,

Friday, 31 October 2014

Mulut Terkunci, Tangan dan Kaki Bersaksi


Demi mengenyam sebuah kenikmatan dosa, nafsu manusia melibatkan seluruh indera dan anggota tubuh untuk mengikuti keinginannya. Kaki yang mengantarkan ia ke tempat tujuannya, mata yang menunjukkan arah jalan, tangan yang merengkuhnya, telinga yang mendengarkan apa-apa yag diinginkan dan begitupun halnya dengan semua anggota badan. Adapun lisan memback up dengan alasan. Sehingga tertutuplah dosa-dosa yang dilakukan oleh anggota badannya.


Ketika Mulut Terkunci

Hari ini, betapa banyak kezhaliman tertutup oleh fasihnya lisan bicara. Berapa banyak keburukan terpoles oleh indahnya susunan kata-kata. Ada lagi yang merasa aman bertingkah dosa, lantaran bisa sembunyi dibalik manisnya lidah berkata-kata. Membantah, meski jelas-jelas bersalah. Bermain kata untuk menutupi dusta, dan tak jarang mencari kambing hitam untuk mengalihkan tuduhan dosa kepada orang lain. Korupsi harta yang bukan miliknya, manipulasi data agar berbeda dengan aslinya, berbagai kolusi dan semisalnya adalah contoh betapa banyak kejahatan ini terselubung oleh pandainya seseorang beralasan dengan lisannya.Akan tetapi, ada saatnya kelak, di mana lisan tak kuasa lagi bicara, tak mampu memungkiri kejahatan yang dilakukan sekujur tubuhnya. Dan seluruh tubuh tak lagi berpihak pada keinginan manusia, tapi menurut dan taat kepada perintah Rabbnya.Allah Ta’ala berfirman

,الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٦۵)

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan. QS Yasin :65

Ibnu Katsier rahimahullah mebjelaskan tentang ayat ini, “ Ini adalah kondisi orang-orang kafir dan orang-orang munafik pada hari kiamat ketika mereka mengingkari perilaku buruk yang mereka lakukan di dunia serta bersumpah dengan apa yang telah mereka lakukan. Lalu Allah menutup lisan-lisan mereka, sedangkan anggota tubuh mereka  berbicara tentang apa yang sudah mereka perbuat.”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Suatu kali kami berada di sisi Rasulullah lalu tiba-tiba beliau tertawa, kemudian bersabda, “Tahukah kalian apa yang menyebabkan aku tertawa?” Kami menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau bersabda,

"Aku tertawa karena ada percakapan hamba terhadap Rabbnya, hamba itu berkata, “Wahai Rabbku! Bukankah engkau akan menjatuhkan hukuman kepadaku lantaran kedzaliman? Allah menjawab, “Ya tentu.” Rasul melanjutkan sabdanya, lalu hamba itu berkata, “Kalau begitu aku tidak mau diberi sangsi kecuali ada saksi dari diriku sendiri, lalu Allah berfirman, “Cukuplah dirimu pada hari ini menjadi saksi atas dirimu sendiri, dan para Malaikat pencatat juga mnejadi saksi.”Lalu dikuncilah mulutnya kemudian dikatakan kepada anggota-anggota badannya, bicaralah kamu! Lalu anggota-anggota badan itu menceritakan tentang amal perbuatannya. Kemudian ketika dia dibebaskan dan bisa bicara lagi, ia berkata, “Celakalah kalian, padahal untuk kalianlah aku membela dan membantah.” (HR Muslim)

Diantara para saksi yang dihadirkan pada hari Kiamat, bisa jadi kesaksian yang diberikan anggota tubuh sendirilah yang paling dramatis sekaligus menyakitkan. Semasa di dunia, anggota tubuh sepenuhnya taat pada majikannya. Ia dikendalikan sepenuhnya, untuk memegang, berjalan dan beraktivitas. Hari itu, di luar kesadarannya masing-masing memberi kesaksian. Anggota tubuh justru malah membeberkan aib-aib dan kesalahan sendiri secara detil dan terang-terangan .

Mata akan bersaksi atas apa yang dilihatnya, telinga bersaksi atas apa yang telah didengarnya, tangan berkisah tentang apa saja yang telah digenggam dan disentuhnya, kakipun menuturkan kembali riwayat seluruh perjalanannya.Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah) hari (ketika) para musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Kamu senantiasa menyembunyikan dosa-dosamu bukan sekali-kali lantaran kamu takut terhadap persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, tetapi karena kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan ini adalah prasangka jelek yang kamu miliki sangka terhadap Tuhan-mu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Fushilat: 19-23).

Maka yang tersisa hanyalah sebuah protes yang tak berarti, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kita sendiri?” Dan Allah Ta’ala menjawab,
“ …agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah.” (Qs. An-Nisa: 165).


Tangan dan Kaki Bersaksi

Tangan adalah anggota tubuh yang paling kerap menjamah dosa dan menjadi alat pemuas angkara. Maka banyak ayat yang mengalamatkan perbuatan dosa manusia sebagai perbuatan tangan manusia. Seperti firman Allah Ta’ala,q

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura 42: 30)

Allah juga mencela perbuatan Abu Lahab dengan kata-kata, “tabbat yadaa abi lahabiw watabba”, celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.

Di antara mufasir menjelaskan bahwa tangan paling banyak melakukan dosa dibanding anggota badan yang lain. Dalam kontek kekinian, tangan bisa memukul, mengambil, mengundi, memencet remot TV, mengklik mouse untuk melihat tayangan internet, menulis kata-kata kotor. menandatangani sebagai kesaksian untuk kepalsuan dan masih banyak lagi.

Adapun kaki, iapun akan memberikan kesaksian bagi pemiliknya. Kemana saja ia telah mengantarkan majikannya, siapa saja yang telah ditendang dengan kakinya. Dan termasuk para wanita yang suka memamerkan bagian dari kaki yang merupakan aurat yang mesti dijaganya. Begitupun halnya dengan orang-orang yang telah melakukan perbuatan zina ketika di dunia, wal ‘iyadzu billah.Karenanya, para ulama pendahulu kita sangat berhati-hati menggunakan anggota tubuhnya.  Karena mereka tahu, kelak anggota tubuh bisa menjadi musuh yang akan menjatuhkan dirinya ketika menghadapi pengadilan akhirat.

Maka sebagai penutup dari tulisan ini, mari kita simak kisah dari Urwah bin Zubeir yang dipaparkan dalam kitab “Shuwar min Hayaatit Tabi’in” karya Ra’fat Basya. Bahwa sejenis penyakit telah menimpa kaki tabi’in mulia, Urwah bin Zubeir rahimahullah. Hingga mengharuskan sebelah kakinya diamputasi hingga betis agar tidak menjalar ke bagian tubuh yang lain. Dengan pisau penyayat daging dan gergaji pemotong tulang tabib melakukan aksinya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar “, sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir sampai selesai proses amputasi itu.

Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghentikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah sempat pingsan untuk beberapa lama. Maka Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam menuju masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakanmu untuk hal-hal yang haram.”

Kemudian dibacanya syair Ma`an bin AusTak pernah kuingin tanganku menyentuh yang meragukanTidak juga kakiku membawaku kepada kejahatanPun juga telinga dan pandangan matakuTidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan akalkuSemoga Allah menjaga seluruh anggota tubuh kita dari segala dosa, aamiin.


Sumber: Ar Risalah (Abu Umar Abdillah)

Thursday, 30 October 2014

Misteri Surat Al Mulk


Jika ingin kelihatan hebat dan berwibawa bacalah Surat Al-Mulk. Jika surat tersebut diamalkan menjadi wirid dan dzikir harian maka akan meluaskan rezeki dan menghilangkan kemiskinan. Jika dibaca 2.012 kali bisa menolak bala.Itulah diantara keyakinan sebagian masyarakat di sekitar kita tentang keutamaan surat Al-Mulk. Boleh jadi keyakinan tersebut muncul setelah mereka membaca atau mendengar hadits-hadits tentang keutamaan membaca surat Al-Mulk, padahal derajatnya dhaif bahkan maudhu’ (palsu) atau hanya melandaskan pada perbincangan dari mulut ke mulut yang tidak jelas sumbernya.


Kandungan Surat Al-Mulk

Surah Al-Mulk tergolong surat makkiyah (diturunkan sebelum Rasulullah hijrah), terdiri dari 30 ayat. Dinamakan Al-Mulk karena kata Al- Mulk yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang berarti kerajaan atau kekuasaan. Surat ini disebut juga dengan At-Tabaarak (Mahasuci) karena diawali dengan tabaarak, sehingga juz 29 yang diawali dengan surat Al-Mulk disebut dengan juz Tabarak.

Di antara pokok-pokok isinya, hidup dan mati merupakan ujian bagi manusia; Allah menciptakan langit berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan; perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta; azab yang diancamkan terhadap orang-orang kafir; dan janji Allah kepada orang-orang mukmin; Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga mudah bagi manusia untuk mencari rezeki serta peringatan Allah kepada manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada nikmat Allah.


Fadhilah Surat Al-Mulk

Semangat kaum muslimin untuk menerapkan Islam nampak menonjol dalam bentuk kajian-kajian dan pengamalan terhadap hadits-hadits seputar fadhail a’mal (amal ibadah yang mempunyai keutamaan). Namun banyak kaum awam yang terjebak mempelajari buku-buku fadhail a’mal yang mengetengahkan hadits dengan tingkat validitas yang beragam, dari yang shahih hingga yang dhaif bahkan maudhu’.

Syaikh Zakariya bin Ghulam Ghadir telah menghimpun riwayat-riwayat shahih dari hadits-hadits Rasulullah tentang berbagai jalan untuk menggapai fadhail a’mal dalam kitab beliau Shahih Al-Matjarur Rabih fi Tsawabil Amalis Shalih. Di antara isi kitab tersebut, disebutkan hadits-hadits shahih tentang keutamaan membaca beberapa surat dalam Al-Quran, diantaranya surat Al-Mulk.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ }لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada satu surat dalam Al-Quran terdiri dari tiga puluh ayat. Ia akan memberi syafaat bagi orang yang selalu membacanya sehingga Allah mengampuni (dosa-dosanya), yaitu surat Al-Mulk: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan,..” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam At Tirmidzi dan syaikh Al Albani).

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafaat dengan izin Allah. Hadits ini semakna dengan Hadits lain dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah bersabda:“Ada satu surat dalam Al-Quran yang hanya terdiri dari tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan.” (HR. Ath-Thabrani, dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar).

Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur).Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Siapa yang membaca tabaarakalladzi biyadihil mulku… setiap malam niscaya Allah akan melindunginya dari adzab kubur. Pada zaman nabi kami menamainya al-mani’ah (pelindung/penghalang) dari adzab kubur.” (HR. An Nasai, Al Hakim berkata, “sanadnya shahih” dihasankan oleh Al-Albani). Ada juga penguat dalam riwayat lain:

يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ فَتُؤْتَى رِجْلَاهُ فَتَقُولُ رِجْلَاهُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ صَدْرِهِ أَوْ قَالَ: بَطْنِهِ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ، فَهِيَ الْمَانِعَةُ تَمْنَعُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَهِيَ فِي التَّوْرَاةِ سُورَةُ الْمُلْكِ مَنْ قَرَأَهَا فِي لَيْلَةٍ فَقَدْ أَكْثَرَ وَأَطْيَبَ

Dari Ibnu Masud, ia berkata: “Seseorang didatangi di dalam kuburannya, lalu kedua kakinya didatangi. Maka kedua kakinya berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah dadanya -atau berkata: perutnya- maka dia berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah kepalanya, maka kepalanya berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Maka surat ini adalah Mani’ah, penghalang dari siksa kubur. Di dalam Taurat juga disebut dengan nama surat Al-Mulk. Barang siapa membacanya di malam hari, maka itu lebih banyak dan lebih bagus.” (HR. Al Hakim, beliau berkata sanadnya shahih dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi)

Hadits ini dihukumi marfu’ karena perkara ghaib seperti ini tidak mungkin diucapkan oleh Ibnu Mas’ud kecuali dari Nabi. Ibnu Mas’ud juga tidak dikenal mengambil berita dari Ahli Kitab.

Dalam Faidhul Qadir disebutkan, keutamaan dalam hadits-hadits di atas diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat Al-Mulk secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya.

Subhanallah, begitu luasnya fadhilah surat Al-Mulk. Bahkan surat ini termasuk surat-surat Al-Quran yang biasa dibaca oleh Rasulullah sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya. Mungkin karena alasan inilah, ketika ada seorang akhwat ditanya tentang mahar pernikahan yang diminta, ia menjawab, ”Hafalan surat Al-Mulk akhy…”. Wallahu a’lam.


Sumber: Ar Risalah

Wednesday, 29 October 2014

Istri Shalehah Dalam Bingkai Rumah Tangga


Kita telah mengetahui bahwasanya mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Akhlak yang baik merupakan amalan yang akan memperberat timbangan kebaikan seorang hamba pada hari kiamat kelak. Rasululloh bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat yang diletakkan pada timbangan (pada hari kiamat) daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya pemilik akhlak yang baik dengan akhlaknya tersebut akan mencapai derajat orang yang rajin berpuasa (sunnah) dan shalat (malam).”(HR. at-Tirmidzi no. 1926, lihat ash-Shahihah no. 876 dan al-‘Irwa no. 941)

Dalam kehidupan rumah tangga, sebagaimana para suami dituntut untuk berakhlak yang baik, para istri pun dituntut yang demikian pula agar kelak menjadi istri shalehah. Bahkan Rasululloh telah memberikan pujian kepada istri salehah:

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) shalehah.” (HR. Muslim no. 2668)

Bagaimanakah akhlak istri shalehah dalam kehidupan rumah tangga? Dengan mengacu kepada al-Qur’an dan hadits-hadits nabi yang shahih, para ulama telah menjelaskan di dalam kitab-kitab mereka tentang akhlak istri shalehah dalam kehidupan rumah tangga. Berikut adalah gambaran ringkas dari akhlak istri shalehah agar kita dapat mengamalkan dalam kehidupan rumah tangga. Diantaranya:


Taat kepada suami

Alloh berfirman: “Sebab itu maka wanita salehah ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara mereka.” (an-Nisaa: 34)

Syaikhul Islam menerangkan tentang ayat ini, “Disini mengandung konsekuensi wajibnya ketaatan istri kepada suami secara mutlak baik dalam hal pelayanan, bepergian bersama suami, setiakepada suami dan lain sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam sunnah Rasululloh.” (Majmu’ al-Fatawa juz 32 hlm. 260-261)

Sebagai contoh adalah sabda Rasululloh,
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur namun sang istri menolaknyakemudian suami pun tidur dalam keadaan marah maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. al-Bukhari no. 2998 dan Muslim no. 2596)              

Mana yang lebih utama bagi seorang istri: berbakti kepada kedua orang tua ataukah taat kepada suami?
Syaikhul Islam menjawab, “Segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam. Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap istrinya tersebut daripada kedua orang tuanya, dan ketaatan istri kepada suaminya adalah lebih wajib (daripada kepada kedua orang tuanya).” (Majmu’ al-Fatawa juz 32, hlm. 261)

Rasululloh telah menjanjikan kepada para istri shalehah, “Apabila seorang istri menunaikan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Ibnu Hibban no. 4163, lihat Shahihul Jami’ no. 660)              

Namun ketaatan yang dimaksud disini adalah ketaatan dalam perkara kebaikan dan bukan dalam perkara kemaksiatan. Sehingga apabila suami memerintahkan istri untuk melakukan kemaksiatan maka tidak boleh bagi istri untuk mentaati perintahnya.Nabi telah bersabda, “Mendengar dan taat adalah kewajiban bagi seorang muslim dalam perkara yang disukai dan tidak disukai selama tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Apabila diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no.6611)


Menolong suami dalam perkara kebaikan

Rasululloh bersabda, “Semoga Alloh merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari kemudian melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Maka apabila dia enggan, sang suami pun memercikkan air di wajahnya. Semoga Alloh merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari kemudian melaksanakan shalat dan membangunkan suaminya. Maka apabila dia enggan, sang istri pun memercikkan air di wajahnya.” (HR. Ahmad no.7103, 9254, 7410, 9627, 7404 dan 9625,Abu Dawud no.1113 dan 1238, an-Nasa’i no.1592, Ibnu Majah no.1326, lihat Shahihul Jami’ no. 3494)

Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata, “Barangsiapa diantara keduanya yang lebih semangat dalam ibadah dan lebih cepat bangun hendaklah ia bersemangat untuk memberikan kebaikan kepada yang lain. Sama saja apakah laki-laki atau wanita, suami atau istri. Apabila dengan ucapan tidak berhasil membangunkannya maka salah seorang diantara keduanya memercikkan air ke wajah yang lain dalam rangka mengusir kantukkemudian bangun. Dan ini termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.”(Syarh Sunan Abi Dawud li Syaikh ‘Abdil Muhsin al-‘Abbad juz 8, hlm.125)

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Khadijah terhadap sang suami tercinta, ketika turun wahyu pertama kepada Rasululloh di gua Hira yang dibawa oleh malaikat Jibril. Setelah menerima wahyu, Rasululloh kembali ke rumah dalam keadaan takut dan minta diselimuti. Maka sebagai seorang istri, Khadijah berusaha menolong beliau dengan cara menghibur, seraya berkata, “Jangan takut, demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu menyambung tali kekerabatan, mau menanggung beban, membantu orang yang tidak punya dan memuliakan tamu serta menolong para penegak kebenaran.” (HR. al-Bukhari no. 3 dan Muslim no. 231)


Menjaga rahasia suami

Rasululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk dari sejelek-jelek manusia kedudukannya di sisi Alloh pada hari kiamat adalah seorang suami yang mendatangi istrinya dan seorang istri yang mendatangi suaminya kemudian menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim no. 2597)

Al-Imam an-Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya menyebarkan rahasia apa yang terjadi antara suami istri dari urusan cumbu rayu dan penggambarannya secara rinci serta apa yang ada pada diri istri seperti ucapan atau perbuatan dan lain sebagainya.” (Syarh Shahih Muslim juz 10, hlm. 250)

Bersikap qona’ah dan bersabar atas kekurangan suami dalam hal nafkah

Seorang wanita setelah menikah maka dia harus siap menghadapi segala kondisi yang ada. Bisa jadi Alloh menguji kehidupan pasangan tersebut dengan kemiskinan. Sehingga seorang istri harus memiliki sikap qona’ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan oleh suami dan bersabar dengan kekurangan suami di dalam mengusahakan nafkah. Lihatlah kehidupan rumah tangga Rasululloh yang sederhana sebagaimana yang diceritakan oleh salah satu istri beliau yaitu ‘Aisyah.

‘Aisyah berkata, “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang semenjak sampai di kota Madinah dari makanan gandum selama 3 hari berturut-turut sampai beliau wafat.” (HR. al-Bukhari no. 4996, 5973 dan Muslim no. 5274)

'Aisyah berkata, “Tempat tidur Rasululloh dahulu terbuat dari kulit yang disamak dan isi kasurnya dari sabut.” (HR. al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 3883)

Meminta izin kepada suami untuk suatu keperluan

Berikut adalah beberapa perkara yang diwajibkan bagi seorang istri untuk meminta izin kepada suaminya diantaranya:
1. Ketika keluar rumah untuk keperluan apapun.
Rasululloh bersabda, “Apabila istri salah seorang diantara kalian meminta izin untuk pergi ke masjid maka jangan dihalangi.” (HR. al-Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 666)

2. Memasukkan seseorang ke dalam rumah.
Rasululloh bersabda, “Dan janganlah mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam rumah suami kecuali dengan izin suami.” (HR. al-Bukhari no. 4796)

3.Menggunakan harta suami.
Rasululloh bersabda, “Janganlah seorang istri mengeluarkan (harta) dari rumahnya sedikitpun kecuali dengan izin suaminya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasululloh, sekalipun makanan juga tidak boleh?” Rasululloh menjawab, “(Iya), karena makanan termasuk dari harta kita yang paling utama.” (HR. Ibnu Majah no. 2286, lihat Shahih Ibnu Majah no. 2286)

4. Melakukan puasa sunnah.
Rasululloh bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa (sunnah) dalam keadaan sang suami tidak sedang bepergian kecuali dengan izinnya.” (HR. al-Bukhari no. 4796)


Tidak boleh menyakiti suami

Rasululloh bersabda, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Janganlah kamu menyakitinya, semoga Alloh memerangimu, karena sesungguhnya dia di sisimu hanya sementara saja, sebentar lagi ia akan berpisah denganmu dan akan kembali kepada kami’.” (HR. at-Tirmidzi no. 1094 lihat ash-Shahihah no. 173)

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini – sebagaimana engkau perhatikan – merupakan peringatan bagi para istri yang suka menyakiti suaminya.” (ash-Shahihah juz 1, hlm. 172)


Mencintai suami

Rasululloh bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian dari penduduk surga?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasululloh.” Rasululloh bersabda, “Mereka adalah para istri yang mencintai suaminya …” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jamul Kabir no. 307, lihat Shahih at-Targhib no. 1941)


Berhias untuk suami terkhusus ketika suami pulang dari perjalanan

Rasululloh bersabda, “Apabila engkau pulang (dari perjalanan) pada malam hari maka janganlah masuk kepada keluargamu sampai istri (yang ditinggalkan tersebut) mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya yang kusut.”(HR. al-Bukhari no. 4845)

Dan masih banyak akhlak istri shalehah yang lainnya seperti merawat suami ketika sakit, tidak membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya, bercanda bersama suami, bersikap jujur kepada suami, menasehati suami dengan cara yang baik apabila terjatuh pada kesalahan dan lain sebagainya. Wallohu a’lamu bishshawab


Sumber: Alilmu

Tuesday, 28 October 2014

Pesan untuk Pemuda Islam


Pemuda dalam setiap kurun adalah pelopor zamannya….;

Dalam kurun awal Islam kita temukan sosok-sosok muda: Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th) Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Saad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th) Umar bin Khotobb (27 yh), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th).

Sebab dalam jiwa mudalah Allah menyematkan karakter-karakter perubah: Kritis, dinamis, kreatif, inovatif, dan reaktif. Merekalah generasi-generasi penerus pengganti kaum sebelumnya, pembaharu/mujaddid dalam setiap masanya.


Allah Ta'ala berfirman:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. Al Baqoroh: 132-133)

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqaan: 74)

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (QS. Al Kahfi: 13)


Rosulullah SAW berpesan:

“Jagalah lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. Al Hakim).

Rosulullah ditanya tentang apa yang akan dibalas dengan pahala atau siksa di hari kiamat, beliau menjawab:” Dia akan ditanya tentang apa yang ia perbuat untuk masa mudanya”. (HR. Tirmidzi).

Tentang aktivitas pemuda, Rosulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik pemuda diantara kamu adalah yang mirip/seperti orang dewasa diantara kamu, dan sejelek-jeleknya orang tua diantara kamu adalah yang seperti pemuda diantara kamu”. (HR. Baihaqi).


Asy Syahid Hasan Al Banna berpesan:

“Hendaklah anda selalu mengindahkan dan memperhatikan Allah SWT, selalu ingat akan akhirat dan bersiap-siap untuknya. Tempuhlah semua kelakuan yang dapat menyampaikan anda pada keridhaan Allah dengan tekad dan kesungguhan. Dekatkanlah diri anda kepada-Nya dengan melestarikan ibadah-ibadah sunnah seperti tahajud, shoum tiga hari dalam sebulan, memperbanyak dzikir dalam hati dan ucapan serta membiasakan berdoa dalam segala hal yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW”


Asy Syahid DR Abdullah Azzam berpesan:

“Wahai pemuda Islam…. Engkau tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jagalah diri kalian!

Jangan terpengaruh oleh senandung lagu milik orang yang dibuai kenikmatan hidup. Jangan terlena oleh musiknya orang yang bermewah-mewahan dan kasurnya orang yang kekenyangan.”


DR Abdullah Nasihih Ulwan menasihatkan:

Ingatlah wahai pemuda muslim…. kalian tidak akan dapat meraih suatu kemenangan bila tanpa dibarengi dengan iman dan taqwa, muroqobah dengan Allah dengan sembunyi atau terang-terangan. Perbaikilah niatmu. Jagalah dirimu dari maksiyat dan dosa. Kuasailah hawa nafsu dan jauhilah dari fitnah kehidupan dunia.

Sebenarnyalah misi Islam itu akan terwujud dengan:

1. Iman yang kuat
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar". (QS. Al Hujaraat: 15)

2. Keihlasan yang sungguh-sungguh
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". (QS. Al Bayyinah: 5)

3. Tekad yang kuat tanpa rasa takut
"(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan". (QS. Al Ahzab: 39)

4. Usaha yang berkesinambungan
"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"". (QS. At Taubah: 105)


Sebuah kisah tatkala Umar RA tidak sabar menanti saat penaklukan Mesir di tangan Muslimin, beliau berkirim surat kepada panglima tertinggi : Amru bin Ash:

“ Amma ba’du. Sungguh aku heran atas kelambatan kalian, padahal kalian sudah bertempur selama dua tahun. Itu semua disebabkan karena kalian terlalu cinta terhadap kesenangan dunia sebagaimana musuh-musuh kalian. Padahal Allah sekali-kali tidak akan menolong suatu kaum sebelum dia membuktikan kesungguhan niatnya".


Kepada Sa’ad bin Abi Waqash:

"Aku berwasiat kepadamu dan kepada setiap tentaramu supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Karena Taqwa adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapi musuh. Taqwa adalah strategi perang yang paling jitu. Dan aku perintahkan kalian supaya mawas diri dengan ketat dari maksiyat lebih ketat dari mawas diri dari musuh kalian, karena dosa pasukan lebih berbahaya daripada serangan musuh.

Kaum muslimin baru mendapat pertolongan-Nya manakala musuh-musuh mereka telah tenggelam dalam kemaksiyatan kepada Allah. Kalau bukan karena itu tentu kekuatan kita tidak ada artinya dalam menghadapi mereka, sebab baik jumlah personil maupun persenjataan kita jauh berbeda dari mereka. Nah, kalau kita dan mereka setara dalam maksiyat, maka sudah barang tentu mereka akan lebih unggul dari kita. Wassalam.”

Benar sekali yang dikatakan Umar RA: “ Ummat Islam adalah suatu kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Tetapi bila mencari kemuliaan diluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, maka niscaya Dia akan menghinakanya. (HR. Al Hakim)

Wahai pemuda muslim! Sesungguhnya ummat ini benar-benar mengandalkan kalian. Oleh karenanya mohonlah kepada Allah akan pertolongannya. Insya allah kalian akan unggul. Berjalanlah di atas jalur yang pernah dilalui oleh para Nabi, singsingkan lengan bajukalian dan bangunlah kembali kejayaan Islam. Raihlah kejayaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kalian. Ingatlah didepan kalian hanya ada dua alternatif: menang atau mati syahid!

"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"". (QS. At Taubah: 105)

Akhi Izzul

Sunday, 26 October 2014

Inilah Tipsnya Menjauhkan Sifat Iri


Iri yang dimaksud di sini adalah iri yang bermakna tidak suka terhadap nikmat yang diterima seseorang dan berkeinginan nikmat itu lenyap darinya. Iri adalah penyakit hati yang berbahaya dan menghancurkan. Karena ia dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Rasulullah saw.

“Jauhkanlah diri kalian dari dengki Karena dengki akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Berikut tips-tips agar terjauh dari sifat iri dengki

1. Memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepadanya.

Iri adalah penyakit hati dan tidak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Allah. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim a.s. kekasih Allah,

“Dan apabila aku sakit, maka Dialah Allah yang menyembuhkanku.”  (Asy-Syuara: 80)

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan bila kamu  meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

2. Menyadari bahwa pada hakekatnya iri adalah bentuk penentangan kepada Allah.

Ini dikarenakan orang yang iri tidak menyukai nikmat yang ada pada seseorang padahal nikmat tersebut adalah pemberian Allah. Ini artinya orang yang iri berarti ia tidak suka dengan nikmat Allah dan ini adalah bentuk penentangan. Karena itu ketika Allah menyebutkan orang yang iri,  Ia memberitahukan bahwa Dialah yang memberikan karunia itu kepada siapa yang dikehendakiNya. Allah SWT berfirman,

"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ?” (An Nisa 54)

3. Menyadari bahwa iri adalah dosa yang dibenci Allah dan kemaksiatan yang bisa mendatangkan murka Allah. Karena itu harus ditinggalkan dan bertaubat darinya.

4. Hendaknya menyadari bahwa iri dengki adalah kedzaliman. Kedhaliman kepada diri sendiri dan kedhaliman terhadap orang lain. Padahal Rasulullah saw bersabda

"Takutlah dari kedhaliman, karena kedhaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR Muslim).

5. Mendoakan kebaikan dan keberkahan bila melihat saudaranya mendapatkan nikmat. Rasulullah saw bersabda

“Apabila salah seorang di antara kalian melihat dalam dirinya atau hartanya atau saudaranya  sesuatu yang mengagumkannya, hendaklah dia mendoakannya dengan keberkahan. Karena ain itu benar adanya.” (HR Nasai, dishahihkan Albani).

Dengan mendoakannya kebaikan maka ia akan terhindar dari bahaya dengki dan terbebas dari penyakit. Di samping itu orang yang mendoakan kebaikan kepada kaum muslimin, artinya ia telah membiasakan dirinya untuk mencintai kebaikan dan membenci keburukan.

6. Tidak menyibukkan diri melihat kenikmatan orang lain, tetapi lebih memikirkan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Memikirkan nikmat Allah yang ada pada dirinya akan menjadikannya hamba yang bersyukur. Adapun  memikirkan nikmat orang lain akan menimbulkan rasa iri dan rasa tidak bersyukur.  Allah swt berfirman

“Janganlah engkau menujukan pandanganmu (serta menaruh hati) kepada nikmat kesenangan yang Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (yang kafir itu) dan janganlah engkau merasa dukacita terhadap mereka (kerana mereka tidak beriman dan tidak dapat menguatkan Islam sebagaimana yang engkau harapkan) dan sebaliknya hendaklah engkau merendah diri kepada orang-orang yang beriman (sekalipun mereka dari golongan fakir miskin).” (Al Hijr: 88).

Hal lain yang bisa membantu untuk menjadi hamba yang bersyukur adalah dengan melihat kondisi orang yang ada di bawahnya.

7. Membiasakan diri untuk terus berbuat baik kepada manusia dan membantu mereka dalam kebaikan. Ini akan mengusir iri dan dengki. Orang yang suka berbuat baik akan dicintai Allah.

"Allah menyukai orang orang yang berbuat baik.” (Ali Imran: 134)

Wallahu A’lam bish Showab.


Sumber: Alislamu

Saturday, 25 October 2014

Adab Bertamu


Orang Muslim beriman kepada kewajiban memuliakan tamu, dan menghormatinya dengan penghormatan yang semestinya, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

“Barangsiapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Muttafaq Alaih).

“Barangsiapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamu sesuai dengan jatah harinya.” Para sahabat bertanya, “Berapa lama jatah harinya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, “Siang hari dan malam harinya. Bertamu itu selama tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah.”(Muttafaq Alaih).

Oleh karena itu, seorang Muslim menerapkan adab-adab tamu seperti berikut:


Mengundang Orang untuk Bertamu

Di antara adab mengundang orang untuk bertamu ialah sebagai berikut:

1. Mengundang orang-orang bertakwa bukannya orang-orang fasik, dan bukan pula orang-orang berdosa, karena Rasulullah SAW. bersabda,“Engkau jangan bergaul kecuali dengan orang Mukmin, dan jangan makan makananmu kecuali orang bertakwa.” (Diriwayakan Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Hadits ini shahih).

2. Tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja tanpa melibatkan orang-orang miskin karena Rasulullab saw. bersabda,“Sejelek-jelek makanan resepsi ialah resepsi yang hanya mengundang orang-orang kaya saja tanpa orang miskin.” (Muttafaq Alaih).

3. Dalam mengundang tamu, orang Muslim tidak bermaksud sombong, namun bermaksud mengamalkan sunnah Rasulullah saw., dan nabi-nabi sebelum beliau seperti Nabi Ibrahirn as. yang dijuluki sebagai “Bapak Tamu”. Ia juga harus bermaksud membahagiakan kaun Mukminin, dan memasukkan kegembiraan di hati saudara-saudaranya.

4. Ia tidak boleh mengundang orang-orang yang mengalami kesulitan untuk bisa memenuhi undangannya, atau orang tersebut mengganggu sebagian undangan. Itu semua untuk menghindari mengganggu orang Mukmin yang diharamkan.

5. Ia mengambil makanannya yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu merupakan bagian dari syukur atas nikmat.

6. Membersihkan sisa-sisa rnakanan di gigi-giginya dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta’ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.

7. Memuji Allah Ta‘ala setelah makan, dan minum. Ketika minum susu, ia berkata, “Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah, rizki-Mu (kepada kami).”Jika ia berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, “Orang-orang berpuasa berbuka puasa di tempat kalian, orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.”


Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedia Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 191-192



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes