,

Thursday, 28 May 2015

Sosok Dajjal


Kedatangan dajjal adalah tanda besar kiamat sudah dekat. Dajjal adalah manusia yang Allah berikan kemampuan berbeda dengan manusia yang lain. Dajjal datang membawa bencana terbesar di muka bumi. 

Namun pernahkan terlintas bentuk dari dajjal ini seperti apa. Ternyata dajjal memiliki ciri – ciri yang menakutkan dan menyeramkan dari segi fisiknya, seperti berikut
  • Tubuhnya pendek, kedua betis kakinya bengkok, sehingga berjalan dengan tidak lazim
  • Rambutnya keriting,kusut, dan gimbal
  • Mata kanannya menojol layaknya buah anggur sedangkan mata kirinya buta
  • Kulitnya berwarna putih
  • Keningnya lebar
  • Diantara kedua matanya tertera tulisan kafara yang artinya kafir. Tulisan ini bisa dibaca oleh setiap mukmin.
  • Dajjal tidak memiliki keturunan
Melihat ciri – ciri diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sosok dajal adalah seorang lelaki yang berbadan pendek dan gemuk, memiliki kepala yang besar, kedua matanya cacat, berkulit putih, rambut yang keriting, lebat, dan kusut, diantara kedua matanya terdapat tulisan kafir.

Setelah kita mengetahui ciri – ciri fisik dajjal yang sangat mengerikan tadi, seharusnya menjadi tolak ukur kita untuk meningkatkan keimanan kepada Allah swt. dan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Agar kita tidak termasuk orang yang merugi yang akan mengalami hari kiamat kelak. Semoga kita termasuk ke dalam hamba yang selalu taat dan bertakwa kepadaNya. Aamiin.



Sumber : Islampos (Kiamat Sudah Dekat? Penulis : Dr. Muhammad al-‘Areifi, Maret 2011, Qisthi Press, Jakarta)

Wednesday, 27 May 2015

Status orang Yahudi dan Nasrani


Apa Hukumnya mengkfirkan orang Yahudi dan Nashrani?

Istilah kafir dalam islam telah jelas maknanya, secara ringkas ia adalah pembatal keimanan. Walaupun ada makna lain misalnya kufur ni’mat yang merupakan lawan kata syukur. Bila dikaitkan dengan agama lain tentunya makna kafir adalah yang membatalkan keimanan seseorang

Agama selain islam juga menggunakan istilah kafir kepada orang yang tidak menganut agamanya. Lalu bagaimana seharusnya orang islam memandang orang-orang yahudi dan nashrani?, bolehkah kita mengkafirkan mereka?.

Orang-orang nashrani dan yahudi telah dikafirkan Allah dalam kitabNya, misalnya firman Allah :

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru Perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah : 30)

Dalam firmanNya yang lain dinyatakan lebih jelas lagi kekafiran mereka :

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam”. (QS. Al Maidah : 17)

Nabi Muhammad saw pun bersumpah telah memastikan mereka sebagai ashabun nar (penghuni neraka). Beliau bersabda :

 “Demi yang jiwa Muhammad bereada di tanganNya, tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang aku, baik dia seorang yahudi ataupun nashrani lantas dia mati dan tidak beriman kepada wahyu yang aku diutus dengannya, melainkan dia kelak akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, seorang muslim haruslah meyakini kekafiran mereka tanpa ada keraguan sedikitpun. Karena barang siapa yang ragu terhadap kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka dia telah kafir.

Syaikhul islam berkata, “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa gereja-gereja itu adalah rumah Allah, dan Allah disembah didalamnya serta apa yang dilakukan oleh orang-orang yahudi dan nashrani adalah bentuk ibadah kepada Allah dan keta’atan kepadaNya, maka dia telah kafir.” (nukilan dari buku Fatwa-fatwa terkini, darul haq, 1/44).

Maka siapapun yang menyeru bahwa semua agama sama (sama-sama benar), dan meyakini mereka semua juga menyembah Allah yang Esa, namun dengan jalan masuk ke dalam agama nashrani atau yahudi, dengan perkataan ini mereka telah kafir. Hal ini karena perkataan mereka menyelesihi al Qur’an dan sunnah yang telah jelas dan gamblang mengkafirkan ahlu kitab (yahudi dan nashrani).

Hendaknya orang yang berkata demikian bertaubat kepada Rabnya dari ucapan dusta ini dan mengumumkan secara terang bahwa yahudi dan nashrani adalah kafir dan termasuk penghuni neraka, dan wajib bagi mereka mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, yang nama beliau terlah tersurat dalam kitab mereka (injil dan taurat). Wallahua’lam


Sumber: Ar Risalah

Tuesday, 26 May 2015

Imam Shalat di Tempat yang Tinggi


Bolehkah imam shalat berdiri lebih tinggi daripada makmum (dibuatkan semacam panggung buatnya)? (Abdulwahhab—bumi Allah)

Kebanyakan ulama berpendapat, jika tidak ada kebutuhan untuk meninggikan posisi imam, dimakruhkan melakukannya. Dasarnya adalah hadits Abu Dawud dari ‘Ammar bin Yasir, ketika ia di Madain dan iqamat dikumandangkan, ia maju dan berdiri di atas tempat untuk menjajakan dagangan, lalu mengimami orang-orang, sementara mereka berada di tempat yang lebih rendah. Maka Hudzaifah maju dan menarik kedua tangan ‘Ammar sampai ia turun dari tempat itu. (‘Ammar turun tanpa membatalkan shalatnya) Setelah selesai shalat, Hudzaifah bertanya, “Belumkah kau dengar Rasulullah saw bersabda, “Apabila seseorang mengimami suatu kaum, janganlah ia berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka—atau yang semacam itu?” ‘Ammar menjawab, “Oleh karena itulah aku menurut saja saat kau tarik tanganku.”

Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah disebutkan, makruh hukumnya jika imam menempati posisi yang lebih tinggi daripada makmum. Para ulama sepakat akan hal itu. Kecuali jika imam hendak mengajarkan tata cara shalat kepada para makmum.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kadar ketinggian yang dimakruhkan. Ada yang berpendapat, makruh hukumnya jika ketinggian lebih dari satu lengan (sekira 50 cm). Jika kurang dari itu tidak masalah.
Sebagian ulama berpendapat, kadar ketinggian yang dimakruhkan adalah apabila ketinggian melebihi rata-rata ukuran tinggi orang. Yang demikian itu karena, ketinggian yang sedikit itu terjadi pada bumi dan tak terhindarkan. Ia dimaafkan. Jika tingginya sampai melebihi ketinggian rata-rata orang, maka itu tidak dimaafkan.


Madzhab Hanafi

Para ulama madzhab Hanafi membolehkan posisi imam lebih tinggi daripada makmum dan begitu pula sebaliknya namun memakruhkannya.

Di dalam kitab Badai’ush Shanai’ 1/146, “Apabila imam mengerjakan shalat di atas tempat menjajakan dagangan sementara orang-orang mengerjakannya di tempat yang lebih rendah, maka itu boleh tetapi makruh.”

Penjelasannya, boleh karena hal itu tidak memutus tab’ah (kebersamaan antara imam dan makmum) dan tidak pula menyembunyikan keadaan imam dan makruh karena ada syubhat—semacam perbedaan tempat. Dan ini sama saja apakah tingginya tempat itu sekadar tinggi badan seseorang atau lebih rendah dari itu.

Disebutkan bahwa Abu Yusuf dan ath-Thahawiy tidak memakruhkan ketinggian yang lebih rendah dari tinggi seseorang. Sebab kontur bumi itu naik turun, tidak benar-benar rata. Sedikit naik dimaafkan dan tidak untuk yang banyak. Kadar penentunya adalah ketinggian seseorang.

Ini semua dalam kondisi ikhtiyar (bisa memilih). Sedangkan untuk kondisi mendesak seperti saat melaksanakan shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhha, maka seberapa pun ketinggiannya tidak masalah.


Madzhab Maliki

Disebutkan dalam kitab al-Mudawwanah, 1/82 bahwa Imam Malik berkata, “Sekiranya imam shalat bersama orang-orang, ia berada di atas masjid, sedangkan orang-orang berada di belakangnya di bawahnya, aku tidak suka akan hal itu.”

Sahnun pernah bertanya kepada Ibnu Qasim tentang imam yang shalat di atas tempat menjajakan dagangan yang tinggi. Ibnu Qasim menjawab, “Mereka harus mengulangnya, sebab mereka bermain-main. Kecuali jika ketinggiannya tidak seberapa seperti tempat menjajakan dagangan milik kita di Mesir ini, maka shalatnya sempurna.”

Al-Haththab berkata, “Jika hal itu dilakukan dengan disertai kesombongan, maka batallah shalatnya.” (Mawahibul Jalil, 2/120)

Kemakruhan ini sehubungan dengan tiga perkara;
  1. Bukan dalam rangka mengajarkan tata cara shalat kepada makmum.
  2. Semula imam mengerjakan shalat di tempat yang tinggi sendirian, lalu orang-orang berdatangan dan menjadikannya sebagai imam.
  3. Bukan dalam kondisi darurat seperti tempat yang sempit dan sebagainya.


Madzhab Syafi’i

Menurut para ulama madzhab Syafi’i, makruh hukumnya apabila imam berada di tempat yang lebih tinggi daripada makmum, kecuali karena suatu keperluan. Misalnya, imam sedang mengajarkan sifat dan tata cara shalat kepada makmum. Dalam kondisi ini disunnahkan berdiri di tempat yang tinggi. Yakni agar tujuannya tercapai. Hal ini ditegaskan oleh an-Nawawiy. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 4/295)

Jika imam melakukannya, bahkan jika kadar ketinggiannya melebihi tinggi badan rata-rata orang, shalatnya tetap sah. Madzhab Syafi’i tidak memerinci tentang kadar ketinggian.


Madzhab Hambali

Ada tiga riwayat dari Imam Ahmad mengenai hukum masalah ini. Menurut satu riwayat, makruh hukumnya imam mengerjakan shalat dengan posisi lebih tinggi daripada makmum, apapun tujuannya. Alasannya, untuk melihat imam, makmum perlu mengngkat kepala. Padahal itu tidak dibolehkan. Menurut Ibnu Qudamah, apa yang dilakukan Nabi, yakni mengerjakan shalat di atas mimbar dalam rangka mengajar, itu ada kekhususan beliau. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/47)

Menurut riwayat yang satu, apa pun alasannya tidak makruh. Menurut riwayat yang ketiga, jika untuk tujuan mengajar, maka dibolehkan. Jika tidak ada keperluan, maka dimakruhkan.
Wallahu a’lam.


Sumber: Ar Risalah

Monday, 25 May 2015

Perpecahan Umat


Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedang umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (Diriwayatkan pula oleh as-Sakhawi dalam al-Makashid al-Hasanah, hlm. 158-159. 

Dan juga diriwayatkan al-‘Ajulani dalam Kasyful-Khafa’, 1/369-370, dimana dia himpun seluruh jalur-jalur sanadnya yang berbeda-beda).

Ibnu Majah juga meriwayatkan dari ‘Auf bin Malik, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Satu golongan di antaranya masuk Surga, dan tujuh puluh lainnya masuk neraka. Kaum Nashrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu di antaranya masuk neraka, dan hanya satu golongan yang masuk surga. Demi Allah Yang Menggenggam jiwaku, sesungguhnya umatku benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Satu golongan di antarnya masuk surga, dan tujuh puluh dua lainnya masuk neraka. Seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah yang masuk surga itu, menurut anda?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ibnu Majah sendiri dengan sanad laa ba’sa bih.

Sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh 

Hudzaifah radliyallahu ‘anhu tersebut di atas, dimana dia bertanya kepada Rasulullah, “Kalau mereka tidak memiliki pemimpin ataupun jama’ah?”

Maka beliau menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, sekalipun kamu harus menggigit pangkal pohon, sehingga maut datang menjemputmu, sedang kamu tetap seperti itu.”

Juga sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih yang telah lalu,

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing seperti semula.”

Dan diriwayatkan pula dalam sebuah hadits,

“Kiamat tidak akan terjadi, selama ada orang yang mengucapkan ‘Allah, Allah’.”

Maksudnya, jika huru-hara merajalela, maka waktu itu boleh menyingkir dari masyarakat.

Demikian pula disebutkan dalam sebuah hadits,

“Apabila kamu melihat sifat kikir telah dipatuhi, hawa nafsu telah diperturutkan, dan setiap orang yang berpendapat mengagumi pendapatnya sendiri, maka berpeganglah kamu pada pendirianmu, jangan pedulikan penilaian masyarakat umum.”

Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dari Abi Sa’id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Takkan lama lagi waktunya, dimana sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang digiring sampai ke puncak-puncak gunung, dan tempat-tempat terpencil untuk menyelamatkan agamanya dari huru-hara.”

Di waktu itu, yakni merajalelanya huru-hara, diperbolehkan meminta mati, padahal mati itu sendiri sebenarnya tidak boleh diminta tanpa alasan seperti itu, sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih yang lain.

Karena menurut riwayat Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Janganlah sekali-kali seorang dari kalian menginginkan mati. Hendaknya dia jangan berdoa meminta mati sebelum datang waktunya. Dan sesungguhnya apabila orang itu telah mati, maka terputus amalnya. Padahal umur seorang mukmin itu sesungguhnya justru akan menambah kebaikan padanya.” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, 2/263-359, 3/100-104, dan 5/109-115).

Selanjutnya adalah dicabutnya ikmu dengan meninggalnya para ulama. Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih riwauat Abdullah bin Amar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah takkan mencabut ilmu dari umat manusia begitu saja, tetapi Dia mencabutnya dengan meninggalnya para ulama, sehingga manakala benar-benar sudah tidak ada lagi seorang pun yang berilmu, maka manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Para pemimpin itu ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Dengan demikian mereka sesat dan menyesatkan.”

Namun akan tetap ada sekelompok orang yang berpegang pada kebenaran sampai datangnya Kiamat. 

Dalam hadits yang lain dinyatakan,

“Akan selalu ada segolongan dari umatku yang menyatakan kebenaran. Mereka tidak peduli dengan siapa pun yang menghinakan mereka dan siapa pun yang menentang mereka, hingga datangnya ketetapan Allah (Hari Kiamat), sedang mereka tetap seperti itu.”

Sedang dalam Shahih Bukhari disebutkan,

“Sedang mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

Sementara itu dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu dia berkata, “Maukah kalian, aku ceritakan sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang takkan ada seorang pun yang menceritakannya kepada kalian sepeninggalku.”

“Aku mendengar beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah dicabutnya ilmu, merajalelanya kebodohan, tersebarnya perzinaan, diminumnya khamr, hilangnya kaum laki-laki, dan bertambahnya kaum wanita, sehingga ada seorang lelaki menanggung lima puluh wanita.’”

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka, berasal dari Ghandar dengan lafazh yang sama.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Menjelang Kiamat aka nada beberapa hari, di mana ilmu dicabut, lalu diturunkanlah kebodohan, dan terjadilah banyak kerusuhan, adapun (yang dimaksud dengan) kerusuhan adalah pembunuhan.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari al-A’masy dengan lafazh yang sama.

Ini semua menunjukkan, bahwa suatu saat nanti ilmu akan dicabut dari umat manusia di akhir zaman, sehingga al-Qur’an pun akan lenyap dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati manusia. Akhirnya manusia tidak memiliki ilmu, yang ada hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah lanjut usia. Mereka mengeluh dan menyatakan bahwa mereka hanya bisa mengucapkan “Laa ilaaha Illallah.” Padahal mereka mengucapkanya hanya sekedar ingin mendekatkan diri kepada Allah ta’alaa. Namun demikian ucapan itu berguna bagi mereka, sekalipun mereka tidak pernah melakukan amal shaleh dan tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, selain ucapan itu saja.

Jika ada pendapat yang menyatakan, bahwa ucapan mereka itu dapat menyelamatkan mereka dari neraka, boleh jadi maksudnya adalah, bahwa kalimat tauhid itu mencegah mereka kekal di dalam neraka. Karena kewajiban mereka hanya sekedar mengucapkan kata-kata itu, sebab mereka tidak lagi dibebani melakukan amalan-amalan yang seruannya tak pernah sampai kepada mereka. dan Allah jualah yang lebih tau.

Tetapi mungkin juga yang dimaksud adalah, bahwa kalimat tauhid itu menyelamatkan mereka dari neraka setelah terlebih dahulu memasukinya. Dan dengan pengertian ini, boleh jadi mereka itulah yang dimaksud dalam firman Allah yang tercantum dalam sebuah hadits Qudsi,

“Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, sesungguhnya Aku benar-benar akan mengeluarkan dari neraka siapa pun yang pada suatu hari selama hidupnya pernah mengucapkan, ‘Laa ilaaha Illallahu’.”

Adapun yang dimaksud di sini adalah, bahwa ilmu akan dicabut di akhir zaman dan akan terjadi banyak kebodohan. Selain itu, terkandung pula dalam hadits ini pemberitahuan tentang akan diturunkannya kebodohan. Yakni bahwa orang-orang yang hidup di zaman itu akan diilhami dengan kebodohan, yang berarti ketidakpedulian Allah terhadap mereka.

Kemudian mereka akan tetap seperti itu, bahkan semakin bodoh dan sesat, sampai dengan berakhirnya kehidupan dunia ini, sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadits, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu berkata benar, dan dipercaya perkataannya mengabarkan,

“Kiamat hanya akan terjadi pada manusia yang paling jelek. Mereka lebih jelek dibandingkan orang jahiliyah. Setiap doa yang mereka panjatkan, pasti Allah tolak doanya.” (Riwayat Muslim 1924 dan Ibnu Hibban 6836).


Sumber: Sumber: Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, Hlm. 30-36.

Sunday, 24 May 2015

Berita-Berita Tentang Al-Mahdi


Yang dimaksud adalah al-Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dia adalah salah seorang Khulafaa’ ar-Rasyidin dan imam yang mendapat petunjuk Allah (Al-Aiimmah al-Mahdiyyin), bukan yang ditunggu-tunggu (Al-Muntazhar) seperti anggapan kaum Rafidhah, atau yang diharapkan kemunculannya dari sebuah bangunan bawah tanah di Samara. Karena semua itu tidak benar, tidak ada kenyataannya dan tidak ada satu atsar pun yang membicarakannya.

Adapun berita yang akan disebutkan di bawah ini, sesungguhnya telah dinyatakan dalam berbagai hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa al-Mahdi itu akan muncul di akhir zaman.

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan, bahwa perawi hadits ini berkata, “Saya pernah mendengar Ali mengatakan, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalaupun umur dunia ini tinggal satu hari lagi, namun Allah tetap akan membangkitkan seorang laki-laki dari kami, yang memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana telah dipenuhi dengan kezhaliman.’” (Riwayat al-Qurtubi, dalam kitab beliau Tadzkirah al-Qurthubi, mengatakan, hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan maknanya, dan dikatakan oleh at-Tirmidzi hadits ini hasan shahih).

Imam Ahmad berkata, meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Al-Mahdi dari kami, Ahlu Bait. Allah membuatnya shaleh dalam satu malam.”

Maksudnya, Allah menerima taubatnya, memberinya taufik, pemahaman dan bimbingan, meski sebelumnya tidak begitu.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Ishaq, dia berkata, Ali radliyallahu ‘anhu pernah berkata sambil memandang kepada anaknya, al-Hasan, ia berkata, “Sesungguhnya anakku ini pemimpin, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dan akan keluar dari punggungnya seorang laki-laki yang bernama seperti nama Nabimu sekalian. Laki-laki itu menyerupai Nabi dalam akhlaknya, sekalipun tidak menyerupai beliau dalam rupanya.”

Sesudah itu, Ali menceritakan kisah bagaimana al-Mahdi memenuhi bumi ini dengan keadilan.

Abu Dawud meriwayatkan perkataan Ummu Salamah radliyallahu ‘anhaa, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Al-Mahdi itu dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah.”

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, sekali waktu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba berlinanglah air mata beliau dan pucat roman wajah beliau. Abdullah berkata (melanjutkan riwayatnya), aku berkata, “Tidak berkesudahan kami melihat di wajah anda sesuatu yang tidak kami sukai.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Sesungguhnya kami adalah keluarga yang dipilih oleh Allah untuk akhirat, sehingga datanglah suatu kaum dari arah timur. Mereka membawa bendera-bendera hitam lalu meminta roti, tetapi masyarakat tidak memberinya. Oleh karena itu, mereka memerangi (masyarakat itu) sampai menang dan diberi apa yang mereka minta. Namun ternyata mereka tidak menerimanya, sehingga mereka serahkan dunia ini kepada seorang lelaki dari keluargaku, lalu laki-laki itu memenuhinya dengan keadilan, sebagaimana telah dipenuhi dengan kezhaliman. Maka, barangsiapa di antara kamu mengalami zaman itu, hendaklah dia datang kepada kaum itu, walaupun harus merangkak di atas salju.” (Riwayat Ibnu Majah, 2/366, hadits ni. 4082).

Ibnu Majah dari Tsauban, meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ada tiga orang yang saling berperang di sisi gudang kekayaan kami sekalian. Mereka semua adalah anak khalifah (yang kekuasaannya) tidak beralih kepada satu pun dari mereka. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur. Mereka memerangi kami sekalian dalam suatu pertempuran yang tak bisa dilawan oleh bangsa mana pun, -kemudian Rasulullah menyebut sesuatu yang tidak saya hafal- lalu bersabda, ‘Jika kami sekalian melihat orang itu, maka berbai’atlah kepadanya, meskipun harus merangkak di atas salju. Karena dia adalah khalifah Allah yang mendapat petunjuk (al-Mahdi).’”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ibnu Majah sendiri, tetapi dengan sanad yang kuat dan shahih. Dan menurut zhahirnya, bahwa yang dimaksud “gudang kekayaan” tersebut dalam hadits di atas adalah simpanan yang ada dalam Ka’bah, yang sampai dengan akhir zaman akan ada tiga orang anak khalifah yang tewas di sana ketika hendak mengambil simpanan tersebut.

Barulah sesudah itu muncul al-Mahdi. Munculnya dari negeri timur, bukan dari suatu bangunan bawah tanah di Samara, seperti anggapan orang-orang awam dari kaum Rafidhah, bahwa al-Mahdi itu sudah ada di sana sekarang, sedang mereka menunggu-nunggu kemunculannya di akhir zaman. Semua ini adalah sejenis igauan, bohong besar dan godaan dari setan. Karena tidak ada dalil maupun bukti atas hal ini, baik dari al-Qur’an, as-Sunnah, maupun hasil penyelidikan yang benar dan masuk akal.



Sumber: Alislamu {Ibnu Katsir, an-Nihayah: Fitan wa Ahwaalu Akhiruz-Zaman atau Huru-Hara Hari Kiamat, (Pent. Anshori Umar Sitanggal, Imran Hasan, S.Ag), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Kedua, Desember, 2002, Hlm, 41-45}

Friday, 22 May 2015

Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Keutamaan Bulan Sya’ban


Bulan Sya’ban adalah bulan ke-8 dari penanggalan hijriyah dan terletak sebelum bulan Ramadhan. Dalam beberapa hadits dijelaskan tentang keutamaan bulan ini. Namun, sangat disayangkan banyak hadits lemah dan palsu yang tersebar di kalangan masyarakat. Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang menyebutkan sebuah doa, “Allahumma Barik lana fi rajaba wa Sya’bana wa balilghna Ramadhan” artinya “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami ke bulan Ramadhan.”

Hadits ini lemah, lihat Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi; Mizan Al-I’tidal karya Adz-Zahabi; Majma’ Az-Zawaid karya Al-Haitsami; Dha’if Al-Jami’ karya Syaikh Al-Albani, hadits 4395.

Cacat dalam hadits ini ada pada perawi yang bernama Zaidah bin Abi Ar-Ruqad. Berikut pendapat ulama berkenaan dengan perawi ini:

– Abu Hatim mengatakan, “Perawi ini meriwayatkan dari Ziyad An-Numairi beberapa hadits marfu’ namun statusnya hadits munkar. Kami tidak mengetahui bahwa hadits yang diriwayatkannya ini berasal dari dirinya sendiri atau pun dari Ziyad.”

– Al-Bukhari menilai, “Ia termasuk kategori perawi yang memberitakan hadits munkar.”

– Abu Dawud menuturkan, “Saya tidak mengetahui hadits-hadits yang pernah diriwayatkannya.”

– An-Nasa’i menjelaskan, “Saya tidak mengetahui identitasnya.”

– Adz-Dzahabi dalam kitab Diwan Adh-dhua’fa mengungkapkan, “Hadits yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil.”

– Ibnu Hajar menuturkan, “Ia termasuk kategori perawi yang meriwayatkan hadits munkar.”

2. Hadits yang berbunyi, “Keutamaan Bulan Rajab di atas semua bulan bagaikan keutamaan Al-Quran di atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban di atas semua bulan bagaikan keutamaanku di atas semua Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan di atas semua bulan bagaikan keutamaan Allah di atas semua hamba.”

Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu) sebagaimana disebutkan dalam kitabnya. Lihat juga dalam Kasyf Al-Khafa’ karya Imam Ajluni, Al-Mashnu’ Fi Ma’rifah Al-Hadits Al-Maudhu’ karya Ali bin Sultan Al-Qari.

3. Hadits yang berbunyi, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” Riwayat lain menyebutkan, “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan pembersihan diri, dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa.”

Status hadits ini dhaif (lemah) bahkan ada yang menilainya maudhu’ (palsu). Lihat Kasyf Al-Khafa’ karya Imam Ajluni, Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah karya Syaikh Al-Albani, Al-Fawaid Al-Majmu’ah karya Asy Syaukani.

4. Hadits tentang pengkhususan siang di pertengahan bulan Sya’ban dan shalat pada malam harinya, ”Apabila datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka dirikanlah malamnya dengan shalat dan puasalah pada siang harinya.”

Status hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat Al-’Ilal Al-Mutanahiyah jilid 2 hal. 562 karya Ibnul Jauzi, terbitan Dar Kutub Al-Ilmiyah tahun 1403 H; Mishbah Az-Zujajah jilid 2 hal. 10 karya Al-Kinani, terbitan Darul Arabiyah tahun 1403 H; Al-Fawa`id Al-Majmu’ah hal. 51 karya Asy-Syaukani, Tuhfah Al-Ahwadzi jilid 3 hal 366 karya Al-Mubarakfuri, terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah; Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah karya Al-Albani, hadits no. 2132.

5. Hadits yang berbunyi, “Ada lima malam di mana doa tidak ditolak padanya: malam pertama bulan rajab, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam jum’at, malam idul fitri, dan malam idul adha.”

Hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah karya Al-Albani, hadits no. 1452.

6. Hadits yang menyebutkan, “Wahai Ali, barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam pertengahan bulan Sya’ban dengan membaca surat Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlash) seribu kali, maka Allah akan mengabulkan permintaannya pada malam itu.”

Hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat Al-Manar Al-Munif karya Abu Abdillah Muhammad Al-Hanbali, terbitan Darul Mathbu’at Al-Islamiyah tahun 1403 H; Kasyf Al-Khafa’ jilid 2 hal. 566 karya Imam Ajluni, terbitan Ar-Risalah tahun 1405 H, Al-Fawa`id Al-Majmu’ah hal. 50 karya Asy-Syaukani; Naqd Al-Manqul jilid 1 hal. 85, karya Zar’i terbitan Darul Qadiri 1411 H.

7. Hadits yang berbunyi, “Barangsiapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlash) sebanyak seribu kali pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Allah akan mengutus kepadanya seratus ribu malaikat yang memberi kabar gembira baginya.”

Hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat Lisan Al-Mizan jilid 5 hal. 271 karya Ibnu Hajar, terbitan Yayasan Al-A’lami, terbitan tahun 1405 H; Al-Manar Al-Munif karya Abu Abdillah Muhammad Al-Hanbali, terbitan Darul Mathbu’at Al-Islamiyah tahun 1403 H; Naqd Al-Manqul jilid 1 hal. 85 karya Zar’i, terbitan Darul Qadiri tahun 1411 H.

8. Hadits yang menyebutkan, “Barangsiapa yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam pertengahan bulan Sya’ban dengan beribadah kepada Allah, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati manusia sudah mati.”

Hadits ini maudhu’ (palsu). Lihat Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzhabi; Al-Ishabah karya Ibnu Hajar; dan Al-Ilal Al-Mutanahiyah karya Ibnul Jauzi.


Sumber: Fimadani

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes