,

Sunday, 26 March 2017

Pandai-pandailah Merasa Berdosa



Tersebut dalam shahihain, tatkala Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mengajarkannya sebuah doa yang akan dipanjatkan di dalam shalatnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan, “Ucapkanlah,
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, dan tidak ada yang kuasa mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari-Muslim)
Sejenak kita merenung, siapakah gerangan yang bertanya? Dia adalah Abu Bakar ash- Shidiq radhiyallahu anhu. Sahabat yang terdepan dalam setiap kebaikan. Satu di antara sahabat yang mendapat kabar gembira sebagai penghuni jannah. Orang yang tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya di waktu Shubuh tentang berbagai jenis amal shalih, beliau adalah orang yang sudah mengamalkan setiap jenisnya. Ia juga yang disebut Nabi shallallahu alahi wasallam sebagai ‘arhamu ummati’, yang memiliki sifat paling welas asih kepada kaum muslimin. Sangat peka akan penderitaan kaum muslimin dan bersegera menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ringkasnya, beliau tunaikan hak Allah dan hak makhluk.
Pun begitu, doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam tersebut memiliki makna agar beliau mengakui dosa-dosanya, menyadari kezhalimannya yang banyak agar kemudian Allah berkenan memberikan ampunan dan pemaafan dari dosa dan kesalahan.
Lantas apalah kita dibandingkan Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Jaminan surga belum didapat, terhadap semua lini kebaikan juga tak segera bergegas. Pun terhadap derita kaum muslimin yang sedang prihatin dengan musibah dan bencana juga tidak segera tergerak. Pada saat yang bersamaan, merasa tanpa beban seperti tak memiliki dosa dan kesalahan.
Rasa takut terhadap dosa dan dampaknya, memang bergantung pada ketinggian ilmu seseorang. Karena itulah Allah menyebut bahwa yang takut kepada-Nya di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama. Abu Bakar ash-Shidiq memiliki ilmu yang teramat mumpuni dan karena itu pula beliau memiliki rasa takut yang tinggi.
Rasa takut yang tidak berefek pada putus asa, namun mengantarkannya untuk menjauh dari dosa, bertaubat darinya dan bermujahadah dalam segala lini kebaikan. Semangat ini yang mestinya kita tiru dan jaga. Jikalau kita belum merasa memiliki banyak salah, cobalah kita renungkan; berapa banyak jenis kewajiban yang harus kita tunaikan, kita tidak tahu persisnya, bagaimana bisa kita merasa sudah melakukan semuanya, sehingga tidak menyisakan dosa.
Begitupun dengan maksiat dan dosa, berapa item cacahnya kita tak tahu pasti, bagaimana bisa kita merasa telah menjauhi semua dosa. Belum lagi hak-hak kaum muslimin yang berada di pundak kita, lebih banyak terlantar daripada yang sudah ditunaikan. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesalahan dan mengampuni dosa-dosa kita.













Sumber: arrisalah.net (Abu Umar Abdillah)

Saturday, 25 March 2017

Bersemayamnya Allah Di Atas Arsy


  • Ahlu Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3)

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu”.(Ar-Ra’d:2)
“.. kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui” (Al-Furqan:59)
“..kemudian Dia-pun bersamayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)
“..dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik..”.(Fathir:10)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..”.(As-Sajdah:5)
“Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang”. (Al-Mulk:16)
  • Allah subhanahu wa ta’alamemberitakan tentang Fir’aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya): “Dan berkatalah Fir’aun:”Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta…” (Al-Mu’min:36-37)
Fir’aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit.
  • Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah ‘azza wa jalla’ berada diatas ‘arsy-Nya. Dan ‘arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya.
Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas ‘Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan:”Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”(Ali-‘Imran:7).
Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.
  • Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:”Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsynya”.(Thaha:5), bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:” Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.
  • Abdullah bin Al-Mubarak berkata:”Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)”. (Hadis Hasan)
  • Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata:”Barangsiapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu’ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa’i (rampasan perang)-tidak halal diwarisi oleh seorang pun muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:” Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim”(HR. Bukhari)
  • Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita. Beliau bertanya:”dimanakah Allah?”, maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:”Siapa aku?”, maka ia menjawab:”Anda utusan Allah”. (H.R Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah di atas langit.
  • Imam Az-Zuhri-imamnya para imam berkata:”Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya”
  • Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja’ad bin Dirham:”Sungguh celaka engkai wahai Ja’ad karena masalah itu (karena Ja’ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkhabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!”
  • Khalid bin Abdillah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya I’edul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata:”Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian-semoga Allah memberikahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan meyembelih Ja’ad bin Dirham, karena ia berkata:Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja’ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja’ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib.












Sumber: Alislamu.com [Aqidah Ashabul Hadits oleh Abu Isma’il Ash-Shabuni]

Friday, 24 March 2017

Pudarnya Ilmu Syariat


Pada dekade pertama milenium ketiga ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang begitu pesatnya. Teknologi komunikasi dan informatika menjadi lambang kemajuan peradaban manusia. Kehadirannya telah merambah jauh ke pelosok gunung, hutan belantara dan pedesaan. Berbagai disiplin ilmu sosisal dan alam terus bermunculan. Jumlah sarjana, ilmuwan dan peneliti juga meningkat pesat. Ironisnya, keadaan ini berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan ilmu-ilmu syariat.
Meski jumlah perguruan tinggi islam dan pondok pesantren senantiasa bertambah, namun jumlah pakar dan ulama rabbaniyun sangatlah sedikit. Sosok ulama yang mendalam pengetahuannya dalam sebagian besar disiplin ilmu syariat, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya dengan ikhlas, amat langka dan sulit ditemukan. Hampir setiap tahun ada ulama besar bertaraf internasional yang wafat, sementara generasi pelanjut tak kunjung muncul.
Kelangkaan ulama rabbaniyun di tandai dengan makin jauhnya masyarakat dari pemahaman ajaran islam yang benar. Kehidupan sebagian amat bertentangan dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada waktu yang sama, bermunculan para ulama yang menjual ayat-ayat Allah demi mendapatkan kenikmatan duniawi yang tak seberapa nilainya.
Panutan masyarakat dalam masalah agama bukan lagi para ulama rabbaniyun, melainkan para selebritis dan ulama penghamba dunia. Pada saat yang sama, gerakan-gerakan sesat dan menyesatkan semakin tumbuh subur.
Fenomena ini telah di kabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamsejak jauh hari sebelumnya, yang artinya:
“Di antara tanda-tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu syariat, merajalela kebodohan terhadap ajaran islam dan perzinaan, banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria, sehingga kehidupan lima puluh wanita hanya di tanggung oleh seorang pria. (HR. Bukhari)
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Azza wa Jalla agar terhindar dari fitnah-fitnah di akhir zaman dan semoga kita di wafatkan dalam keadaan husnul khotimah.Amiien










Sumber: Zikir Akhir  Zaman karya Abu Fatiah Al-Adnani

Jangan Meremehkan Berbuat Baik


Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,
Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik).
Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik.
Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar).
Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain.
Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan,
Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh.
Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian.
Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295).
Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik.
Bahasan hadits Jabir bin Sulaim masih terus dilanjutkan pada tulisan lainnya. Moga Allah mudahkan.

















Sumber : rumaysho.com

Thursday, 23 March 2017

Angin Yang Mengawinkan


Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Q.S Hijr: 22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer.
Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam.










Sumber: Alislamu.com [Keajaiban Al-Qur’an oleh Harun Yahya]

Maksimalkan Potensi, Sumbangkan Kontribusi


Sejarah dipenuhi catatan para ulama dengan puluhan karya berupa kitab-kitab tebal. Hasil karya yang memberikan kontribusi abadi bagi kemajuan Islam. Begitulah, sejarah tak lain adalah kisah-kisah orang besar, history is a tale of the great men, kata orang barat. Para ulama tersebut menjadi besar karena kontribusi yang telah diberikan kepada Islam. Nah, bagaimana dengan kita? Sumbangan apa yang bisa kita berikan untuk kemajuan umat ini? bisakah kita?
Tentu saja bisa. Dan tentu saja bentuknya tidak harus berupa karya tulis. Kemajuan Islam membutuhkan unsur-unsur yang sangat kompleks hingga memungkinkan kita untuk turut berperan di salah satunya. Tergantung potensi yang kita miliki ada dalam bidang apa. Potensi itulah yang harus digali, di optimalkan dan diwujudkan dalam bentuk yang sesempurna mungkin. Dengannya, kita bisa mencari sendiri, apa yang bisa kita berikan untuk turut berkontribusi.
Masing-masing kita diciptakan dengan membawa sebuah keunikan. Setiap jiwa, seperti kata Rasulullah, ibarat barang tambang yang memiliki potensi sendiri-sendiri. Dalam hal positif,  semua hebat dan luar biasa dalam keunikannya. Tidak hanya unsur emas saja yang berharga, minyak bumi dan cadas pun bisa membuat emas tak berharga tanpa kehadirannya. Tidak hanya para pemilik bakat menulis saja yang dapat memberi kontribusi dan dipilih sejarah untuk mengisi lembarannya, pemilik potensi yang lain pun bisa.
Persis seperti mencari rezeki, jalannya bukan cuma jadi pegawai negeri. Kalau berjiwa bisnis dan berpeluang sukses di bidang niaga, mengapa harus terpasung dengan nominal gaji dari negara? Padahal dengan berdagang bisa menggaji diri sendiri, menentukan libur sendiri bahkan besaran THR sendiri. Soal jaminan, sebenarnya tidak ada yang mampu menjamin rezeki orang selain Allah. Pedagang juga bisa mendapat pensiunan dari investasi, bahkan jumlahnya lebih tinggi.
Kita bisa berkiprah sesuai kemampuan diri. Saat ditanya seorang wartawan, mengapa tidak menulis buku? Syaikh Hasan al Banna menjawab, “Saya tidak ingin menulis buku, saya ingin mencetak manusia.” Unsur potensi beliau memang bukan ta’liful kutubatau menulis buku, tapi ta’liful qulub, menyatukan hati manusia. Benar saja, ketika potensi ini diledakkan, puluhan ribu jiwa menyatu dalam satu visi menegakkan agama Allah di muka bumi. Jangan tanya berapa buku yang sudah beliau tulis, tapi lihatlah berapa kader muslim yang berubah menjadi militan dan siap menghadapi ganasnya perjuangan melalui jamaahnya. Bahkan tak sedikit pula di antara mereka yang jadi penulis. Tentunya, semua ini terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya.
Tapi Ibnu Khaldun sebaliknya. Setelah lama berkiprah di dunia politik serta kepemerintahan tapi selalu gagal, beliau mencoba evaluasi diri. Beliau berhenti, mencoba merenungi pengalamannya lalu menuliskannya dalam sebuah buku. Ternyata potensi beliau ada di situ. Lahirlah sebuah karya fenomenal mengenai kaidah-kaidah tatanegara berjudul “al Muqadimah”. Karya paling masyhur dalam bidang tatanegara dan konsep pemerintahan.
Atau jika setelah digali dan ternyata ditemukan ada sekian potensi yang bisa dikembangkan, ledakkan saja semuanya. Kita pun akan menjadi manusia serba bisa yang luar biasa. Memberi kontribusi dalam setiap lini.
Teladannya adalah Abdullah bin Mubarak. Seorang multi talent alias serba bisa yang lahir pada tahun 118 H. Ibarat gunung, beliau menyimpan lebih dari satu unsur tambang berharga dan mampu didulang seluruhnya. Selain seorang saudagar kaya yang gemar menggelontorkan dana untuk perjuangan, beliau sendiri juga seorang mujahid dan petempur ulung. Tenaga, waktu dan skill tempurnya juga disumbangkan untuk Islam. Luar biasanya lagi, beliau juga  salah seorang ulama yang luas pengetahuan agamanya juga sangat ahli di bidang hadits. Para ulama lain menjulukinya “dokter” karena kemampuannya mengenali hadits. Salah satu ungkapannya dalam kapasitas sebagai ahli hadits yang masyhur hingga kini adalah “Sanad adalah bagian dari agama, kalaulah tidak ada sanad, manusia pasti bicara semaunya.” Dan kata “luar biasa” harus ditulis lagi untuk beliau karena selain hal di atas, beliau juga pandai menulis. Adalah kitab “az Zuhd” menjadi karya tulis beliau yang abadi hingga kini.
Maka mari, kenali diri dan gali potensi. Karena keunikan manusia, tidak ada cara yang paling valid untuk mengenalinya kecuali atas irsyadahdari Allah dan pengamatan masing-masing jiwa atas dirinya. Kita bisa belajar dengan berbagai cara. Tidak ada salahnya mencoba berbagai tes, seperti test otak, test kepribadian, pembelajaran skil dan lain sebagainya. Hanya saja, hendaknya kita jangan terlalu terpasung dengan arahan test-tes yang ada bahwa jika kita termasuk klasifikasi ini, maka kita hanya cocok melakukan ini dan ini. Kita makhluk yang bisa belajar dan berkembang.
Dari titik ini kita bisa menarik garis lurus dan menghubungkannya dengan cita-cita kita. Apa yang ingin kita capai. Dan dengan permohonan bimbingan dari Allah, kita bisa memulai membuat peta, mulai menggali, mengolah potensi, mengasah kemampuan diri dan akhirnya meraih sukses dan mampu meberi kontribusi.
Kita harus yakin bahwa pasti ada yang kita miliki, ada yang bisa kita lakukan dengannya dan ada yang dapat kita berikan melaluinya. Kalau sekarang kita kebingungan berada di mana dan mau apa, itu karena kita belum memulai memetakan dan mencoba menggalinya.
Bagi yang sudah mendapat titik terang, segeralah beraksi. Kalau memang yakin akan berkarya melalui tulisan, segeralah menulis. Biarkan Islam segera merasakan suntikan kekuatan dari tulisan itu baik untuk menambah keindahan dan kemuliaanya, atau membentenginya dari serangan musuh durjana. Kalau menurut kita, ada potensi berniaga dalam jiwa, mulailah mencari cara agar dapat membuka usaha. Bekerja lebih cerdas agar dapat segera menuai hasilnya. Kontribusi dana pun dapat segera kita setorkan untuk perjuangan menegakkan agama.
Dan semua itu memiliki roda bernama tekat dan kemauan. Sebesar apapun potensi dan kemampuan, tanpa kemauan, tidak akan ada pergerakan. Ayo, gali potensi diri, sumbangkan kontribusi dan raihlah ridha Ilahi! Wallahul musta’an.












Sumber: arrisalah.net

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes