,

Wednesday, 31 August 2016

Jangan Menyesatkan Diri


Begitu banyak masalah dalam kehidupan. Dalam variasi tampilan dan perolehannya, substansinya adalah ujian keimanan kita, sebagai sunatullah yang sudah, sedang dan akan terus berlangsung sampai batas waktu hanya Dia yang tahu. Untuk melihat siapa di antara kita yang jujur dan dusta dalam pengakuan imannya, siapa juga di antara kita yang paling baik amalnya.

Maka bukan untukNya jika kepatuhan kita diniscayakan dan pengingkaran kita ditabukan. Bahkan ia untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebab Dialah Allah, sebenar-benar Ilah yang gagah berkuasa dalam kesendirian. Tak perlu teman dan bala bantuan. Tak perlu penegasan dan pengakuan. Bahkan keimanan atau kekafiran hamba, jin dan insan. Dia akan tetap meraja bersemayam di atas Arsy tanpa gugatan dan penolakan.

Maka, bersekutunya seluruh alam manusia dan jin, dari awal hingga akhir dalam ketaatan dan kualitas ketundukan serupa hamba yang paling bertakwa, tidak akan pernah bisa menambah kekuasaanNya sedikitpun. Demikian jua andai seluruh jin dan manusia ramai berserikat untuk mengingkariNya dengan hati semisal hamba yang paling jahat, hal itu tidak akan mengurangi kekuasaanNya sedikit pun. Seperti kata Musa ‘ Alaihi salam, “Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari nikmat Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Maka, syariat adalah hadiah bagi hamba beriman. Ia adalah rahmat, obat penawar, petunjuk, nasihat, juga ruh yang menghidupkan dan cahaya yang menerangi. Yang membawa manusia meninggi melampaui semua makhluk Allah yang lain, bahkan para malaikat sekalipun. Menjaga manusia tetap dalam kemuliaannya sebagai makhluk paling mulia, dan menghindarkannya dari keterpurukan yang jauh lebih rendah dari binatang sekalipun.

Maka, marilah kita mendengar dan melihat, membaca dan merasa, menalar dan berfikir, merenung dan mencari arti, memilih dan memilah, juga menyerah dan berpasrah! Sebab sampainya petunjuk kebenaran kepada iman, selalu diiringi godaan setan yang mengancam. Menyerang hati yang sakit dan keras kemudian menjadi fitnah atasnya. Hingga tergugu dalam ragu, dan melawan ketaatan.

Maka bersihkan hati kita agar fitnah tak menyakitkannya! Kebenaran mendarat sempurna di sana, dan meraja membawa ilmu dan iman. Kemudian membawa keyakinan dalam ketundukan. Agar hati waspada menjaga warna putihnya. Dan tak membiarkannya menghitam meski bergerak perlahan. Sebab jika itu yang terjadi, maka, ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali sesuatu yang terserap dari hawa nafsunya.

Saat itulah ia menghitam, mengeras dan kasar, kesakitan bahkan mati. Kemudian tak peduli lagi kemana badan dan jiwa dibawa pergi. Bahkan saat ia tersesat tanpa disadari.





Sumber: Ar Risalah

Sifat Malu Telah Diajarkan Para Nabi Terdahulu


Rasa malu itu warisan para nabi. Artinya, telah diajarkan oleh para Nabi sebelum kita.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshary Al-Badry radhiallahu ’anhu, dia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari, no. 3483)

Penilaian Hadits Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Manshur bin Al-Mu’tamar dari Rib’iy bin Hirasy dari Abu Mas’ud dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ada perbedaan dalam sanad hadits ini. Namun, sebagian besar ahli hadits mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Mas’ud. Yang mengatakan demikian adalah Al-Bukhari, Abu Zur’ah, Ar-Raziy, Ad-Daruquthniy, dan lain-lain. Yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah bahwa telah diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Mas’ud pada riwayat Masruq. Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. (Lihat Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, hlm. 255, Ibnu Rajab Al-Hambali, Darul Hadits Al-Qahirah)

Sifat Malu adalah Warisan Para Nabi Terdahulu

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut:

Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu.

“Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, hlm. 255)

Yang dimaksudkan dengan (النُّبُوَّةِ الأُوْلَى) adalah kenabian terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan lain-lain (Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112).

Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al Qur’an, As Sunnah (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. (Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207)

Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki 
faedah yag besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan.

Syariat Sebelum Islam

Ada pelajaran penting yang patut dipahami. Syariat sebelum Islam atau syariat yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga :
  1. Ajaran yang dibenarkan oleh syari’at Islam, maka ajaran ini shohih dan diterima
  2. Ajaran yang dibatalkan oleh syari’at Islam, maka ajaran ini bathil dan tertolak
  3. Ajaran yang tidak diketahui dibenarkan atau disalahkan oleh syari’at Islam, maka sikap kita adalah tawaqquf (berdiam diri, tidak berkomentar apa-apa). Namun, apabila perkataan semacam ini ingin disampaikan kepada manusia dalam rangka sebagai nasehat dan semacamnya maka hal ini tidaklah mengapa, dengan syarat tidak dianggap bahwa perkataan itu multak benar. (Lihat Syarh Arba’in Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 207-208)

Keutamaan Rasa Malu

Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
 
”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

Rasa malu ini juga dipuji oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Menutupi, Allah cinta kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian itu mandi maka hendaklah menutupi diri.” (HR. Abu Daud no. 4014, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Malu Terkait Hak Allah dan Hak Sesama

Pertama, malu yang berkaitan dengan hak Allah. Seseorang harus memiliki rasa malu ini, dia harus mengetahui bahwa Allah mengetahui dan melihat setiap perbuatan yang dia lakukan, baik larangan yang diterjangnya maupun perintah yang dilakukannya.

Kedua, malu yang berkaitan dengan hak manusia. Seseorang juga harus memiliki rasa malu ini, agar ketika berinteraksi dengan sesama, dia tidak berperilaku yang tidak pantas (menyelisihi al-muru’ah) dan berakhlak jelek. Syaikh Ibnu Utsaimin memberi contoh.

Dalam majelis ilmu, jika seseorang berada di shaf pertama, lalu dia menjulurkan kakinya, maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena dia tidak menjaga al-muru’ah (kewibawaan). Namun, jika dia duduk di antara teman-temannya, kemudian dia menjulurkan kaki, maka ini tidaklah meniadakan al-muru’ah. Namun, lebih baik lagi jika dia meminta izin pada temannya,”Bolehkah saya menjulurkan kaki?”. (Syarh Al-Arba’in, 210)

Malu Tabi’at dan Malu yang Butuh Dilatih

  1. Malu yang merupakan tabi’at/ watak seseorang. Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah Ta’ala rasa malu. Ketika dia masih kecil saja sudah memiliki sifat demikian. Dia malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.
  2. Malu hasil diusahakan. Malu yang kedua ini adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian dia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka. Rasa malu yang pertama di atas lebih utama dari yang kedua ini. (Syarh Al-Arba’in, 210)

Sifat Malu yang Terpuji

Perlu diketahui bahwa malu adalah suatu akhlak yang terpuji kecuali jika rasa malu tersebut itu muncul karena enggan melakukan kebaikan atau dapat terjatuh dalam keharaman. Maka jika seseorang enggan untuk melakukan kebaikan seperti enggan untuk nahi mungkar (melarang kemungkaran) padahal ketika itu wajib, maka ini adalah sifat malu yang tercela.

Jadi ingat! Sifat malu itu terpuji jika seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak menjadikannya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. (Syarh Al-Arba’in, hlm. 210)

Jika Tidak Malu, Lakukanlah Sesukamu

Para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna :

Pertama:

Kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.

Kedua:

Kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:

a) Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya),

”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40).

Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.

b) Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir,

”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 4: 794, Darul Atsar; Syarh Arba’in Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113; Syarh Arba’in Al-Utsaimin, hlm. 207; Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 255)

Sifat Malu Orang-Orang Shalih

Contoh akhlak yang mulia ini dapat dilihat pada Nabi Musa ’alaihis salam. Nabi Musa adalah pemalu dan selalu tertutup auratnya. Tidak pernah terlihat kulitnya karena malu. Kemudian Bani Israil mencelanya. Mereka sampai mengatakan bahwa Musa selalu tertutupi badannya karena dia terkena kusta atau penyakit kulit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh generasi teladan yang pertama, yang telah mewarisi akhlaq mulia dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, mereka itu sangatlah pemalu. Di antara mereka yang dijadikan contoh yang mengagumkan dalam hal ini, hingga para malaikat pun malu kepadanya adalah Utsman bin ’Affan radhiyallahu ’anhu. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Yang paling jujur dalam rasa malu adalah Utsman.” (Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1224)

Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga mengatakan tentang Utsman,

”Apakah aku tidak malu pada seseorang yang para Malaikat saja malu kepadanya.” (HR. Muslim, no.6362)
[Lihat pembahasan yang sangat bagus dari Syaikh Salim bin ’Ied Al Hilali pada edisi terjemahan ’Malu menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih’]

Ya Allah bekalilah kami dengan sifat yang mulia ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat.


 
 
 
Sumber: rumaysho.com

Beli 1 Gratis 10 sampai 700


Allah Ta’ala berfirman di dalam surat al-An’am [6] ayat 160,  

“Barang siapa melakukan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.”

Ayat ini merupakan salah satu bukti bahwa Allah Ta’ala Maha Pemurah. Setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang yang beriman akan diberi balasan sebanyak 10 sampai 700 kali lipat. Hal ini dipertegas dengan satu hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam at-Tirmidzi, dan Imam an-Nasa’i Rahimahumullahu Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat dari kebaikan tersebut. Dan barang siapa menginfaqkan suatu nafkah di jalan Allah Ta’ala, maka baginya tujuh ratus kali lipat.”

Senada dengan ayat ini, Allah Ta’ala juga berfirman di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Sayangnya, meski ayat dan hadits ini amat pasti kebenarannya serta mustahil diingkari oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, amat banyak kaum Muslimin yang ragu untuk beramal shalih. Mereka lebih yakin dengan janji-janji manusia dalam bentuk diskon saat berbelanja atau promosi kebutuhan sehari-hari lainnya.

Lihat saja setiap hari dalam kehidupan di sekitar kita. Berapa banyak orang yang berburu diskon di banyak tempat perbelanjaan seraya meninggalkan peluang lipatganda pahala dalam shalat berjamaah.

Mereka lebih memilih menghabiskan waktu berbelanja, makan, dan jalan-jalan hanya karena urusan diskon yang tidak pernah seratus persen, tapi urung mendatangi majlis ilmu yang iming-iming pahalanya jauh lebih besar, berlipat, dan agung.

Alhasil, masjid-masjid menjadi sepi; majlis taklim kosong peminat; kajian-kajian keilmuan tiada didatangi kecuali oleh segelintir orang yang beriman. Dalam waktu bersamaan, banyak pusat perbelanjaan kebanjiran pengunjung. Dan sebagian besarnya beragama Islam.

Allahul musta’an.

Wallahu a’lam. 




Sumber: [Pirman/Bersamadakwah]

Tuesday, 30 August 2016

Kekuatan pada si Lemah


Berapa beban paling berat yang bisa diangkat manusia? Orang biasa yang tak terlatih, paling hanya mampu mengangkat beban 50-60 kilogram. Sedangkan atlet angkat berat bisa mengangkat lebih dari 300 kilogram. Itu pun hanya mampu beberapa detik saja.

Dengan kemampuan seperti itu, manusia sesungguhnya tak lebih kuat dari dua makhluk Allah berjenis serangga. Mari kita berkenalan dengan dua spesies serangga yang istimewa; semut Atta dan kumbang badak.

Semut Atta adalah jenis semut pemotong daun. Mereka mengumpulkan daun-daun untuk memenuhi kebutuhan makanan koloninya. Namun, mereka tidak memakan daun begitu saja. Mereka menggunakan daun untuk media menanam jamur. Jamur inilah yang menjadi makanan koloni semut.

Kumbang badak adalah sejenis kumbang yang memiliki semacam cula di kelapanya. Kumbang ini hidup di pucuk pohon kelapa, pinang, dan jenis palem lainnya. Diantara jenis kumbang, kumbang badak tergolong jenis yang terbesar.
 
Lalu, apa keistimewaan kedua serangga ini?

Kedua serangga tersebut adalah binatang terkuat di dunia. Ya, serangga-serangga tersebut mampu mengangkat beban yang beratnya jauh melebihi berat tubuhnya sendiri.

Kumbang badak sanggup menarik dan mengangkat benda yang beratnya 850 kali berat tubuhnya. atau jika disetarakan dengan manusia, maka sama dengan manusia yang mampu mengangkat dua buah tank sekali angkat. Sedangkan semut pemakan daun mampu mengangkat beban yang beratnya 50 kali berat tubuhnya. Setara dengan manusia yang mampu mengangkat sebuah truk kontainer seberat 5 ton. Bandingkan dengan gajah, hewan yang besar dan kuat, namun ‘hanya’ mampu mengangkat beban seberat 3 kali berat tubuhnya.

Inilah kemurahan dan rahmat dari Allah kepada makhluk-Nya. Semut daun diberi kekuatan luar biasa agar lebih mudah dan cepat dalam mengumpulkan daun-daun, sekaligus tak akan berbahaya karena ukurannya yang kecil. Andai saja gajah mampu sekuat semut, tentu sangat berbahaya, karena kekuatannya menjadi sangat luar biasa.

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada hewan melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.” (Surat Al-Jatsiyah: 3-4)





Sumber: Ar Risalah

Tidak Menghadiri Undangan Walimah, Dosakah?


TANYA: Diundang pernikahan tetapi tetap tidak hadir, berdosakah?

JAWAB: Dikutip dari rumahfiqih.com, para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadiri undangan walimah. Sebagian mengatakan wajib atau fardhu `ain, sebagian lagi mengatakan fardhu kifayah dan sebagian lagi mengatakan sunnah.
1. Fardhu
Pendapat jumhur ulama terdiri dari mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Mereka sepakat mengatakan bahwa menghadiri undangan walimah hukumnya fardhu.
Namun kewajiban ini tergantung jenis undangannya juga. Kalau undangannya bersifat umum, tanpa menyebut nama tertentu, maka tidak ada kewajiban harus menghadirinya. Sebaliknya, bila undangannya ditujukan secara pribadi, baik lewat tulisan atau lewat orang yang diutus untuk menyampaikan undangan, maka barulah ada kewajiban untuk menghadirinya.
Az-Zarqani dalam kitab Syarahnya menyebutkan bahwa tidak termasuk wajib hadir bila teks undangannya sendiri tidak mengikat. Misalnya tertulis dalam undangan ‘apabila Anda berkenan hadir’, maka hadir atau tidak hadir terserah apakah pihak yang diundang berkenan atau tidak.
Dalil yang digunakan oleh pendapat ini di antaranya adalah hadits berikut ini :
“Apabila kamu diundang walimah maka datangilah,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu juga ada hadits lain yang menyebutkan bahwa orang yang tidak menghadiri undangan walimah, termasuk disebut telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya.
“Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah, bila yang diundang hanya orang kaya dan orang miskin ditinggalkan. Siapa yang tidak mendatangi undangan walimah, dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya,” (HR. Muslim).
antara hikmah dari menghadiri walimah menurut para ualam, akan menambah keterpautan dan ikatan hati. Sedangkan tidak menghadirinya akan menimbulkan madharat dan keterputusan silaturrahmi.
2. Sunnah
Pendapat kedua dari para ulama tentang hukum menghadiri undangan walimah adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi’iyah, dan salah satu versi pendapat mazhab Al-Hanabilah. Ibnu Taimiyah termasuk yang berpendapat bukan wajib tetapi sunnah.
Dasar pendapat ini karena menghadiri walimah berarti memakan makanan dan harta milik orang lain. Dan seseorang tidak diwajibkan untuk mengambil harta orang lain yang tidak diinginkannya.
Sehingga paling tinggi kedudukannya hanya sunnah, tidak sampai kepada wajib. Karena pada hakikatnya menghadiri walimah itu seperti orang menerima pemberian harta. Sehingga bila harta itu tidak diterimanya, maka hukumnya boleh-boleh saja. Dan bila diterima hukumnya hanya sebatas sunnah saja.
3. Fardhu Kifayah
Sedangkan pendapat ketiga dari hukum menghadiri walimah adalah fardhu kifayah. Di antara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah sebagian pendapat Asy-Syafi’iyah dan sebagian pendapt Al-Hanabilah.
Dengan demikian, apabila sebagian orang sudah ada yang menghadiri walimah itu, maka bagi mereka yang tidak menghadirinya sudah tidak lagi berdosa.
Adapun kesimpulan hukumnya fardhu kifayah berlandaskan kepada esensi dan tujuan walimah, yaitu sebagai media untuk mengumumkan terjadinya pernikahan serta membedakannya dari perzinaan. Bila sudah dihadiri oleh sebagian orang, menurut pendapat ini sudah gugurlah kewajiban itu bagi tamu undangan lainnya.




Sumber: Islampos

Fase Kehidupan Manusia (bag.2)


3. Fase ketiga: Dari usia 35 – 50 tahun

Kita bisa menyebutnya dengan masa “aji mumpung,” bisa bermakna positif dan bisa negatif. Jika sebelumnya dia berhasil menjadi pemuda yang shalih, maka pada usia ini dia akan menggunakannya secara positif.

Mumpung (selagi masih ada waktu) untuk meneruskan dan terus melakukan amal shalih, mumpung masih memiliki kekuatan dari sisa-sisa masa mudanya, untuk terus di atas amalan-amalan ketaatan. Karena demikianlah yang dia dapatkan dari tarbiyah (pendidikan) sebelumnya.

Di atas umur 40 tahun ketika uban mulai tumbuh, rambut, dan jenggotnya mulai memutih, maka dia akan banyak melakukan muhasabah (introspeksi diri). Dia mencari apa yang kurang pada masa lalunya untuk kemudian dilengkapi, jika ada yang salah maka dia cepat ruju’ (kembali) dan bertaubat kepada Allahk. Demikianlah keadaan seorang yang shalih.

Namun sebaliknya jika pada fase sebelumnya gagal, maka ini pun menjadi aji mumpung yang negatif. Mumpung belum terlalu tua, mumpung masih punya sisa-sisa kekuatan, maka sekalian saja untuk melampiaskan hawa nafsunya, nanti saja bertaubatnya kalau sudah tua. Seolah-olah ajal atau kematian ada di tangannya. Kondisinya semakin mengerikan, kita berlindung kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa dari keadaan yang seperti ini.

4.Fase keempat: Dari usia 50 – 70 tahun

Pada masa ini seorang yang shalih dan shalihah maka dia akan menggencarkan muhasabah (introspeksi diri). Dia memiliki program untuk mempersiapkan kedatangan maut, banyak mengingat mati, dan memperbanyak amal shalih.

Adapun sebaliknya seseorang yang pada fase-fase sebelumnya gagal dan pada usia ini dia masih berprinsip“aji mumpung,” maka sungguh keterlaluan. Karena secara fisik sudah tidak memadai baginya, karena umumnya sudah renta, ringkih, dan lemah. Secara usia pun sudah tidak sepantasnya.
Jika pada masa-masa ini dia masih senang melakukan dosa dan kemaksiatan, maka dalam islam orang semacam ini akan dilipatgandakan hukuman untuknya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:

“Ada tiga jenis manusia, yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak mengajak mereka berbicara pada hari kiamat, tidak pula melihat mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih, (satu diantaranya -pent) seorang tua renta yang melakukan zina.”(HR. Muslim no. 107)

Diterangkan oleh para ulama, dilipatgandakan hukuman baginya karena faktor-faktor yang mendorong dia untuk berzina sudah sangat lemah, sudah tidak sepadan dengan umurnya. Tetapi ketika dia masih senang melakukan perbuatan dosa semisal ini, maka dia termasuk orang tua yang celaka.

5. Fase kelima Dari usia 70 tahun keatas (masa renta dan umumnya pikun)
Pada fase ini seorang yang shalih dia akan memperbanyak istighfar (meminta ampun) dan taubatnya kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meningkatkan amal ibadahnya, serta memohon untuk mendapatkan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).

Penutup

Maka saudaraku, yang penting bagi kita adalah mengetahui pada fase ke berapakah sekarang kita berada? Sehingga bisa mengoreksi dan memperbaiki keadaan kita masing-masing. Ketika dianugerahkan kepada kita keadaan yang baik, maka perbanyaklah syukur kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Namun sebaliknya, jika kondisi buruk yang mencengkeram kita, maka bersegeralah untuk memperbaikinya.

Wallahu A’lam bis Shawab




Sumber: Al-Ilmu

 
Visi LP3UI Lampung Da'wahtul haq bil haq menggapai maslahat universal
Template by Premium Blogger Themes