demi zat yang mengutus Muhammad, aku tidak menemui dan melihat utusan Rasul itu sama sekali”. Setibanya al-Harits di madinah Ia langsung menemui Nabi, dan Nabi seraya berkata, “Kamu tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku? Kemudian al-Harits berkata, “Wahai Nabi demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihat dan aku tidak bertemu dengan utusan tersebut. Dan aku kesini serta merta karena tidak ada utusan yang menjemput zakat ini, aku takut bila hal ini membuat murka Allah dan rasul-Nya. Lalu turunlah ayat ini.
Hari ini sering kita dapati begitu mudah si fulan berkata demikian, si media anu memberitakan demikian, portal berita berkata sedemikian rupa padahal sumbernya belum jelas dan belum terintegrasi kebenarannya. Ini merupakan musibah, musibah bagi kaum muslimin yang apabila tidak segera mencari kebenaran dan mengkrosceknya kelak yang akan didapat adalah penyesalan di ujung cerita. Oleh sebab itu, dari ayat diatas menjelaskan setidaknya ada 4 kaaedah dalam menerima kabar atau berita,
  1. Pemberitaan dari orang yang dikenal adil (kredibel) maka ucapannya boleh diterima, kecuali ada beberapa hal yang menjadikannya tidak lagi bisa dipercaya.
  2. Allah tidak melarang mentah-mentah berita dari orang fasik. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk tabayun (mencari kejelasan). Apabila berita yang dibawakan benar adanya maka berita tersebut dapat diterima meskipun yang menyampaikan orang fasik.
  3. Tidak perlu terburu-buru untuk menyebar berita yang kita terima, sebagaimana Allah mencela orang-orang yang terburu-buru menyiarkan berita,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. an-Nisa: 83)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“berhati-hati itu dari Allah dan terburu-buru itu dari syetan.” (HR. Baihaqi dihasankan oleh al-Albani)

  1. Ayat ini juga menjelaskan betapa bahaya terburu-buru menyebarkan berita yang berdampak pada keadaan orang/ organisasi yang diberitakan. Yang kelak kita sendiri yang akan menyesalinya.

Demikian beberapa hal yang perlu kita cermati sebelum kita menyampaikan atau menyebar luaskan sebuah berita dan informasi agar kita lebih berhati-hati. Nabi sendiri pernah mengingatkan“Cukup seseorang dikatakan dusta, apabila Ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar”. Jadi belum tentu apa yang kita dapatkan dari broadcast, dari status seseorang, dari portal berita anu benar adanya sebelum kita mengecek kevalidan berita tersebut. Demikian apa yang diungkapkan Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam kitab Qawaid Qur’aniyah, semoga bermanfaat.













Sumber: arrisalah.net

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes